
Malam hari, sebuah motor melaju di jalanan sekitar pelabuhan timur Kota Orchid. Seorang pria muda mengenakan jaket hoodie hitam, terlihat sedang berjongkok di tepi jalan.
Motor itu berhenti tepat di depan pria muda itu, dan membuatnya berdiri.
“Lama sekali,” gerutunya.
Pria yang mengemudi sepeda motor, yang tak lain adalah Ardiaz itu menaikkan kaca helmnya.
“Ayo cepat naik,” seru Ardiaz pada Mac duff.
Si ahli bela diri itu pun segera naik di belakang Ardiaz. Motor kembali melaju meninggalkan tempat tersebut.
“Di mana kalian seharian ini?” tanya Mac duff.
“Sudah ku bilang kan, kami sedang mengawasi target,” jawab Ardiaz.
“Kenapa tidak kau tangkap saja targetmu itu?” tanya Mac duff.
Ardiaz diam. Dia justru menarik tuas gas semakin dalam dan membuat rekannya itu terkejut hingga hampir terjungkal ke belakang.
“Hei, Alpha,” pekik Mac duff yang terkejut dengan kelakuan rekannya itu.
Sebuah senyum jail muncul di wajah Ardiaz yang tersembunyi di balik helmnya. Keduanya terus berkendara menyusuri jalanan pelabuhan, hingga memasuki sebuah jalan kecil dengan pemandangan laut yang sangat indah dimalam hari.
Pantulan cahaya bulan, membuat permukaan air laut berkilau bak permadani.
Sinar dari lampu mercusuar yang ada di ujung pantai, memberi arahan bagi setiap nelayan yang malam ini mencari ikan di tengah gelombang laut.
Sekitar setengah jam berkendara dari pelabuhan, keduanya kini telah sampai di sebuah pemukiman warga yang ada di dekat pantai timur.
Motor mereka telah masuk ke dalam area pemukiman yang sempit, dengan banyak rumah panggung, dengan tiang beton serta bambu.
Hingga tibalah mereka di depan sebuah rumah panggung kecil dengan tiang beton dan dinding papan yang menghadap ke arah laut.
Ardiaz menurunkan Mac duff di sana, sementara dirinya terus melajukan motornya ke depan.
“Di sini?” tanya Mac duff.
“Kau naiklah dulu,” seru Ardiaz.
Dia pun langsung pergi setelah mengatakan hal tersebut. Sementara Mac duff naik ke atas dan menemui Jordan yang sudah menunggunya di depan pintu.
Si penjual serba ada itu langsung berjalan keluar, saat mendengar suara motor Ardiaz mendekat. Begitu Mac duff naik, dia pun segera membukakan pintu untuk rekannya sebelum dia sempat mengetuk.
“Di sini kalian rupanya,” ucap Mac duff.
Pria itu masuk dan langsung duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Tak berapa lama, tiba-tiba Ardiaz muncul dari arah pintu belakang, membuat Mac duff terkejut.
__ADS_1
Dia pun berdiri dan berjalan ke arah belakang.
“Wah... Dari mana kau belajar sulap seperti ini?” tanya Mac duff.
Pria itu melihat-lihat bagian belakang rumah panggung tersebut. Dia mendapati sebuah gudang penyimpanan jaring nelayan berada tepat di bawah rumah panggung tersebut.
Rupanya Ardiaz menyembunyikan motornya di dalam sana, dan bisa naik langsung masuk ke dalam rumah panggung itu.
Mac duff membuka sebuah lemari pendingin dan mengambil beberapa kaleng bir yang ada, dan kembali ke ruang depan di mana rekan-rekannya telah berkumpul.
“Jadi, bagaimana pengintaian mu?” tanya Ardiaz.
Mac duff kembali duduk di kursinya dengan kedua lengan yang terentang ke samping, setelah meletakkan minuman ke atas meja.
“Besok malam aku akan beraksi. Target ku benar-benar luar biasa. Dia ternyata seseorang yang cukup berpengaruh di Kota Orchid ini,” ucap Mac duff.
“Benarkah? Tapi setahuku, pria buncit itu tidak cukup terkenal di sini,” tanya Jordan.
“Siapa bilang target kita adalah seorang pria?” sanggah Mac duff.
Dia mengambil sebuah kaleng dan membukanya. Jakunnya naik turun seiring masuknya minuman beralkohol rendah itu ke kerongkongannya.
“Lalu?” tanya Jordan.
Si penjual serba ada itu menoleh ke arah Ardiaz, karena dia lah yang menetapkan target untuk Mac duff.
Ardiaz tak menyahut, namun dia juga ikut mengambil kaleng dan meneguk miliknya.
Mac duff terkekeh.
“Bukan tidak tahu, kau hanya kurang peka saja. Ardiaz benar-benar tahu bakatku harus digunakan dimana,” sahut Mac duff.
Jordan nampak memicingkan matanya. Dia tak melihat jelas jalannya lelang, sehingga dia tak tahu apa yang terjadi di sana secara rinci.
“Target dia adalah wanita cantik yang datang dengan pria buncit itu. Dialah pemilik blue ocean sekarang,” jawab Ardiaz.
Dia memilih mengatakannya, karena kondisi Jordan saat ini yang tengah kesal, karena rahasia besarnya telah di ketahui oleh Ardiaz. Sementara justru Jordan tak tahu rencana lengkap mereka.
Ardiaz tak ingin timbul sebuah jarak diantara mereka bertiga, hanya karena rasa tidak dihargai atau tidak diikutsertakan dalam rencana.
Mereka bukanlah teman lama yang sudah saling mengerti satu sama lain, melainkan hanya teman yang secara kebetulan bertemu dan memiliki tujuan yang sama.
Sementara sifat dan watak asli mereka, ketiganya belum benar-benar paham satu sama lain.
...❄❄❄❄❄...
Keesokan harinya, Jordan masuk ke dalam kamar tempat mereka menahan Joker. Dia membawakan sebuah nampan kecil berisikan sebuah alat suntik, sebotol obat dan juga beberapa pil.
__ADS_1
Ini adalah waktunya memberi pria besar itu obat, untuk menyembuhkan lukanya. Misi mereka bukanlah membunuh Joker, melainkan mencari informasi darinya, mengenai dalang di balik semua hal yang telah terjadi.
Hanya jika terpaksa, mereka akan melakukan tindakan darurat dengan membunuh.
Jordan masuk ke dalam. Dia melihat bahwa tawanannya itu telah terbangun, dengan mata yang terbuka lebar. Sejak semalam, pria besar itu belum mau makan meski ikatan di tangannya telah dilepaskan.
Jordan telah memasangkan sebuah alat sebesar kapsul ke dalam daging Joker, sebagai alat pelacak yang juga bisa menimbulkan sebuah kejut listrik, yang mampu melumpuhkan seekor banteng besar sekalipun.
Alat yang sebelumnya ia rakit sendiri, kini telah tertanam di tubuh Joker tanpa dia bisa mengambilnya, karena dia meletakkannya di titik buta manusia, yang tak bisa di raih maupun di lihat oleh dirinya sendiri, yaitu bagian punggung.
Sehingga mereka tak perlu khawatir lagi tentang tawanan mereka yang akan kabur, meski borgol di tangannya telah dilepas.
Jordan meletakkan nampan itu di atas meja kecil yang ada di samping tempat tidur.
Dia mulai meraih alat suntik dan mengambil botol obat, lalu menyedotnya masuk ke dalam suntikan.
Tatapan dinginnya membuat siapapun yang melihat akan bergidik ngeri. Saat ini, Jordan yang biasa terlihat kalem dan sedikit humoris, justru seolah menjadi orang lain. Dia begitu dingin dan pendiam.
“Kenapa Anda bisa memutuskan untuk kembali ke mari setelah sekian lama?” tanya Joker tiba-tiba.
Jordan menyunggingkan senyumnya mendengar pertanyaan tadi.
“Apa aku tak boleh pulang ke rumah sendiri?” tanya Jordan balik.
“Apa Anda yakin akan muncul di depan kakak Anda? Sistem enel. Dia pasti menginginkan hal itu,” ucap Joker.
Seringai Jordan semkin terlihat mengerikan. Dia meraih lengan Joker, dan mulai menyuntikkan cairan obat ke dalam pembuluh darah.
“Aku memang sudah mengaktifkannya,” ungkap Jordan.
Joker nampak membola. Dia tak menyangka bahwa sistem rahasia itu justru telah diaktifkan sendiri oleh orang yang diburu.
“Tapi, kau tenang saja. aku telah memiliki sebuah bidak catur yang akan menjadi tameng ku,” lanjut Jordan.
“Jadi maksud Anda, satu dari dua pria muda di luar adalah...,” tanya Jordan.
“Ssstttt....,” sela Jordan dengan jari telunjuk yang ia tempelkan di depan bibir.
Senyum mengerikan muncul di wajah Jordan, hingga membuat Joker mengerutkan keningnya, karena melihat wajah yang mirip dengan seseorang yang dia kenal beberapa tahun yang lalu.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih