
Di rumah panggung pemukiman nelayan, keempat pria itu terlihat tengah merayakan sesuatu.
Mereka memegang masing-masing satu kaleng bir dan bersulang.
“Hari ini kita berhasil membuat mereka kewalahan. Ini pencapaian yang luar biasa,” ucap Joker.
“Apa selama ini belum ada yang bisa menembus sistem keamanan mereka?” tanya Ardiaz.
“Tentunya dengan sumber daya yang dimiliki, Mereka mampu memilih orang-orang yang lahir di bidang ini,” sahut Jordan.
“Wah... Ternyata rekanku ini sangat hebat. Sejak kapan kau mengembangkan virus merepotkan seperti itu?” puji Mac duff.
“Menurutmu, dari mana aku selama ini bisa menjual informasi rahasia pada pelanggan, hah?” tanya Jordan balik.
Mac duff tidak menimpali lagi, akan tetapi dia menepuk pundak rekannya itu beberapa kali, tanda bahwa dia kagum dengan kemampuan Jordan.
“Apa informasi yang kita inginkan sudah berhasil didapatkan?” tanya Ardiaz.
Jordan berbalik dan mengambil macbook-nya. Dia telah memindahkan data dari perangkatnya kerasnya ke dalam benda pipih tersebut.
Dia pun menggeser beberapa kali ke samping dan kemudian memperlihatkannya kepada Ardiaz.
“Aku mendapat daftar nama-nama investor mereka. Di sini tertulis bahwa mereka adalah investor tetap dengan jumlah investasi yang sama setiap tahunnya. Bukankah ini mencurigakan?” tanya Jordan.
“Mereka adalah klien yang pernah menggunakan bantuan Lucifer untuk melakukan kejahatan. Beginilah cara mereka mendapatkan sumberdaya selama dengan melalui memeras orang yang telah terjerat jaring mereka,” jelas Joker.
“Pasti salah satu dari mereka adalah target kita,” ucap Ardiaz.
Ardiaz menyerahkan kembali macbook itu, dan meminta Jordan mencetak daftar tersebut ke atas kertas.
“Lalu, kapan kita akan bergerak menyerang gudang senjata Lucifer?” tanya Mac duff.
Ardiaz melirik sekilas ke arah Jordan. Namun rekannya itu justru melirik ke arah Joker.
“Yang jelas kita perlu menyusun rencananya matang-matang. Ingat, kita hanya berempat. Mustahil bisa keluar dengan selamat tanpa rencana jitu,” ucap Ardiaz.
“Bukankah itu urusanmu, Alpha?” tanya Jordan.
“Tidak. Kali ini biarkan Joker yang memimpin. Dia yang lebih paham kondisi di sini bukan?” sanggah Ardiaz.
__ADS_1
Jordan diam sejenak, namun akhirnya dia bangun dan berjalan ke arah papan besar yang menjadi tempat mereka menyusun rencana.
Pria besar itu meraih spidol putih dan menandai sebuah titik yang berada di peta kota.
“Gudang senjata mereka ada di sekitar padang ini. Disekelilingnya banyak pepohonan dan juga menara pandang yang menjadi pos penjagaan mereka.”
“Jalan masuknya adalah melalui semak dan rerumputan di padang luas ini. Akan tetapi Jika kita masuk dan terlihat oleh pengawas, maka kita hanya akan menjadi sasaran tembak mereka.”
“Di sebelah sini, ada bukit berbatu yang berbatasan langsung dengan hutan rimba yang masih asli. Banyak binatang buas yang hidup di sana. Tak banyak orang yang mau pergi ke tempat itu karena sangat berbahaya,” ucap Joker.
Dia meraih macbook Jordan dan membuka aplikasi peta di internet. Dia memperbesarnya hingga muncul penampakan kondisi real dari tempat tersebut.
“Ini tempatnya. Hanya ada satu jalan yang bisa kita tempuh, yaitu melalui bukit batu di belakang sini. Perhatikan baik-baik. Di sini adalah titik yang paling aman dengan sedikit penjagaan,” tunjuk Joker.
...❄❄❄❄❄...
Sepekan kemudian, di sebuah padang luas di sisi selatan Kota Orchid, padang rumput yang dikelilingi rimbunnya pepohonan serta berbatasan langsung dengan sungai besar yang memiliki air terjun tinggi, tempat dengan delapan menara di setiap sisinya.
Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalam tempat tersebut. Menara penjaga di huni oleh setidaknya empat orang sniper handal, yang mempu menembak dari jarak yang cukup jauh, untuk memastikan keamanan tempat tersebut.
Namun, ada satu celah yang dimiliki oleh tempat tersebut. Bukit berbatu yang berada di sisi barat, berbatasan langsung dengan hutan alami yang masih liar.
Saat malam, hutan sepenuhnya akan gelap. Mata manusia tak akan bisa melihat apapun di sana, tanpa bantuan alat penglihatan khusus inframerah yang dilengkapi detektor panas.
Di tengah kegelapan hutan, sebuah pergerakan terjadi. Tiga orang terlihat bergerak perlahan menyusuri hutan menuju bukit berbatu di ujung sana.
Ketiganya tak lain adalah Ardiaz, Mac duff dan juga Joker. Sementara Jordan, dia bertugas memantau keadaan di sekitar target dengan menggunakan pesawat tanpa awak, yang telah dipasang sistem peredam bising pada mesinnya, sehingga tak bisa terdeteksi oleh penal Lucifer.
Selain itu, dia juga bertugas membawa armada untuk mengangkut senja di dal sana, dan jika nanti terjadi kekacauan yang tak menguntungkan mereka sebagai jalan penyelamatan.
Ketiga orang yang berada di hutan, bisa bergerak bebas berkat perangkat yang dimiliki oleh Jordan. Sebuah kaca mata inframerah yang dilengkapi sensor panas, membuat mereka tahu dimana letak pepohonan dan juga pergerakan dari hewan yang ada di dalam hutan.
Banyak hewan nokturnal yang bergerak di malam hari, membuat mereka bertiga harus waspada. Ada kawanan singa, harimau dan bahkan beruang yang menghuni hutan tersebut.
Suara burung hantu semakin membuat suasana menjadi tegang dan mencekam. Namun, ketiga pria pemberani itu sama sekali tak gentar dan terus maju ke depan.
“Bukitnya sudah terlihat,” bisik Mac duff yang berjalan di depan.
Meski mereka memilik alat komunikasi yang menempel di telinga masing-masing, akan tetapi ketiganya juga harus tetap senyap agar tak mengusik penghuni hutan tersebut.
__ADS_1
Semuanya pun bergegas menuju ke arah bukit, akan tetapi saat mereka tiba tepat di bawah, sebuah bayangan besar muncul dari atas bukit.
Ketiganya terkejut dengan keberadaan makhluk itu di sana. Seekor beruang hitam nampak berdiri di antara bebatuan. Ia mengeram ke arah ketiga penyusup itu, seolah tak suka dengan kehadiran mereka.
Ardiaz dan Joker tampak diam mematung, namun Mac duff justru bersiap membidikkan senjatanya ke arah beruang tersebut.
Ardiaz yang melihatnya pun segera menekan alat di telinganya dan mencegah Mac duff melakukan tindakan bodoh.
“Turunkan senjatamu, Delta. Kau hanya akan membuat kegaduhan,” ucap Ardiaz lirih.
Mac duff pun kembali menurunkan senjatanya. Namun di depan sana, beruang hitam itu semakin terlihat gelisah. Ia menggeram dengan sangat keras, membuat burung-burung yang ada di atas pepohonan berterbangan meninggalkan sarang, karena takut dengan auman beruang tersebut.
Begitu pun dengan ketiga orang yang saat ini berhadapan dengan binatang besar pemakan daging itu.
“Kita harus menembaknya, atau kita yang dimakannya nanti,” ucap Mac duff.
Dia pun kembali mengangkat senjatanya.
GROAAAAAAARRRRGGGGGG!
Auman beruang itu semakin keras, dan binatang itu terlihat berjalan menuruni bukit batu.
Mac duff terlihat baru saja mengokang senjatanya, dan sontak hal itu membuat Ardiaz geram.
“B*doh, sudah ku bilang diam saja.”
Karena merasa terancam, beruang itu pun bersiap melompat, sementara Ardiaz segera berlari ke arah Mac duff.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1