
Malam berderak semakin larut. Tempat hiburan itu pun semakin ramai dan penuh sesak dengan para pencari pelarian dari pahitnya dunia nyata.
Di sebuah ruangan, nampak dua orang pria yang diapit oleh beberapa wanita berpakaian seksi. Satu di antara kedua pria itu nampak bercanda dengan para wanita yang menggelayut manja di dekatnya.
Berbeda dengan pria satunya lagi yang tampak lebih muda. Dia terlihat dingin dan tak merespon sama sekali wanita yang terus mengajaknya minum.
Dia bahkan melipat kedua lengannya di depan dada sembari memegangi sebuah gelas wiski. Kakinya terlipat bertopang sambil menggoyangkan gelas di tangan.
Tatapan matanya terus menatap tajam, ke arah pria yang sejak tadi seolah tak peduli dengan keberadaannya dan terus bercanda menggoda wanita di sampingnya.
Senyum mengejek tersungging dari sebelah sudut bibirnya. Pria muda tersebut pun lalu meneguk wiskinya hingga tandas.
BRAKK!
Dia meletakkan gelasnya dengan kasar di atas meja, dan membuat semua yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arahnya.
Pria yang sejak tadi terus bercanda itu pun melihat si pria muda, yang kini sudah berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Maaf, aku terlalu asik bercanda dengan mereka. Apa wanita-wanita di sampingmu itu kurang menarik? Aku bisa mengganti sesuai seleramu, King Jordan. Katakan saja kau ingin yang bagaimana,” ucapnya kepada si pria muda yang tak lain adalah Ardiaz.
“Bagaimana kalau transaksi ini kita batalkan saja. Sepertinya kau tak begitu serius dengan bisnis kita,” ucap Ardiaz dengan tatapan dinginnya.
Pria yang adalah broker Magnolia itu pun panik, karena pemasok utamanya merasa tak puas dengan pelayanan yang coba dia berikan.
Dia pun lalu memberikan isyarat kepada semua wanita seksi di ruangan tersebut untuk segera pergi dari sana.
Tatapan Ardiaz masih lurus ke arah pria di depannya dengan pandangan muak. Sementara lawan bicaranya terlihat mengelap tengkuknya dengan sapu tangan yang diraih dari dalam saku.
“A... Aku minta maaf, King. Aku kira seleramu sama dengan King sebelumnya. Ehm... Ah... Duduklah dulu. Bukankah anak buahku sedang mengurus uangnya,” ajak pria tadi sambil kembali duduk.
Namun, Ardiaz hanya melirik dan melangkah pergi ke arah pintu. Pria paruh baya itu panik dan kembali berdiri melihat punggung Ardiaz.
__ADS_1
Saat tangan pria muda itu meraih gagang pintu, dia berhenti sejenak dan menoleh ke samping.
“Jamuan mu ini benar-benar mengerikan. Akan ku blacklist kalian dari daftar ku,” ucap Ardiaz dengan penuh penekanan.
Dia pun lalu pergi dari sana bersama semua pengawalnya. Pria paruh baya yang panik itu pun berlari menghampiri Ardiaz untuk memohon padanya.
Namun, dua orang pengawal Ardiaz menghadang dan membuat anak buah broker tersebut hendak bertindak. Akan tetapi, broker itu menghentikan anak buahnya karena jika sampai terjadi bentrokan dengan Lucifer, maka mereka semua akan tamat.
“King, tolong berikan aku kesempatan lagi. Aku berjanji akan lebih berhati-hati lagi untuk kedepannya,” ucap broker tersebut.
Ardiaz yang sudah berhenti sejak tadi pun kembali menoleh ke samping, dengan sedikit melirik ke arah pria yang memohon padanya itu.
“Tiga kali lipat... Jika kau bisa memberikan harga tiga kali lipat untuk transaksi kita kali ini, maka aku akan pertimbangkan untuk melanjutkan kerja sama kita,” ucap Ardiaz.
Pria paruh baya itu pun terbelalak dengan ucapan Ardiaz. Belum selesai keterkejutannya, Ardiaz kembali bersuara.
“Ah... Benar. Waktuku sangat berharga. Jadi aku hanya akan memberimu waktu sampai matahari tenggelam besok. Ingat, tiga kali lipat dan... tunai,” lanjut Ardiaz.
Dia pun melangkah pergi meninggalkan sang broker dengan kebingungannya. Betapa tidak, harga transaksi yang telah mereka sepakati sebelumnya adalah dua ratus lima puluh juta untuk setiap peti barang yang dibawa Ardiaz.
Itu bukanlah angka yang kecil untuk broker Magnolia yang memiliki jaringan terbatas dengan persaingan yang begitu ketat.
Ardiaz sepertinya benar-benar sedang memberikan pelajaran berharga kepada sang broker, karena telah membuatnya muak dengan semua jamuan erotis yang sengaja disuguhkan padanya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Ardiaz pun kembali ke limosinnya. Dia meminta kepada pengawalnya untuk kembali ke penginapan. Semuanya pun bergerak meninggalkan gedung tinggi tersebut dan menuju ke sebuah hotel lain yang telah mereka siapkan sebelumnya.
Sesampainya di hotel, Ardiaz meminta pengawalnya untuk berjaga dan meninggalkan dirinya sendiri masuk ke dalam kamar hotel.
Saat di dalam kamar, pria muda itu terlihat berjalan ke arah balkon. Ketika dia menoleh ke samping, Ardiaz melihat seseorang berada di seberang kamarnya, sedang berdiri sambil mengenakan topi hitam dengan rambut sebahu.
Di dalam kegelapan, masih bisa terlihat jelas dari perawakannya bahwa dia adalah seorang wanita.
__ADS_1
“Apa kau sudah menyiapkan semua yang ku minta, Sonia?” tanya Ardiaz.
Tak ada yang menyangka, bahwa saat ini sekretaris Evangeline sedang menjadi kaki tangan Ardiaz di Magnolia.
Dia bahkan telah menunggu Ardiaz sejak tadi di balkon kamar, tepat di samping kamar Ardiaz.
“Tentu. Apa kau benar-benar sudah jatuh hati pada istrimu?” tanya Sonia balik.
“Tugasmu hanya menyediakan apa yang ku minta. Tak ada kewajiban bagiku untuk menjawab pertanyaan dari mu itu,” sahut Ardiaz dingin.
“Tentu aku tahu. Aku sangat paham apa tugasku. Tapi, aku juga tidak berkewajiban menyembunyikan keberadaanmu di sini dari Eva. Benar, bukan?” balas Sonia dengan seringai liciknya.
Ardiaz nampak memutar bola matanya karena kesal dengan sikap Sonia yang selalu tak mau kalah darinya.
“Kau masih sama menyebalkannya seperti sebelumnya. Aku hanya ingin melihat keadaan mereka selama aku tak ada di sini. Aku ingin memastikan sendiri apakah mereka bisa hidup dengan baik tanpa aku. Dengan begitu, aku bisa tenang menjalankan misi ku ini,” jelas Ardiaz akhirnya.
Sonia nampak terkekeh mendengar semua penjelasan, yang terpaksa diutarakan oleh adik dari pria yang pernah dia sukai itu.
“Baiklah... Baiklah... Aku mengerti. Kau tidak perlu menjelaskan dengan sejelas itu. Itu hanya semakin membuat isi hatimu menjadi terlihat jelas. Hahaha... Cukup bercandanya, sekarang kembali ke bisnis.”
“Kamar ini dan kamar mu memiliki pintu konektor yang menghubungkan satu sama lain. Kau bisa masuk daru situ dan kemari. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu di sini,” ucap sonia.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Sonia, Ardiaz pun kembali masuk ke dalam kamar dan menuju ke sebuah lemari pakaian. Saat pintu dibuka, rupanya di sana ada sebuah pintu lain, yang menghubungkan langsung ruangan itu dengan kamar di sampingnya, tempat Sonia berada.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih