
Di depan toilet di dalam sebuah klub malam, beberapa Pria bertubuh besar sedang mengangkat seseorang yang telah babak belur dan berlumuran darah, karena dihajar habis-habisan oleh orang yang tiba-tiba menyerangnya hingga sekarat.
Nampak pria yang meminta Evangeline pulang, tengah menyesap sebatang rokok sambil mengawasi bodyguard-bodyguard itu membereskan kekacauan tersebut.
Tak hanya para bodyguard, namun juga petugas kebersihan pun segera bertindak dan membersihkan sisa darah yang tercecer.
Dia lalu mengikuti pria besar itu hingga keluar dari pintu belakang klub, dan melempar pria sekarat itu ke gang kecil di dekat sana.
“Bos, apa tak apa kita biarkan dia di sini?” tanya salah satu pria besar itu.
“Biarkan saja. Temannya pasti akan mencarinya. Lagi pula dia tidak begitu parah, paling hanya patah tulang dan harus dirawat sekita sebulan di rumah sakit. Lagi pula, hal seperti ini sudah biasa terjadi di klub malam. Tinggalkan saja di sana,” seru pria yang merokok itu.
Kedua pria besar tadi pun lalu kembali masuk ke dalam, sementara pria tampan itu masih berdiri di ambang pintu, sambil menghabiskan batang rokoknya yang tinggal sedikit.
Setelah puas dengan lintingan tembakaunya, pria tersebut kemudian mengambil sebuah benda dari saku celana.
Dia menekan beberapa kali di atas layar ponselnya. Nampak sebuah pesan muncul di sana. Setelah membacanya, dia lalu menggulirkan layar, mencari sebuah kontak yang tersimpan di ponsel, kemudian menempelkan benda tersebut ke depan telinga.
Panggilan pertama tak langsung diangkat oleh orang di seberang. Dia pun kembali mengubungi nomer yang sama dan pada deringan ke tiga, panggilan diterima.
“Ada apa?” tanya orang di seberang.
“Gadis itu sudah pulang dengan selamat. Kau bisa tenang sekarang,” ucap pria tampan itu.
“Apa kau kira aku sedang khawatir, hah?” sanggah orang di seberang.
“Ayolah, siapa yang tidak akan cemas, ketika membiarkan istri secantik itu berkeliaran dengan pakaian seksi seperti tadi,” goda pria tampan itu.
Tak terdengar lagi sahutan dari seberang sambungan. Seketika, sebuah senyum asimetris pun muncul di bibir si pria tampan.
“Baiklah. Berbohong saja terus. Lama-lama juga kau akan lelah, dan menyerah. Bagaimana kalau kita taruhan, Alpha,” lanjut si pria tampan yang tak lain adalah Mac duff atau Delta, rekan Ardiaz.
Sementara pria di seberang sana yang adalah Ardiaz, nampak diam dan memilih memutus sambungan telepon itu, bahkan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tangannya mengepal begitu kuat. Jelas terlihat lecet dan bahkan ada darah di sana, seolah beberapa saat lalu dia baru saja menghajar sesuatu dengan sangat keras.
...❄❄❄❄❄...
Pagi menjelang, dan sinar mentari telah naik begitu tinggi. Namun, dua orang gadis masih terlihat lelap di atas kasur yang empuk, dengan masih mengenakan pakaian clubingnya.
Tirai yang begitu tebal, menghalangi sinar mentari untuk masuk dan menyapa kedua gadis mabuk itu, hingga si raja siang sudah naik sangat tinggi.
Tiba-tiba, salah satu di antaranya menggumamkan sesuatu. Sepertinya dia sedang bermimpi. Gadis itu terlihat begitu gelisah. Keningnya bahkan berkerut dengan jelas. Bibirnya mengucapkan sesuatu berkali-kali, namun tak jelas.
__ADS_1
“ARDIAZ!”
Pekik gadis itu tiba-tiba. Seperti Evangeline kembali memimpikan suaminya, Ardiaz. Dia pun seketika terbangun dan duduk di atas ranjang.
Dia mengusap kasar wajah dan menyingkap rambutnya yang berantakan ke belakang. Gadis itu mencoba mengatur nafasnya yang tersengal akibat mimpinya tadi.
Dia tertunduk dengan satu tangan yang terus memegangi tengkuknya. Evangeline lalu mulai sadar dan merasakan pusing akibat minumannya semalam.
Gadis itu nampak memijit pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk, berharap mengurangi rasa tak nyaman itu.
Dia menoleh sekilas ke samping, dimana temannya berada. Lalu kemudian, Evangeline mencoba bangun dari tempat tidur karena ingin mengambil air minum.
Tenggorokannya terasa kering. Dia juga harus minum sesuatu untuk meredakan mabuknya.
Evangeline pun mulai turun dari ranjang. Saat kakinya baru akan dijejakkan ke lantai, dia merasa tubuhnya seolah melayang dan membuat dia sempoyongan.
“Sh*iiiit! Rupanya mabuk benar-benar tidak enak. Merepotkan sekali,” umpatnya.
Dia pun terpaksa mencari pegangan. Dia tak peduli benda-benda yang jatuh akibat ulahnya, dan membuat temannya itu terganggu.
Evangeline terus berjalan ke arah dapur. Sesampainya di sana, gadis itu segera menuju washtafle dan mencuci mukanya agar sedikit terasa segar.
Dia nampak berdiri di sana dengan kedua tangan yang bertumpu pada washtafle, sambil mengatur nafasnya, dan mengobservasi diri sendiri.
Matanya terpejam dengan pundak yang terus naik turun. Helaan nafasnya terdengar begitu berat. Di sela rasa pusingnya, dia mengingat sedikit kejadian semalam.
Namun yang membuatnya penasaran adalah, siapa yang menolongnya, dan kenapa ada aroma itu lagi di sana. Semalam karena begitu ketakutan, dia sampai menutup mata dan telinga rapat-rapat.
Apa mungkin itu hanya aroma parfum seseorang ya g kebetulan sama? Apa aku terlalu terobsesi dengan dia, sampai-sampai aku selalu menggila setiap kali ada yang hal berhubungan dengannya, batin Evangeline.
Dia membuka mata dan kembali mengusap wajahnya, naik hingga menyingkap rambutnya ke belakang.
Setelah merasa lebih segar, dia membuat segelas susu hangat dan meminumnya. Evangeline pernah mendengar bahwa susu hangat bisa mengurangi efek mabuk seseorang.
Setelah selesai dengan urusan dapur, dia lalu kembali ke kamar dan hendak mandi. Namun saat dia baru masuk, Evangeline mendengar suara orang muntah dari arah toilet.
Dia pun melihatnya, dan rupanya di sana ada Joy yang sedang berjongkok di depan closet. Evangeline mendekat dan membantu menepuk punggung temannya itu, meski sambil memalingkan wajahnya dengan ekspresi jijik.
“Berapa banyak yang kau minum semalam, hah?” tanya Evangeline.
Joy terlihat meraih sebuah tombol di atas closet dan menyiram muntahannya. Dia lalu bangun dan berjalan ke arah washtafle di kamar mandi tersebut.
Dia mengambil air dengan tangannya dan berkumur, menghilangkan rasa tak nyaman di mulut hingga tenggorokannya, akibat muntahan tadi.
__ADS_1
Dia pun membasuh wajah agar terasa sedikit segar.
“Haaah... Entahlah. Aku hanya ingat bahwa botol terakhirku masih sisa banyak, dan ku tinggal begitu saja sebelum berhasil ku habiskan,” sahut Joy.
Evangeline memutar bola matanya karena kesal dengan jawaban dari temannya, yang seolah menyayangkan sisa alkoholnya itu. Dia melipat kedua lengannya di depan dada, sambil berhadapan dengan temannya.
“Apa kau selalu seperti ini setiap kali pergi ke klub?” tanya Evangeline.
Joy berbalik dengan kedua lengan bertumpu pada tepian washtafle.
“Tidak juga. Semalam itu aku hanya minum sedikit, buktinya aku masih bisa membawamu pulang,” ucap Joy.
Evangeline membola hingga alisnya hampir menyatu, saat mendengar perkataan dari gadis di depannya.
“Seriusly? Kau menyetir saat mabuk? Ini gila,” tanya Evangeline.
“Hei, Nona. Apa kau tidak pernah mendengar istilah supir pengganti? Aku bilang membawa mu pulang, bukan berarti aku yang menyetirnya sendiri,” sanggah Joy.
Gadis berambut pendek itu pun lalu berjalan kembali ke dalam kamar dan berbaring di ranjang dan menutup mata. Rasanya dia masih betah berlama-lama tiduran, ditambah rasa pening yang masih terasa.
Evangeline pun mengikuti dan duduk bersandar di head board. Tiba-tiba, dia teringat akan sesuatu tentang kejadian semalam.
“Ah, benar. Bagaimana kau tahu aku dalam bahaya? Kau bilang mereka memberitahumu bukan? Siapa yang kau maksud?” cecar Evangeline.
Joy membuka matanya dan menatap langit-langit kamar. Keningnya berkerut seolah sedang mengingat sesuatu.
“Ehm... Oh, semalam itu orang Kak Mike mendatangiku, dan mengatakan bahwa temanku dalam masalah. Jadi aku segera mencari mu di belakang,” ungkap Joy.
“Mike? Siapa dia?” tanya Evangeline penasaran.
“Apa kau ingat pria tampan yang bicara padamu semalam? Orang yang sudah menolongmu itu, dialah Kak Mike. Ku dengar, dia itu bos di sana,” ucap Joy.
Evangeline kembali mencoba mengingat pria yang semalam menghalanginya untuk mengejar orang-orang berpakaian hitam, yang lewat saat dia mengendus aroma suaminya.
“Mike?” gumamnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih