
Di bandara utama Kota Orchid, seorang gadis terlihat tengah berjalan dengan mendorong kereta barangnya.
Dia mengenakan sebuah celana jeans setinggi paha dan juga kaus oversize, serta rambut yang di kepang dua dengan poni yang menutupi dahinya.
Sebuah topi bertengger di kepalanya menutupi sebagian wajah.
Gadis itu nampak tengah menunggu taksi yang akan membawanya ke sebuah tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya di kota tersebut.
Saat dia sedang berdiri di depan pintu masuk bandara, dering ponselnya membuat pandangannya beralih. Dia pun meraih ponsel dari dalam tas selempangnya.
Sebuah senyum mengembang di bibir merah muda itu. Sebuah nama yang tertera di layar membuat senyum itu terlihat begitu cantik.
Gadis itu pun segera menggeser tombol hijau ke kanan dan menempelkan benda pipih tersebut ke depan telinganya.
“Halo, Ayah. Aku baru saja sampai di Kota Orchid,” sapa gadis itu yang tak lain adalah Evangeline.
“Syukurlah kau sudah sampai dengan selamat. Apa jemputan mu sudah datang?” tanya Tuan Hemachandra.
“Sepertinya belum. Aku masih mencarinya,” jawab Evangeline.
“Untuk kedepannya, Ayah sudah sediakan kendaraan untukmu. Mungkin besok baru bisa diantar ke apartemen mu,” ucap Tuan Hemachandra.
“Ehm... Baiklah,” sahut Evangeline.
Tak terdengar lagi sahutan dari seberang. Evangeline tahu bahwa kepergiannya ke kota asing ini pasti sangat berat bagi sang ayah.
Dia ingat betapa ayahnya membujuk agar Evangeline mengurungkan niatnya itu. Dia bahkan rela membatalkan niatnya untuk mengajak Aaron bekerja dengannya lagi demi membuat gadis itu tetap tinggal.
Namun, gadis itu seolah sudah menetapkan keputusannya dan tak ada yang bisa mengganggunya.
Bahkan Malcolm pun ikut membujuknya. Namun Evangeline justru menyangka bahwa pria itu melarangnya karena Ardiaz.
“Kau melarang ku karena Ardiaz meninggal di sana bukan?,” terka Evangeline ketika Malcolm membujuknya untuk tinggal di Wisteria.
Hal itu sontak membuat Malcolm diam seketika. Pria itu seketika tak mampu lagi berdebat, ketika Evangeline menggunakan Ardiaz sebagai tamengnya.
Dokter itu seolah lemah ketika harus berdebat tentang hal yang berkaitan dengan suaminya, karena pasti Evangeline mengira Malcolm sengaja menutupi sesuatu dari gadis tersebut.
Hingga akhirnya, tak ada lagi yang bisa membujuk Evangeline dan gadis itu pun tetap berangkat seorang diri.
Meski berat, namun Tuan Hemachandra mencoba yang terbaik dan tetap memberikan semua yang dibutuhkan oleh sang putri, yang baru kali ini hidup berjauhan dengannya.
Dia telah menyiapkan sebuah tempat tinggal dengan standar tinggi, demi memastikan sang putri tak kekurangan sesuatu apapun.
__ADS_1
Dia bahkan memperbolehkan Evangeline berlatih mengemudikan mobil dan memesankan sebuah mobil baru untuk putrinya.
Tak lupa sebuah blackcard dengan jumlah uang unlimited yang bisa dipakai kapan pun, dimanapun, dan untuk apapun oleh Evangeline.
Semua itu adalah wujud rasa sayang dari Tuan Hemachandra kepada putri semata wayangnya itu, yang setelah hampir dua puluh tahun akhirnya memutuskan untuk hidup terpisah darinya.
Evangeline kini telah sampai di kota tujuan, dengan rencana lain yang ada di benaknya. Kuliah hanya tameng, tujuan utamanya adalah mencari jejak sang suami.
Sekalipun akhirnya aku menemukan dia sudah tak ada lagi di dunia ini, tapi setidaknya aku tahu bagaimana hidupnya, dan dimana tempat terakhirnya, batin Evangeline.
Cukup lama sang ayah di seberang tak bersuara. Evangeline pun tahu bahwa saat ini pria paruh baya itu sedang menyesali keputusannya untuk membiarkan anak satu-satunya itu untuk pergi.
“Ayah, terimakasih,” ucap Evangeline tiba-tiba.
Gadis itu tak tahu jika diseberang sana, sang ayah sedang mencoba menahan tangisnya karena harus hidup berjauhan dengan putri tercinta.
“Apa Ayah perlu menyusulmu ke sana?” tanya sang ayah berusaha melucu.
“Oh, ayolah. Kita sudah sepakat bukan. Ayah hanya perlu fokus pada Hera group, sementara aku fokus pada studiku. Oke,” ucap Evangeline.
Kemudian dari arah jalur masuk bandara, sebuah mobil berjalan melambat dan berhenti tepat di depan Evangeline.
Sang supir keluar sambil membawa sebuah kertas bertuliskan Hera group.
“Ayah, mobilku sudah sampai. Aku tutup dulu ya. Nanti ku hubungi lagi setelah makan malam,” ucap Evangeline.
“Iya, Ayah. Love you,” ucap Evangeline.
“Ayah juga,” sahut tuan hemachandra.
Gadis tiu pun menutup sambungan teleponnya dan memasukkan benda pipih tersebut ke dalam tas selempangnya.
Evangeline melambaikan tangan ke arah supir. Orang itu pun segera menghampiri gadis tersebut dan membantunya memasukkan semua barang bawaan ke dalam bagasi.
Setelah semuanya sudah masuk ke dalam mobil, mereka pun pergi menuju ke apartemen baru Evangeline yang telah disiapkan oleh sang ayah.
...❄❄❄❄❄...
Keesokan harinya, di sebuah apartemen Panthouse yang terletak di tengah Kota Orchid, seorang gadis baru saja selesai mandi dan masih berbalut jubah mandinya.
Dia masuk ke dalam walk in closet dan memilih outfit untuk hari ini. Dia berencana pergi ke akademi untuk melakukan pendaftaran ulang.
Pilihannya jatuh kepada sebuah kaus lengan pendek dan rok hitam dengan aksen pita di salah satu sisinya. Dia juga mengambil sebuah outer dari bahan transparan serta sepasang snikers yang menunjang penampilannya.
__ADS_1
Dia mengikat rambutnya ke atas dan membuat penampilannya begitu santai dan terlihat remaja sesuai usianya.
Sebuah mobil Porsche berwarna ungu metalik sudah terparkir di basement. Pagi tadi, seseorang memberikan kuncinya kepada Evangeline, dan mengatakan bahwa itu dari sang ayah.
Sebuah siulan muncul dari bibir gadis itu, melihat betapa mewahnya mobil yang diberikan oleh sang ayah untuknya .
Dia pun menekan tombol pada kunci dan bunyi callback terdengar. Gadis itu lalu masuk ke dalam dan melajukannya menuju ke akademi.
Dia mendaftar di salah satu Universitas dengan program studi menejerial bisnis yang terbaik di seluruh negeri, dan memiliki fakultas hukum yang berada di urutan nomer dua setelahnya.
Jarak antara apartemen dengan tempat studinya tidak terlalu jauh. Cukup menempuh jarak tiga puluh menit dan dia akan sampai di sana.
Suasana kampus begitu asri, sangat mendukung proses belajar para mahasiswanya. Banyak spot hijau di sana dan juga fasilitas olahraga yang begitu lengkap, sebagai penunjang kegiatan mahasiswa.
Bahkan perpustakaan pun didesain dengan unik, dengan mengedepankan prinsip kenyamanan rumah.
Setiap sudut tidak hanya ditempatkan bangku saja, melainkan juga beanbag, sofa unik, karpet empuk, bantal duduk, ayunan serta berbagai benda yang semakin membuat tempat penuh buku itu terasa nyaman.
Setibanya di parkiran, sepanjang mata melihat hanya ada deretan mobil-mobil mewah. Tempat parkir itu lebih seperti pameran mobil mahal ketimbang tempat parkir suatu kampus perkuliahan.
Meski tidak hanya mahasiswa kaya saja yang sekolah di sana, namun tempat parkir dimana Evangeline menitipkan mobilnya, merupakan tempat parkir khusus mahasiswa dengan akses VVIP.
Setelah sampai, Evangeline terlihat tengah mengirim sebuah pesan kepada seseorang. Kemudian, dia pun keluar dari dalam mobilnya.
Dengan mengenakan tas punggung berwarna senada dengan kausnya, dia berjalan menuju ke arah lift untuk pergi ke ruangan administrasi.
Saat sampai di lantai pertama, seseorang masuk dan bergabung dengan Evangeline. Dia nampak seperti seorang gadis dengan rambut pendek sebahu, dengan mengenakan topi yang menutupi sebagian wajahnya.
Gadis aneh itu menekan angka dua dan berdiri berjajar dengan Evangeline. Lalu, dia terlihat memberikan sesuatu kepada pewaris Hera grup.
“Jam satu siang datanglah,” ucapnya.
Dia pun kemudian keluar ketika lift terbuka di lantai ke dua.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih