They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Bertaruh


__ADS_3

Suasana canggung terjadi di salah satu ruang rawat yang berada di lantai sepuluh, tepatnya ruang rawat Ardiaz.


Evangeline telah selesai mengganti perban pada luka suaminya yang berada di tubuh bagian atas, meski sempat terkendala karena dia tiba-tiba menangis begitu tersedu-sedu dengan isak yang berusaha ia tahan.


Wajahnya pun merah dengan mata yang semakin sembab, karena sebelumnya dia pun menangis di ruang rawat ayahnya.


“Aku sudah selesai. Akan ku ambilkan baju ganti untuk mu. Tunggulah,” ucap Evangeline.


“Siapa bilang kau sudah selesai?” Sahut Ardiaz cepat.


Pria itu berbalik dan kembali duduk bersandar seperti sebelumnya.


Evangeline sempat kebingungan. Alisnya bahkan berkerut dengan mata memicing ke arah sang suami.


Tanpa berkata, Ardiaz justru menunjuk bagian bawah tubuhnya lewat tatapan mata dan dagunya yang sengaja ia majukan.


Evangeline seketika membola, saat menyadari bagian tubuh mama lagi yang harus ia balut. Dia baru ingat bahwa paha Ardiaz juga terluka, saat dia tak sengaja memukul sebelumnya.


Pipinya memerah, dengan jantung yang berdegup cepat membuatnya gugup seketika. Namun, dia tak mau kalah gertak dari Ardiaz.


“Perlu ku buka dari atas ke bawah atau kau gulung sendiri dari bawah ke atas?” tantang Evangeline.


Heh... Gadis menyebalkan, batin Ardiaz.


Dia menyunggingkan senyumnya melihat reaksi sang istri, yang terus mencoba melawan dirinya.


Akhirnya, Ardiaz pun menggulung celananya hinga setinggi pangkal paha. Lukanya pun terlihat dan Evangeline mulai membuka balutannya, memberi obat dan menutup kembali.


“Bagaimana dengan kaki satunya?” tanya Evangeline.


Ardiaz pun kembali menggulung celana sebelahnya, dan membiarkan Evangeline melihat sendiri.


Hanya ada luka ringan yang sudah mulai mengering. Dia cukup memberikan obat saja dan semuanya selesai.


Ardiaz menurunkan kembali celananya, Sementara Evangeline membereskan semuanya, akan tetapi pandangan matanya menangkap pergelangan kaki Ardias yang masih di balut gip.


“Bagaimana dengan yang ini?” tunjuk Evangeline pada pergelangan kaki Ardiaz.


“Harusnya hari ini sudah bisa lepas gip, kalau saja seseorang tidak menendangnya dengan sangat keras,” sindir Ardiaz.


Mendengar sindiran tersebut, membuat Evangeline melirik Ardiaz dengan tajam.


“Mana ku tau kalau kakimu terkilir. Kau saja tak mengatakannya,” elak Evangeline.


“Balutan sebesar itu apa mata mu tidak bisa melihatnya, hah? Benar-benar gadis yang menjengkelkan,” timpal Ardiaz.


Mendengar ocehan Ardiaz, Evangeline oun merasa kesal, akan tetapi dia tak mungkin berulah pada pasien yang sedang terluka.

__ADS_1


Akhirnya dia hanya bisa meluapkan kekesalannya pada sang suami, dengan melemparkan jaket yang ada di sandaran kursi ke arah wajah pria tersebut.


“Hei!” pekik Ardiaz.


“Pakailah itu dulu. Aku akan membawakan baju yang baru untuk mu,” seru Evangeline.


“Ck!” cebik Ardiaz.


Evangeline pun berjalan keluar sambil membawa kembali semua peralatan medis yang diberikan oleh Malcolm. Sebuah senyum samar muncul di bibir gadis itu saat meninggalkan ruangan tersebut.


Sementara Ardiaz, pria tersebut hanya mampu menahan kekesalannya atas perbuatan sang istri, dengan mengucek-ngucek jaketnya gemas.


...❄❄❄❄❄...


Seminggu berlalu sejak kejadian di pondok waktu itu. Ardiaz masih terlihat belum semakin membaik dan justru dengan sepihak menyatakan sudah siap untuk bekerja di perusahaan kembali mulai esok hari.


Sebelumnya Sonia lah yang harus dibuat repot, karena bolak balik ke rumah sakit mengantarkan semua berkas kantor untuk diperiksa oleh Ardiaz.



Pria muda itu benar-benar merasa frustasi, saat harus berhadapan dengan semua kertas berisikan huruf dan angka yang begitu memusingkan.


Sonia harus ekstra sabar memandu Ardiaz, demi kelangsungan perusahaan Hera Group.


Meski selalu mengatakan sulit dan menggerutu, akan tetapi Ardiaz sama sekali tak berhenti mencoba mengerjakannya.


Meski Malcolm terus memarahinya, namun Ardiaz si keras kepala, terus saja tak menghiraukan saran dari dokternya itu. Dia bahkan memaksa untuk keluar dari rumah sakit secepatnya, agar dia bisa segera kembali bekerja.


Hingga suatu malam, Evangeline datang ke ruang rawat sang suami. Seperti malam-malam sebelumnya, Ardiaz akan terjaga bahkan hingga lewat tengah malam.


Gadis itu pun lalu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, membuat Ardiaz menoleh seketika karena kehadiran seseorang di malam hari yang begitu sepi.


Saat mengetahui siapa yang datang, Ardiaz pun kembali menoleh ke depan, dan melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Evangeline berjalan menghampiri ranjang pasien, dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada.


“Apa pasien boleh begadang setiap hari begini? Bagaimana jika kondisimu semakin buruk karena kurang istirahat?” cecar Evangeline.


“Berisik,” sahut Ardiaz ketus.


Mendengar jawaban seperti itu dari suaminya, Evangeline pun memasang wajah datar dan menurunkan kedua lengannya.


Dia mendekat dan meraih semua berkas yang saat itu ada di depan Ardiaz. Pria tersebut pun mencoba menahannya, akan tetapi Evangeline kembali mengangkat tangannya dan seolah hendak memukul bagian tubuh Ardiaz yang terluka.


Hal itu pun membuat sang suami secara spontan melepaskan tangannya dari berkas, dan melindungi dirinya sendiri.


Evangeline menang dan dia berhasil merebut semua berkas perusahaan. Dia bahkan memunguti kertas yang tercecer di bawah, karena ulah Ardiaz sebelumnya yang membuatnya berantakan.

__ADS_1


Sebuah senyum muncul. Evangeline mencoba menahan tawanya saat berhasil membuat seorang Ardiaz merasa terintimidasi olehnya.


Dia kemudian berusaha menghilangkan senyumnya itu, dan kembali bangun. Berkas kini telah berada di pelukan Evangeline.


Dengan tatapan yang menantang, gadis itu pun meminta Ardiaz untuk tidak mengurusi urusan perusahaan lagi.


“Setidaknya hingga kau benar-benar sembuh, jangan pernah mengurusi urusan perusahaan lagi. Aku melarangmu, kau dengar,” seru Evangeline tegas.


“Hei, gadis manja. Aku sudah bisa keluar rumah sakit besok. Kau tidak perlu mengatur ku seperti ini. Lagipula kalau bukan aku, siapa yang akan mengurusi perusahaan ayahmu itu, hah?” tanya Ardiaz.


“Aku. Aku yang akan melakukannya. Jangan kira aku hanya bisa merengek pada ayahku saja, dan tak bisa diandalkan sama sekali,” sahut Evangeline cepat.


Bisa dilihat sebuah tekad yang besar di mata gadis yang beberapa hari lalu sangat membencinya. Ardiaz bahkan sampai terdiam melihat kilatan semangat di mata sang istri.


Namun alih-alih tersenyum bangga melihat perubahan sikap Evangeline, Ardiaz justru memiringkan kepalanya sambil tersenyum mengejek ke arah gadis itu.


“Baiklah. Kita lihat seberapa becusnya kau mengurusi urusan perusahaan,” ucap Ardiaz dengan nada menantang.


“Baik. Kau harus buka lebar-lebar kedua matamu dan kedua telingamu. Jangan sampai terkejut dengan apa yang akan ku capai kedepannya,” sahut Evangeline.


“Baiklah. Bagaimana kalau kita bertaruh saja? Jika kau kalah, kau harus menjadi istri yang baik dan duduk diam di rumah,” tantang Ardiaz.


“Bagaimana kalau aku menang?” tanya Ardiaz.


“Aku akan pergi dari hidupmu selamanya. Kita akan bercerai dan kau bisa bebas,” jawab Ardiaz.


Evangeline terdiam. Wajah yang sejak tadi terus menunjukkan perlawan atas intimidasi Ardiaz, kini tampak membeku dengan raut yang sulit diartikan.


Nampak sebuah kekecewaan yang samar dari sana. Namun, dia kemudian mengulurkan tangannya ke arah Ardiaz, seolah meminta bersalaman.


Pria itu tak langsung menyambut uluran tangan gadis di depannya, akan tetapi dia sempat terlihat ragu sekilas dan menatap tangan sang istri dalam diam.


Hingga akhirnya, dia pun menyambut uluran tangan itu.


“Deal!”


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2