
Ardiaz dibawa ke sebuah bangunan besar bak istana di sebuah daerah di luar Kota Orchid. Sementara kedua temannya, Mac duff dan Jordan entah bagaimana nasib kedua orang itu.
Di sini, Ardiaz terus mencoba berontak dan berusaha melawan setiap kali anak buah Devon memegangnya.
Setelah mereka tiba di istana itu, seorang dokter yang sudah menunggu di sana mulai memeriksa Ardiaz. Pria itu terlihat terluka di beberapa bagian tubuhnya meski tak begitu berarti.
Namun, Ardiaz tak mau dan terus menepis tangan dokter yang mencoba mengobatinya itu.
“Lepaskan! Aku tak mau diobati,” ucap Ardiaz.
Namun, dokter itu terus tak mempedulikan rengekan dari Ardiaz dan mencoba menyentuh pria itu.
Karena kesal, Ardiaz pun dengan kasar menendang dada sang dokter hingga terjungkal jauh darinya.
Seketika, sebuah pukulan mendarat di pipi Ardiaz. Rupanya Vermont lah yang memukul pria itu dengan keras hingga sudut bibirnya lecet dan berdarah.
“Menurut lah, atau temanmu akan batal dioperasi,” ancam Devon, yang sejak tadi duduk berseberangan dengan Ardiaz.
Mendengar hal itu, Ardiaz pun seketika diam, namun tatapannya begitu tajam ke arah ketua Lucifer.
Charlie yang malang. Kakak mu benar-benar tidak punya hati. Bayangkan saat dia tahu adiknya lah yang sedang terbaring di meja operasi sekarang, batin Ardiaz.
Dokter yang tadi ditendang, kembali bangun dan mulai mengobati luka Ardiaz. Nampak beberapa luka bakar dan sayatan akibat pecahan kaca di tubuh pria itu.
Setelah selesai diobati, para pengawal membawa Ardiaz naik ke lantai atas dan memintanya masuk ke dalam sebuah ruangan.
Itu adalah sebuah kamar yang begitu dominan dengan warna hitam dan kelabu. Ranjangnya berukuran king size dengan dengan sprei hitam dan selimut berwarna kelabu.
Ornamen dinding dan juga pernak pernik lainnya di dominasi warna gold, membuat semakin berkesan manly. Sebuah lukisan besar terpajang di atas tempat tidur. Itu adalah lukisan seorang anak kecil yang pernah Ardiaz lihat sebelumnya. Jordan kecil sebelum melarikan diri.
“Silakan Anda istirahat, Tuan muda,” ucap pengawal.
Mereka meninggalkan Ardiaz di sana seorang diri. Dia tak memiliki alat komunikasi apapun untuk menghubungi teman-temannya. Semua peralatan telah dilucuti oleh anak buah Devon, sebelum dia masuk ke dalam rumah besar itu.
...❄❄❄❄❄...
Sekitar dua minggu berlalu, dan Ardiaz masih menjadi tahanan rumah. Meski semua yang disediakan untuknya begitu berkelas dan high quality, namun pria itu tetap khawatir dengan nasib kedua temannya yang entah sekarang berada di mana.
Dia terus di dalam kamar seharian. Untuk makan pun, pelayan akan membawakannya ke dalam kamar, dan dua orang pengawal menunggunya hingga selesai makan.
Mereka terus mengancam Ardiaz dengan nyawa teman dan juga istrinya. Dia bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa mengetahui tentang gadis itu.
Saat ini, dia sedang duduk di balkon kamarnya. Ketika melihat ke bawah, pemandangan begitu indah namun masih membuatnya sesak dengan banyaknya pengawal yang berjaga di bawah sana.
Tiba-tiba seorang pelayan mengetuk pintu dan kemudian masuk ke dalam, bahkan sebelum Ardiaz menyahut.
__ADS_1
“Tuan muda, Tuan Devon meminta saya untuk membawa Anda ke ruangannya,” ucap si pelayan.
Ardiaz hanya bisa menghela nafas kesal. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi selain menurut. Untuk saat ini, dia hanya bisa terus menjadi boneka Devon sambil mencari celah agar dia bisa pergi keluar.
Dia pun berjalan mengikuti pelayan tersebut. Meski sudah dua minggu dia di rumah tersebut, namun dia sama sekali belum pernah keluar kamar sejak saat itu.
Mereka berjalan melewati anak tangga, dan menuju ke sisi lain rumah. Di sana, terdapat koridor panjang dengan karpet merah maroon yang membentang dari ujung ke ujung.
Tanaman hias berjenis palem, berjejer setiap jarak satu meter. Sebuah jendela besar di ujung koridor membuat pencahayaan di tempat tersebut benar-benar bagus.
Mereka pun tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu kayu bergaya klasik, serta gagang pintu bulat.
Pelayan itu mengetuk pintu beberapa kali hingga terdengar sahutan dari dalam.
“Masuk,” ucap dari dalam.
Pelayan itu pun membuka pintu dan masuk terlebih dulu ke dalam dengan pintu yang dibiarkan terbuka.
“Tuan muda sudah ada di sini, Tuan,” lapor si pelayan.
“Ehm, biarkan dia masuk,” sahut Devon.
Pelayan itu pun minggir dan mempersilakan Ardiaz untuk masuk.
Emperor Lucifer itu terlihat tengah mengenakan kacamatanya dan memeriksa beberapa dokumen di depannya.
Meskipun Lucifer bergerak di bawah permukaan, namun Merciful adalah perusahaan resmi yang cukup ternama.
“Temanmu baru saja sadar dari koma,” ucap Devon.
Ardiaz seketika terkejut dengan ucapan yang pertama kali keluar dari mulut pria kejam itu. Devon bahkan tak menatap wajah Ardiaz sama sekali saat mengatakannya.
“Koma? Temanku koma selama dua minggu ini, dan kau baru memberitahuku?” tanya Ardiaz geram.
Devon nampak menghentikan gerakan tangannya dan menatap ke arah Ardiaz, yang sejak tadi melihatnya dengan tatapan tajam.
“Memang kenapa? Apa bedanya memberitahumu sekarang atau nanti? Apa kalau aku memberitahumu lebih awal, maak dia akan bangun lebih cepat begitu? Ingat, kau bukan dokter. Tak ada gunanya juga kau tau lebih awal bukan,” sahut Devon dengan datarnya.
Ardiaz diam. Dia sama sekali tak bisa berkutik. Jika saja saat itu dia pergi seorang diri ke Kota ini dan tak melibatkan orang, dia tak akan peduli jika harus mati, asal dia bisa lepas dari jerat Devon dan kemudian membalas dendam.
Namun, saat ini bukan hanya rekannya saja, akan tetapi juga nyawa Evangeline pun dalam bahaya karenanya.
“Kau bisa pergi melihatnya besok,” ucap Devon menambahkan.
Dia kembali berkutat pada kesibukannya lagi dan tak menghiraukan keberadaan Ardiaz.
__ADS_1
“Dimana teman ku yang satunya lagi?” tanya Ardiaz mencoba memberanikan diri.
“Dia aman. Tapi mungkin sedikit gila,” sahut Devon.
“Apa maumu dengan membawaku kemari?” tanya Ardiaz lagi.
“Tentu saja agar kau bisa pulang ke rumah. Ah... Apa kau pernah tak merindukan rumahmu sendiri hah?” sahut devin.
“Kalau hanya agar aku pulang, maka biarkan aku menemui mereka berdua,” seru Ardiaz.
Devon kembali meletakkan bolpoinnya. Dia bahkan melepas kacamata dari wajahnya dan menautkan kesepuluh jari di depan dagu.
“Apa jaminannya, bahwa kau tidak akan lari lagi dariku?” tanya Devon.
“Apa yang kau mau?” tanya Ardiaz.
Devon nampak menyeringai dengan tatapan yang mengerikan ke arah Ardiaz.
“Kau tahu jelas apa yang ku inginkan bukan?” tanya Devon balik.
“Jika kau ingin sistem Enel, aku tak akan pernah memberikannya padamu, karena hanya itu yang ku miliki sebagai jaminan kau tak akan macam-macam padaku dan semua orang yang berhubungan denganku,” jawab Ardiaz dengan mantap.
Devon semakin menyunggingkan senyumnya mendengar perkataan dari pria yang dikiranya sebagai sang adik.
“Hahahahaha... Hahahahaha...,” dia bahkan terbahak setelah mendengar kepercayaan diri dari Ardiaz.
“Kau sudah besar rupanya. Dulu kau hanya tau cara lari dari ku, sekarang, bahkan kau sudah berani berdebat dengan kakakmu ini. Bagus. Bagus sekali. Hahahaha...,” ucap Devon.
Ardiaz diam. Namun dari tatapan matanya benar-benar dia sudah muak melihat sikap Devon, yang dengan jelas berambisi mendapatkan apa yang diinginkan.
“Baiklah. Aku tidak akan merebut sistem itu darimu, tapi sebagai gantinya kau harus bekerja padaku,” ucap Devon.
Ardiaz mengerutkan keningnya dengan mata memicing, saat mendengarkan perkataan dari sang Emperor Lucifer itu.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1