
Di ruang VVIP, lantai dengan tombol lift berwarna emas, Evangeline terlihat diam di samping tempat tidur sang ayah.
Tatapannya benar-benar kosong. Pikirannya masih berada di tempat Aaron. Hatinya masih terlalu sakit mengingat bagaimana pria yang dipujanya sejak dulu mengkhianatinya, ditambah meski tak secara langsung, dialah yang membuat sang ayah menjadi seperti ini.
“Aku harus bagaimana, Ayah? Haruskah aku menjadi orang jahat juga untuk membalasnya?” ucap Evangeline pada sang ayah yang masih betah diam.
Dia menundukkan kepala, menyandarkan keningnya di tepi ranjang sang ayah, sambil menggenggam tangan pria paruh baya itu.
Dadanya kembali sesak. Dia ingin marah, dia kesal, kecewa, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih ingin menyangkal semua itu.
Meski sekarang dia tahu siapa Aaron sebenarnya, akan tetapi rasa cinta yang ia pupuk selama ini tak mudah ia singkirkan begitu saja.
Melihat betapa setia Morita yang selalu berada di sisi Aaron, membuatnya ingin marah. Namun dia tahu, sekarang semuanya sudah berbeda. Sejak awal, Aaron memang tidak pernah melihatnya sebagai seorang wanita. Dia hanya seperti adik kecil baginya, atau seorang putri manja yang menyebalkan.
Dia menangis, hingga tanpa sadar tertidur dengan posisi terduduk di samping sang ayah. Kondisi tubuhnya yang kelelahan, tak bisa bertahan untuk tetap terjaga.
Ditambah matanya yang sejak tadi terus menangis, membuatnya semakin berat untuk terus bangun.
Tengah malam, seseorang masuk ke ruangan tersebut. Dia melihat gadis yang tertidur itu di sana.
Tatapannya seperti biasa selalu datar, tak menunjukkan ekspresi yang sebenarnya. Dialah Ardiaz, suami Evangeline.
Dia berjalan menghampiri gadis itu. Pria tersebut sekilas menatap wajah yang tampak tenang terlelap.
Ardiaz pun kemudian menggendong Evangeline dan membawanya keluar, menuju ruangan yang selama ini telah disulap menjadi kamar tidurnya semenjak ia menemani sang ayah di rumah sakit.
Sangkin lelahnya, Evangeline sampai tak sadar bahwa Ardiaz telah memindahkan tubuhnya yang kelelahan itu ke tempat tidur.
Setelah membaringkan Evangeline, Ardiaz terlihat berdiri tegap di samping tempat tidur istrinya. Tangannya meraih sesuatu yang ada di dalam kantung jasnya.
Sebuah kotak beludru hitam, yang berisi sebuah perhiasan yang ia pesan khusus untuk gadis di depannya itu.
Waktunya hampir tiba, batin Ardiaz.
Matanya terus menatap wajah cantik itu. Ada sirat kerinduan di dalam tatapannya, meski wajah Ardiaz terus mencoba menutupi semua perasaannya.
Dia pun berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Evangeline beristirahat di sana seorang diri.
...❄❄❄❄❄...
Keesokan harinya, di kamar rawat Aaron, nampak pria itu terus menggenggam tangan Morita. Keduanya terlihat duduk bersandar di atas ranjang yang sama. Mereka begitu bahagia, karena bisa melewati masa sulit ini.
Terutama Morita, dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dengan terus menatap wajah sang kekasih.
“Maafkan aku. Kau pasti kesulitan selama aku tak sadarkan diri,” terka Aaron.
__ADS_1
Morita menggeleng cepat. Dia tak menjawab dan justru memeluk pinggang pria itu semakin erat.
“Aku sama sekali tidak keberatan untuk terus berada di sampingmu. Aku bahagia bisa menjaga mu,” sahut Morita.
Aaron mengecup puncak rambut kekasihnya itu, lalu mengusap lembut perut Morita yang masih rata.
“Bagaimana dengan dia? Apa dia baik-baik saja?” tanya Aaron.
Sontak Morita pun menegakkan duduknya, menatap Aaron dengan penuh selidik.
“Bagaiman kau bisa tahu? Aku bahkan belum memberitahukan hal ini pada siapapun,” tanya Morita.
“Ardiaz yang memberitahuku. Rupanya dia memiliki jaringan informasi yang lebih baik daripada aku. Dia bahkan tahu sejak awal bahwa semua ini adalah jebakan,” jawab Aaron.
Morita seketika diam. Dia teringat kembali tentang perkataan adik kekasihnya itu, tentang hukuman yang akan diterima kekasihnya karena telah melakukan sebuah kesalahan besar terhadap Hemachandra.
Aaron yang merasa kekasihnya tiba-tiba diam, meraih dagu Morita dan menuntun menoleh ke arahnya.
“Apa yang kau pikirkan, hem?” tanya Aaron.
Morita hanya tersenyum dan kembali menyembunyikan wajahnya dalam dekapan sang kekasih.
“Tak apa. Aku hanya ingin menikmati suasana saat ini. Aku benar-benar bahagia sekarang,” ucap Morita.
Mendengar perkataan Morita, tak lantas membuat Aaron percaya. Namun, dia tak mau mencecar Morita. Dia lebih memilih untuk membiarkannya bermanja di dalam pelukannya. Karena selama dia koma, pasti wanita itu mengalami situasi yang sangat sulit.
...❄❄❄❄❄...
Tiba-tiba, seseorang keluar dari dalam mobil, tepatnya dari kursi kemudi. Evangeline nampak terkejut namun dia tetap berjalan ke arah sana.
Dia adalah sang suami, Ardiaz. Pria itu berputar dan membukakan pintu penumpang depan. Evangeline nampak menarik sebelah sudut bibirnya ke atas, melihat hal yang dilakukan oleh pria keras kepala tersebut.
“Masuklah,” serunya.
Evangeline berdiri tepat di depan Ardiaz. Gadis itu terlihat melipat kedua lengannya di depan dada, dengan tatapan lurus ke arah pria di depannya.
Namun, sejurus kemudian dia pun masuk tanpa berucap sepatah kata pun. Ardiaz lalu menyusulnya masuk ke dalam dan mulai menyalakan mesin mobilnya.
“Kemana kita akan pergi?” tanya Evangeline tanpa basa basi.
“Aku hanya akan mengantarmu ke kantor saja. Apa kau berpikir sesuatu yang lain?” tanya Ardiaz.
Terlihat gadis itu tertawa mengejek. Dia pun membuang wajahnya ke arah luar.
“Aku tau apa yang ingin kau katakan. Jadi, cepatlah katakan saja, sebelum aku benar-benar membuat keputusan tentang orang itu,” ucap Evangeline.
__ADS_1
Ardiaz menoleh sekilas ke arah istrinya.
“Kakakku tak bersalah. Bukan dia yang menembak ayahmu. Kau juga sudah dengar sendiri kan pengakuannya. Dia hanya dihasud,” ucap Ardiaz.
Evangeline tertawa getir mendengar perkataan Ardiaz yang begitu membela kakaknya.
Dia pun menoleh dan menatap ke arah suaminya itu, yang masih fokus pada kemudinya.
“Jadi, kau sekarang sedang memohon pengampunan padaku? Hahahaha... Apa kau kira aku sepemurah itu, hah? Bagaimana dengan ayahku? Dia masih koma, masih belum ada tanda-tanda akan bangun. Sekarang, kau malah meminta aku mengampuni kakakmu? Lalu pada siapa aku harus marah dan siapa pula yang harus ku hukum, Ardiaz? Katakan padaku siapa?” cecar Evangeline.
Gadis itu segera memalingkan kembali wajahnya. Matanya berkaca-kaca setelah mengungkapkan kata-katanya itu.
Ardiaz pun tahu jika ini pasti berat untuk gadis di sampingnya. Namun tak dipungkiri, dia ingin meluruskan semuanya dan menghilangkan kesalahpahaman antara Evangeline dan Aaron.
“Aku bukan sedang meminta pengampunan untuk kakakku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kakakku hanya pion. Kau berhak menghukumnya. Aku tak akan melarang mu sama sekali,” ucap Ardiaz.
Tiba-tiba, suasana menjadi hening. Evangeline masih memalingkan wajahnya sambil sesekali mengusap lelehan bening yang menerobos dengan lancang pelupuk matanya.
Hanya ada suara helaan nafas dari masing-masing. Pemandangan kota yang selalu ramai dengan hiruk pikuk orang-orang, menjadi satu-satunya yang bisa mereka nikmati dalam kediaman dan kecanggungan ini.
“Jika dia hanya pion, apa maksudmu ada seseorang di balik semua ini yang ingin melukai ayahku?” tanya Evangeline tiba-tiba.
Mobil berhenti tepat di persimpangan lampu merah. Ardiaz menyandarkan punggungnya sejenak dan sambil menghela nafas panjang.
“Apa kau tau siapa orang itu?” tanya Evangeline.
Ardiaz menggeleng pelan dengan mata yang melihat menerawang ke depan.
“Heh... Kau sendiri tak yakin, tapi begitu percaya diri mengatakan kakakku hanya pion. Lucu sekali,” ejek Evangeline.
“Aku akan pergi mencarinya. Selicik dan selicin apapun dia, aku pasti akan menemukannya,” ucap Ardiaz dengan tatapan penuh tekad.
Evangeline memicingkan matanya melihat ke arah sang suami. Entah kenapa, hatinya mendadak tak tenang setelah mendengar kata-kata itu.
Pergi? batin Evangeline.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih