
“Apa kau sudah puas mengatakan semuanya? Sampai kapan kau akan ceroboh dan tidak melihat situasi sebelum bicara, hah?” cecar Ardiaz balik.
Tangannya berkacak pinggang dengan tatapan lurus ke arah rekannya itu. Matanya melirik ke samping, di mana Jordan dan juga Damian berada.
Mac duff yang sejak tadi berapi-api pun mengerutkan keningnya dan menoleh mengikuti kemana arah yang ditunjukkan oleh mata Ardiaz.
Dia begitu terkejut saat melihat seorang pemuda melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum yang begitu lebar.
Mac duff pun lalu menoleh kembali ke arah Ardiaz dan tersenyum kecut pada temannya itu. Kemudian, dia mengepalkan kedua tangannya dan berbalik menuju ke arah Damian.
Dia meninju-ninjukan kepalanya di telapak tangan seraya terus mengunci pemuda itu dengan tatapannya.
Melihat Mac duff seolah hendak melakukan sesuatu yang berbahaya padanya, Damian pun berdiri dengan kedua tangan yang terangkat ke atas, seperti hendak mengatakan bahwa dia tak akan melawan.
Namun karena Mac duff yang terus mendekat, membuat Damian tiba-tiba berdiri bersembunyi di belakang punggung Jordan, lalu menarik tudung jaket pria itu hingga wajahnya bisa dilihat dengan jelas.
Kini bisa dilihat dengan jelas bagaimana rupa Jordan. Wajahnya memang memiliki kemiripan dengan Devonshire, sang Emperor Lucifer, terutama pada warna mata dan juga garis rahangnya yang begitu tegas.
“Wah... Jadi benar dugaan ku. Kau lah si hacker jenius yang sebenarnya. Pantas saja, meski kau sekarang bodoh, tapi hacker tetaplah hacker. Pantas aku selalu merasa kau terus mengawasiku setiap kali aku membuka laptopku. Itu pasti insting alami mu kan,” ucap Damian.
Sejak awal pemuda ini memang terlatih memiliki insting tajam terhadap setiap pergerakan sekecil apapun, mengingat kehidupannya yang berada di antara terang dan gelapnya Kota Orchid. Sehingga saat Jordan diam-diam memperhatikan ketika Damian mengutak atik perangkat kerasnya, dia bisa merasakannya, namun tetap berpura-pura tidak tahu, demi mendapatkan informasi apapun mengenai kelompok Ardiaz.
Kini Damian seolah tak takut lagi dengan tatapan intimidasi dari Mac duff dan juga Ardiaz yang sejak tadi terus mengarah padanya, karena kartu mati mereka telah ada di tangannya.
Dengan tatapan mengejek dan senyum asimetris, dia balik menatap kedua pria di depannya.
“Lalu kau... Kau orang yang selama ini merawatnya karena dia menjadi b*doh, atau kau memanfaatkannya agar kau bisa menjadi King? Atau...,” cecar Damian dengan kedua lengan terlipat di depan dada.
“Sudah ku katakan, terlalu banyak bertanya tidak bagus untuk nyawamu,” sela Ardiaz.
Mac duff pun segera menghampiri Damian dan menarik jaket pemuda itu, lalu melemparnya hingga terhuyung ke arah Ardiaz.
__ADS_1
“Hei, kalian tenanglah. Bukan aku yang membuka rahasia kalian. Kalian sendiri yang mengatakannya tepat di depanku,” keluh Damian yang kesal karena sikap kasar Mac duff.
Mac duff maju dan mengangkat tinjunya, namun Damian segera membentuk silang di depan wajahnya dengan kedua lengan sambil menutup mata.
“Kau pukul maka aku adukan,” ucap Damian cepat.
Seketika Mac duff menghentikan pukulannya yang belum sempat menyentuh pemuda tersebut, dan menoleh ke arah Ardiaz. Sementara yang ditatap hanya diam dengan pandangan yang terus tertuju pada pemuda dengan rambut merah menyala itu.
Merasakan tak ada pergerakan dari pria di depannya, Damian pun membuka sebelah matanya dan memastikan Mac duff benar-benar berhenti.
Dia pun lalu menegakkan tubuhnya dan berdehem. Dia membetulkan kerah bajunya yang kusut dengan gaya tengilnya. Damian yakin jika posisinya kini sudah bisa dinegosiasikan.
“Bagaimana kalau kita buat kesepakatan saja. Aku tidak akan pernah mengadukan rahasia ini pada siapapun, selama kalian mau memberitahuku tentang sistem enel. Jujur saja, itu misi yang diberikan secara khusus padaku oleh Tuan Vermont dengan imbalan yang tidak sedikit. Tapi sebagai seorang hacker, itu lebih berharga dari pada uang berapa pun jumlahnya."
“Jadi, bukankah kita impas. Misi ku selesai, aku dapat apa yang ku mau, dan kalian tetap aman,” ucap Damian.
Mac duff kembali mengepalkan tangannya mendengar penawaran dari anak muda di depannya, yang dengan beraninya bernegosiasi saat dia hanya seorang diri di antara mereka semua.
“Hanya itu?” tanya Ardiaz tiba-tiba dan membuat baik Mac duff dan juga Damian menoleh dengan tatapan bingung.
“Baiklah. Aku pegang kata-kata mu untuk tidak mengatakan hal tadi kepada siapapun. Tapi untuk sistem itu, seperti yang kau tahu, bahwa aku bukanlah seorang hacker jadi aku tak tahu sistem itu dimana. Kalau kau mau tau, tanyakan saja pada dia,” ucap Ardiaz sambil menunjuk ke arah Jordan.
Seketika, Damian menoleh ke arah pria pendiam itu. Bahunya turun dan helaan nafasnya benar-benar berat.
Dia baru sadar jika ini tugas yang benar-benar berat baginya, mengingat Jordan yang selalu diam dan bahkan bergerak pun sambat minim.
Mac duff melirik sekilas ke arah Damian, dan mengulum bibirnya berusaha menahan tawa sambil berkacak pinggang, saat melihat rekasi pemuda itu.
Sementara Ardiaz, pria itu tampak tersenyum tipis dengan lengkung mata yang turun ke bawah saat melihat tingkah Damian. Dia seolah mengingat sosok yang telah lama ia tinggalkan. Sosok ceria, suka seenaknya dan juga penggerutu.
...❄❄❄❄❄...
__ADS_1
Salju turun semakin lebat. Jalanan pun tertutup salju tebal di sana sini, membuat banyak orang memilih berdiam di dalam rumah, dan enggan untuk beraktifitas di luar ruangan.
Hari ini adalah hari dimana salju turun paling banyak menimpa Kota Orchid dan merubahnya menjadi putih seluruhnya.
Ardiaz terlihat keluar dari lift bersama dengan King lainnya, yang baru saja melapor kepada Vermont sekaligus mendapatkan tugas baru yang harus diselesaikan dalam waktu dekat.
Nampak juga Alexa yang sejak kemunculan Ardiaz terus saja mencoba menggoda pria itu. Namun, Ardiaz masih saja tetap bersikap dingin dan selalu tak peduli dengan semua muslihat wanita tersebut.
Ardiaz nampak paling terakhir keluar dari lift ketika yang lain telah berjalan menjauh dari benda tersebut. Alexa terus melihat ke arah pria itu, akan tetapi Martin yang menyadari tingkah Alexa, tiba-tiba merangkul pundak wanita itu.
“Sudah, biarkan saja dia. Lagipula, rugi sendiri dia menolak ajakan wanita semenggoda dirimu. Bagaimana kalau malam ini kau pergi ke tempatku saja, hem,” ajak Martin.
Alexa tak menjawab. Dia hanya berjalan mengikuti papahan Martin dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada. Dia pun meninggalkan Ardiaz dan membiarkan pria itu berdiri di tempat.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Joker menoleh sekilas ke arah pria muda yang sejak tadi berdiri di depan pintu lift.
Tak lama kemudian, dia pun masuk ke mobil dan pergi dari gedung Merciful.
Sementara di kejauhan sana, Ardiaz masih diam. Dia mengangkat tangannya yang memegang map hitam, yang sudah tentu berisi misi selanjutnya.
Entah apa yang ada di dalam sana hingga membuat pria itu seperti tak tenang.
Apa aku bisa kesana dengan mengabaikan kalian, batin Ardiaz.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih