
Delila telah sepenuhnya dibawah kendali alkohol. Dia terus meracau dan membuat Mac duff ingin segera mengakhiri misinya.
“Ayo kita pergi. Kau sudah tidak kuat minum lagi,” ucap Mac duff.
Dia memapah wanita itu keluar dan meninggalkan kartu nama Delila pada bartender, untuk menagih biaya minuman yang telah dihabiskan semua pelanggan, sesuai janji Delila yang akan mentraktir mereka.
Mac duff lalu membawa wanita itu ke sebuah hotel terdekat. Dia memesan satu kamar. Seolah sudah sangat mengenal Delila, petugas hotel langsung mengambilkan kunci dan meminta seorang bell boy menunjukkan jalan ke kamar mereka, bahkan sebelum Mac duff memesannya.
“Bisakah Anda tinggalkan kartu tanda pengenal pada bell boy kami nanti?” tanya sang resepsionis.
Mac duff mengiyakan. Dia pun segera berjalan mengikuti karyawan hotel itu. Sesampainya di depan kamar, si ahli menjerat wanita itu membaringkan Delila terlebih dahulu di dalam.
Dia melihat sang bell boy masih menunggunya di depan pintu yang terbuka. Mac duff pun meraih sesuatu dari saku celananya, dan mengambil kartu tanda pengenal palsu yang sebelumnya ia dapatkan dari Jordan.
Dia pun berjalan kea rah pintu dan memberikannya kepada petugas hotel tersebut, sekaligus tips untuknya.
Saat dia baru saja menutup pintu dan hendak berbalik, sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya, membuat pria itu cepat menoleh.
“Kenapa bangun?” tanyanya.
“Ehm... Ku kira kau akan pergi,” rengek Delila manja, dengan suara lemah.
Wajahnya telah benar-benar merah karena pengaruh alkohol. Mac duff tersenyum melihat hal itu. Wanita tersebut begitu terlihat mendambanya, mengharap dia melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama malam ini.
Mac duff mendorong tubuh Delila, hingga terhimpit antara dirinya dan dinding kamar. Tubuh keduanya rapat, tanpa jarak sama sekali.
Delila dengan nakalnya, mengalungkan lengannya ke leher Mac duff lalu menggoyang pinggulnya ke nana dan kiri, sambil di tekan ke depan, membuat seringai Mac duff semakin terlihat jelas.
“Kau yang mengundangku, sayang,” ucap Mac duff.
Dia pun lalu menyerang bibir Delila, meraih tengkuk wanita itu dan menciun dengan brutal.
Delila terlihat begitu lihai mengimbangi permainan lidah Mac duff yang terus membuat geleyar-geleyar indah tercipta di sekujur tubuhnya.
Wanita itu mengangkat kakinya, dan menautkannya di pinggang Mac duff. Seketika itu pula, pria tersebut mengangkat Delila dan membawanya menuju ranjang dengan bibir dan lidah yang masih saling bertaut.
__ADS_1
Sesampainya di ranjang, Mac duff menjatuhkan tubuh Delila dan langsung menindihnya. Dia mengungkung tubuh molek nan indah itu di bawahnya.
Dia melepas pagutan di bibir, dan mulai beralih ke leher. Dia menciumi telinga Delila, sambil sesekali menggigit kecil daun telinganya, hinga membuat wanita itu melenguh manja, membuat celana Mac duff semakin terasa sesak.
Tangan nakal Delila, berusaha membuka kaus sweater Mac duff, namun pria itu lebih dulu bangun dan membukanya sendiri.
Dia kembali dan menciumi setiap jengkal leher Delila, dan meninggalkan jejak kemerahan di sana.
Erangan lirih Delila, membuat hasrat Mac duff semakin memuncak dan liar.
Dia menurunkan tali bahu Delila, hingga dadanya yang dari tadi bersembunyi kini terlihat. Gundukan kenyal yang begitu padat, menyembul membuat akal Mac duff hilang.
Dia membenamkan wajahnya di antara lembah itu, dengan kedua tangan yang begitu aktif merem*s.
Delila semakin tak tenang. Dia terus menendangi seprei yang ada di sekitar kakinya, karena pangkal pahanya terasa basah oleh kelakuan Mac duff.
Puas menciumi keduanya, kini dia mengul*m ujung mungil itu, sedangkan satunya ia pelintir hingga membuat Delila menjerit nikmat.
Wanita itu terus merem*s rambut belakang Mac duff yang sedikit panjang, sambil menekan agar kenikmatan itu tak segera diakhiri pria tersebut.
Tanpa terasa, kini Delila telah sepenuhnya tak berbusana. Mac duff bangun dan berdiri memandangi keindahan di depannya.
Tanpa berlama-lama lagi, Mac duff pun segera melepas ikat pinggang dan menanggalkan celananya. Bahkan ****** ******** pun ia lepas saat itu juga.
Pria itu kembali merangkak naik ke atas ranjang, sambil menekuk kedua lutut Delila ke atas. Dia membentangkan kaki itu sedikit lebar, hingga lembah berrumput hitam itu terlihat menantang di depan wajahnya.
Dia mengecup lembah ranum merah muda itu dan kembali mengungkung Delila.
Rasa hangat menjalar di sekujur tubuh Delila, saat senjata Mac duff bergesekkan dengan lembahnya.
Mac duff kembali menciun bibir Delila, yang seketika disambut dengan rangkulan di leher oleh wanita itu.
Perlahan, Mac duff mengarahkan miliknya dan bersiap masuk ke dalam Delila. Tak perlu banyak usaha, dalam sekali hentakkan, senjata Mac duff langsung terbenam sepenuhnya di dalam sana, di iringi suara lenguhan dari bibir Delila.
permainan pun dimulai. Mac duff memacu dengan tempo cepat, hingga membuat sekujur tubuh Delila bergetar. Dua gundukan kenyalnya menjadi pegangan.
__ADS_1
Suara-suara indah saling bersahutan, seiring dengan hentakan yang dibuat Mac duff.
“Mike,” Delila terus memanggil nama Mac duff di tengah desahannya.
Malam ini begitu panas di kamar tersebut. Peluh membanjiri keduanya. Hingga setelah lebih dari satu jam berpacu, Delila terlihat menegang, dan sebuah lenguhan panjang keluar dari bibirnya, pertanda dia telah mencapai puncak.
Sensasi berkedut pun terasa merem*s milik Mac duff di dalam, dan membuat pria itu semakin mempercepat gerakannya.
Hingga akhirnya, dia pun mengerang dengan kerasnya, sembari menghentakkan miliknya beberapa kali ke dalam, memuntahkan semua cairan vanila ke rahim Delila.
Dia pun ambruk di atas tubuh wanita itu. Nafas keduanya benar-benar tak beraturan dan detak jantung mereka pun begitu cepat.
“Aku sangat puas,” bisik Delila di telinga Mac duff.
Pria itu hanya tersenyum samar, dan kembali mendaratkan ciuman ke bibir Delila. Dia pun lalu melepas penyatuannya, dan berbaring di samping Delila.
Dengan manjanya, wanita itu beringsut masuk ke dalam pelukan Mac duff.
“Thank you, Mike. Akhirnya aku benar-benar mendapatkan kepuasan ku,” ucapnya.
“Dengan senang hati,” sahut Mac duff.
Pria itu membiarkan wanita tersebut memeluknya hingga tertidur pulas. Dengan lembut, dia mengusap pundak Delila dan membuat wanita itu merasa semakin nyaman.
Anggap saja ini full service dari ku, karena kau harus membayarnya dengan sangat mahal, batin Mac duff.
Seringainya kembali muncul di wajah tampan itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih