
Di atas sebuah dek kapal, terlihat seorang pria tengah memandang ke arah depan. Tatapannya menyiratkan kerinduan namun juga ketakutan secara bersamaan.
Sepertinya misi kali ini berkaitan dengan masa lalunya yang telah ia tinggalkan di kota itu. Kota dimana gadis yang beberapa bulan lalu terpaksa menjadi istrinya, serta keluarga satu-satunya berada, Aaron.
Ya, pria itu adalah Ardiaz. Kali ini dia mendapatkan misi untuk pergi menemui seorang klien di Kota Magnolia, yang berada tepat di sebelah barat Kota Wisteria.
Meski berada di kota berbeda, namun pria itu merasa jika dia tak bisa untuk tidak penasaran dengan kehidupan semua orang di kota kecil itu.
Sejak dia menerima misi ini, hatinya terus merasa tak tenang. Otaknya meminta dia fokus dengan misi dan sesegera mungkin kembali, namun hatinya merasakan rindu yang begitu ingin dia hilangkan.
Sesampainya di pelabuhan kecil di tepian pesisir kota, sebuah mobil terlihat sudah menunggunya, dan Ardiaz pun segera masuk untuk menuju ke kota abu-abu, Magnolia. Kota kecil yang memiliki tingkat kriminalitas tinggi, yang sebanding dengan Kota Orchid.
Tempat dimana dia, Jordan dan juga Mac duff bertemu untuk pertama kali.
Sebuah mobil limousine membawa Ardiaz menuju ke tempat pertemuannya dengan sang klien, sementara beberapa mobil lainnya mengikuti dari belakang, dan diisi oleh beberapa anak buah Lucifer yang juga datang bersama dengan Ardiaz untuk mengawal sang King.
Mereka menuju ke sebuah gedung bertingkat yang berada di pusat Kota Magnolia, tepatnya sebuah hotel yang dilengkapi dengan segala macam fasilitas casino dan mesin judi lainnya.
Ditambah woman service yang selalu siap melayani para pengunjungnya, membuat tempat tersebut terlihat mahal dan menjadi titik favorit kalangan dunia bawah untuk melakukan transaksi.
Kali ini, Ardiaz membawa beberapa barang dari kontainernya untuk menjadi sampel, dan selebihnya masih diamankan di dalam kontainer yang dijaga ketat di atas kapal.
Praktisi dunia bawah lebih aman jika bepergian dengan menggunakan jalur laut, karena jalur ini lebih minim pengamanan dari pada jalur darat dan udara.
Dalam kontainer tersebut terdapat beberapa peti berisikan senjata dengan berbagai model dan tipe. Mulai dari senjata api revolver, senapan laras panjang hingga granat.
__ADS_1
Magnolia memang terkenal sebagai pasar dunia bawah kedua setelah Kota Orchid, dimana para broker liar memperoleh klien mereka. Jika di Kota Orchid semuanya dikuasai dan diorganisir oleh satu tangan yaitu Lucifer, sementara Magnolia tidak memiliki pemimpin yang jelas, sehingga persaingan di sana begitu bebas.
Para praktisi dunia bawah yang tak bisa menembus Lucifer, semuanya berkumpul di sana dan membangun kekuatan masing-masing untuk bisa bertahan, seperti halnya yang dilakukan mac duff sebelum dia bertemu dengan Ardiaz.
Pria tampan itu juga adalah salah satu broker muda, yang hampir celaka karena bersinggungan dengan kelompok lain yang lebih kuat darinya.
Jika saja saat itu dia tak bertemu dengan Ardiaz dan Jordan, mungkin saat ini dia sudah menjadi bulan-bulanan mereka atau bahkan telah lenyap dari dunia.
Dunia bawah benar-benar kejam. Tak ada belas kasihan sama sekali di sana. Sebagai anak yang lahir dan tumbuh di lingkungan seperti itu, membuat Mac duff menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
Dia bahkan bisa membunuh siapa pun tanpa berkedip, sekalipun itu anak-anak, wanita ataupun orang tua.
Hanya hutang budi lah yang membuat dia tetap setia pada Ardiaz dan yang lain. Jika tidak, saat di kastil Joker, pasti Mac duff sudah menghabisi Ardiaz bahkan tanpa memalingkan wajahnya.
Misi Ardiaz kali ini ke Magnolia tidak ditemani oleh Jordan maupun Damian. Kedua orang itu ia percayakan kepada Mac duff untuk diawasi, selama dia menjalankan misi ini.
Semua informasi tentang klien kali ini sudah ia pegang. Meski kemampuan Damian tak diragukan lagi sebagai hacker andalan Lucifer, namun pengalaman Jordan di dunia bawah, terlebih Kota Magnolia yang adalah tempat pelariannya selama bertahun-tahun, membuat informasi dari adik Devonshire itu lebih akurat dan mematikan.
Hari sudah benar-benar gelap saat Ardiaz tiba di tempat tujuan. Seorang pengawal keluar dari kursi depan dan membukakan pintu untuknya.
Ardiaz pun melangkahkan kakinya keluar dari sana. Tatapan matanya langsung mengarah ke atas, seolah tengah mengukur ketinggian gedung yang ada di depannya.
Balutan pakaian serba hitam, ditambah mantel hitam yang menyampir di pundaknya, serta kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidung, membuat karisma Ardiaz terlihat bak ketua sebuah kelompok mafia.
Dia lalu menoleh ke belakang dimana anak buahnya berada. Dengan dua jari, Ardiaz memerintahkan anak buahnya untuk membawa sample barang transaksi masuk mengikuti dirinya.
__ADS_1
Ardiaz berjalan masuk ke arah lobi gedung, dan seketika disambut oleh deretan pengawal yang mengamankan tempat tersebut. Dia digiring menuju lift bersama pengawalnya yang ikut membawa sampel benda transaksinya.
Seseorang menekan angka tujuh belas, dan lift pun bergerak naik menuju ke lantai yang dimaksud.
Setibanya di lantai atas, Ardiaz langsung disambut oleh seorang pria bertubuh kekar, dengan tato yang terlihat menjalar hingga ke dagunya.
“Selamat datang...Selamat datang, King,” sambutnya sambil merentangkan tangan.
Pria itu seolah ingin memeluk Ardiaz, namun suami Evangeline itu menghalanginya dengan satu tangan yang mendorong lengan pria besar tadi ke samping.
Sang tuan rumah pun merasa tertolak dan akhirnya hanya bisa tertawa canggung, melihat sikap Ardiaz yang begitu dingin.
“Ah... Anda pasti lelah. Mari masuk. Kita bicarakan sambil minum. Mari,” ajak pria besar tadi.
Dia mempersilahkan Ardiaz untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan. Setelah Ardiaz masuk, pria besar tadi tiba-tiba membuang senyumnya dan menatap tajam ke arah tamunya.
“Benar-benar seperti rumornya,” gumam pria besar itu sambil memalingkan wajahnya ke samping.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
__ADS_1
terimakasih