
“Ayah ingin menemui Aaron,” ucap Evangeline.
Akhirnya setelah cukup lama saling diam, gadis itu membuka suara dan mengatakan apa yang menjadi ganjalan di hatinya.
“Aaron? Maksudmu Kakak Ardiaz?” tanya Malcolm memastikan.
Evangeline mengangguk. Helaan nafas berat kembali terdengar dari gadis cantik itu.
“Aku yakin kau pasti sudah mendengar tentang aku dan Aaron dari Ardiaz bukan,” ucap Evangeline getir.
Malcolm tak menjawab karena sudah pasti jawabannya adalah iya. Dia memilih melempar pandangan ke depan, dan menunggu gadis di sampingnya kembali bersuara.
“Sebelumnya aku mengira hanya merasa benci padanya, karena telah membohongiku selama ini, juga karena dia telah menyebabkan ayahku koma. Meski ternyata memang bukan dia yang menembak ayah, akan tetapi secara tak langsung dialah yang memulai semua bencana ini.”
“Ardiaz bahkan lebih bisa berpikir terbuka dan mencari tahu lebih dulu kebenarannya. Tapi Aaron, kukira dia pria yang cerdas, akan tetapi justru langsung percaya dan berencana menghancurkan ayahku hanya karena hasutan tak berdasar."
"Dan lucunya lagi, aku bahkan tetap mempercayainya, mencintainya dan meminta bantuannya untuk lepas dari suamiku sendiri. Sungguh ironi bukan?” ungkap Evangeline.
Gadis itu terlihat mengepalkan tangannya, saat membicarakan Aaron. Malcolm tetap diam dan bahkan tak melirik sedikitpun. Dia terus menyimak setiap perkataan Evangeline.
Dia membiarkan gadis itu mencurahkan kegundahannya, setidaknya agar dia merasa lebih tenang.
“Tapi setelah kupikirkan lagi, rupanya bukan hanya karena aku membencinya. Tapi juga karena aku takut melihat bayangan pria itu di diri kakaknya,” lanjut Evangeline.
Suaranya terdengar bergetar dan membuat Malcolm menoleh. Gadis itu tertunduk dengan bibir bawah yang tergigit.
Sebulir bening meluncur dari mata lentik itu dan menetes di atas kepalan tangan Evangeline. Jelas terlihat sekali bahwa Ardiaz telah benar-benar masuk ke dalam hati gadis tersebut dan Malcolm sudah menyadari hal itu sejak lama.
Dia semakin iba dengan nasib gadis ini. Meski Malcolm tahu semua kebenarannya, bahwa gadis itu adalah istri temannya, namun entah perasaan apa yang timbul di dalam hatinya saat ini.
Tubuhnya bahkan bergerak dengan sendirinya, mendekat dan merentangkan tangan ke arah Evangeline. Untuk pertama kalinya, Malcolm mau berdekatan dengan gadis itu.
Dokter itu entah sadar atau tidak, telah memeluk Evangeline dengan begitu lembutnya. Dia menepuk punggung gadis itu seraya menenangkan.
Evangeline semakin terisak di dalam pelukan Malcolm. Dia kembali teringat akan Ardiaz. Meski hanya ada kenangan menyebalkan dari pria itu, namun entah kenapa kehadiran suami dadakannya justru benar-benar membekas di hatinya.
Kenapa aku terus merasa sesak setiap kali mengingatmu? Mungkinkah aku baru menyadari telah jatuh cinta padamu setelah kau pergi? batin Evangeline.
...❄❄❄❄❄...
Beberapa hari telah berlalu semenjak Tuan Hemachandra mengutarakan keinginannya kepada sang putri. Sejak saat itu, Evangeline terus menghindar setiap kali sang ayah hendak mengungkitnya.
Meski begitu, gadis tersebut selalu setia menemani sang ayah dalam menjalani hari-hari terapinya yang telah membuat kondisi fisiknya semakin membaik.
Pria paruh baya itu bahkan telah mulai berlatih berjalan menggunakan tongkat, dan tidak lagi bergantung pada kursi roda.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Tuan Hemachandra baru selesai menjalani fisioterapi. Evangeline terlihat menunggu sang ayah keluar dari ruangan.
Saat melihat sang ayah keluar dengan menggunakan tongkat dan di papah oleh seorang perawat, Evangeline pun segera menghampiri dan mengambil alih ayahnya dari perawat tersebut.
“Terimakaiah, Suster,” ucap gadis itu.
Dia lalu mengajak ayahnya untuk duduk terlebih dahulu di tempat tunggu.
“Tunggu sebentar. Biar ku ambilkan kursi roda untuk Ayah,” ucap Evangeline.
“Baiklah,” sahut Tuan Hemachandra.
Evangeline pun lalu berdiri. Namun, baru saja dia berbalik hendak melangkah, matanya melihat kehadiran Malcolm yang berjalan ke aranya, dengan mendorong sebuah kursi roda.
Dokter itu tersenyum ke arah gadis tersebut. Evangeline pun membalas senyuman itu.
“Bagaimana kau tahu ayahku telah selesai terapi?” tanya Evangeline.
“Tentu saja dari dokternya,” jawab Malcolm.
"Ah... benar. Informasi dari orang dalam," gumam Evangeline.
Malcolm membungkuk memberi hormat kepada Tuan Hemachandra. Pria paruh baya itu pun tersenyum melihat sopan santun dari pria muda di depannya.
“Lebih baik dari sebelumnya. Sebenarnya aku sudah bisa berjalan menggunakan tongkat. Tapi putriku ini benar-benar cerewet dan melarang ku untuk melakukannya,” jawab Tuan Hemachandra.
“Ayah, itu semua karena aku peduli padamu. Jahat sekali kau mengatakan aku seperti itu,” rengek Evangeline.
Kedua pria itu pun terkekeh melihat ekspresi Evangeline yang menggemaskan.
“Baiklah. Baiklah. Terimakasih putriku. Karena kau telah menjagaku dengan sangat baik,” ucap Tuan Hemachandra.
“Iya, Ayah. Sama-smaa,” sahut Evangeline.
Ketiganya pun tertawa. Tuan Hemachandra lalu mencoba berdiri dan beralih ke kursi roda, dibantu oleh Malcolm.
Sementara itu, Evangeline menyiapkan selimut untuk menutupi bagian kaki ayahnya.
“Eva, apa kau sudah memesankan makan malam? Ayah bosan makan makanan rumah sakit terus,” ucap Tuan Hemachandra.
“Tenang saja, Ayah. Sudah kusiapkan. Ayah tinggal habiskan saja,” sahut Evangeline.
“Bagus. Dokter Malcolm juga sebaiknya ikut bergabung. Eva pasti sudah memesan banyak makanan. Akan merepotkan jika hanya dua orang saja yang makan,” ajak Tuan Hemachandra.
“Aaahh... Baiklah. Kalau tidak merepotkan, saya akan bergabung,” sahut Malcolm.
__ADS_1
Ketiganya pun berjalan bersama menuju ke kamar rawat Hemachandra. Sesampainya di sana, kedua pria beda generasi itu terlihat menganga melihat begitu banyak makanan yang dipesan oleh Evangeline.
“Nak, apa kau yakin telah memesan semua ini?” tanya Tuan Hemachandra.
“Benar. Apa masih ada yang kurang, Ayah?” tanya Evangeline.
Gadis itu terlihat mengamati semua makanan yang telah datang dan memenuhi meja di depan sofa.
“Ayah rasa ini terlalu banyak. Bagaimana cara kita menghabiskan semua ini?” tanya Tuan Hemachandra.
“Bukankah tadi ada yang merengek minta dipesankan makanan? Dia bilang bosan dengan makanan rumah sakit. Jadi ku pesanan saja semua yang dia suka,” jawab Evangeline dengan entengnya, sambil melirik sang ayah.
Gadis itu lalu duduk di sofa dan mengambil sebuah ceri yang ada di atas cake, lalu memakannya.
“Ehm... Sangat manis,” gumam Evangeline.
Malcolm hanya bisa menahan tawanya melihat tingkah Evangeline, sementara Hemachandra justru geleng kepala melihat semua makanan yang sengaja dipesankan oleh sang putri untuknya.
Keduanya pun lalu mendekat dan ikut bergabung dengan Evangeline yang telah lebih dulu mencicipi makanan pesanannya itu.
“Ayah, cobalah ini,” seru Evangeline.
Gadis itu memberikan sepiring beef steak yang masih hangat untuk sang ayah. Dia bahkan telah memotong-motongnya agar mudah dimakan oleh ayahnya.
“Terimakasih, Sayang,” ucap Tuan Hemachandra.
Evangeline hanya tersenyum. Dia lalu mengambilkan spagetti dan memberikannya kepada Malcolm.
“Karbonara, seperti biasa,” ucap Evangeline.
Malcolm pun menerimanya dengan senang hati. Gadis itu mulai mengerti apa yang disukai oleh Malcolm, karena seringnya mereka berinteraksi. Hingga saat memesankan makanan untuk sang ayah pun dia masih menyempatkan untuk memesan sesuatu untuk dokter itu juga.
Melihat interaksi antara Malcolm dan putrinya membuat Hemachandra merasa senang. Dia sedikit lega, karena setidaknya Evangeline memilik seseorang yang bisa membuatnya kembali tersenyum ceria.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1