They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Bergabungnya Damian


__ADS_3

Seseorang masuk ke dalam garasi dimana Ardiaz dan  Jordan berada. King baru itu menoleh dengan tatapan tajam ke arah tamu tak diundangnya.


“Siapa yang berani masuk kemari tanpa ijinku?” tanyanya dengan suara berat dan juga dingin.


Namun, wajah tegangnya itu hilang seketika dan berganti dengan kening yang berkerut, ketika melihat siapa orang yang datang.


“Kau?!” tanya Ardiaz.


Dia memindai orang yang datang itu dari atas hingga bawah, dengan tatapan menyelidik. Dia adalah seorang pemuda yang lebih muda darinya, dengan gaya santai dan juga sedikit urakan.


Ardiaz masih ingat betul rambut merah menyalanya yang pernah ia lihat tempo hari di area gudang dekat dengan pelabuhan.


“Hai, Bos. Aku Damian Anggara. Panggil saja aku Ian. Aku diperintahkan oleh Tuan Vermont untuk bergabung di tim mu mulai hari ini,” ucap seorang pemuda yang tak lain adalah sang hacker andalan Lucifer, Ian atau Damian.


Ardiaz mengendurkan keningnya yang sejak tadi mengkerut, bahkan alisnya pun hampir bertaut, setelah mendengar perkenalan diri dari pemuda di depannya.


“Jadi, kau orangnya. Apa tempo hari juga perintah Vermont untuk berpura-pura menjadi perantara wanita tua itu?” tanya Ardiaz.


Bukannya langsung menjawab, Damian terlihat menoleh ke kanan dan kiri, lalu berjalan mendekati tong kayu yang berada tak jauh dari Jordan.


“Tempo hari itu benar-benar perintah nenek. Dia yang memintaku untuk menjadi perantara mu. Ini tak ada sangkut pautnya dengan Lucifer sama sekali,” jawab Damian.


“Aku tak yakin wanita tua itu benar-benar nenek mu,” terka Ardiaz menyelidik.


“Lebih tepatnya cucu angkat. Dia yang merawatku sejak kecil, saat Emperor membawaku ke kota ini,” jawab Damian.


“Jadi, kau juga dekat dengan Devon?” tanya Ardiaz dengan senyum mengejek.


“Apa ini seperti pertanyaan tes masuk perusahaan?” tanya Damian balik.


Ardiaz masih menatap tajam ke arah pemuda yang duduk dengan santainya di samping Jordan.


“Lupakan,” sahut Ardiaz.


Dia lalu berbalik menuju ke motor besarnya. Ardiaz mengambil sesuatu dari dalam tasnya, yang tak lain adalah sebuah map hitam yang berisikan misi mereka selanjutnya.


Damian yang serba penasaran pun menoleh dan mendapati sosok Jordan, yang sejak tadi terus menunduk dengan tudung jaket yang menutupi hampir seluruh wajahnya.


“Siapa dia? Apa dia anggota kita juga? Tapi ku dengar, kau tak punya anggota lain selain para pengawal itu,” tanya Damian.

__ADS_1


“Itu bukan urusanmu,” sahut Ardiaz cepat.


“Apa ini markas kita?” tanya Damian.


Pemuda tersebut terlihat mengedarkan pandangan ke sekeliling, mengamati tempat yang ia datangi itu.


“Aku tak punya markas. Kalau kau mau menganggapnya begitu, terserah,” sahut Ardiaz.


Pria itu sudah kembali berjalan menghampiri tamunya dan melempar map hitam tadi ke samping Damian.


“Itu misi baru kita. Cari sesuatu yang bisa menguntungkan dan membuat misi ini cepat selesai. Kalau sampai misi kali ini gagal, maka aku akan minta Vermont untuk membawamu pergi dari sini,” ucap Ardiaz.


Damian nampak melihat map tersebut dan mempelajarinya.


“Dia hanya seorang akuntan kecil. Sudah beberapa kali dia kekuar masuk perusahaan besar, dengan ending perusahaan itu selalu berakhir di akuisisi oleh pihak lawan. Aku rasa kali ini dia sedang diincar oleh seseorang yang dendam dengannya jadi dia datang meminta bantuan kita.”


“Tapi, apa sekarang kau juga mengurusi semua transaksi di organisasi, termasuk permintaan pengawalan?” tanya Damian penasaran.


“Lakukan saja yang ku minta. Terlalu banyak bertanya terkadang tidak baik untuk nyawamu,” sahut Ardiaz ketus.


Damian hanya mengedikkan  bahunya mendengar perkataan tajam dan dingin dari Ardiaz.


Ardiaz sejak tadi terus memperhatikan lambang tersebut.


“Aku sejak awal sudah mendapatkan hak istimewa di organisasi ini. Aku hidup di tengah-tengah masyarakat dengan identitas ku sebagai Damian, dan tidak mendapat tato Lucifer. Itu semua berkat nenek ku yang memohon pada Emperor agar aku bisa hidup normal seperti pemuda lainnya."


“Sebagai gantinya, Emperor memintaku untuk selalu memakai lambang ini di setiap sistem yang ku buat, sebagai hak paten dari organisasi, atau lebih tepatnya imbalan karena telah membiarkan ku hidup nyaman dengan semua fasilitas yang diberikan oleh organisasi hingga saat ini,” jelas Damian.


Pemuda itu seolah tahu bahwa sejak tadi Ardiaz terus memperhatikan lambang pada laptopnya.


“Dari perkataanmu, kau seolah terpaksa menurut pada bos besarmu,” sindir Ardiaz.


Pria itu kembali sibuk dengan motornya, sementara Jordan masih saja diam seribu bahasa di dekat Damian.


Karena tertutup tudung jaketnya, tak ada yang menyadari bahwa sejak tadi matanya terus melirik ke arah pemuda berambut merah di sampingnya.


...❄❄❄❄❄...


Sebulan berlalu, salju pertama telah turun di Kota Orchid. Udara dingin benar-benar menusuk tulang dan membuat semuanya membeku.

__ADS_1


Sikap dingin Ardiaz semakin membuat orang disekitarnya menggigil ngeri, terlebih tatapannya yang selalu saja mengintimidasi.


Semenjak Damian bergabung dengan timnya, pemuda itu terus saja datang ke garasinya, dan sesekali menggoda Jordan yang terus saja seperti patung, diam dan tak bergerak sedikit pun dari posisinya.


Sejak saat itu juga, Ardiaz tak membawa macbook milik temannya ke garasi, dan hanya memperbolehkan Jordan bermain dengan barangnya itu saat dia sedang seorang diri di apartemen.


Ardiaz bisa saja meninggalkannya Jordan di rumah sendirian, akan tetapi dia tak bisa tenang dan merasa tempat teraman untuk pria malang itu hanyalah di dekatnya.


Damian terbilang penurut, meski terkadang ocehannya membuat telinga sakit dan kepala pusing. Sering kali Ardiaz mengalihkan pembicaraan atau bahkan mengacuhkannya begitu saja.


Terlebih saat dia menyinggung tentang adik Emperor yang terkenal sebagai hacker jenius alami, yang sekarang bahkan tak pernah memegang perangkat komputer sama sekali.


Damian mulai curiga dengan Ardiaz yang tak mirip seorang hacker seperti dirinya, yang selalu berteman dengan komputer dan perangkat lunak lainnya, tapi justru selalu bermain dengan senjata.


Suatu hari, seseorang datang ke garasi Ardiaz dengan tergesa-gesa, dan membuat pria itu terkejut. Dia pun segera bangun dari bawah motornya dan menghampiri salah satu rekannya yang baru terlihat semenjak misi terakhir kali beberapa waktu yang lalu.


“Delta, kau...,” sapa Ardiaz cemas.


Mac duff terlihat terburu-buru dan segera menghampiri Ardiaz dengan wajah serius.


“Aku muak dengan beruang besar itu. Dia benar-benar gila. Kapan kau akan bertukar tempat dengan si idiot itu, hah? Atau setidaknya kau bawalah aku ke timmu. Kenapa kau malah membawa masuk seorang anak kecil kemari?” cerocos Mac duff.


Ardiaz menarik nafas dalam karena Mac duff baru saja membuka sebuah rahasia tepat di depan utusan Vermont, yang memang diberikan misi sebagai mata-mata di timnya.


“Apa kau sudah puas mengatakan semuanya? Sampai kapan kau akan ceroboh dan mau melihat situasi sebelum bicara, hah?” cecar Ardiaz balik.


Tangannya berkacak pinggang dengan tatapan lurus ke arah rekannya itu. Matanya melirik ke samping, di mana Jordan dan juga Damian berada.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2