
“Baiklah. Aku tidak akan merebut sistem itu darimu, tapi sebagai gantinya kau harus bekerja padaku,” ucap Devon.
Ardiaz mengerutkan keningnya dengan mata memicing, mendengarkan perkataan dari sang Emperor Lucifer itu.
“Apa maksudmu?” tanya Ardiaz.
“Jadilah salah satu King di Lucifer, maka teman-temanmu akan ku biarkan hidup,” ucap Devon.
“Kau gila,” sahut Ardiaz ketus.
Dia berbalik hendak pergi karena malas mendengar omong kosong dari pria di depannya.
Namun, Devon kembali membuatnya terdiam dengan ancaman lainnya.
“Ah benar. Kau pasti merindukan gadis itu bukan?” tanya Devon.
Melihat Ardiaz diam. Emperor Lucifer itu pun menyeringai.
“Dia pasti orang yang berharga untuk mu. Hanya saat kau mendengar tentangnya, maka semua keras kepalamu tak ada artinya lagi,” lanjut Devon.
Ardiaz berbalik dan berhadapan kembali dengan devon.
“Dari mana kau tahu tentang dia? Atau ini semua hanya omong kosong mu yang tepat sasaran saja?” tanya Ardiaz.
Dia mencoba mencari tahu apakah benar mereka mengetahui tentang Evangeline.
Devon terlihat berdiri dan meraih sesuatu dari dalam laci mejanya. Dia kemudian berjalan ke arah Ardiaz dan menyerahkan benda berupa amplop coklat kecil.
Ardiaz nampak menautkan alisnya melihat benda tersebut. Dia pun dengan ragu meraih amplop itu.
Setelah Ardiaz mengambilnya, Devon berbalik dan berjalan ke arah jendela. Sementara Ardiaz membuka amplop tadi.
Matanya membola melihat potret gadis yang selama sebulan lebih ini telah ia tinggalkan di kota nan jauh di sana.
“Bukankah sistem enel terbarumu ada pada gadis itu? Beruntung kami terus memantaunya dan mendapatkan gambar itu,” ucap Devon.
Ardiaz memejamkan matanya. Hatinya benar-benar kacau melihat sang istri di atas kertasnya juga harus terbawa dalam masalah ini.
“Hanya menjadi King bukan? Apa ada yang lebih buruk lagi?” tanya Ardiaz.
Dia seperti sudah pasrah dengan nasibnya sendiri.
Devon menoleh ke arah pria muda itu. Dengan senyum mengejeknya, dia menatap adik palsunya itu sambil bersandar di kusen jendela dengan tangan terlipat di depan dada.
“Setelah kau resmi menjadi King, kau akan tau dengan sendirinya semua yang harus kau lakukan tanpa perlu ku beritahu,” ucap Devon.
__ADS_1
Ardiaz meremas amplop di tangannya dan berbalik pergi. Namun lagi-lagi dia harus menghentikan langkah saat Devon bersuara.
“Ah... satu lagi. Kau akan mendapatkan semua fasilitas layaknya semua King yang ku punya. Tapi satu hal yang harus kau tahu, orang yang berada di bidang kita, harus memutus semua hubungan dari dunia atas, jika ingin mereka yang berharga tetap aman,” ucap Devon memperingatkan.
Ardiaz tak lagi menoleh. Dia langsung keluar dari sana dengan perasaan yang kacau. Dia kembali ke kamarnya yang berada di ujung lain lantai dua.
Setelah Ardiaz pergi, tampak Vermont datang dan masuk ke dalam ruangan bosnya.
“Selamat siang, Tuan,” sala Vermont.
Devon terlihat memandang ke luar jendela dengan kedua tangan yang masih terlipat.
“Apa semuanya sudah dibereskan?” tanyanya pada sang tangan kanan.
“Martin sudah mendapatkan bukti dari anak buah Marco, bahwa King kita itu telah bekerjasama dengan rival, dan menyelundupkan sebagian senjata yang harusnya masuk kepada kita, dan mengirimkannya pada mereka. Dia sudah terbukti berkhianat,” ucap Vermont.
“Ehm... Baiklah. Eksekusi segera dan biarkan anak itu menggantikannya,” seru Devon.
“Maksud Anda Tuan muda? Tapi bukankah tujuan kita hanya mengambil sistem Enel itu darinya?” tanya Vermont.
“Sementara ini kita harus membiarkan dia lengah. Biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Buat dia percaya bahwa kita sudah tak peduli dengan sistem Enel. Lagipula, dia tidak bodoh. Meski kita mengambilnya secara paksa dari gadis itu, pasti dia sudah membuat proteksi pada benda tersebut."
"Sementara itu, tempatkan Ian di kelompoknya. Beri dia misi untuk mendapatkan master dari sistem itu bagaimanapun caranya,” seru Devon.
Dia pun keluar dan melaksanakan tugas dari bosnya.
...❄❄❄❄❄...
Keesokan harinya, Ardiaz dijemput oleh sekelompok anak buah Lucifer. Seperti yang dikatakan oleh Devon sebelumnya, bahwa dia diperbolehkan melihat Jordan yang telah bangun setelah dua minggu mengalami koma di rumah sakit.
Sesampainya di sana, dia digiring menuju ke lantai enam gedung rumah sakit, dimana ruang ICU berada.
Di sana, sudah terlihat beberapa pengawal Lucifer berjaga di depan sebuah ruangan. Ardiaz sudah bisa menebak bahwa ruangan tersebut adalah ruang rawat Jordan.
Benar saja, mereka bahkan seketika langsung membukakan pintu dan mempersilakan Ardiaz untuk masuk ke dalam.
Pria itu tak langsung melangkah ke dalam. Dia tertegun sejenak melihat apa yang ada di depannya.
Seorang pria muda yang mengenakan penutup kepala dan pakaian pasien, tengah duduk dengan tatapan kosong. Ekspresinya datar dan wajahnya pun terlihat begitu pucat.
Ardiaz merasa ada yang salah dengan rekannya itu. Dia pun memberanikan diri untuk melangkah masuk, menghampiri Jordan yang seolah tak menyadari kedatangannya.
“Hai, Charlie,” sapa Ardiaz.
Pasien itu menoleh saat mendengar seseorang menyapanya. Namun, tatapannya begitu kosong meski jelas dia melihat ke arah Ardiaz yang berdiri di depannya. Dia bahkan tak berkata apapun dan kembali menoleh ke depan.
__ADS_1
"Hei, ayolah. Apa kau marah padaku karena baru menemuimu? Kau pasti lebih tahu kondisi ku bukan?" ucap Ardiaz.
Jordan masih diam membisu, bahkan dia terus tak acuh dengan dengan keberadaan Ardiaz di sana. Jangankan menjawab, merespon pun tidak.
Ardiaz pun maju dan meraih pundak rekannya itu. Namun reaksi Jordan membuat Ardiaz membelalak tak percaya. Mata itu kosong. Dia bahkan tak bereaksi saat dia mengguncang bahunya dengan keras.
Melihat hal itu, Ardiaz begitu sedih namun dengan sekuat tenaga dia tetap mencoba bersikap biasa. Meski begitu, genggaman tangannya bisa mewakili perasaannya saat ini. Dia melepas tangannya dari pundak Jordan dan mundur beberapa langkah.
“Apa kau benar-benar jadi seperti ini?” tanya Ardiaz.
Namun, Jordan masih terus diam tak peduli dengan perkataan dari Ardiaz. Hal itu membuat adik Aaron semakin merasa bersalah pada rekannya.
Melihat temannya menjadi seperti itu, Ardiaz seolah buntu dan tak tau harus berbuat apa. Dia pun berbalik dan keluar dari ruangan itu.
“Antarkan aku ke tempat temanku satunya lagi,” serunya.
“Tapi...,” sanggah si pengawal.
Merasa permintaannya akan ditolak, dia pun langsung menyerang orang itu dan mencengkeram kerah bajunya hingga dia membentur dinding.
“Aku tidak mau mendengar penolakan darimu. Cukup turuti kemauan ku, atau kau tamat. Bukan hanya orang itu yang bisa kejam. Aku juga bisa,” ancam Ardiaz.
Pengawal itu melirik ke arah temannya yang lain. Temannya mengangguk meminta agar pengawal itu menuruti permintaan Ardiaz.
“Baiklah. Mari ikut saya,” sahut pengawal itu.
Ardiaz pun menghempaskan orang itu dengan kasar dan berjalan pergi dari sana.
Sementara itu, orang yang tadi memberi persetujuan, nampak menghubungi seseorang dengan menggunakan alat yang terpasang di telinganya.
“Tuan muda sedang menuju ke sana,” ucapnya.
Transmisi pun terputus dan dia kembali berjaga di depan ruang rawat Jordan.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih
__ADS_1