
Di tempat lain, Ardiaz nampak sedang mengelap senjata apinya yang ia preteli, dan letakkan di atas meja.
Sementara saat ini di markasnya sedang ada Jordan dan juga Damian. Hacker muda itu datang memenuhi panggilan dari sang King.
“Aku terima pernyataanmu, bahwa kau memilih ku dari pada Vermont. Sebaliknya, aku juga berjanji akan melindungi mu dan juga wanita tua itu."
"Jadi, untuk tugas pertama mu, aku minta kau untuk masuk ke dalam sistem informasi Lucifer, dan mencuri file tentang semua transaksi sepuluh tahun yang lalu,” seru Ardiaz.
Damian nampak membola mendengar permintaan dari king nya.
“Tapi... Itu...,” sanggah Damian.
“Aku tidak peduli cara apa yang kau gunakan untuk mendapatkannya. Aku hanya butuh hasil kerjamu saja. Ku beri waktu dua hari. Jika dalam dua hari kau tak bisa mendapatkannya, maka bersiaplah untuk menjadi teman latihan Delta,” sela Ardiaz panjang.
Damian benar-benar ketakutan. Dia tahu betul bagaimana kekejaman Mac duff. Bahkan setiap teman berlatihnya akan berakhir dengan luka parah bahkan tak jarang ada yang sampai meninggal di tempat, karena brutalnya serangan-serangan sang bos sky night.
Hacker muda itu bahkan sampai kesulitan menelan ludah, saat membayangkan jika dia harus berakhir menjadi samsak tinju hidup untuk sang algojo dari kelompok King Joker.
“Beri waktu lebih lama lagi, King. Aku tidak mungkin bisa mengambil semua berkas tanpa diketahui Vermont hanya dalam dua hari. Beri aku setidaknya sepuluh... Ah tidak. Lima hari. Tolong beri aku waktu lima hari,” pinta Damian.
Ardiaz menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi mengelap senjatanya, dan menatap tajam ke arah Damian.
“Itu resiko yang harus kau tanggung. Bukankah selama ini aku sudah sangat baik padamu? Tapi kau malah mengkhianatiku dengan membocorkan informasi kami kepada seorang gadis kecil. Jadi, terimalah hukumanmu,” sahut Ardiaz.
Pria itu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Namun tiba-tiba, Jordan mengetuk-ngetuk mejanya dengan keras, membuat Damian menoleh ke arah hacker jenius generasi pertama itu. Sementara Ardiaz, dia hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada senjatanya sendiri.
“Aku sudah selesai bicara denganmu. Sekarang pergilah dan lakukan tugas dengan baik. Mengerti?” seru Ardiaz dengan suara berat dan dalam.
Damian pun bergidik ngeri jika suara itu sudah keluar dari mulut sang king palsu itu. Tanpa menunggu atau memohon lagi, dia pun segera pergi dari sini.
Setelah mendengar pintu terbuka dan kembali tertutup, Ardiaz meletakkan lap dan juga senjatanya ke atas meja.
Dia lalu menoleh ke arah Jordan yang sejak tadi terus mengeruk mejanya.
“Kirimkan pesannya ke ponsel lama ku,” seru Ardiaz.
Di markasnya ini, alat komunikasi tak akan bisa berfungsi tanpa seijin dari Ardiaz, yang tentu saja dengan bantuan sistem hantu buatan Jordan.
Tak lama kemudian, sebuah ponsel lama yang selalu ada di saku Ardiaz menerima pesan.
__ADS_1
Joker meminta kita datang ke kastil sekarang.
Pesan tersebut yang tak lain adalah berasal dari Mac duff, yang memintanya untuk segera datang ke pegunungan Selatan di mana markas Joker berada.
Setelah melihat pesan tersebut, Ardiaz pun kembali merakit senjatanya yang sejak tadi tercerai berai di atas meja.
“Charlie, bersiaplah karena kita akan pergi sekarang,” seru Ardiaz.
Dia memasukkan kembali senjatanya ke dalam kantung yang terkait dengan ikat pinggangnya, dan mengenakan jaket baseball serta topi hitam.
Ardiaz berjalan keluar disusul oleh Jordan yang selalu berada di sampingnya. Dia mengemudikan mobil yang sejak tadi terparkir di garasi seberang tempat itu dan melaju pergi dari sana.
Sekitar empat puluh menit dia berkendara, kini Ardiaz dan Jordan telah tiba di kastil Joker yang berada di pegunungan selatan Kota Orchid.
Di sana sudah ada mobil Mac duff yang tiba lebih dulu. Ardiaz pun keluar dan berjalan masuk. Namun, saat dia hampir mencapai pintu utama, sebuah suara membuatnya berbalik dan mengedarkan pandangannya.
Tangannya bahkan telah bersiap meraih pistol yang ada di pinggangnya, dengan tatapan elang yang begitu tajam menyusuri hutan pinus di depan sana.
Namun, dia tak melihat pergerakan aneh lagi di sekitar sana, dan juga tak ada hawa membunuh yang dia rasakan. Lagipula ini kawasan seorang King Lucifer, sudah pasti penjagaan sangat ketat di tempat tersebut.
Dia pun kembali menarik tangannya dari pinggang dan berbalik, lalu membuka pintu utama itu, kemudian masuk ke dalam.
“King kami sudah menunggu Anda. Mari silahkan ikut saya ke ruangannya,” ucap salah satu pengawal Joker.
Ardiaz tak menyahut dan hanya berjalan dengan dituntun oleh pengawal tadi. Keduanya pun tiba di depan sebuah ruangan di dalam kastil dengan pintu kayu hitam, serta berhias ukiran khas eropa klasik.
Pengawal itu lalu mengetuk pintu dan memberitahukan kedatangan Ardiaz di sana.
“Biarkan dia masuk,” sahut suara berat dari dalam.
Pengawal tadi lalu membukakan pintu dan mempersilahkan Ardiaz dan juga Jordan untuk masuk ke dalam.
Jordan seketika langsung duduk dengan nyaman di salah satu kursi yang ada dengan tenang, sementara Ardiaz mengedar mencari sesuatu sebelum akhirnya duduk.
“Dimana Delta?” tanya Ardiaz.
Joker yang sedang menyiapkan gelas dan mengambil minuman dari lemarinya, berjalan ke arah kedua tamunya.
“Dia belum kemari. Kalian yang pertama,” sahut Joker, seraya meletakkan gelas dan minuman di atas meja.
__ADS_1
“Bukankah dia lebih dulu tiba di sini? Aku melihat mobilnya di depan,” tutur Ardiaz.
Joker menuangkan minuman ke gelas untuk para tamu. Ardiaz pun menerima satu darinya.
“Benarkah? Mungkin saja dia sedang berkeliling, atau melihat mainan bagus di sana,” ucap Joker santai.
Dia mengulurkan gelasnya mengajak Ardiaz bersulang. Dentingan gelas pun beradu dan keduanya meneguk minuman dari gelas masing-masing.
“Apa yang ingin kau bicarakan hingga meminta kami datang malam-malam begini, hah?” tanya Ardiaz langsung.
“Tunggu sampai Delta tiba. Aku yakin dia tak akan lama bermainnya,” sahut Joker.
Dia pun kembali menyesap alkoholnya.
...❄❄❄❄❄...
Sementara itu beberapa saat yang lalu di tempat lain, Evangeline dan juga Joy yang mencari jejak Mac duff, seolah menemukan petunjuk dari rambu lalu lintas yang ada di sekitar persimpangan, tempat mereka kehilangan bos sky night tersebut.
“Apa itu ditulis 'jalur pegunungan Selatan'?” tanya Joy.
Evangeline pun menoleh mengikuti arah pandangan sang sahabat.
“Iya benar. Memang ada apa dengan itu?” tanya Evangeline bingung.
Joy nampak kembali terlihat bersemangat, dengan senyum yang kembali muncul di wajahnya.
“Sepertinya aku tahu bagaimana menemukannya,” ucap Joy.
“Maksudmu?” tanya Evangeline.
“Jalur itu hanya ada satu, atau dengan kata lain jalur tunggal hingga sampai di balik pegunungan sana. Kemungkinan besar kita bisa mengejarnya, karena dia hanya akan berjalan lurus dari sini hingga ujung sana,” terang Joy.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih