They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Blossom club


__ADS_3

Di sebuah tempat hiburan malam di pusat Kota Orchid. Sebuah tempat yang semakin malam semakin ramai, dan tak pernah sepi setiap harinya. Tempat dimana alkohol dan wanita menjadi daya tariknya.


Sebuah klub malam terkenal di pusat Kota Orchid, Blossom Club, yang terkenal dengan atraksi DJ, pool dance, dan banyak lagi hiburan erotis lainnnya yang semakin membuat tempat tersebut ramai, malam ini tampak kehadiran tamu istimewa.


Seorang wanita cantik nan seksi tengah berdiri di atas panggung. Dengan mengenakan gaun malam berwarna silver yang dipenuhi dengan gliter, tali bahu yang begit kecil dan bagian belakang yang turun hingga pinggang, memamerkan kemulusan kulitnya yang putih.



Rambut hitam panjangnya bergelombang, make up dengan riasan smoke eyes serta lipstik bold, membuatnya tampil begitu menggoda.


Kaki jenjang nan mulusnya menggetarkan hati setia pria yang ada di sana. Ditambah dengan sepatu hitam ber heels lima belas, membuat penampilannya benar-benar luar biasa.


Anting panjangnya menjuntai hingga bahu, serta sebuah kalung cantik yang menjadi perhatian setiap orang di tempat tersebut, tak terkecuali seseorang yang sejak tadi duduk di depan meja bar, dan terus memperhatikan tingkah wanita cantik tersebut.


Kalung itu memiliki rantai yang terbuat emas putih yang begitu indah. Dihiasi sebuah permata berbentuk bulat, berwarna biru gelap, segelap lautan dalam. Itu adalah blue ocean.


“Malam ini, adalah malam yang spesial. Kalian lihat aku. Aku terlihat cantik bukan?” ucapnya.


“Tentu saja. Delila adalah wanita tercantik di sini, hingga membuat celanaku terasa sesak,” timpal seseorang yang ada di sana


Tawa pun pecah, setelah mendengar perkataan vulgar dari orang tadi.


Wanita bernama Delila itu pun bahkan ikut tertawa, tanpa ada rasa risih sama sekali. Delila adalah seorang wanita malam yang terkenal karena menjadi simpanan para pria kaya.


Gaya hidupnya yang royal, sering dimanfaatkan setiap orang yang mencoba dekat dengannya.


Gairahnya yang begitu besar, sering mencari kepuasan di luaran dengan mengandalkan uang para pria kaya itu, untuk mencari gigolo atau sekedar hubungan satu malam dengan pria asing yang ia temui, salah satunya di klub malam ini.


“Kau benar, aku memang selalu menggoda bukan. Hahaha... Apa kalian tau, aku sekarang sedang dalam mood yang sangat bagus?” tanya Delila.


“Benarkah? Jadi, apa malam ini aku bisa menikmati mu secara gratis?” timpal yang lain lagi.


“Itu tergantung kemampuan merayumu, Tuan. Baiklah, tidak perlu banyak omong kosong lagi. Karena aku sedang sangat senang, jadi malam ini aku akan traktir kalian semua yang ada di sini. Ayo kita berpesta sampai pagi,” ucap Delila.


Sorakan dan tepuk tangan memenuhi seluruh sudut ruangan klub malam tersebut.  Semua orang mengangkat gelas masing-masing dan bersulang untuk pesta malam ini.


Delila pun turun, dan berjalan ke arah meja bar. Dia duduk di sana, di antara beberapa pengunjung lainnya yang juga berada di sana.


“Beri aku yang sedikit keras, tapi jangan terlalu keras. Aku tak ingin mabuk terlalu cepat,” serunya pada sang bartender.


Semua orang menyapanya dan mengucapkan terimakasih atas traktirannya malam ini. Mereka lalu turun ke lantai dansa, dan menari sesuka hati mereka.


Delila terlihat begitu bangga, karena dia bisa bersikap sombong di depan semua orang, dan mendapat pujian dari orang lain.

__ADS_1


Wanita itu mencondongkan tubuh seksinya ke depan, dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas meja bar. Tanpa sengaja, dia menoleh ke samping kirinya, dan melihat seseorang yang juga sedang minum di sana.


Tatapan matanya terpaku, ketika melihat pria itu meneguk minumannya. Gerakan jakun naik turun yang begitu menonjol dan terlihat maskulin, membuatnya terpesona seketika.


Garis wajah pria di sampingnya itu benar-benar tegas. Rambut hitam legam yang berkilau, serta alis tebal yang membuatnya semakin terlihat gagah.


Tubuhnya pun tampak begitu atletis, terlebih dia mengenakan sebuah kemeja satin berwarna biru gelap dengan lengan pendek, yang memperlihatkan otot bisep dan trisepnya.


“Uuhhh...,” gumamnya.


Sesuatu di dalam tubuhnya tiba-tiba bergejolak.


Mungkin karena n*fsunya yang memang besar, atau bisa juga karena pengaruh alkohol yang sebelumnya telah masuk ke dalam tubuhnya, yang membuat suhu tubuhnya menjadi memanas.


Dia menyilangkan kakinya ke atas, seolah menjepit pangkal pahanya yang berdesir melihat pria tampan di sampingnya.


Dengan nakalnya, dia menopang pelipisnya dengan sebelah tangan dan menggigit bibir bawahnya, masih dengan menatap lekat pria itu.


“Apa ada sesuatu di wajahku, Nona?” tanya pria tampan itu menoleh.


Dia tak lain adalah Mac duff, yang memang sedang mengincar Delila, karena memiliki kalung dengan permata blue ocean yang saat ini melingkar di lehernya.


Delila yang tertangkap tengah memandangi pria di sampingnya itu, justru tersenyum manis ke arah Mac duff, yang terlihat begitu dingin.


Delila nampak kesal, namun dia justru semakin tertarik dengan Mac duff yang bersikap dingin padanya.


Dia menarik kembali tangannya, dan menghadap ke meja bar. Sang bartender telah selesai meracikkan minuman untuknya.


Delila pun meneguknya dengan gaya yang begitu sensual. Dengan satu tangannya, dia mengibaskan rambutnya di depan Mac duff.


Aroma harum seketika menyeruak. Wanita itu memang selalu beraroma wangi, yang membuat lawan jenis terpikat.


Nampak senyum samar di wajah Mac duff, setelah mencium aroma segar yang memabukkan itu. Dia tahu jenis parfum seperti apa itu, dan insting lelakinya pun paham apa yang sedang coba dilakukan oleh wanita di sampingnya.


Dia menoleh ke ara Delila, namun wanita itu berpura-pura tak acuh, dan lalu hendak beranjak dari duduknya.


Akan tetapi, tangan kekar Mac duff dengan cepat meraih lengan Delila, dan membuat wanita itu tertarik hingga terhuyung ke dalam pelukan Mac duff.


“Apa mau mu?” tanya Delila memasang wajah marah.


“Bukankah kau tadi ingin mengobrol dengan ku? Dari tadi kau terus memandangiku bukan,” tanya Mac duff balik.


“Tidak. Kau salah paham. Aku hanya mencoba bersikap sopan saja. Lagi pula kau juga tidak peduli,” ucap Delila.

__ADS_1


Wanita itu mencoba menjauh dari Mac duff, namun pria itu terus memegangi tangannya, bahkan menahan pinggang Delila.


“Maafkan kelancanganku. Aku baru di sini, jadi belum kenal siapapun. Hanya bentuk pertahanan diri saja. Apa aku masih bisa memperbaikinya?” tanya Mac duff.


Delila tak bisa menahan senyumnya. Dia mengigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan rasa senangnya itu.


“Ehem... Baiklah. Kalau begitu temani aku minum,” ucap Delila.


“Dengan senang hati, Nona,” ucap Mac duff.


Pria itu dengan menggodanya, mengecup punggung tangan Delila, hingga membuat wanita itu tersipu.


Mereka pun kembali duduk bersama. Mac duff mengulurkan tangannya lebih dulu dan langsung memperkenalkan diri.


“Namaku Mike,” ucapnya.


Delila menoleh dan menyambut uluran tangan itu.


“Delila,” sahut Delila.


“Delila? Nama yang cantik,” puji Mac duff.


Delila kembali tersipu. Dia lalu meneguk minumannya, sementara Mac duff, si serigala berbulu domba itu melirik wanita tersebut dengan seringai yang muncul di balik gelasnya.


Malam semakin larut, namun kondisi klub malam itu justru semakin ramai. Mac duff yang sejak tadi bersama Delila, kini melihat wanita itu sudah semakin mabuk.


“Delila, cukup minumnya. Kau sudah sangat mabuk,” ucap Mac duff.


Namun wanita itu tak peduli dan kembali minum. Dia awalnya hanya memesan segelas cocktail dengan kadar alkohol yang ringan, namun setelahnya dia justru memesan sebotol brandy dengan kadar alkohol yang lebih tinggi.


Itu semua karena ulah Mac duff yang menyebutnya payah dalam minum. Dia mengejek Delila yang datang ke bar dan justru minum es buah segar semacam itu.


Mereka pun akhirnya adu minum. Mac duff sengaja tidak mengosongkan habis gelasnya karena tak mau terlalu mabuk, tapi Delila justru menganggap ini sungguhan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2