
Ardiaz pun masuk ke dalam connection door tersebut, dan benar saja, Sonia sudah ada di depannya. Wanita itu menunjuk dengan dagunya ke arah sebuah sofa, di mana terdapat sebuah tas ransel hitam di atasnya.
Ardiaz pun meraih tas tersebut dan membukanya. Dia mengeluarkan satu persatu benda dari sana. Terdapat sebuah jaket, kaus serta celana jeans hitam, dan sebuah topi dengan warna serupa. Tak lupa juga penutup wajah agar penyamarannya tak terdeteksi.
Di dalamnya juga terdapat sebuah kotak. Ardiaz membukanya dan melihat sebuah smart watch yang terkoneksi dengan sepasang earphones bluetooth.
Dia lalu menoleh sekilas ke arah Sonia berada, yang sejak tadi terus menatap ke arah pria muda itu.
“Apa kau memang semesum itu, hah?” tanyanya.
“Ah... Baiklah... Baiklah. Aku mengerti,” sahut Sonia.
Wanita itu pun segera berbalik dan menghadap ke arah kota. Dia tau maksud Ardiaz berkata demikian, karena sejak tadi Sonia terus melihat ke arahnya, sementara King palsu itu hendak berganti pakaian.
Suasana di Magnolia benar-benar hidup di malam hari, namun berbanding terbalik ketika sang surya tengah merajai hari. Tempat ini seakan menjadi kota mati dengan semua kelengangan yang ada.
Tak berapa lama, tiba-tiba Ardiaz kembali bersuara.
“Di mana mobilku?” tanya Ardiaz.
“Mobil ada di caffe seberang. Kuncinya kau bisa lihat di atas meja,” ucap Sonia.
Terdengar suara resleting di tarik dan bunyi gemeletuk dari benda yang saling berbenturan. Tak lama kemudian, suara pintu dibuka dan ditutup kembali.
Saat itu, sonia kembali berbalik dan melihat ruangan tersebut telah kosong. Ardiaz telah pergi dengan penyamarannya, menuju ke sebuah tempat dimana dia ingin mengurai rasa sesak yang beberapa hari ini membuat hatinya terus merasa tak tenang.
Helaan nafas terdengar begitu berat dari Sonia. Dia pun kembali berbalik dan memandangi suasana malam di Magnolia yang tepat berada di bawahnya.
Kau pasti akan terkejut dengan apa yang sudah terjadi pada gadis itu, batinnya.
__ADS_1
...❄❄❄❄❄...
Di luar kamar, Ardiaz dengan mudahnya menyelinap dari pengawasan para pengawalnya, yang sejak tadi terus berjaga di depan pintu kamar hotelnya.
Dengan penyamaran yang disiapkan oleh Sonia, pria itu bisa leluasa mengecoh semua orang dan pergi dari sana, menuju ke bangunan yang ada di seberang, di mana mobilnya sudah menunggu.
Malam hari di Magnolia terasa begitu padat, hingga membuat jalanan benar-benar ramai akan hiruk pikuknya kendaraan. Semua bisnis seolah hidup di malam hari dan tertidur di siangnya.
Sesampainya di seberang jalan, Ardiaz menekan tombol callback pada kuncinya, dan dengan mudah bisa menemukan di mana letak mobil yang telah disiapkan oleh Sonia.
Pria tersebut pun segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya pergi dari sana. Tujuan pertama Ardiaz adalah tempat di mana tuannya berada, sebuah rumah sakit yang terletak di pusat kota Wisteria.
Sejak Evangeline memutuskan untuk menyimpan kalung dengan sistem enel dari Jordan ke dalam kotak, Ardiaz sudah tak bisa lagi mendapatkan informasi apapun mengenai sang istri. Dia bahkan belum tahu jika tak lama setelahnya, sang tuan telah sadar dari koma.
Meski sebenarnya bukan hal mustahil untuk seorang Ardiaz mencari tahu tentang semua itu, namun saat di Orchid setiap gerak geriknya selalu di awasi.
Namun, saat dia tiba di pelabuhan, dia melihat seseorang yang seperti dikenalnya, yaitu penjual barang-barang aneh seperti Jordan yang bersembunyi di dalam bayang-bayang gelapnya Magnolia.
Dia pun mengirim pesan pada penjual itu dan memintanya memberikan sebuah ponsel baru. Tak perlu waktu lama, ponsel pun dikirim kepada Ardiaz, yang saat itu sedang menunggu anak buahnya membongkar muatan kapal.
Di sela kelengahan anak buahnya, pria muda itu menghubungi seseorang yang tak lain adalah Sonia. Dia meminta wanita itu untuk membantunya mencari tahu kondisi sang tuan dan juga kakaknya.
Namun, Sonia menolak memberi tahukan semuanya pada Ardiaz, dan hanya mengatakan bahwa Tuan Hemachandra masih berada di rumah sakit. Dia bahkan menyarankan Ardiaz untuk datang langsung dan melihatnya sendiri.
Di awal panggilan, Sonia bahkan sempat menangis ketika mendengar suara Ardiaz yang dikira semua orang telah meninggal. Wanita itu ingat bagaimana hari-hari Evangeline menjalani hidupnya dengan kekosongan dan kehampaan setelah kepergian pria muda ini.
Dengan gayanya, Sonai pun menantang Ardiaz untuk pergi ke rumah sakit agar pria itu mau menemui Evangeline, dan setidaknya membuat gadis itu kembali memiliki cahaya kehidupan seperti sebelumnya.
Dia bahkan mau menjadi kaki tangannya dan menyiapkan semua keperluan Ardiaz untuk menyelinap pergi dari pengawasan anak buah yang terus menjaganya setiap waktu.
__ADS_1
Malam semakin menjauh dan kini hampir fajar, saat Ardiaz telah sampai di perbatasan Magnolia dengan Wisteria.
Ketika memasuki kota ini, memori Ardiaz seketika kembali berputar. Dia mengingat masa-masa saat masih menjadi kepala pengawal Hemachandra. Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul, ketika dia meributkan sesuatu dengan gadis yang telah ia nikahi dan kini dia tinggalkan begitu saja, bahkan tanpa berpamitan.
Seulas senyum tipis muncul, kala dia mengingat betapa ceroboh dan keras kepalanya gadis itu, hingga tak jarang membuatnya kesal. Namun justru hal itulah yang membuat lengkungan di sudut bibirnya naik semakin ke atas, meski dengan sorot mata sendu penuh akan kerinduan.
Tak perlu waktu lama untuk mencapai rumah sakit. Sekitar tiga puluh menit dari perbatasan, dia sudah bisa melihat gedung itu dari kejauhan. Ardiaz pun segera memarkirkan mobilnya di seberang rumah sakit, dan mengganti pakaiannya yang serba hitam itu dengan sesuatu yang terlihat lebih normal di mata orang.
Semuanya sudah disiapkan oleh Sonia di dalam mobil tersebut, lengkap dengan masker penutup wajah untuk menutupi identitasnya.
Cukup lama dia menunggu hingga rumah sakit buka. Sekitar pukul delapan pagi, rumah sakit mulai membuka antrian untuk pemeriksaan pasien, dan Ardiaz pun masuk kedalam, membaur dengan pasien yang datang untuk berobat.
Pria tersebut melihat papan pengumuman, di mana tertera nama-nama dokter jaga yang saat itu bertugas. Dia pun kemudian pergi ke ruang tunggu pasien di depan resepsionis.
Ardiaz duduk di sana seraya menunggu seseorang yang dia kenal. Benar saja, tak perlu menunggu berjam-jam, dia telah melihat sosok berjubah putih yang sangat dia kenal, Malcolm.
Namun, bukannya Ardiaz langsung menghampirinya, pria itu justru semakin menutup wajahnya dengan ujung topi yang dipakainya, seolah ingin menyembunyikan diri dari sang dokter.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1