They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Aku yakin itu dia


__ADS_3

Cukup lama mereka berdua berada di sana, dan Joy seolah mulai gatal untuk menggerakkan badannya di atas lantai dansa.


“Ayo kita turun,” ajak Joy.


“Tidak, kau saja. Aku akan melihat mu dari sini,” tolak Evangeline.


“Ah kau sungguh membosankan. Kalau begitu aku ke sana dulu,” ucap Joy.


Evangeline hanya mengulas senyum simpul. Tak perlu menunggu hingga menit bergulir, begitu menginjak lantai dansa, Joy pun langsung bergoyang dan membaur dengan orang-orang di sana.


Musik berdentum semakin keras, seiring hentakkan kaki para pengunjung terus berdatangan.


Merasa ditinggalkan temennya, Evangeline pun berbalik dan menghadap ke arah meja bar. Tenggorokkannya mulai kering dan dia memutuskan memesan sesuatu.


Sambil menunggu temanya yang masih asik berjoged, segelas cocktail atau lebih tepatnya minuman beralkohol yang dipadukan dengan sari buah, menemaninya.


Kadarnya memang cukup rendah, namun untuk peminum amatir seperti Evangeline, hal itu bisa dengan mudah membuat gadis tersebut mabuk hanya dengan beberapa gelas saja.


Evangeline nampak menikmati waktunya di tempat itu, sambil memperhatikan tingkah temannya yang terus berjoget dikelilingi oleh orang-orang yang bahkan Joy sendiri tak mengenalnya.


Setelah sekitar hampir tiga puluh menit, Joy akhirnya keluar dari lantai dansa dengan nafas yang terengah-engah.


“Ah... Mereka benar-benar tidak mau melepaskanku. Aku sudah sangat lelah dan mereka masih ingin aku menari,” ucap Joy.


Dia meneguk sisa beer-nya hingga tandas. Dia bahkan memesan satu gelas besar lagi dan meneguknya hingga habis.


“Aaah... Beer dingin memang yang terbaik disaat haus,” ucapnya.


Evangeline hanya terkekeh kecil melihat kelakuan temannya itu.


Joy memang selalu terlihat ceria di setiap saat. Gadis yang seolah tak memiliki masalah itu, justru sering bermain di tempat hiburan semacam ini.


Pertama kali Evangeline tahu bagaimana kehidupan sebenarnya temannya itu, dia pun merasa iba dan menangis bersama. Keluarga Joy memang berkecukupan, meski tidak sekaya dirinya. Semua kebutuhan anak-anak pun terjamin dan tak kurang suatu apapun.


Namun demikian, konflik internal di dalamnya membuat anak-anak menderita batin dan membuat mereka mencari pelarian di luaran.


Joy adalah teman yang baik. Meski hidupnya kacau, tapi dia tak lantas mengajak Evangeline untuk ikut kacau seperti dia.


Memang terkadang, keceriaan seseorang tak menjamin seberapa bahagia hidupnya. Justru terkadang, manusia memilih bersembunyi dari lukanya dengan tertawa. Semakin keras dia tertawa, semakin besar luka yang dia alami.


Sekarang, Evangeline bisa mengerti kenapa Joy bersikap seperti itu setiap saat. Setelah semua kejadian yang terjadi padanya, gadis manja itu pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh temannya itu.


Berpura-pura baik-baik saja untuk menutupi kesedihan, menyibukkan diri demi melupakan, terlihat kuat meski hancur dan bahkan tak tertolong.


Evangeline menyesap minumannya lagi. Joy melirik sekilas dan kembali meneguk beer yang dipesannya untuk ketiga kali.


“Ini pertama kali bukan?” tanya Joy.


Evangeline hanya mengangguk.


“Baiklah, kalau begitu mari kita bersulang untuk pertama kalinya, kau pergi ke tempat penuh keajaiban di dunia,” Ucap joy.

__ADS_1


Dia mengangkat gelas beer-nya dan mengajak Evangeline melakukan cheers.


Evangeline pun menurutinya dan suara dentingan gelas beradu terdengar di antara hingar bingar suasana klub malam di sana.


Seperti tempat hiburan malam lainnya, semakin malam maka akan semakin ramai. Suara musik yang dimainkan pun semakin mengajak orang untuk bergoyang.


Evangeline yang tadinya duduk di kursi bar, kini telah berdiri, bersandar pada meja bar yang panjang, dengan kepala dan pundak yang mulai bergerak. Sambil tertawa bersama Joy, temannya, dia benar-benar menikmati malam ini.


Beban seolah hilang dari hati dan pikirannya. Tanpa terasa, dia sudah memesan minuman hingga empat gelas, sementara Joy sekarang justru memegangi botol beer dan berjoget kecil di depan meja bar, sambil sesekali meneguk minumannya.


Rasa pusing mulai menyerang Evangeline. Pengaruh alkohol kini menyerangnya.


“Aku akan ke toilet sebentar,” ucap Evangeline.


“Mau ku temani?” tawar Joy.


Evangeline melambaikan tangan tanda menolak. Gadis itu pun lalu berjalan ke arah belakang dengan sedikit sempoyongan, karena kepalanya benar-benar pusing.


Dia bahkan sampai harus berpegang pada dinding agar bisa berjalan sampai toilet.


Saat baru setengah jalan, tiba-tiba seseorang melingkarkan lengannya di pinggang dan membuat Evangeline terkejut. Dia pun menoleh dan melihat seorang pemuda asing telah berada di sampingnya.


Gadis itu pun dengan sekuat tenaga mendorong pemuda itu, akan tetapi karena sempoyongan, gadis tersebut pun terhuyung hingga membentur tembok.


Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pemuda itu untuk menarik Evangeline ke arah pintu belakang, dan menghimpit gadis itu di dinding lalu berusaha berbuat kurang ajar padanya.


“Ehm... Lepaskan!” pekik Evangeline di sela masuknya.


Rupanya, pemuda adalah salah satu dari pengganggu, yang sejak tadi bergiliran mencoba merayu Evangeline.


Dia terus mencengkeram lengan gadis itu, meski Evangeline terus meronta dan menggeliat.


“Lepas! Aku tidak ada urusan denganmu,” ronta Evangeline.


“Gadis kecil seperti mu datang kemari bukankah karena ingin bersenang-senang? Aku hanya ingin mengajarimu caranya saja,” ucap pemuda itu dengan menyeringai.


Evangeline terus berontak, namun kedua tangan gadis tersebut kemudian ditekan di atas kepala. Lutut pemuda itu berada di antara kedua kaki Evangeline, dan sesekali menekan area pangkal paha gadis tersebut dan membuatnya semakin tak nyaman.


Saru tangan pemuda itu lalu mencengkeram rahang Evangeline yang terus bergerak-gerak. Dia bahkan mengendus leher jenjang gadis itu dan membuat Evangeline bergidig.


Merasakan bahaya menghampirinya, sudut mata Evangeline berair karena mulai ketakutan. Berteriak pun tak mampu ia lakukan karena suaranya terlalu parau untuk memekik.


Tolong. Tolong aku. Siapapun tolong aku, ratapnya dalam hati.


Dia terus menutup mata sambil berusaha menggerakkan kepalanya, agar lepas dari cengkeraman pemuda itu. Dia semakin ketakutan saat nafas hangat pemuda kurang ajar itu mulai menerpa kulit wajahnya. Bahkan aroma nafas bercampur alkohol pun begitu terasa menusuk hidungnya.


Saat dia sudah tak tau lagi harus berbuat apa, tiba-tiba saja Evangeline merasa cengkeraman pemuda itu telah lepas, dan membuat gadis tersebut merosot ke bawah karena lemas. Sebuah suara pukulan terdengar di susul dengan suara benda jatuh.


Dia masih mendengar suara seseorang dipukuli dan bahkan suara teriakan meminta ampun. Namun karena begitu ketakutan, Evangeline terus menutup mata dan bahkan menutupi kedua telinganya dengan tangan, sambil meringkuk di atas lantai.


Evangeline benar-benar ketakutan hingga dia lupa bagaimana cara bernafas. Gadis itu sangat membenci kekerasan, dan dadanya akan selalu merasa sesak serta jantungnya pun berdegup kencang.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, dia tak lagi mendengar suara teriakan. Evangeline pun perlahan bisa mengatur nafasnya dan menghirup udara dalam-dalam. Saat itulah, dia seperti kembali menangkap aroma yang sejak berbulan lalu terus mengusik hatinya.


Dia pun perlahan membuka matanya, mencoba melihat sekitar. Pandangannya kabur karena air mata yang terlanjur membanjir.


Setelah berusaha melihat jelas, dia kembali dibuat kaget dengan mendapati banyaknya darah yang tercecer di lantai, dengan tubuh pemuda yanga mengganggunya tadi telah tergeletak di lantai.


Saat Evangeline sadar apa yang terjadi, dia melihat sekelompok orang berpakaian hitam baru saja lewat di depannya. Sepertinya mereka yang menghajar pemuda itu.


Namun aroma itu, membuat gadis tersebut mencoba bangun dan hendak mengejar rombongan orang-orang tadi. Akan tetapi, tiba-tiba seorang pria muda dengan paras yang begitu menawan, berdiri dan menghalangi langkahnya.


“Nona, sebaiknya Anda segera pergi dari sini. Ini tempat yang tidak cocok untuk gadis seperti Anda,” ucapnya.


“Tapi...,” sanggah Evangeline.


“Eva,” panggil seseorang.


Evangeline pun menoleh dan melihat Joy yang berjalan tergesa-gesa menghampirinya.


“Kau tak apa? Mereka bilang ada yang sudah bersikap kurang ajar padamu,” ucap Joy khawatir.


Dia meraih pundak Evangeline, dan bahkan sampai memindai temannya itu dari atas hingga bawah, memastikan tak ada luka di sana. Hanya pakaian dan rambutnya saja yang sedikit acak-acakan akibat perlakuan pemuda tadi.


“Nona, sebaiknya kau bawa temanmu ini pulang. Dia pasti syok dengan kejadian ini,” seru pria tadi.


“Ah... Baiklah. Terimakasih sudah menolong temanku, Kak. Eva, ayo kita pulang saja,” ucap Joy kepada pria itu dan juga Evangeline.


Namun, temannya itu seolah enggan pergi dari sana. Sejak tadi, tatapannya terus tertuju pada rombongan yang baru saja lewat di depannya.


“Tapi... Tapi aku harus mencari seseorang. Aku yakin dia tadi ada di sini,” elak Evangeline.


“Nona, sepertinya Anda sudah benar-benar mabuk. Tidak ada siapapun di sini. Tadi itu hanya rombongan tamu VVIP kami, dan aku yakin gadis seperti mu tidak kenal dengan orang-orang seperti mereka,” sanggah pria tadi.


“Tapi...,” elak Evangeline.


“Eva, sebaiknya kita sudahi hari ini. Ayo, kita pulang,” ajak Joy.


Gadis berambut pendek itupun memapah temannya untuk segera pergi dari tempat tersebut.


Namun, pandangan Evangeline masih menatap tempat di mana rombongan berpakaian serba hitam itu menghilang di kejauhan sana.


Aku yakin tadi aku mencium aroma tubuh orang itu. Mungkinkah dia sebenarnya masih hidup? batin Evangeline.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2