They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Sebuah pondok


__ADS_3

Menjelang tengah malam, sebuah mobil nampak melaju ke arah sebuah bukit di luar Kota Wisteria, yang menuju ke utara. Tepatnya di perbatasan Kota Wisteria dan Kota Willow.


Di sana, ada sebuah pondok tua yang sudah tak terpakai. Entah Aaron menemukan tempat tersebut dari mana, tapi setahu Ardiaz, kakaknya bukanlah orang sepertinya yang dekat dengan dunia gelap.


Hal ini semakin membuat Ardiaz yakin, bahwa ada seseorang yang telah memanfaatkan kakaknya untuk melakukan semua kejahatan ini, akan tetapi dia pun belum tahu akar masalahnya.


Dia berkendara seorang diri ke tempat tersebut, menggunakan mobil van yang memiliki ruang belakang yang cukup luas, dan muat untuk menampung sebuah ranjang pasien, lengkap dengan seseorang yang terbaring di sana, dengan selang infus yang menempel di pergelangan tangannya.


Sesekali dia melihat ke arah belakang dari kaca spionnya, seolah tengah memastikan semuanya sudah siap untuk dibawa ke tempat pertemuannya dengan sang kakak.


Mobil semakin masuk ke dalam bukit, yang dikelilingi pepohonan rimbun. Dari kejauhan, Ardiaz bisa melihat cahaya lampu dari sebuah pondok di tengah hutan.


Di sanalah tempat yang akan dia tuju, sesuai petunjuk dari sang kakak.


Dia terlihat memegang alis kanannya, dimana terdapat sebuah tindik kecil yang saling terhubung. Benda itu seperti baru saja terpasang di sana beberapa saat yang lalu, karena sebelumnya Ardiaz tak pernah terlihat memakai benda seperti itu di wajahnya.


Benda mirip anting itu sedikit unik. Saat disentuh Ardiaz tadi, sekilas muncul sinar merah yang sangat kecil.


Insting petarung Ardiaz, mulai bisa merasakan keberadaan banyak orang yang mengintai di sekitar tempat tersebut. Namun, dia dengan tenang terus melaju masuk semakin dalam ke hutan.


Tak butuh waktu lama, dan dia kini telah tiba tepat di depan pondok tua itu.


Mobil pun berhenti. Beberapa pria terlihat menghampiri Ardiaz dan mengetuk kaca mobil. Salah satunya memakai penutup kepala mantel yang cukup tebal.


“Sambutannya cukup meriah, sepertinya akan sulit keluar tanpa terluka dari sini,” ucap Ardiaz.


“Itu urusanmu. Aku akan tetap pergi dari sini hidup-hidup,” sahut suara yang bersalah dari bagian belakang mobil van.


Dialah pasien yang dibawa oleh Ardiaz, yang akan diserahkan pada Aaron sebagai syarat pembebasan Evangeline.


Ardiaz terlihat menyunggingkan senyumnya.


“Baiklah. Lagi pula kita datang kemari karena ingin membuat kacau bukan. Aku tidak akan bertanggung jawab pada keselamatanmu. Mari kita berkumpul di tempat biasa lusa nanti, itupun kalau kau masih ada di dunia ini,” ucap Ardiaz.


“Kau yang traktir,” tantang orang di belakang van.


“Deal,” sahut Ardiaz.


Adik Aaron itu pun lalu bersiap untuk turun. Saat pintu terbuka, orang yang menyambutnya langsung menarik Ardiaz dan mendorongnya merapat pada badan mobil.


Mereka menggeledah tubuh pria itu dan menemukan sebuah pintol dengan peluru penuh.


“Kau mau main-main rupanya,” ucap si penggeledah.


“Itu sudah kebiasaan. Itu hanya perlengkapan perlindungan diri saja,” sahut Ardiaz.

__ADS_1


Nampak pria lainnya membuka pintu belakang dan menarik ranjang pasien yang ada di sana.


“Apa itu orangnya?” tanya si pria bermantel tebal pada rekannya.


“Benar. Ini Hemachandra Adiguna,” jawab sang rekan.


Nampak seringai tipis di bibir Ardiaz, saat mendengar penuturan orang-orang itu.


“Apa tidak ada orang lain lagi?” tanya si pria bermantel lagi.


“Tidak ada. Dia hanya membawa pasien ini saja,” sahut sang rekan.


“Bagus. Bawa mereka masuk,” seru si pria bermantel.


Si penggeledahan meminta rekan lainnya untuk mengikat tangan Ardiaz ke belakang, agar suami Evangeline itu tak bisa berulah.


Dia pun lalu menodongkan pistol ke belakang kepala Ardiaz, dan memerintahkan pria muda itu untuk berjalan masuk ke dalam pondok, sementara yang lain mendorong brangkar pasien dari belakang van.


Di depan pondok, ada beberapa orang pria yang berjaga. Saat melihat mereka mendekat, salah satu penjaga membukakan pintu dan membiarkan Ardiaz serta yang lain masuk.


Pria muda itu terlihat melirik ke kanan dan kiri, seolah tengah mengamati kondisi sekitar, mencari jalan pelarian jika kekacauan terjadi.


Namun, karena langkahnya melambat, Ardiaz didorong dari belakang hingga dirinya hampir terjerembab jatuh tersungkur. Beruntung, keseimbangan tubuhnya cukup bagus dan membuatnya tak terlihat konyol.


Ardiaz menoleh dan menatap tajam ke arah pria yang mendorongnya tadi.


“Apa? Tidak usah memelototi ku seperti itu. Cepat jalan!” seru si penjaga.


“Ck!” Ardiaz pun mencebik dan kembali menghadap ke depan.


Saat masuk semakin dalam, kini mereka sampai di sebuah ruangan yanga cukup besar. Dindingnya di penuhi dengan sarang laba-laba. Kaca jendela pun pecah dan beberapa malah sudah tak memiliki jendela lagi.


Di sana, Ardiaz bisa melihat sang kakak yang sedang duduk dan seketika berdiri saat melihat kedatangannya.


Dia membola saat menyaksikan sang adik ditodong dengan pistol, tepat di belakang kepalanya.


“Turunkan senjata kalian. Kalian tidak boleh menyakiti adikku. Bukankah dia sudah datang sendirian mengantarkan Hemachandra,” seru Aaron.


“ini hanya prosedur keamanan biasa saja. Tidak usah berlebihan seperti itu reaksimu. Dia bahkan membawa pistol tadi,” sahut si penjaga.


“Kalian keluarlah. Aku ingin bicara berdua dengan adikku,” perintah Aaron.


“Apa kau yakin?” tanya si penjaga.


“Bukankah tangannya sudah diikat. Bisa apa lagi dia memangnya?” timpal Aaron.

__ADS_1


Si penjaga sekilas melirik ke arah Ardiaz. Pria muda itu hanya mengangkat sebelah sudut bibirnya ke arah si penjaga dan kembali menatap sang kakak di depan sana.


"Baiklah. Tapi jangan terlalu banyak omong kosong dan cepat selesaikan urusanmu," seru si pria bermantel.


Akhirnya, semuanya pergi meninggalkan Ardiaz, Aaron dan pasien yang terbaring di atas brangkar.


Aaron pun menghampiri Ardiaz. Dia merengkuh pundak sang adik dan melihat dengan seksama kondisi adiknya itu.


“Apa kau tidak apa-apa? Mereka tidak melukaimu kan?” tanya Aaron.


Pria itu nampak sangat mengkhawatirkan  adiknya. Dia bukanlah tipe orang yang akan dengan mudah menyakiti orang lain. Dia bahkan sangat menyayangi adiknya melebihi apapun, karena hanya Ardiaz lah satu-satunya keluarga yang tersisa setelah pembantaian itu.


Hal inilah yang membuat Ardiaz yakin bahwa ada orang lain di belakang semua ini, yang telah menghasud sang kakak hingga melakukan kecurangan di perusahaan, sampai ingin mencelakai Tuan Hemachandra.


Namun, sikap Ardiaz yang dingin, terus menunjukkan ekspresi datar meski sang kakak terlihat benar-benar mencemaskannya.


“Apa ini ini benar-benar kakakku?” tanya Ardiaz.


Aaron terlihat mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari sang adik.


“Apa ini Aaron yang ku kenal? Atau hanya topeng yang lain?” lanjut Ardiaz.


“Apa maksudmu, Diaz?” tanya Aaron.


“Apa kau memiliki penyakit kepribadian ganda? Atau memorimu hanya bisa menyimpan selama beberapa saat saja dan setelah itu menghilang seolah tak ada yang terjadj?” cecar Ardiaz.


Aaron mundur selangkah saat mendengar perkataan penuh sindiran dari sang adik.


“Aku datang kemari karena istriku. Bukan karena merindukanmu. Jadi jangan bersikap begitu akrab,” ucap Ardiaz.


“Heh... Hehehe... Istrimu? Bukankah dia sangat membencimu sekarang? Untuk apa mencarinya sampai menghianati tuan mu itu?” ejek Aaron.


Pria itu berjalan mendekat ke arah brangkar pasien, dan melihat sosok paruh baya yang terlihat pucat, terpejam, seolah berada di antara hidup dan mati.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2