
Di sebuah lantai gedung rumah sakit tempat Malcolm bekerja, terdapat sebuah ruangan steril yang ditempati seorang pria paruh baya yang terlihat terpejam, dengan segala peralatan canggih yang terpasang di tubuhnya.
Ruangan tersebut hanya bisa dihuni oleh orang penting, dan satu-satunya di gedung rumah sakit tersebut, dan ruang lingkupnya mencapai satu lantai penuh dengan tingkat keamanan yang luar biasa tinggi.
Ardiaz dan Evangeline baru saja masuk ke dalam lift dan pria itu menekan tombol paling atas yang berwarna emas, lain dari yang lain dan tak ada nomor lantainya. Itu adalah tombol untuk menuju ke ruangan terbatas tersebut.
Gadis itu menoleh ke arah suaminya, akan tetapi Ardiaz enggan menatapnya balik. Entah apa yang ada di dalam pikiran Evangeline saat ini. Ada lapisan bening yang muncul saat dia memandang wajah Ardiaz dari samping.
Saat lapisan itu semakin menggenang, Evangeline segera berpaling dan mengerjap dengan sangat cepat.
Ardiaz menyadari hal itu, dan hanya meliriknya sekilas. Dia tahu bahwa gadis itu pasti ingin bertanya banyak hal kepadanya, akan tetapi dia mengira saat ini masih belum waktunya mengatakan semua hal pada Evangeline.
Tak berapa lama, bel lift berbunyi dan pintu pun terbuka. Ardiaz lebih dulu melangkah perlahan keluar dari lift, diikuti oleh Evangeline di belakang.
Saat melangkah keluar, terlihat jelas perbedaan tempat tersebut dengan lantai lainnya di dalam rumah sakit normal.
Selain para perawat yang ada juga terbatas, selebihnya merupakan para pengawal Hemachandra yang secara khusus ditempatkan di sini.
Saat melihat kedatangan Ardiaz, semuanya nampak membungkuk memberi hormat kepada pimpinan mereka.
Salah satunya berjalan menghampiri sang ketua. Dia pun memberi hormat kepada Ardiaz dan juga Evangeline yang memang adalah nona mereka.
“Antar dia masuk ke dalam. Biarkan Nona melihat kondisi VVIP,” seru Ardiaz.
“Baik. Mari ikut saya, Nona,” sahut si pengawal kepada keduanya.
“Ikutlah dengannya,” seru Ardiaz pada Evangeline.
Tanpa berkata dan menoleh lagi ke arah suaminya, Evangeline pun berjalan dan diikuti oleh si pengawal. Sementara Ardiaz, pria itu memilih berbalik dan kembali menunggu lift datang.
Dia pun turun dan meninggalkan Evangeline bersama dengan ayahnya.
Sementara itu, gadis tersebut terlihat berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan yang dijaga oleh empat orang pengawal. Pintunya terbuat dari lapisan baja anti peluru dan anti api.
Dilengkapi dengan sensor kornea, sidik jari serta suara, dan ada beberapa lapis pintu di baliknya yang membuat ruangan tersebut terlihat tertutup dan begitu misterius.
Apa ayahku ada di dalam ruangan ini? batin Evangeline.
__ADS_1
Saat semua pintu terbuka, sang pengawal mempersilakan Evangeline untuk masuk.
“Silakan, Nona. Tuan besar ada di dalam. Jika butuh sesuatu, Anda bisa panggil saya. Pintu bisa dibuka manual dari dalam tanpa perlu kode apapun,” ucapnya.
Gadis itu pun melangkah masuk. Nuansa putih kebiruan menyapa netranya. Ruangan tersebut terlihat begitu canggih namun terasa sangat dingin.
Di dalam sana, ada sebuah tempat tidur yang mirip seperti sebuah kapsul tidur, dengan seseorang yang berada di atasnya.
Evangeline pun mendekat perlahan. Dia mencoba menguatkan hatinya saat nanti melihat kondisi ayahnya.
Dari kejauhan, dia melihat tubuh itu hanya diam. Tanpa terasa, genangan yang tadi sempat ia halau, kini justru menggenang dan meluncur begitu saja.
Dengan cepat, Evangeline menyekanya. Saat dia semakin dekat dengan kapsul itu, isaknya tak mampu ia tahan lagi. Dengan kedua tangannya, dia membekap mulutnya sendiri.
Lelehan bening pun mengalir deras, saat manik hitam itu melihat tubuh orang yang ia kira sudah tak ada, kini justru berada tepat di depannya.
Monitor di layar EKG menunjukkan adanya tanda kehidupan dari tubuh itu. Bahkan diafragmanya pun masih terlihat jelas naik dan turun beraturan.
“Ayah... Ayah...,” panggilnya lirih.
Air mata sudah tak mampu dibendung lagi. Gadis itu menangis seorang diri di dekat tubuh ayahnya yang belum sadarkan diri sejak malam itu.
“Syukurlah... Syukurlah... Ayah...,” ucapnya di tengah isaknya.
Rasa lega, sedih, haru, bahagia, semuanya melebur menjadi satu di hati Evangeline. Dia hanya bisa menangis untuk saat ini, hingga perasaannya lebih baik.
...❄❄❄❄❄...
Mata hari telah naik, menyinari setiap jengkal bumi, dan membuat siapapun yang masih terlelap pasti akan dengan terpaksa membuka matanya karena merasa terusik.
Ardiaz ingat bahwa ketiga temannya masih berada di atap rumah sakit saat dia meninggalkan mereka dini hari tadi. Dua diantaranya sedang mabuk berat, dan tak mungkin keluar dari rumah sakit dalam kondisi seperti itu.
Akhirnya, dia pun kembali ke tempat mereka berpesta semalam. Namun rupanya, di sana sudah bersih. Tak ada apapun yang tersisa.
“Sepertinya mereka sudah pergi. Benar, kenapa juga aku harus mengkhawatirkan si ahli kabur itu. Ck, menyebalkan,” gumamnya seorang diri.
Dia pun berbalik dan berjalan kembali ke ruang ICU, dimana sang kakak berada. Saat dia baru saja tiba, terlihat Morita yang juga baru keluar dari sana.
__ADS_1
Keduanya pun secara tak sengaja berpapasan. Suasana canggung muncul. Ardiaz paling tidak suka jika ada kecanggungan dan memilih berbalik pergi.
Namun, Morita memanggilnya dan membuat Ardiaz berhenti.
Wanita itu berjalan menghampiri adik sang kekasih.
“Diaz, aku belum sempat mengucapkan terimakasih padamu. Terimakasih banyak karena kau sudah menolong Aaron,” ucap Morita.
Dia bahkan sampai membungkuk di depan Ardiaz, karena merasa berterima kasih pada pria muda tersebut.
“Tidak perlu berlebihan. Aku hanya menolong kakakku yang sekarat. Mulai sekarang, ku serahkan dia padamu. Jagalah dia sampai sembuh. Setelah itu, keputusan ada ditangan Eva, apakah dia harus ke penjara atau kembali ke neraka,” sahut Ardiaz.
Wanita itu terkejut dengan perkataan Ardiaz. Dia melupakan Evangeline, gadis yang sudah pasti akan meminta penjelasan dan pertanggungjawaban atas semua yang sudah terjadi.
Tanpa sadar, hatinya sakit memikirkan sang kekasih yang harus berjuang hidup untuk mendapatkan hukuman. Tanpa terasa, matanya pun terasa panas dan berair. Pandangannya berkabut dan membuat wanita itu terus tertunduk.
“Iya, aku mengerti. Sekali lagi terimakasih,” ucap Morita lirih menahan tangisnya.
Ardiaz pun kembali melangkah pergi dari sana. Setelah pria itu menghilang di kejauhan, Morita seketika ambruk ke lantai. Dia duduk bersimpuh di sana, sambil memegangi dadanya, terisak dalam diam dan membuat dadanya terasa semakin sakit dan sesak.
Tanpa dia tahu, Ardiaz tidak masuk ke dalam lift, melainkan bersembunyi di sudut dan melihat semuanya.
Sebagai seorang adik, tentu Ardiaz tidak ingin kakaknya mendapat kesulitan lagi, akan tetapi ini adalah hukuman atas apa yang telah diperbuat Aaron pada keluarga Hemachandra.
Meski berat, namun semuanya harus bersiap dengan kemungkinan apapun yang akan terjadi nantinya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1