They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Sistem terbuka


__ADS_3

Keesokan paginya, Ardiaz yang telah kembali ke Kota Orchid, melapor kepada Vermont bahwa transaksi telah berhasil.


“Harusnya Anda melapor semalam bersama dengan Alexa,” ucap Vermont.


“Apa aku harus selalu bersama dengan orang lain ketika melapor? Lagipula aku masih ada urusan. Apa ada hal mendesak lainnya?” tanya Ardiaz.


Vermont lalu menyerahkan sebuah map hitam berisikan misi Ardiaz selanjutnya.


Adik Aaron itu pun melihat sekilas isi map tersebut dan menutupnya kembali.


"Anda memang tidak harus selalu melapor bersama orang lain, tapi jika Anda melapor semalam, Anda bisa tahu harus bekerjasama dengan siapa lagi nantinya," ucap Vermont.


“Apa kali ini aku juga akan bekerjasama dengan seseorang?” tanya Ardiaz.


“Kau akan tau nanti. Bersiaplah, karena kali ini kau akan cukup sibuk,” ucap Vermont.


Ardiaz pun lalu membawa map hitam tadi dan keluar dari ruangan Vermont. Sejak penobatannya menjadi seorang King, dia sudah tak pernah melihat Devon lagi.


Pria itu bahkan langsung meminta fasilitasnya seperti tiga King lain. Ardiaz menolak tinggal di rumah besar yang mengerikan itu dan memilih menetap di sebuah apartemen Panthouse.


Dia bahkan telah memiliki kendaraan sendiri dari merek kenamaan Lamborghini, serta fasilitas lainnya seperti black card dengan nominal tanpa limit.


Semua King di Lucifer mendapatkannya, karena tugas mereka yang cukup berat dan pendapatan yang bisa mereka capai sangatlah besar dari bisnis di dua dunia, terlebih dunia bawah.


Illegal trading memang sangat menguntungkan, baik di negara itu maupun dibelahan bumi mana pun, sehingga banyak orang yang memilih jalan sesat dibanding yang benar, meski ada beberapa yang terpaksa terjun ke dunia seperti itu, sama halnya yang dialami oleh Ardiaz.


Setelah keluar dari kantor Vermont, Ardiaz melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Meski dia mengendarai mobilnya sendiri, namun di belakang akan selalu ada beberapa mobil yang mengikutinya. Mereka tak lain adalah pengawal yang juga merupakan salah satu fasilitas untuk para King, atau lebih tepatnya anak buah Lucifer yang memonitor setiap pergerakan dari King-nya.


Itulah alasan kenapa malam itu Ardiaz enggan memakai mobilnya untuk pergi ke pemukiman nelayan, karena hanya akan membuat keributan dengan iringan mobil-mobil itu. Terlebih dia ingin mengambil sesuatu dari tempat persembunyian sebelumnya.


Ardiaz keluar dari gedung Merciful dengan mobilnya. Dia tak peduli dengan para pengawal itu, karena dia merasa tak ada hal yang perlu dia tutupi. Pria itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan dengan kuda besinya.


Di jok depan, sebuah benda berwarna hitam tergeletak di sana. Benda tersebut tak lain adalah barang yang diberikan oleh si wanita tua tadi malam.


Dia hendak membawanya ke rumah sakit untuk diberikan kepada Jordan. Dia rasa, meski sekarang temannya itu sedang tidak baik-baik saja, namun setidaknya barang berharga miliknya harus ia kembalikan.


Setibanya di rumah sakit, Ardiaz kembali memasukkan macbook yang tertutup cover hitam itu ke dalam jaketnya, agar tak dilihat oleh siapapun. Dia tahu bahwa sistem Enel pasti ada kaitannya dengan benda tersebut.


Dengan kawalan dari anak buahnya, Ardiaz menuju ke lantai dimana temannya berada. Hampir setiap selesai mengerjakan misinya, Ardiaz selalu menyempatkan diri untuk menjenguk temannya itu.


Sudah beberapa kali dia datang dan Jordan masih saja sama. Begitupun dengan hari ini, ketika Ardiaz masuk ke dalam ruang rawat itu, dia melihat temannya tengah duduk diam menatap ke depan dengan pandangan kosong.


“Beberapa hari ini dia ada kemajuan,” ucap seorang perawat laki-laki yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi, dan melihat kehadiran Ardiaz.


Perawat itu mengenali Ardiaz karena hanya dialah yang sering menjenguk Jordan di sana.


“Apa dia sudah mau bicara?” tanya Ardiaz.


“Masih belum. Hanya saja, hari ini aku tak perlu lagi membersihkan kotorannya. Dia sudah mau pergi ke kamar mandi saat ingin buang air kecil atau besar sejak beberapa hari yang lalu,” ungkapnya.

__ADS_1


“Syukurlah. Semoga dia bisa segera pulih,” sahut Ardiaz.


“Jika setidaknya dia bisa mengurus dirinya sendiri, mungkin rumah sakit bisa membiarkannya untuk ikut denganmu. Aku sudah selesai. Jika butuh apa-apa, panggil saja aku,” ucap si perawat.


“Baiklah, terimakasih,” sahut Ardiaz.


Setelah perawat itu pergi, Ardiaz maju dan menghampiri temannya. Dia mengambil kursi dan duduk di samping tempat tidur Jordan.


“Hai, kawan. Apa kabarmu hari ini?” sapa Ardiaz.


Sama seperti sebelumnya, Jordan tak menyahut sama sekali. Dia hanya menoleh dan melihat Ardiaz sekilas, lalu kembali menghadap ke depan dengan pandangan menerawang.


Melihat hal itu, Ardiaz hanya bisa menghela nafas panjang. Pria itu lalu mengambil sesuatu dari baik jaketnya.


Ardiaz meletakkan macbook yang masih tertutup oleh cover utu di atas kaki Jordan.


“Ini milikmu dan ku kembalikan padamu,” ucap Ardiaz.


Jordan menunduk melihat benda yang diletakkan di atas kakinya. Dia yang sejak tadi terlihat tenang, tiba-tiba bereaksi terhadap benda tersebut.


Sang hacker meraih benda miliknya dan dengan cepat mengeluarkannya dari dalam cover.


Ardiaz yang melihat hal itu pun terkejut sampai bangun dari duduknya. Dia menoleh ke kanan dan kiri, melihat ke sekeliling, memastikan tak ada yang melihat hal ini.


Dia lalu berjalan ke arah pintu dan memastikan ruangan itu terkunci. Dia lalu kembali mendekat ke arah Jordan dan melihat apa yang dilakukan temannya itu dengan macbook-nya.


Jordan yang selama bangun dari koma selalu diam dan pasif, tiba-tiba menjadi agresif dan bersemangat saat melihat benda miliknya.


Dia bahkan langsung mengutak atik benda tersebut hingga membuat mata Ardiaz membelalak.


...Wellcome To Enel System...


Rupanya tebakan Ardiaz benar. Di dalam macbook itu pasti tersembunyi banyak sistem ajaib yang dibuat oleh Jordan.


Tak sampai disitu keterkejutannya. Tak lama setelah booting, layar lalu terbagi menjadi beberapa bagian, satu diantaranya memiliki porsi yang lebih besar.


Sebuah video live muncul di sana, lengkap dengan suara yang terdengar begitu jelas. Ardiaz khawatir ada yang mendengar dan akhirnya meminta Jordan untuk menutupnya.


Namun, seolah tahu apa yang Ardiaz khawatirkan, Jordan menepuk-nepuk telinganya terus menerus seolah ingin mengatakan sesuatu.


Ardiaz Kebingungan, namun sejurus kemudian dia teringat sebuah alat yang akhir-akhir ini marak digunakan oleh pengendara di jalanan.


Dia pun mengeluarkan kotak earphones dan seketika itu langsung direbut oleh Jordan. Dia memasangkan piranti keras itu dengan menautkan sistem bluetooth.


Jordan lalu kembali menyerahkan alat itu dan menepuk-nepuk telinganya, seperti sedang meminta Ardiaz untuk memakai benda tersebut.


Ardiaz pun memasang earphones-nya ke telinga dan mendengarkan apa yang terjadi di dalam vidio live itu.


Jantungnya berdegup kencang kala mendengar suara yang telah lama tak ia dengar, bahkan hampir ia lupakan. Suara sang istri yang terdengar begitu lembut di telinganya.


Ardiaz ingat bahwa rekaman ini didapatkan dari kaling yang dulu ia berikan kepada Evangeline, yang bertujuan untuk memastikan bahwa gadis itu akan selalu aman di bawah pantauannya.

__ADS_1


Namun siapa sangka, justru karena kalung inilah yang membuat Evangeline terbawa dalam masalah yang saat ini tengah dihadapi olehnya.


Pria itu kembali melihat sekitar, sebelum akhirnya kembali melihat layar monitor yang dipegang oleh Jordan.


Nampak seorang wanita berambut pendek berasa di depan istrinya. Dia tak lain adalah Sonia, gadis yang ia tugaskan untuk membantu Evangeline dalam mengurus perusahaan ayahnya.


Dia adalah teman, sekaligus gadis yang pernah dekat dengan sang kakak, Aaron. Di sana, nampak mereka tengah berbincang seputar pekerjaan, akan tetapi di tengah perbincangan itu, Evangeline tiba-tiba diam dan membuat Sonia memandanginya dengan tatapan khawatir.


Dari sanalah, Ardiaz tahu bahwa Evangeline telah bekerja keras selama berhari-hari dan membuat tubuhnya terporsir. Yang membuat dadanya semakin bergemuruh, Sonia berkata bahwa Evangeline seolah terus menyibukkan diri sejak Ardiaz pergi, agar lupa dengan suaminya yang entah kemana.


Dari sanalah, pria itu tahu bahwa gadis tersebut masih memikirkannya hingga sekarang.


“Gadis b*doh,” gumamnya.


Tanpa terasa, matanya mulai memanas dan bahkan berair. Namun, Ardiaz segera mendongak dan mengerjapkan matanya agar lelehan bening tak membuatnya terlihat lemah.


Dia lalu melepas earphones dari telinganya dan memasukkan kembali ke dalam wadah.


“Aku akan pergi. Sebaiknya kau sembunyikan benda ini dan hanya membukanya saat aku kemari saja. Apa kau paham maksudku, Charlie?” seru Ardiaz.


Dia tak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak, tapi dia mencoba memberi perintah pada pasien yang tengah mengalami cedera otak itu.


Namun, bukannya menjawab atau patuh, Jordan tiba-tiba menyerang Ardiaz dan merogoh saku celananya, dan membuat Ardiaz meronta.


Rupanya, Jordan ingin mengambil ponsel dari saku temannya dan mulai menautkan kabel yang tersimpan di dalam cover pembungkus macbook tadi ke ponsel Ardiaz.


Sebuah aplikasi masuk dan mulai terinstal di sana. Ardiaz memicing karena tak tau apa yang sedang dilakukan oleh temannya itu.


Namun, dia kembali dibuat terkejut saat di ponselnya muncul satu kalimat yang sama persis dengan yang sebelumnya muncul di layar macbook Jordan.


...Wellcome To Enel System...


Rupanya, sang hacker membuat duplikat sistem enel di ponsel Ardiaz, agar pria itu bisa kapan pun mengetahui kondisi sang istri.


Setelah sistem tersebut selesai terpasang, Jordan lalu mematikan sistem enel di macbook-nya dan meletakkan benda itu di atas kaki, seolah mengatakan pada Ardiaz bahwa dia sudah selesai menggunakannya.


Melihat sikap temannya yang terlihat seperti orang normal, membuat Ardiaz bertanya-tanya apa mungkin Jordan hanya berpura-pura idiot, atau dia memang hanya bereaksi pada hal-hal tertentu saja?


Karena sudah cukup lama dia di sana dan tak ingin menimbulkan kecurigaan, Ardiaz pun lalu membereskan macbook Jordan dan menyimpannya kembali di balik jaketnya.


“Sepertinya aku harus membawa benda ini denganku. Ini terlalu berbahaya jika berada di sini. Aku janji, aku akan secepatnya membawamu pulang bersamamu agar kau bisa menggunakan benda ini semaumu,” ucap Ardiaz.


Dia pun lalu keluar dari sana dengan perasan aneh yang bercampur-campur. Dia bahkan tak menoleh lagi, dan tak melihat bahwa temanya sejak tadi terus memandangi kepergiannya, hingga hilang di balik pintu.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih


__ADS_2