They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Mabuk parah


__ADS_3

Di tempat lain, di sky night club, tepatnya di dalam sebuah ruangan VIP, seorang gadis nampak duduk seorang diri di atas sofa panjang, dengan pencahayaan lampu temaram.


Ruangan tersebut memiliki fasilitas khusus, yaitu tempat tidur yang berada di ruangan samping, yang terhubung dengan connecting door.


Tempat tersebut biasa dipesan untuk pasangan yang ingin menikmati malam bersama, bercinta dengan pasangan resmi maupun teman kencan semalam mereka.


Malam ini, Evangeline memesannya lewat perantara sang bartender, untuk bisa bertemu dengan Mac duff, agar bos klub malam tersebut percaya bahwa dia juga bisa memberi banyak uang.


Dia sudah menunggu sekitar setengah jam, dan yang ditunggu belum juga terlihat. Evangeline nampak beberapa kali mengambil camilan buah potong yang disediakan oleh pelayan, dan belum menyentuh minumannya sama sekali.


Lima belas menit kembali bergulir hingga membuat gadis itu kesal. Meski dia memakan buah-buahan, namun kerongkongannya terasa masih perlu dialiri sesuatu.


Dia pun akhirnya meminum alkohol dengan kadar tujuh puluh persen, yang sengaja disuguhkan kepadanya.


Gadis polos tersebut tak tahu akan kadar alkohol yang tinggi itu, dan meneguknya begitu saja sekaligus.


Dia mengira bahwa minuman itu sama seperti yag pernah ia minum sebelumnya di depan meja bar.


Saru sloki minuman itu gak cukup untuk melepas dahaganya, sehingga Evangeline pun kembali menuangkannya lagi ke dalam gelas. Untuk kedua kali, dia meneguk habis minuman alkohol tersebut.


Namun, baru saja dia meletakkan gelas ke atas meja, Evangeline merasa tubuhnya mulai mengalami reaksi yang aneh.


Badannya terasa panas dan kepalanya pun tiba-tiba menjadi pusing. Secepat itu alkohol bereaksi terhadapnya yang memang rentan akan minuman jenis itu, terlebih kali ini benar-benar berkadar tinggi.


“Kenapa begini? Bukankah baru dua gelas kecil? Gawat,” gumam Evangeline yang terus memegangi kepalanya.


Gadis itu mulai khawatir dengan nasibnya setelah ini. Dia tak mau berakhir konyol ditangan seorang pria hidung belang hanya karena mabuk.


Dia lalu berusaha berpegangan pada sofa, dan hendak bangun. Namun, Dia merasa sedang melayang. Kakinya seolah tak berpijak di tanah dan membuatnya kembali terjatuh ke atas sofa.


Evangeline merasa panas di sekujur tubuhnya, hingga tanpa sadar dia pun menggeliat bak cacing kepanasan.


Bahkan pakaiannya yang sudah minim bahan itu pun tak cukup membuatnya dingin di dalam ruangan full AC tersebut.


Dia terus mengipasi tubuhnya dengan tangan, namun semuanya sia-sia belaka. Rasa panas itu benar-benar membakarnya.

__ADS_1


Gawat. Bagaimana ini? Bagaimana kalau orang itu mengambil kesempatan padaku? Sial! rutuknya dalam hati.


Di tengah kekhawatiran Evangeline, pintu tiba-tiba terbuka.


Tamat sudah, batin Evangeline.


...❄❄❄❄❄...


Beberapa saat sebelumnya, Ardiaz mengendarai mobilnya dengan Mac duff dan Jordan yang duduk di kursi belakang.


Dia terus melihat ke arah kaca spion dan memperhatikan kedua temannya yang begitu nyaman duduk di kursi penumpang.


Mac duff yang melihat sorot mata Ardiaz pun seolah tahu maksud tatapan itu.


“Hei, Alpha. Jangan pandangi aku seperti itu. Aku tahu kau ini King. Tapi bagaimana kalau polisi sampai melihat ada penumpang mabuk duduk di kursi depan, hah? Kali ini saja, jadilah supir pribadi ku,” ucap Mac duff.


“Cih! Sejak kapan kau jadi warga yang taat hukum, hah? Apa kau sedang melakukan kesalahan saat ini, sampai-sampai bertingkah aneh seperti sekarang?” terka Ardiaz.


Matanya memicing karena merasa temannya itu aneh. Namun, Mac duff cepat mengalihkan pembicaraan dan membuat Ardiaz tak lagi membahas tentang hal sebelumnya. Dia kembali meracau, seolah dia benar-benar sudah mabuk.


Setibanya mereka di klub, Mac duff yang masih terus berbicara tak jelas karena mabuk, memaksa Ardiaz untuk mengantarnya ke ruangan.


Jordan ia perintahkan agar tetap tinggal di dalam mobil, karena Ardiaz mengira dia hanya akan sebentar saja di dalam.


Namun, saat keduanya sudah hampir sampai di ruangan bos sky night tersebut, Mac duff tetiba teringat akan sesuatu.


“Ah... Benar. Wanita... Ada wanita cantik yang sedang menungguku,” ucap Mac duff dengan suara lirih tak jelasnya, namun terdengar dengan baik oleh Ardiaz.


“Sial! Apa kau gila? Kau membuatku memapahmu masuk, hanya untuk mengantarmu kepada wanita satu malam itu? Jalan saja sendiri ke sana,” keluh Ardiaz.


Pria itu bahkan melepas rangkulannya pada sang teman, dan membuat Mac duff sempoyongan hingga jatuh terduduk di lantai.


“Hei... Ayolah. Hanya di ujung sana saja. V... I... P... Room. Hehehe...” bujuk Mac duff dengan gaya khas pria mabuk pada umumnya.


Ardiaz masih menatap kesal ke arah temannya itu sambil berkacak pinggang. Sementara Mac duff, dia merangkak meraih kaki Ardiaz, hendak bangun meski terlihat kesusahan.

__ADS_1


Adik Aaron yang memang tak bisa membiarkan temannya susah, akhirnya membantu Mac duff bangun meski dengan perasaan kesal.


Hanya di depan teman-temannya lah dia bisa menunjukan sisi sebenarnya. Dia bisa mengeluh, kesal bahkan menangis hanya di depan mereka.


Pria itu pun lalu memapah Mac duff hingga sampai di lorong temaram, yang dipenuhi dengan banyak pintu serta cahaya lampu redup warna-warni yang menyinari seluruh lorong tersebut.


Suara dentuman musik disk joke pun terdengar cukup keras di sepanjang jalan.


Seorang pelayan yang melihat bos mereka datang, segera memandu menuju ke ruangan yang sebelumnya dipesan untuk janji bertemu dengannya.


“Silakan, Tuan,” ucap si pelayan.


Dia membantu membukakan pintu ruangan VIP tersebut dan mempersilakan keduanya untuk masuk.


Awalnya tak ada yang aneh dengan semua kondisi di tempat tersebut. Ardiaz pun tanpa canggung sama sekali membawa Mac duff masuk untuk menui teman kencannya.


Namun, tiba-tiba adik Aaron itu segera berbalik dan mendorong tubuh Mac duff ke arah luar, hingga pria hidung belang itu jatuh menimpa pelayan yang tadi membukakan pintu.


Belum sempat Mac duff bangun, Ardiaz segera berbalik dan mengunci pintu dari dalam. Saat itulah, sebuah senyum samar muncul di bibir sang duke.


Dia yang sejak tadi terlihat sempoyongan seolah sedang mabuk, dan bahkan untuk berdiri sendiri saja tak bisa, tiba-tiba saja berdiri tegap dengan sendirinya lalu merapikan penampilannya yang berantakan akibat aktingnya tadi.


Dia bahkan memasang tanda "Do not disturb!" atau larangan menggangu pada gagang pintu ruangan VIP itu.


“Jangan ada yang mengganggu mereka,” serunya kepada si pelayan.


Pria tersebut pun berjalan pergi dari sana, meninggalkan Ardiaz yang tiba-tiba mendorongnya keluar, dan justru dialah yang menemui wanita teman kencang Mac duff yang tak lain adalah Evangeline.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2