They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Sebuah pesan


__ADS_3

Dia mencoba mendorong tubuh sang suami, akan tetapi kekuatan Ardiaz jauh lebih besar darinya. Dengan kasar, Ardiaz menggigit bibir Evangeline hingga gadis itu pun terpaksa membuka mulutnya.


Saat itulah, bubur yang tadi dimakannya, dia dorong ke dalam mulut sang istri seluruhnya hingga tak bersisa, dan memastikan Evangeline menelannya.


Setelah memastikan semuanya masuk, barulah Ardiaz melepaskan Evangeline dan menjauhkan wajahnya dari sang istri. Gadis itu mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya secara kasar, akan tetapi Ardiaz justru menyekanya dengan ibu jari, sambil menunjukkan ekspresi mengejek.


“Dasar brengs*k! Beraninya kau berbuat kurang ajar padaku,” maki Evangeline.


“Kau sendiri yang tak mau disuapi dengan cara yang normal kan? Jadi apa salahnya jika aku memakai cara seperti tadi. Lagipula, kita juga sudah menjadi suami istri sekarang. Aku berhak melakukan apapun terhadapmu, bahkan yang lebih dari ini,” ucap Ardiaz.


Evangeline membola. Dia tak percaya jika pria di depannya ini, sudah berani berbuat seperti ini padanya. Dia terus menatap tajam dengan penuh kebencian ke arah sang suami.


Sementara Ardiaz, pria itu kembali menyendokkan bubur dan menyodorkannya ke depan wajah Evangeline.


Namun, bukannya menurut, gadis itu justru terus menatap tajam ke arah Ardiaz tanpa mau mengikuti perkataan pria tersebut.


“Kalau kau masih tak mau makan dengan cara normal, aku tidak keberatan kalau harus menyuapimu seperti tadi lagi,” ucap Ardiaz.


Dia lalu menyuapkan bubur ke mulutnya lagi dan bersiap meraih tengkuk Evangeline. Namun gadis itu dengan cepat meraih mangkuk serta sendok dari tangan Ardiaz dan mulai melahap makanannya dengan terpaksa.


Ardiaz pun tersenyum samar, sambil memakan bubur yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya. Matanya terus memperhatikan Evangeline yang makan dengan wajah ditekuk.


...❄❄❄❄❄...


Hari berganti, tak terasa sudah lima hari Evangeline menikah dengan Ardiaz, dan selama itu pula gadis tersebut terus terkurung di dalam rumahnya sendiri.


Dia terisolasi dari dunia luar. Telepon, komputer dan bahkan ponsel pun sudah disita semuanya oleh Ardiaz, seolah pria itu memang ingin mengurung Evangeline di istana itu.


Saat ini, gadis tersebut telah pulih dari sakitnya. Dia terlihat diam sepanjang hari, dengan wajah yang selalu muram.


Dia mau tak mau hanya bisa menuruti perintah Ardiaz, tanpa bisa protes sedikitpun. Karena setiap kali dia menolak perintahnya, Ardiaz akan langsung turun tangan dan memaksanya dengan cara yang tak lazim, seperti tempo hari saat Evangeline tak mau makan.


Evangeline terlihat tengah duduk di bangku taman, yang berada di paviliun belakang rumahnya, di mana terdapat sebuah taman bunga yang indah, yang khusus dibuat oleh ayahnya untuk sang putri, yang sangat menyukai kupu-kupu.


Sejak kecil, Evangeline selalu mendapatkan apa yang dia mau. Bahkan untuk kupu-kupu pun dia bisa memilikinya secara pribadi.

__ADS_1


Saat dia sedang menikmati kesendiriannya, tiba-tiba seorang pelayan datang ke arahnya sambil membawakan sebuah selimut untuk menutupi kakinya agar tak kedinginan.


Evangeline meliriknya sekilas, akan tetapi dia merasa asing dengan pelayan yang baru saja datang menghampiri nya itu. Namun, lagi-lagi dia bersikap tak acuh. Gadis tersebut tak lantas peduli dan kembali membuang muka ke arah depan dengan gaya angkuhnya.


“Bawa kembali saja benda itu. Aku sama sekali tidak butuh,” seru Evangeline datar.


“Tapi Anda bisa sakit jika terlalu lama di luar, terlebih cuacanya sangat dingin di sini, Nona,” ucap si pelayan.


“Aku tak peduli sama sekali. Kau pergilah dan jangan menggangguku,” seru Evangeline.


Sang maid tak lantas pergi. Dia meletakkan selimut tersebut di bangku kosong yang ada di samping Evangeline.


“Saya letakkan ini di sini. Jika Anda pintar, Anda akan bisa menemukan sesuatu di dalamnya,” ucap sang maid lirih.


Dia pun lalu pergi, sementara Evangeline seketika mengerutkan dahinya, saat mendengar ucapan dari pelayan tersebut.


Setelah maid itu menjauh, Evangeline melirik ke arah samping, tepatnya di mana selimut itu berada. Netranya membola ketika melihat sesuatu nampak menyembul dari dalam lipatan selimut.


Terlihat sebuah ujung kertas putih dengan bertuliskan inisial “A”. Itu adalah inisial yang Evangeline berikan kepada sepasang kakak beradik yang memiliki huruf depan sama pada namanya.


Dia pun kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar, mengamati para pengawal yang sejak tadi terus mengawasinya. Dia seolah sedang memastikan bahwa tak ada orang yang berada di sana dan melihat gerak geriknya.


Saat merasa aman, Evangeline diam-diam mengambil benda tersebut dan memasukkannya ke dalam lipatan selimut agar tak terlihat.


Dia lalu meraupnya dan membawanya masuk ke dalam seraya memeluk benda tersebut.


Dia buru-buru pergi ke kamar sebelum ada seseorang yang melihat tingkahnya itu.


Sesampainya di kamar, Evangeline langsung menguncinya dari dalam, agar tak bisa dengan mudah diganggu oleh siapapun.


Dengan degup jantung yang begitu kencang, seolah tengah melakukan sebuah kejahatan, Evangeline dengan tangan gemetarnya mulai mengambil kertas tadi dari dalam lipatan selimut.


Benar saja, saat kertas tersebut berhasil di ambil, Evangeline kemudian membacanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Kita harus bertemu. Aku akan membantumu lepas dari genggaman adikku. Mari bertemu di keramaian town square akhir pekan ini. Aku akan menunggumu di sana.

__ADS_1


Begitulah pesannya. Evangeline nampak berkaca-kaca setelah membaca pesan dalam kertas tersebut. Dia pun mendekatkannya ke dada dan seolah tengah memeluk benda tersebut.


“Aaron, akhirnya kau memberiku kabar. Akhirnya aku masih punya harapan,” gumam Evangeline.


...❄❄❄❄❄...


Di tempat lain, tepatnya di sebuah ruangan kerja yang begitu luas dan didominasi warna hitam serta gold. Dinding sekatnya pun terbuat dari kaca tebal sehingga bisa terlihat ke segala penjuru ruangan.


Tak lupa juga ukiran naga kembar di kedua pojok belakang meja kerjanya.


Nampak seorang pria tengah bergulat dengan setumpuk berkas yang ada di depannya. Baik di atas meja maupun yang sudah berserakan entah jatuh di mana saja.


Wajahnya begitu serius melihat satu persatu deretan angka serta kalimat yang tercetak di atas kertas-kertas tersebut.


Tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar dari arah luar, dan membuat dia sekilas melihat ke arah pintu.


“Masuklah,” serunya.


Pintu pun terbuka. terlihat seorang wanita dengan mengenakan pakaian smart casual, kaus oversize putih dengan outer cardigan berwarna navi yang dilengkapi dengan bros bunga yang besar di bagian dada kirinya, serta dipadukan dengan celana berwarna putih serta sepatu snikers.


Rambutnya pendek sebahu dengan poni menyamping. Dia terlihat membawa sebuah macbook serta beberapa tumpukan dokumen di tangannya.


Wanita itu pun berjalan masuk dan menghampiri pria tersebut yang saat ini masih serius dengan pekerjaannya.


“Ini yang kau minta kemarin, Diaz,” ucapnya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2