They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Mengadu


__ADS_3

Rasanya saat ini dia begitu lelah. Evangeline pun duduk di samping sang ayah dan merebahkan kepalanya di ranjang, dengan tangan yang menggenggam tangan ayahnya.


“Ayah, hari ini aku menangis lagi. entah sudah berapa kali hari ini. Sepertinya aku semakin cengeng saja. Bahkan setiap hari aku bisa menangis sangat lama hingga lelah, dan tertidur."


"Ayah, maaf. Awalnya aku tak ingin mengatakannya padamu, tapi ku rasa ayah juga harus tau hal ini, karena ini semua juga karena menantu kesayangan ayah itu.”


“Ayah, aku penasaran, kenapa kau memilih Ardiaz? Apa kau tahu, dia sangat payah. Dia hanya bisa membuatku kesal dan menangis setiap hari. Sejak aku menikah dengannya, dia hanya sekali saja berbuat baik padaku.”


“Dia memberiku kalung yang sangat cantik. Tapi apa ayah tahu, sekarang aku malah akan terus menangis saat melihat kalung itu melingkar di leherku,” Evangeline menjeda ucapannya.


Air matanya kembali turun. Dadanya pun terasa sesak, hingga ia menegakkan tubuhnya dan mencoba menghirup nafas dalam-dalan sebelum melanjutkannya lagi.


Dia menghela nafasnya sekaligus, sambil mengusap kasar air mata dengan punggung tangannya.


“Apa ayah tahu, kami pernah bersepakat tentang suatu hal. Dia bilang bahwa akan menceraikan ku saat aku sudah berhasil menjalankan perusahaan ayah. Semua orang tahu kalau kami menikah secara paksa. Bukankah harusnya aku senang dengan hal yang kami sepakati? Tapi entah kenapa aku justru sempat ragu.”


“Tapi, apa ayah juga tahu, ternyata dia benar-benar sangat menyebalkan. Kita bahkan sudah sepakat bercerai saat aku sudah bisa memimpin, tapi baru beberapa hari...,” Evangeline terdiam.


Dia merasa kembali bergetar saat harus mengakui kematian Ardiaz di depan sang ayah. Dia membenamkan kembali wajahnya pada bed pasien, dengan bahu yang berguncang.


Gadis itu kembali terisak. Tak lama, dia kembali mengangkat wajahnya, dan mencoba kembali tenang meski lelehan itu tak mau berhenti juga.


“Dia ingkar janji. Sekarang, dia sudah benar-benar menjadikan aku seorang janda, Ayah. Dia berbohong pada ku. Dia berkata akan kembali, tapi yang datang hanya cincinnya saja.”


“Ardiaz sudah tidak ada lagi. Aku harus bagaimana sekarang? Aku sendirian, Ayah. Aku sendirian. Aku mohon ayah bangun. Bangunlah, Ayah. Bangunlah,” tatap Evangeline.


Dia pun akhirnya tak bisa berpura-pura tegar lagi di depan sang ayah. Jiwa yang rapuh, membuatnya mencurahkan semua isi hatinya saat itu juga kepada ayahnya.


Setelah mengeluarkan semua kegundahan itu, Evangeline kembali membenamkan wajahnya di antara kedua lengannya yang terlipat di sisi ranjang, dan menangis dengan isak yang tertahan.


Dia menangis cukup lama. Matanya pun terasa berat, karena sebelumnya dia juga menangis di dalam kamarnya sendiri. Hingga tanpa disadari, dia tertidur dengan posisi seperti itu di samping ayahnya.


Entah sudah berapa lama dia tertidur di sana, tiba-tiba sebuah suara beep terdengar semakin lama semakin cepat, membuat gadis itu terusik.


Dia pun mengerjapkan kelopak matanya yang terasa mengganjal. Dengan pandangan kabur, dia berusaha menyadarkan dirinya dari rasa kantuk yang masih menghinggapi.


Dia tersentak saat merasakan jemari ayahnya bergerak di bawah telapak tangannya. Evangeline pun seketika menarik tangannya dan memperhatikan hal tersebut.


Dalam kepanikan dan keterkejutannya, dia serta merta menekan tombol darurat, yang memungkinkan dokter dan tim medis segera datang ke ruangan tersebut.


Dia masih belum bisa berkata-kata melihat hal itu. Jantungnya berdebar begitu cepat, terlebih melihat monitor EKG yang menunjukkan grafik yang terus meningkat.


Tuhan, ada apa lagi ini? Tolong jangan ambil ayahku juga. Ku mohon selamatkan dia. Aku mohon, ratapnya dalam hati.


Sejurus kemudian, tim medis masuk ke dalam ruangan tersebut, diikuti beberapa pengawal yang mengamankan tempat itu.


“Nona, silakan Anda tunggu di luar. Biar kami periksa kondisi ayah Anda terlebih dulu,” seru salah satu perawat.


“Tolong selamat ayahku, Dokter. Tolong,” pinta gadis malang itu.

__ADS_1


Dia pun mundur perlahan bersama semua pengawal dan membiarkan sang ayah ditangani oleh tim medis.


Di luar ruangan, dia terus berjalan bolak balik tak tenang. Sambil menggigiti kukunya, Evangeline terlihat gugup dan terkaan demi terkaan muncul di kepalanya, membuat hatinya semakin tak tenang.


Dari arah lift, terlihat seseorang yang datang tergesa-gesa. Dia berjalan ke arah Evangeline, akan tetapi segera dihadang oleh beberapa pengawal yang berjaga di sekitar lift.


“Maaf, Anda tidak boleh masuk tanpa ijin,” ucap pengawal itu.


Evangeline menyadari terjadi sedikit keributan di depan sana. Dia pun mencoba melihatnya, dan menemukan bahwa seorang dokter yang dia kenal sedang dihadang oleh orang-orangnya.


Dia pun berjalan mendekat dan melihat hal tersebut.


“Biarkan dia masuk,” seru Evangeline.


Para pengawal pun melepaskan dokter tersebut dan membiarkan dia masuk.


“Dokter Malcolm, ada apa Anda kemari?” tanya Evangeline.


“Aku mendengar alarm code blue tadi. Apa terjadi sesuatu dengan tuan Hemachandra?” tanyanya.


“Aku tak tahu. Tiba-tiba saja monitor di dalam sana berbunyi dan jari ayahku bergerak. Ini bukan pertanda buruk bukan?” tanya Evangeline.


Gadis itu terlihat begitu khawatir. Malcolm pun tak tahu pasti akan kemungkinannya, karena dia belum melihat hasil pemeriksaan ayah gadis itu.


Dia melihat Evangeline kembali melipat kedua lengannya di depan dada, sambil menggigiti kuku jarinya lagi.


Tak lama, seorang perawat keluar dari dalam ruang perawatan khusus. Dia terlihat menuju ke ruang peralatan yang disediakan di lantai itu.


“Bagaiman kondisi pasien di dalam?” tanya Malcolm.


Perawat itu menoleh dan membungkuk terlebih dahulu kepada dokter tersebut.


“Dokter memintaku mengambil beberapa alat. Sepertinya pasien menunjukkan respon,” ucap perawat.


Evangeline menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Malcolm melihat harapan kembali hadis di mata gadis itu, dan dia pun semakin mengorek informasi dari perawat tersebut.


“Jadi, masih belum pasti. Apa dokter Lee di dalam?” tanya Malcolm lagi.


“Benar. Permisi, saya harus segera membawa semua ini ke dalam,” ucap si perawat.


Kedua orang itu pun menyingkir, membiarkan perawat itu menjalankan tugasnya.


Evangeline masih terlihat tak tenang. Malcolm pun mengajaknya untuk duduk di ruang tunggu.


“Nona Eva, sebaiknya kita duduk dulu,” seru Malcolm.


Dia merentangkan lengannya di belakang punggung Evangeline, dengan telapak tangan yang tanpa menyentuh gadis itu.


Dia hanya bermaksud menuntun Evangeline untuk duduk, karena sejak dia masuk ke dalam, gadis tersebut terus berdiri sambil bolak balik tak tenang.

__ADS_1


Setelah duduk, Malcolm berjalan ke arah dispenser air, dan mengambil air minum dari sana. Dia kembali berjalan ke arah tempat duduk di mana gadis itu berada.


“Minumlah,” seu Malcolm.


Evangeline mendongak melihat uluran tangan Malcolm yang memegangi segelas air.


“Minumlah. Jangan sampai Anda dehidrasi lagi seperti sebelumnya,” lanjut Malcolm.


Evangeline awalnya enggan menerimanya, namun pria itu ada benarnya. Dia sudah beberapa kali harus mendapat penanganan medis karena masalah dehidrasi.


Dia pun akhirnya meraih air minum itu.


“Terimakasih,” ucap Evangeline.


Gadis itu pun meminum air tersebut. Malcolm kembali duduk di kursi yang terpisah dari Evangeline.


Entah sudah sejak kapan, yang jelas dia terus memperhatikan Evangeline, terlebih setelah dia mengabarkan kematian Ardiaz kepada gadis malang itu.


Dia merasa iba dengan apa yang menimpa Evangeline, terlebih dengan perubahan sikapnya yang seolah tengah menyiksa diri.


Setiap kali sesuatu terjadi pada Evangeline, dialah yang selalu siaga dan memastikan kondisinya berangsur membaik, meski dia tak pernah menunjukkannya langsung di depan gadis tersebut.


Beberapa saat kemudian, Dokter bermarga Lee itu keluar dari ruang rawat Hemachandra. Malcolm dan Evangeline pun segera menghampiri.


Evangeline yang sudah tak sabar ingin tahu kondisi sang ayah pun, langsung menanyakan kondisi pria paruh baya yang tengah terbaring di dalam sana.


“Dokter, bagaimana kondisi ayahku?” tanya Evangeline.


Dokter terlihat memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jasnya. Dia kemudian menjelaskan sesuatu kepada gadis tersebut.


Evangeline terlihat menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Kepalanya menggeleng pelan. Dia bahkan mundur ke belakang dan hampir terjungkal. Beruntung ada Malcolm yang memeganginya.


Namun, gadis itu lalu berlari masuk ke dalam ruang rawat sang ayah, meninggalkan semuanya.


Air matanya menetes. Dia pun menyekanya kasar dengan punggung tangannya. Dia pun segera menekan tombol pembuka pintu baja agar segera terbuka.


Saat pintu terbuka, langkah kakinya terhenti. Matanya semakin berair dan membuat pandangannya kabur. Dia masih terus menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dan berdiri di ambang pintu.


Ayah,


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2