
Malam semakin larut, namun jalanan kota terlihat masih sangat ramai meski tak sepadat di siang hari.
Tempat-tempat hiburan malam pun terlihat semakin penuh dengan pengunjungnya yang mencari kesenangan duniawi.
Seorang gadis cantik nampak memasuki salah satu tempat hiburan di kota tersebut. Langkah kakinya terlihat mantap dan langsung menuju ke meja bar.
Bartender yang sebelumnya sudah berada di sana, dan tersenyum saat melihat kedatangan Evangeline.
“Wah... Apa ini gadis yang kemarin meminta dibuatkan janji itu?” ucapnya.
“Bagaimana? Aku sesuai dengan tipenya bukan?” tanya Evangeline balik.
Bartender itu nampak melipat lengan di depan dada, sambil satu tangan mengusap dagu runcingnya.
“Ehm... Lumayan,” sahut sang bartender.
“Jadi, tunggu apa lagi? Antar aku menemui bosku itu,” seru Evangeline.
Bartender tersebut nampak menyeringai mendengar betapa antusiasnya gadis itu ingin bertemu dengan bosnya.
Dia melambaikan tangannya ke sebuah arah. Dari kejauhan, nampak seorang pelayan melihat tandanya dan berjalan menghampiri mereka.
“Aku sudah menyiapkan semua. Kuharap kau menikmatinya. Semoga berhasil,” ucap sang bartender.
Evangeline lalu mengambil beberapa lembar uang kertas dari dalam tas, dan meletakkannya di atas meja bartender.
“Ini tips untukmu. Terimalah,” seru Evangeline.
Bartender itu pun mengambilnya dan bahkan mencium bau uang tersebut sambil tersenyum ke arah Evangeline, yang berjalan mengikuti pelayan yang akan menunjukkan jalan ke tempat pertemuannya.
Namun, senyum itu seketika menghilang bersamaan dengan menghilangnya Evangeline dari pandangan mata.
Dia lalu mengambil ponselnya dari bawah meja, dan menghubungi seseorang.
“Gadis itu sudah masuk. Bagaimana selanjutnya, Bos?” ucapnya.
Bartender itu terlihat mendengarkan arahan yang diberikan dari seberang sambungan dengan serius.
“Baik, Bos,” ucap sang bartender.
Sambungan pun dimatikan. Dia kembali menyimpan ponselnya dan berbalik ke arah dalam bar.
Dia mengambil sebuah botol dari dalam rak minuman. Di sana, tertulis jelas sebuah merek alkohol ternama, dengan kadar tujuh puluh persen.
Dia memberikan Evangeline minuman dengan dosis alkohol setinggi itu, meskipun dia tahu gadis tersebut sangat tidak toleran dengan minuman keras.
Hanya dengan satu teguk saja, Evangeline sudah pasti akan langsung terpengaruh dan mabuk.
__ADS_1
Tak lupa, dia pun menyiapkan buah potong segar sebagai pendamping minuman. Tak lupa juga ice basket dan dua buah gelas yang ia tempatkan di atas nampan.
Pelayan yang sebelumnya mengantarkan Evangeline telah datang kembali dan mengambil nampan tersebut.
Melihat minuman keras itu telah dibawa, sang bartender terlihat menghela nafas sejenak.
Gadis malang. Maafkan aku, batinnya.
Dia lalu kembali menyibukkan dirinya dengan pahatan es batu yang sebelumnya ia tinggalkan di dalam tong.
...❄❄❄❄❄...
Di tempat lain, empat orang pria terlihat sedang bersama di sebuah ruangan besar yang terletak di pegunungan Selatan. Dari dalam, nampak hamparan gunung salju yang telah gelap di luar sana.
Di depan mereka nampak beberapa botol minuman yang telah kosong sebagian. Namun, hanya ada dua gelas saja yang sudah terpakai, sementara dua lainnya terlihat masih utuh dengan minuman yang bahkan belum berkurang sedikitpun.
“Hei, Alpha. Minumlah sedikit. Jangan terlalu tegang seperti itu,” ucap seorang pria tampan dengan balutan kemeja satin berwarna gelap.
Dia tak lain adalah Mac duff, bos dari sky night club, klub malam yang saat ini didatangi oleh Evangeline.
sekarang dia sedang berada bersama dengan Ardiaz, Joker dan juga tentu saja Jordan.
“Kau tenanglah. Kita hampir mendapatkan identitas mereka. Tapi, apa kau siap jika kemungkinan terburuknya sesuai apa yang kita pikirkan?” ucap Joker.
Ardiaz terdiam. Dia kembali memikirkan laporan dari Joker perihal pencariannya selama ini, yaitu dalang di balik pembantaian keluarganya.
Dia menumpukan kedua sikunya di lutut sambil menyangga dagunya dengan kedua punggung tangan.
“Ku dengar, anak dari ceo mereka akan segera kembali dari luar kota. Dia adalah seorang dokter muda yang akan menduduki kursi direktur rumah sakit central hospital,” ungkap Joker.
Ardiaz masih diam, sementara Mac duff sibuk menggoyang gelasnya hingga seluruh rongga di dalamnya terlumuri alkohol.
Begitupun Joker yang tampak menyesap minumannya dan kembali meletakkan gelas ke atas meja.
“Ku dengar, dia selama ini berada di Wisteria. Bukankah ini sangat kebetulan, Alpha?” lanjut Joker.
Seketika, Mac duff menoleh ke arah Joker dengan wajah terkejut, sementara Ardiaz, pria itu hanya melirik sekilas dengan wajah tanpa ekspresi.
Mac duff yang sejak tadi melipat kakinya dan duduk dengan santai, kini menurunkan keduanya dan duduk condong ke arah Sang King.
“Apa kau tau siapa namanya? Apa benar-benar dia? Ini sungguh tidak bisa dibayangkan. Apa mungkin selama ini dia tidak tau? Atau mungkin berpura-pura?” cecar Mac duff sambil melirik sekilas ke arah Ardiaz.
“Entahlah. Yang jelas pasti memiliki nama belakang yang sama dengan CEO itu, Andara,” sahut Joker.
Hening. Mac duff tak memiliki bayangan siapa anak ceo itu, karena dia memang asing dengan nama tersebut. Sementara Ardiaz, dia masih diam dengan wajah seriusnya.
Pria itu kemudian bangun dan mengakukan tangannya ke dalam celana.
__ADS_1
“Kita bahas ini lain kali. Aku serahkan penyelidikan ini pada mu,” ucap Ardiaz pada Joker.
“Kau mau kemana?” tanya Mac duff.
“Aku akan kembali. Charlie juga sudah lelah karena seharian mengikutiku,” ucap Ardiaz.
“Baiklah. Hati-hati di jalan,” sahut Mac duff.
Ardiaz pun meminta Jordan untuk berdiri dan berjalan di sampingnya. Dia selalu beriringan dengan temannya itu, dan tak mau mendahului langkah Jordan.
Dia menaruh hormat pada hacker yang kini seperti idiot akibat berusaha menolongnya, namun nahas justru dialah yang paling parah terkena ledakan bazoka.
Terlebih identitasnya yang dia berikan pada Ardiaz, yang menyelamatkan dirinya dari Devonshire dan justru menjadikannya seorang King yang disegani di kelompok mafia terbesar seantero negeri.
Kini, tinggal Mac duff dan Joker yang tersisa di ruangan tersebut. Tiba-tiba, dering ponsel membuyarkan fokus kedua orang itu.
Mac duff melirik ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Di layar, tertera nama seseorang yang dikenalnya. Dia pun segera meraih dan menempelkan benda pipih tersebut di dekat telinganya.
“Gadis itu sudah masuk. Bagaimana selanjutnya, Bos?” ucap orang di seberang.
“Berikan dia minuman terbaik kita. Aku akan segera kesana,” seru Mac duff
“Baik, Bos,” sahut orang di ujung sambungan.
Telepon terputus dan Mac duff seketika meneguk habis minumannya, lalu meletakkan gelas ke atas meja seraya berdiri
“Aku harus pergi sekarang. Ada kapal yang harus diselamatkan sebelum karam,” ucap Mac duff.
Joker mengerutkan kening melihat tingkah anak buahnya itu.
Namun dia malas bertanya dan hanya membiarkan Mac duff pergi.
Saat keluar ruangan, bos Sky Night itu masih melihat Ardiaz yang berjalan di lorong tersebut bersama Jordan. Mac duff pun berlari dan segera menyusul kedua temannya itu.
Sang pria hidung belang tiba-tiba merangkul pundak kedua pria di depannya, dan membuat Ardiaz menoleh karena terkejut.
“Aku akan ikut kalian. Ah... Aku lupa kalau sudah terlalu banyak minum. Tolong antar aku ke klub. Nanti akan ku traktir kalian minuman paling enak di sana,” ucap Mac duff sambil terus menggelayut di pundak kedua temannya itu.
Ardiaz tak peduli sama sekali dan terus berjalan pergi dari sana. Dia bahkan tak melihat sebuah senyum lebar mengembang di wajah bos klub malam itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih