They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : King baru


__ADS_3

Di sebuah ruangan dengan semua furnitur modern berpadu dengan klasik, nampak seorang pria yang penuh luka lebam di wajahnya, duduk bersandar di sofa dengan tatapan tajam.


Sementara, seorang pria bertubuh besar terlihat memandang ke luar jendela, sambil menyesap cerutu yang terapit oleh telunjuk dan jari tengahnya.


“Aku yakin, tuan muda tahu bahwa hal ini sangat mungkin akan terjadi,” ucap Joker, si pria besar itu kepada Ardiaz.


Saat ini, mereka hanya berdua di sebuah ruangan di Kastil tua, yang berada di perbukitan selatan Kota Orchid.


Ardiaz telah selesai mendapatkan penanganan medis akibat cidera yang diakibatkan pertarungan sebelumnya.


Untung saja tak ada yang fatal dan tak mengharuskannya dilarikan ke rumah sakit, meski dokter menyarankan lebih baik melakukan pemeriksaan menyeluruh.


Joker menoleh ke arah Ardiaz dan bersandar di kusen jendela, menikmati semilir angin musim gugur yang sebentar lagi akan semakin dingin.


“Aku sudah mendengar kabarnya dari Vermont. Aku turut menyesal atas apa yang dialaminya. Tapi percayalah, sejak awal dia sudah tahu bahwa aku bisa saja menjadi agen ganda kakaknya,” ucap Joker.


Ardiaz terlihat jengah dengan sikap Joker yang seolah ikut bersimpati pada temannya yang baru bangun dari koma itu.


“Heh... Menyesal kau bilang. Kalau saja kau tak mengajukan ide bodoh untuk menyerang gudang senjata itu, dia pasti tak akan berakhir seperti ini. Bukankah dari awal ini memang rencanamu?” ucap Ardiaz.


Joker kembali menyesap cerutunya dan menghembuskan asapnya yang pekat, hingga mengepul ke udara.


“Dari pada kau terus menyalahkan aku, lebih baik kau pikirkan saja langkah selanjutnya,” sahut Joker.


“Kau tidak perlu tahu apa yang akan ku lakukan selanjutnya. Yang pasti, aku ingin membawa pergi Delta dari sini,” ucap Ardiaz.


“Silakan saja. Tapi tidak semudah itu. Dia yang sekarang sudah benar-benar gila. Dia bahkan terus memukuli orang untuk melampiaskan kekesalannya, karena merasa telah dijebak dan terkurung di sini,” sahut Joker.


“Kurang ajar. Apa yang telah kau lakukan pada anak itu?” tanya Ardiaz geram.


“Tak ada. Aku hanya membawanya kemari, mengurungnya dan membawanya ke tengah lapangan saat anak-anakku sedang berlatih,” jawab Joker.


“Brengsek! Kau jadikan dia samsak hidup, hah?” ucap Ardiaz semakin kesal.


Tangannya bahkan semakin keras mengepal dan memukul sofa.


“Aku hanya ingin membuat dia lebih baik. Dia mengamuk sepanjang hari dan itu tidak baik kalau tak dilampiaskan. Aku hanya membantunya saja,” sahut Joker.

__ADS_1


Kemudian, sebuah ketukan membuat keduanya diam sejenak. Joker memberi perintah orang di luar untuk masuk, sedangkan dia berjalan ke arah pintu.


Seseorang muncul dari pintu dan berdiri di depan Ardiaz. Pria yang sejak tadi terus kesal dengan lawan bicara itu tiba-tiba terkejut dan menegakkan duduknya.


Dia bahkan hendak bangun, namun nyeri di dadanya membuat dia terduduk kembali.


“Kalian bicaralah. Aku akan keluar,” ucap Joker.


Pria itu sudah berdiri di ambang pintu dan bergegas pergi meninggalkan dua orang pria muda di dalam ruangan tersebut.


Ardiaz tak menoleh sama sekali saat Joker pergi. Tatapannya lurus ke depan, kearah rekannya yang kini tampak lebih layak dari pada tadi.


“Apa kau masih butuh penjelasanku, Delta,” ucap Ardiaz.


“Bukankah itu hutang mu padaku?” sahut Mac duff dengan tatapan tak kalah tajam.


Ardiaz meraih gelas berisi wiski di depannya. Dia nampak menggoyangkan benda mudah pecah itu dan kemudian menyesap isinya.


Sementara Mac duff, dia menarik sebuah kursi dan duduk bertopang kaki menghadap langsung kepada Ardiaz.


Suami Evangeline itu pun kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi. Mulai dari saat dia tahu siapa Jordan sebenarnya, apa yang direncanakan oleh tuan muda Lucifer yang asli itu, dan bagaimana mereka bisa berakhir seperti ini sekarang.


Sementara dirinya harus menjadi tuan muda Lucifer di istana yang lebih cocok disebut penjara itu. Ditambah Devon yang terus menggunakan Evangeline sebagai alat untuk mengancam Ardiaz.


Mac duff sama sekali tak menyela ketika rekannya tengah menjelaskan semuanya. Dia biarkan pria itu menuntaskan penjelasannya, sementara dia juga menikmati wiski dengan menenggak langsung dari botolnya.


“Aku tahu ini terdengar seperti kebohongan yang menyebalkan untukmu. Aku tahu harusnya ku ceritakan semuanya padamu lebih awal, tapi Jordan tak mungkin mengungkapnya sendiri padamu, sementara aku terlalu fokus pada rencana. Aku hanya bisa minta maaf padamu, Delta. Jika kau tak puas, kau bisa menghajarku sampai kau benar-benar puas,” pungkas Ardiaz.


Jordan tak langsung menjawab. Dia kembali meneguk minumannya, lalu menyeka lelehan di bibirnya dengan punggung tangan.


“Aku sudah cukup menghajar mu tadi. Di sini juga aku sudah sangat puas menghajar orang. Aku tidak butuh menghajar siapapun lagi untuk meredakan kemarahanku padamu,” sahut Mac duff.


“Jadi, karena kita sudah terlanjur seperti ini, apa kau masih mau melanjutkan rencana ini berdua denganku?” tanya Ardiaz.


Mac duff mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari Ardiaz.


“Berdua? Lalu Charlie? Apa kau mau meninggalkannya?” tanya Mac duff.

__ADS_1


“Dia akan tetap bersamaku. Bagaimanapun juga, dialah tuan muda Lucifer yang sesungguhnya. Aku hanya menggantikannya saja sampai semua ini berakhir, dan membawanya kembali ke Wisteria jika dia masih saja seperti sekarang ini,” ucap Ardiaz.


Mac duff kembali menenggak botol wiski di tangannya hingga tinggal separuh. Dia benar-benar peminum yang handal.


“Ingat, aku masih marah padamu. Tapi karena disini aku masih belum punya sekutu, jadi kuputuskan untuk kembali bekerjasama dengamu. Hanya jika kau berani tidak terbuka lagi padaku, maka saat itu juga jangan salahkan aku jika aku menghianatimu,” ucap Mac duff.


Ardiaz tersenyum samar, dan kembali meneguk minuman yang tersisa di gelasnya.


Dari saat itu, Ardiaz meminta Mac duff untuk tetap berada di sisi Joker untuk memastikan pria itu tidak lagi membohongi mereka. Sementara Ardiaz mulai menjalankan perannya sebagai King baru yang memegang persenjataan mereka, menggantikan King yang terdahulu.


Dia terus mengunjungi Jordan, meski pria itu masih belum menunjukkan kemajuan apapun. Suatu ketika, saat itu genap satu bulan dia berada di bawah pengawasan Devon, atau lebih tepatnya dua pekan setelah dia menjadi King, Ardiaz harus pergi ke dermaga timur untuk menghadiri transaksi senjata api dari kawasan barat, serta obat-obatan dari wilayah Asia Tenggara.


Di sanalah dia pertama kali bertemu dengan si cantik dan seksi, Alexa. Seperti yang selalu di lakukan oleh wanita itu, dia akan mencoba merayu siapapun pria yang menurutnya menarik.


Terlebih Ardiaz masih muda, tampan dan tubuhnya pun sangat menggiurkan untuk wanita hypers*eeks itu.


Dia tak peduli meski Ardiaz sudah diperkenalkan kepada seluruh anggota Lucifer, bahwa dia adalah adik sang Emperor sekaligus King yang baru. Yang dia tahu, saat seorang pria sudah masuk ke dalam daftar targetnya, maka dia akan terus mencoba mengejarnya.


Saat ini, keduanya tengah bertemu dengan pemasok mereka. Ardiaz seperti biasa terlihat begitu dingin. Tatapan matanya tajam seolah melucuti apapun yang ditatapnya.


Kedua pemasok itu bahkan sampai enggan beradu pandang dengan Ardiaz, dan lebih memilih berbicara dengan Alexa.


Wanita itu dengan penampilan dan tutur katanya yang manja, membuat pria manapun pasti akan masuk ke dalam perangkapnya.


Kecuali Ardiaz yang sejak awal sama sekali tak peduli akan hal itu, dan justru lebih memilih untuk memeriksa semua tong kayu, yang disinyalir berisikan senjata api dari yang ringan hingga yang berat seperti bazoka.


Ada satu unit bazoka lengkap dengan lima hulu ledaknya. Seketika, dia teringat pada Jordan.


Ardiaz pun terpikir akan suatu tempat yang ia lupakan.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2