
Beberapa hari berlalu sejak kabar tentang kematian suaminya sampai di telinga Evangeline, dan entah kenapa Ardiaz terus memantau kondisi istrinya itu setiap kali dia berada di luar pengawasan pengawalnya.
Dia terus memastikan bahwa Evangeline tak melakukan hal-hal nekat karena kesedihannya yang sudah berlangsung beberapa hari ini.
Ardiaz terus mendengar gadis itu menangis seorang diri di dalam kamarnya, saat dia sedang sendirian dan tak ada seorang pun di sisinya.
Lagi, genangan selalu muncul di mata Ardiaz setiap kali mendengarkan tangisan Evangeline. Ketika gadis itu bersama orang lain, dia akan bersikap dingin dan setegar baru karang. Dia akan menyibukkan dirinya dengan semua pekerjaan yang melelahkan.
Dia bahkan sudah beberapa kali harus diberi cairan infus karena gula darah rendah dan dehidrasi, akibat terlalu mengabaikan dirinya sendiri.
Hingga suatu malam, Evangeline duduk di depan meja riasnya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum tipis ke arahnya sendiri.
Perlahan, tangannya terangkat dan meraih liontin kalung berbentuk mercusuar yang saat itu ia pakai. Tatapannya begitu sendu melihat pantulan kalung tersebut dari cermin.
“Hei, bod*h. Ku kira nyawamu ada sembilan seperti seekor kucing, sampai kau selalu tak peduli setiap kali pulang sekarat dan hampir mati. Ternyata kau justru kehabisan nyawa dan mati muda di sana, serta menjadikan ku seorang janda. Kenapa bahkan sampai mati pun kau selalu menyebalkan, hah?” ucap Evangeline.
Dia berbicara pada kalungnya seolah berbicara dengan suaminya. Dia tak tahu jika pria itu saat ini benar-benar sedang melihat dan mendengar semuanya.
Meski kata-katanya ketus dan kasar, bahkan penuh sindiran, namun matanya tak bisa berbohong. Kesedihan terus membayangi mata indah Evangeline hingga kembali berkaca-kaca.
Lama gadis itu memandangi kalungnya, hingga akhirnya dia melepaskan benda tersebut dari lehernya.
Dia meletakkan kalung itu di atas telapak tangannya, hingga Ardiaz bisa bertatapan langsung dengan istrinya. Evangeline sejak tadi berkali-kali menyeka lelehan bening yang mengalir di wajahnya dengan punggung tangan.
“Maaf, sepertinya aku harus melepas benda ini. Aku tidak tahu kenapa, tapi ini benar-benar menyebalkan. Aku terus saja memikirkanmu dan kembali menangis setiap melihat kalung darimu ini. Aku... sepertinya aku...,” ucap Evangeline terbata.
Dia bahkan tak sanggup lagi meneruskan perkataan selanjutnya.
Sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu. Jatuh cinta yang terlambat ku sadari, lanjut Evangeline dalam hati.
Gadis itu membekap mulutnya dengan sebelah tangan dan berusaha menahan suara isaknya, agar tak terdengar hingga keluar.
Namun, hal itu semakin membuat hati Ardiaz terasa tersayat pilu. Sesak di dadanya membuat pria yang selalu terlihat kuat dan garang itu pun runtuh. Dia terisak melihat sang istri menangis seorang diri di seberang sana, tanpa ada siapapun di sampingnya.
__ADS_1
Bahkan, dia sendiri justru harus berpura-pura mati, dan tak bisa berbuat apapun untuk gadis itu.
Setelah cukup lama menangis, Evangeline terlihat menyeka lelehan di seluruh wajahnya. Dia mencoba menarik nafas dalam dan menenangkan hatinya yang sangat kacau.
Dia meletakkan kalung itu di dalam kotak beludru, bersama dengan kalung cantik bermata berlian biru, serta sebuah cincin pernikahan yang telah hangus dan terdapat bercak darah di atasnya.
Gadis itu pun lalu menutup kotak tersebut, dan sampai di sanalah Ardiaz bisa melihat bagaimana keadaan sang istri di kota yang ia tinggalkan.
...❄❄❄❄❄...
Hari berlalu begitu cepat. Jordan kini telah mendapatkan persetujuan dari dokter untuk bisa pulang bersama dengan Ardiaz. Pria itu selalu membawa rekannya kemana pun ia mendapatkan misi dari Devon.
Sejak kejadian dimana Jordan berhasil menghidupkan kembali sistem Enel di saat otaknya masih mengalami cedera, sampai saat ini Ardiaz terus menyembunyikan hal tersebut dari semua orang-orang Lucifer.
Hanya mac duff yang dia beritahukan, dan memintanya untuk menjaga rahasia ini. Ardiaz tak ingin jika sistem itu sampai jatuh ke tangan Lucifer, terlebih hal ini adalah sesuatu yang sejak dulu dijaga oleh Jordan, hingga membuatnya rela hidup menggelandang jauh dari kemewahan tuan muda Lucifer, serta membuatnya bertukar posisi dengan Ardiaz.
Hal ini lah yang membuat Ardiaz seolah bekerja sendiri tanpa seorang informan yang membantu, dan membuat Vermont berkesempatan memasangkan Ardiaz dengan seorang hacker andalan organisasi, karena mengira bahwa saat ini di tim ardiaz tak memiliki pion yang cukup kuat untuk membuat misinya selalu berhasil.
Alhasil, di misi kali ini vermont memasukkan seorang pemuda yang sudah sangat dikenal di organisasi tersebut sebagai anak jenius, karena sudah bisa meretas sistem keamanan negara, di saat teman sebayanya baru mulai belajar menaiki sepeda.
Sepertinya, sang Emperor melihat sosok sang adik pada pemuda jenius itu, mengingat Jordan yang tak kunjung ketemu, dan dia justru bertemu dengan orang yang memiliki kemampuan sama dengan adiknya itu.
Hari ini, Ardiaz sedang berada di markasnya. Dia terlihat tengah mengelap motor besarnya ditemani Jordan yang selalu memakai jaket, dengan tudung kepala yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
Pria yang kini mengalami cedera otak itu, terlihat sibuk dengan perangkat elektronik yang ada di tangannya.
Sudah hal biasa bagi Ardiaz yang harus bersama dengan Jordan seharian, bahkan tanpa ada satu kata pun terucap di antara mereka berdua.
Namun begitu, setiap hari Jordan selalu membuat Ardiaz berdecak kagum memuji setiap apa yang dilakukan oleh sang hacker.
Setiap kali Ardiaz mendapatkan misi, Jordan langsung meraih map hitam yang diberikan oleh Vermont, dan saat itu juga dia mulai mengutak atik macbooknya.
Ardiaz hanya diam sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh rekannya itu. Tak butuh waktu lama, cukup lima menit dan dia sudah mendapatkan semua data penting yang diperlukan untuk menghadapi klien.
__ADS_1
Semua rahasia busuk serta kelemahan pihak lawan, bisa dengan mudah didapatkan oleh Jordan. Hal ini membuat siapapun tak akan percaya bahwa yang melakukan hal tersebut adalah orang yang bahkan tak mengenali siapa dirinya sendiri.
Awalnya, Ardiaz pun mengira kecacatan Jordan hanya pura-pura, akan tetapi dokter telah mengkonfirmasi kebenarannya dan menepis kecurigaan pria itu.
Namun demikian, hal ini sangat menguntungkan bagi Ardiaz, karena berkat tindakan cepat Jordan, setiap misi transaksinya bisa dengan mudah diselesaikan, karena Ardiaz bisa menekan pihak lawan dengan informasi yang dimilikinya.
Karena pencapaian Ardiaz yang terbilang gemilang dalam waktu singkat inilah yang menjadi alasan, kenapa Devonshire memerintahkan Vermont untuk segera memasukkan orangnya ke dalam tim Ardiaz, agar semua gerak gerik mencurigakan dari pria muda itu bisa diketahui oleh organisasi, terlebih misi utama sang hacker andalan mereka adalah untuk merebut sistem Enel, yang mereka kira dimiliki oleh Ardiaz.
Ketika Ardiaz sibuk dengan motornya, tiba-tiba suara sepeda motor dengan kenalpot yang berisik seperti berhenti di depan garasi miliknya.
Pria itu melirik sekilas, dan berjalan menghampiri Jordan. Ardiaz mengambil macbook dari tangan rekannya itu dan membuat Jordan mendongak, menatap tajam kepadanya, seolah tak terima mainannya itu diambil paksa oleh seseorang.
Namun, Ardiaz segera bereaksi kembali dengan menempelkan telunjuk di depan bibir, dan seketika Jordan pun kembali tenang dengan wajah tertunduk.
Ardiaz meraih tas yang ada di samping rekannya itu, dan lalu menyembunyikan perangkat tadi di dalam sana.
Tepat setelah Ardiaz berhasil menyembunyikan macbook milik Jordan, seseorang membuka pintu garasi dan membuat sang King menoleh dengan tatapan tajamnya.
“Siapa yang berani masuk kemari tanpa ijinku?” tanyanya dengan suara berat.
Namun, saat dia melihat siapa yang masuk, seketika ketegangan di wajahnya menghilang, dan berganti kerutan yang tercetak jelas di keningnya.
“Kau?!”
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih