They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Empat sahabat


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak kejadian di pondok. Ardiaz masih setia menemani sang kakak yang belum juga bangun dari komanya.


Lukanya sendiri masih belum pulih sepenuhnya, terutama luka tembak di paha dan luka sabetan senjata tajam di beberapa bagian tubuh lainnya.


Jalannya pun masih harus dibantu oleh tongkat kruk yang merepotkannya.


Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan sang kakak, lengkap dengan pakaian sterilnya, membuat Ardiaz menegakkan duduknya.


“Jordan bertanya padaku, apa kau bisa datang ke tempat biasa? Mac duff menagih traktiranmu waktu itu,” ucap Malcolm yang tiba-tiba masuk ke dalam.


Dia terlihat mengecek alat bantu yang terpasang di tubuh Aaron, serta memeriksa layar monitor EKG.


“Bukankah kau dokternya? Aku hanya perlu mendapatkan persetujuanmu saja kan,” tanya Ardiaz.


“Sebagai seorang dokter, aku tentu akan melarangmu,” sahut Malcolm.


“Kalai begitu, kenapa tak kau jawab saja pertanyaan Jordan langsung? Tidak perlu bertanya padaku bukan?” tanya Ardiaz.


“Sudah ku jawab. Ku ganti tempatnya di sini. Kita akan adakan pesta di atap rumah sakit. Berikan aku kartu mu,” seru Malcolm.


“Kartu apa?” tanya Ardiaz.


“Bukankah kau yang akan mentraktir kami? Setidaknya kita harus memesan beberapa makanan enak dari luar dan dibawa kemari bukan,” sahut Malcolm.


“Ck! Baiklah... baiklah...,” sahut Ardiaz.


Dia pun berdiri dan mengambil sesuatu dari laci di samping tempat tidur kakaknya. Ardiaz meraih sesuatu dari sana yang ternyata adalah dompetnya.


“Ini, ambillah. Jangan terlalu boros. Aku bukan orang kaya yang bisa menghasilkan banyak uang dalam sekejap,” seru Ardiaz.


Malcolm pun meraihnya dan menyeringai puas dengan apa yang didapatkan.


“Jam delapan malam nanti, naiklah ke lantai lima belas. Minta saja anak buahmu untuk bergiliran berjaga di sini,” seru Malcolm.


Ardiaz tak menyahut, dan sang dokter pun berlalu begitu saja.


...❄❄❄❄❄...


Sedangkan di rumah Hemachandra, Evangeline masih sama dengan sebelumnya. Semua yang dia lakukan seolah tanpa nyawa. Mandi pun dia harus dibantu oleh maid. Untuk makan, dia hanya memasukkan makanan ke dalam mulut tanpa menikmati rasanya.


Pandangan matanya masih kosong seperti sebelumnya. Dia bahkan belum bicara sepatah kata pun pada seseorang.


Pukulan berat yang ia rasakan benar-benar menghancurkan jiwanya hingga begitu sulit untuk ia tata kembali.


Semuanya masih berputar di kepalanya. Setiap detail kejadian hingga setiap kata-kata yang diucapkan oleh kedua kakak beradik itu masih jelas di ingatannya.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba bola matanya bergerak. Kepalanya yang semula selalu terkulai di atas lutut, kini terangkat dengan mata yang membola.


Dia mencoba mencerna setiap kata-kata yang diucapkan oleh Ardiaz dan juga Aaron.


Hingga dia sampai pada satu kesimpulan yang menurutnya masuk akal, meski sulit untuk dipercaya.


Dia pun segera bangun dan berjalan cepat ke arah lantai satu, di mana ada sebuah telepon rumah di ruang tengahnya.


Gadis itu ingin menghubungi seseorang, namun karena ponselnya disita oleh Ardiaz, sehingga dia hanya melakukan panggilan melalui benda ber kabel tersebut.


Evangeline segera meraih gagang telpon, akan tetapi, tiba-tiba gerakan terhenti saat menyadari suatu hal.


Dia menoleh ke kanan dan kirinya, mencoba mencari seseorang yang bisa ia mintai bantuan.


Dia pun meletakkan kembali gagang telepon tersebut dan berlari ke arah dalam, dimana para pelayan berada.


“Dimana Tuan Delvin?” tanya Evangeline.


Semua yang mendengar pertanyaan Evangeline terkejut. Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh sang nona setelah kejadian malam itu.


Mereka bahkan sampai lupa cara menjawab dan hanya menunjuk ke sebuah arah.


Evangeline pun kembali berlari ke luar, dimana terdapat sebuah jalan setapak yang terhubung dengan danau kecil, serta terdapat sebuah pondok tanpa dinding, hanya disangga empat tiang yang terbuat dari beton dan pagar yang disuluri tanaman hias.


Di sana, gadis itu melihat Delvin tengah memberi makan ikan-ikan di danau. Evangeline pun berlari menghampiri pria tersebut.


Delvin yang mendengar suara sang nona pun langsung menoleh. Dia terkejut melihat nonanya berlari ke arahnya.


“Tuan Delvin, aku ingin bertanya padamu,” ucap Evangeline terengah-engah setelah berlarian.


Delvin masih belum percaya melihat sang nona yang telah sadar dari kediamannya.


“A... ada apa, Nona,” tanya Delvin.


“Berikan aku nomor ponsel Ardiaz. Aku ingin bertanya sesuatu padanya,” ucap Evangeline.


Delvin memicingkan matanya dengan alis yang bertaut hampir menyatu.


“Cepat berikan aku nomor pria itu,” seru Evangeline.


“Ta... tapi Tuan bilang...,” sanggah Delvin.


“Kalau kau tak mau memberikannya, aku akan mogok makan lagi sampai sekarat,” ancam Evangeline, setelah melihat reaksi Delvin yang enggan memberikan apa yang dia mau.


Gadis itu pun lalu berbalik dan berjalan ke arah rumah dengan wajah kesal. Dia tak bisa kabur dari tempat tersebut dan hanya bisa memberontak dengan cara menyiksa diri.

__ADS_1


Bahkan hanya minta nomor ponselnya saja dia tak mau memberinya. Kalau saja tahu akan berguna, pasti akan ku hapal nomernya. Aku malah lebih hapal nomer Aaron dari pada Ardiaz, batin Evangeline.


...❄❄❄❄❄...


Malam harinya, di atap rumah sakit, terlihat empat orang pria telah berkumpul. Mereka tak lain adalah Ardiaz atau yang dipanggil Alpha, Malcolm atau Betha, Jordan atau Charlie dan juga Mac Duff atau Delta.


Mereka berempat adalah sahabat yang dipertemukan dari dunia bawah, saat Ardiaz tengah berusaha menyelidiki sendiri siapa orang yang dulu pernah memberinya informasi palsu, mengenai kasus pembantaian keluarganya.


Dia curiga jika orang di balik semua yang terjadi pada Tuan Hemachandra adalah orang yang sama, yang telah menghancurkan keluarganya dulu.


Seperti yang sudah diketahui, Ardiaz adalah kepala pengawal keluarga Hemachandra sekaligus ahli taktik yang jitu, Malcolm adalah seorang dokter, Jordan adalah seorang penyedia senjata serta peralatan tempur lainnya, sedangkan Mac Duff adalah ahli bela diri yang terkenal sadis dan berdarah dingin.


Nama Alpha, Betha, Charlie dan Delta adalah name code mereka saat melakukan sebuah misi rahasia.


Saat ini, mereka sedang merayakan keberhasilan Ardiaz, dalam mengecoh musuh dan mengamankan Evangeline serta kakaknya, meski kondisi Aaron saat ini masih sangat memprihatinkan.


Cheers!


Denting kaleng bir terdengar di udara saat mereka berempat bersulang. Namun, hanya Ardiaz saja yang harus minum jus buah kalengan, karena masih harus minum obat.


Delta tergelak bahkan saat pertama kali melihat Ardiaz datang ke atap, terpincang-pincang dengan dibantu oleh sebuah tongkat.


“Kau masih saja payah dalam urusan melarikan diri,” sindir Delta alias Mac Duff.


“Tapi aku masihlah nomor satu dalam hal membuat taktik. Coba kalau kemarin aku tak memperhitungkan dengan tepat, pasti semua akan jadi kacau,” sahut Ardiaz.


Dia lalu meraih sesuatu dari saku mantelnya, dan mengulurkannya ke arah Charlie atau Jordan.


“Ini alatmu. Tolong perbaiki lagi. Aku masih membutuhkannya,” lanjut Ardiaz.


Charlie pun meraih anting yang ternyata adalah sebuah kamera tersembunyi, yang berhasil merekam semua kejadian di pondok dan memperlihatkannya kepada Evangeline.


Di tengah perbincangan keempat pria itu, tiba-tiba sebuah dering ponsel membuat Ardiaz bangun dan berjalan menjauh dari ketiga temannya.


“Ada apa?” tanya Ardiaz.


“Diaz, ini aku Morita. Aku mohon katakan dimana Aaron saat ini,” ucap suara di seberang sana.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2