They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Perbincangan


__ADS_3

Ardiaz terlihat keluar dari lift dan telah sampai di lantai lima belas. Saat dia baru berjalan beberapa langkah, matanya menangkap kehadiran sang kakak yang duduk dengan dikawal seorang penjaga, yang memang ia tempatkan di sekitar ruang rawat kakaknya.


Pria itu masih berada di atas kursi rodanya, dan menatap ke luar jendela besar yang ada di tengah lorong.


Ardiaz pun kembali melangkah dan menghampiri sang kakak. Dia ikut menghadap ke arah yang dituju oleh kakaknya itu, sambil berdiri dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku jaketnya.


“Kenapa kau melakukannya, Diaz?” tanya Aaron tiba-tiba.


Ardiaz bisa menebak apa yang dimaksud oleh pria di sampingnya itu. Namun, dia tak langsung menjawab, melainkan menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali sekaligus.


Matanya masih tertuju ke depan, melihat hiruk pikuk Kota Wisteria dari ketinggian lantai lima belas rumah sakit.


“Kalau bukan aku yang melakukannya, lalu siapa yang akan membuat gadis itu sadar?” tanya Ardiaz balik.


Mendegar jawaban adiknya, Aaron pun menoleh dan mendongak, menatap langsung wajah Ardiaz dari tempatnya berada. Begitu pun Ardiaz yang juga menoleh dan menatap langsung ke dalam manik hitam kakaknya.


“Apa kau tau betapa buruknya kondisi ini untuk Morita? Dia sedang hamil muda dan tidak seharusnya mendapatkan goncangan batin. Ini akan mempengaruhi janinnya. Apa kau tau apa yang terjadi tadi? Evangeline menemui dan memakinya. Dia menyalahkan Morita atas semua yang terjadi,” ungkap Aaron.


“Heh... bukankah semua itu memang benar? Kenapa kau merasa keberatan dengan omongan istriku?” tanya Ardiaz santai.


“Diaz, kau...,” sahut Aaron geram.


“Kau mengkhawatirkan kondisi kekasihmu, tapi apa kau pernah cemas dengan kondisi Eva sekarang ini? Apa kau pernah memikirkan gadis itu sedikit saja? Jika sejak awal tidak pernah ada cinta untuknya, kenapa tidak kau katakan langsung? Bukankah jawabannya sudah jelas, karena kau memang ingin memanfaatkan dia, dalam upaya mu untuk menghancurkan Hemachandra. Apa aku salah?” sela Ardiaz panjang lebar.


Aaron membola. Semua perkataan sang adik membuatnya bungkam seketika. Dia kalah telak. Bukan tempatnya untuk protes dengan sikap Evangeline kepada Morita, karena memang mereka berdua lah yang telah berbuat salah.


Pria itu pun menoleh kembali ke arah depan. Dia sudah tak bisa melawan kata-kata Ardiaz lagi.


Melihat sang kakak membuang muka, Ardiaz pun kembali menoleh ke arah yang sama dengan tatapan mata kakaknya.


“Kak, aku menolongmu karena bagaimanapun juga kita adalah saudara. Tapi masalahmu dengan Eva adalah hal lain. Itu bagian dari tugasku. Aku akan mematuhi apa yang dia perintahkan, sekalipun itu harus membunuhmu,” ucap Ardiaz.


“Jadi, apa dia ingin membunuh kami berdua?” tanya Aaron dengan nada sedingin es.


“Aku rasa kau tidak begitu mengenal dia. Eva bukanlah gadis kejam. Sekalipun dia marah, aku yakin dia akan memikirkan cara pembalasan yang tepat untuk kalian berdua, hingga kalian akan merasa terkekang dalam waktu yang sangat lama dari pada harus langsung membunuhmu,” ucap Ardiaz.


Aaron tampak mengepalkan tangannya, mendengar perkataan dari Ardiaz. Sementara sang adik kembali menatap ke arah kakanya.


“Ah benar, aku akan pergi jauh untuk beberapa saat. Jika aku tak ada, sebaiknya kau tetap diam dan patuh. Aku tak ingin Kakak tertangkap orang-orang itu lagi. Bukankah lebih baik menjadi tawanan Eva, dibanding menjadi sandra mereka? Ingat, kau akan menjadi ayah sebentar lagi,” ucap Ardiaz.

__ADS_1


Aaron kembali menoleh ke arah sang adik, dengan kening berkerut sempurna. Matanya pun nampak memicing dan alis yang hampir bertaut.


“Pergi? Kemana? Apa yang akan kau lakukan? Apa ini perintah Eva?” cecar Aaron.


“Aku hanya ingin mencari tahu sesuatu. Jika kau khawatir, cukup doakan saja aku agar bisa kembali hidup-hidup, sekalipun dalam kondisi yang sekarat,” sahut Ardiaz dengan entengnya.


“Diaz, kau...,” ucap Aaron.


“Sssstt!” sela Ardiaz sambil menempelkan telunjuknya di depan bibir. Badannya sedikit membungkuk dan condong kepada kakaknya.


“Jangan melarangku, Kak. Aku tahu yang kulakukan,” lanjutnya.


Aaron pun diam. Ardiaz kembali menegakkan tubuhnya dan berbalik. Dia berjalan meninggalkan sang kakak, dan menuju ke arah lift.


Aaron hanya bisa melihat punggung sang adik yang semakin menjauh dari tempatnya.


Saat Ardiaz berbelok hendak menunggu di depan lift, dia menoleh ke kiri dengan tatapan mata yang begitu dingin.


“Kenapa kau sembunyi di sini?” tanya Ardiaz.


Di depannya ternyata telah ada seorang gadis yang bersembunyi di balik dinding, dengan wajah yang tertunduk dan terlihat muram. Dia tak lain adalah Evangeline.


“Apa benar kau akan pergi?” tanyanya.


“Apa itu penting bagimu?” tanya Ardiaz balik.


“Bukankah aku masih istrimu?” tanya Evangeline.


Terdengar helaan nafas kasar dari mulut Ardiaz. Pria itu pun kemudian berbalik ke arah lain.


“Ikut aku,” seru Ardiaz.


Dia nampak berjalan ke arah sebuah pintu yang berada di ujung lorong. Pintu itu menuju ke atap rumah sakit, tempat dia pernah mengadakan pesta dengan teman-temannya.


Evangeline pun mengikuti Ardiaz ke sana. Tampak batangan pipa besar tepasang di sana, lengkap dengan cerobong yang mengepulkan udara dari penyaring udara di dalam rumah sakit.


Ardiaz tampak berdiri di antara pipa-pipa itu, dengan membelakangi Evangeline yang masih berdiri di dekat pintu.


“Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan pergi? Apa kau lupa?” tanya Ardiaz.

__ADS_1


Evangeline diam.


Aku ingat, tentu aku ingat, batinnya.


Ardiaz pun berbalik menghadap ke arah sang istri. Pria itu melihat Evangeline yang sejak tadi terus menekuk wajahnya ke bawah.


“Ada apa? Apa kau takut aku tak menepati janji untuk menceraikanmu? Kau tenang saja. Kau pasti akan ku be...,” ucap Ardiaz.


“Kau kira kau paling tahu aku, hah? Kau bicara pada Aaron seolah kau lebih tahu aku dibanding dia. Apa kau tahu apa yang benar-benar ku butuhkan saat ini, hah?” sela Evangeline tiba-tiba.


Sontak Ardiaz terdiam. Melihat reaksi Evangeline yang seperti ini, pria itu pun memilih diam.


Apa yang ingin gadis manja ini sampaikan? tanya Ardiaz dalam hati.


Evangeline yang sejak tadi diam dan tiba-tiba berteriak kepada Ardiaz, terlihat menyeka pipinya yang dilewati lelehan bening dari matanya.


Ardiaz semakin bingung melihat hal ini. Dia hanya bisa melihatnya dengan wajah datar seperti biasanya, meski ada kerutan halus yang muncul di kening.


“Aku kira kau hanya membual padaku seperti sebelumnya. Aku tak menyangka kau akan benar-benar pergi. Aku tahu kau tak akan berbohong pada kakakmu, jadi sudah pasti kau akan benar-benar pergi,” ucap Evangeline dengan tangan yang masih sibuk menyeka lelehan di wajahnya.


Ardiaz masih diam. Dia tak tahu dengan situasi ini. Dia hanya bisa diam sambil menyimak setiap perkataan Evangeline yang diucapkan padanya.


“Ayahku masih koma. Aaron sudah tak bisa ku percaya lagi. Dan sekarang, kau pun akan pergi. Apa kau pikir aku akan baik-baik saja?” tanya Evangeline.


“Bukankah ada Delvin, Sonia dan yang lainnya?” sahut Ardiaz.


“Bagaimana kau menyamakan kalian bertiga dengan mereka. Benar-benar menyebalkan. Kenapa aku harus merasa kehilangan saat tahu kau akan pergi?” ucap Evangeline.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2