They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
BABAK 2 : Menyusup


__ADS_3

Bandara, pesawat baru saja mendarat di kota Orchid. Nampak seorang pria muda berkaca mata hitam, dengan mengenakan jaket padding putih keluar dari pintu kedatangan, sambil menenteng sebuah tas besar di tangannya.


Seorang pria bertubuh besar dengan jaket hitam, nampak membungkuk ke arah pria tadi dan meraih tas yang dipegangnya.


Pria muda berkaca mata itu pun berjalan di depan, diikuti oleh orang yang menyambutnya. Hingga sampai di pintu keluar, beberapa orang berpakaian serba hitam nampak berjejer rapi membentuk sebuah jalur yang menuju ke pintu mobil, yang kemudian dibukakan khusus untuknya.


“Selamat datang kembali, King,” ucap mereka.


Pria muda yang tak lain adalah Ardiaz itu pun hanya mengangkat tangannya, pertanda menerima sambutan yang menurutnya sangat berlebihan itu.


Dia pun segera masuk ke dalam mobil, diikuti dengan semuanya yang segera menuju ke mobil masing-masing. Tak lama, iring-iringan Lucifer pun meninggalkan bandara, juga meninggalkan hati Ardiaz yang masih tertinggal di seberang lautan sana.


Tatapan matanya kembali terlihat datar, dengan wajah sedingin kutub utara. Hatinya kembali kosong, seolah benar-benar telah ia tinggalkan sepenuhnya di kota Wisteria bersama orang terkasih.


Sementara pikirannya, masih saja memutar memory, dimana adegan Evangeline terlihat mencari keberadaannya, dan memanggil nama sang suami.


Wajah rindu dan kesepian itu membuat dadanya kembali sesak, hingga kepalan tangannya yang begitu erat, membuat kuku jari tanpa sadar melukai kulitnya sendiri.


Ardiaz mencoba memejamkan matanya, dan menarik nafas dalam-dalam agar perasaannya sedikit membaik.


“Kita langsung pergi ke lokasi misi selanjutnya,” serunya.


Dia memutuskan untuk kembali menjalankan tugas, agar fokusnya bisa terpecah dan tak tertuju pada Evangeline setiap saat. Lagipula, dia juga masih malas jika harus kembali ke sarang mafia itu untuk saat ini.


“Tapi, Bos. Anda belum melapor pada Tuan Vermont,” sanggah seorang pengawal yang duduk di kursi penumpang depan.


“Aku King-nya. Dia hanya seorang adipati dengan level di bawahku. Seharusnya kalian tahu betul itu,” sahut Ardiaz dengan datarnya.


Mendengar jawaban dari sang King, kedua pria di kursi depan pun saling pandang, dan akhirnya tidak lagi mengeluarkan suara.


Semua orang di kelompok Ardiaz benar-benar takut padanya, dan tak mau mendapatkan masalah hanya karena sang King merasa tidak suka dengan ucapan mereka. Posisi para pengawal itu benar-benar sulit.


Di satu sisi, mereka harus mengingatkan perihal aturan dalam Lucifer, namun di sisi lain, Ardiaz adalah peraturan itu sendiri di Kelompoknya.


...❄❄❄❄❄...


Hari berganti begitu cepat. Misi demi misi telah Ardiaz selesaikan dengan baik, berkat kerjasama timnya yang bisa diandalkan.

__ADS_1


Suatu ketika, dia kembali mendapatkan misi ke Magnolia, dengan klien yang berbeda. Kali ini, Vermont memerintahkan Ardiaz untuk berangkat terpisah dengan barang transaksinya.


Dia sengaja mengirim Ardiaz dengan menggunakan pesawat, sementara barangnya ia kirim lewat jalur laut dengan pengawalan yang ketat. Begitu pun ketika selesai, dia meminta Ardiaz untuk cepat kembali dengan penerbangan awal.


Vermont bisa saja mengirimkan pesawat jet pribadi mereka untuk transportasi pulang pergi Ardiaz, namun ini bukanlah perjalanan bisnis legal, melainkan bisnis bawah tanah yang penuh dengan resiko tinggi dan terselubung. Sehingga, penerbangan domestik lebih baik dan bisa menjadi kamuflasenya.


Tapi rupanya, Ardiaz tetaplah Ardiaz. Dia tak mau hidupnya terlalu diatur oleh orang-orang Lucifer. Dia memilih penerbangan lebih awal dari jadwal tanpa sepengetahuan Vermont dan yang lain.


Dia kembali meminta bantuan Sonia. Kali ini suami Evangeline tersebut meminta wanita itu untuk menjadi supir pribadinya dalam sehari, sekaligus mencari tahu kabar terbaru mengenai sang kakak, setelah sebelumnya dia melihat Aaron pergi ke rumah Hemachandra.


“Tuan Hemachandra memintanya kembali bekerja,” jawab Sonia yang saat ini duduk di kursi kemudi.


Ardiaz nampak terkejut, namun tetap bersikap seolah ini bukanlah hal yang mengejutkan. Pandangannya masih terlempar keluar kaca mobil yang menunjukkan jalanan kota Magnolia, yang terlihat belum begitu terlalu ramai di petang itu.


Sonia yang merasa Ardiaz tak merespon pun melihatnya dari kaca spion depan. Wanita tersebut tahu pasti apa yang saat ini ada di pikiran Ardiaz, meski pria itu tetap bersikap cool.


“Jangan tanyakan reaksi istrimu. Tentu saja dia menolak dengan keras keinginan itu. Kakakmu sampai sekarang juga belum dipanggil lagi oleh tuan besar. Tapi...,” ucap Sonia.


Mendengar ucapan sonia yang menggantung, membuat Ardiaz tak bisa lagi bersikap tak peduli. Dia dengan jelas memperlihatkan ketertarikannya dengan pembicaraan ini.


“Eva seperti sedang menyiapkan sesuatu. Beberapa hari ini dia seperti sedang melakukan sesuatu hal secara diam-diam,” ungkap Sonia.


“Apa kau bisa mencari tahu hal apa itu?” tanya Ardiaz.


Sonia nampak kembali melihat ke arah spion depan. Jelas sekali rasa penasaran di wajah pria itu.


“Akan lebih cepat jika kau menanyakannya langsung pada istrimu itu,” sahut Sonia.


Ardiaz kembali melempar pandangan keluar dengan tatapan menerawang jauh entah kemana.


“Bawa aku ke suatu tempat,” seru Ardiaz kemudian.


Dia mengeluarkan sebuah smart phone dan menggeser beberapa kali layarnya. Ardiaz nampak membuka aplikasi peta di handphonenya.


Pria tersebut nampak mencondongkan tubuhnya ke depan dan meraih ponsel Sonia yang tersambung dengan dashboard. Dia memasang perangkat GPS mobil ke handphonenya, dan mengaktifkan peta yang tadi dicarinya.


Sonia melirik sekilas. Dia memicingkan mata dengan kening yang berkerut, saat mengetahui kemana tujuan mereka.

__ADS_1


“Bukankah ini rumah Tuan besar?” tanya Sonia.


Ardiaz kembali duduk di tempatnya, dan menyandarkan punggung di sana.


“Bawa aku tepat di belakang lahan. Karena kau tak mau memberitahukan, maka akan ku cari tahu sendiri tepat di sana,” ucap Ardiaz.


Nampaknya, dia ingin tahu apa rencana Evangeline yang dikatakan oleh Sonia. Meski matahari baru saja menghilang di ufuk barat, namun dengan pengetahuannya akan rumah besar itu, Ardiaz bermaksud menyelinap masuk dan mencari informasi apa yang sebenarnya dicari oleh Evangeline.


Dia tak ingin gadis itu masih memikirkannya dan bahkan mencari tahu tentangnya. Bukan tanpa alasan Ardiaz menerka seperti itu, melainkan kejadian tempo hari saat dengan matanya sendiri, Ardiaz melihat seberapa sedihnya Evangeline saat meneriakkan namanya di mansion tersebut, meski dia pun tak tau apakah itu sebuah kebetulan atau entahlah.


Namun satu hal yang pasti, dia tak mau ada di antara mereka semua yang dicintai, berada dalam bahaya karenanya.


Tak berapa lama, sekitar lima puluh menit, mobil yang dikemudikan Sonia telah sampai di titik yang ditunjukkan oleh penumpangnya.


“Tunggu aku di sini,” ucap Ardiaz.


Dia lalu memakai penutup wajah dan kembali mengenakan topinya untuk menyamarkan wajah.


“Apa kau akan melakukan cosplay sebagai pencuri saat semua orang masih terjaga, hah?” tanya Sonia yang melihat perbuatan Ardiaz.


“Bukankah kau memintaku bertanya pada Eva? Aku akan masuk dan mengobrak abrik kamarnya,” sahut Ardiaz.


“Hei... Diaz...,” teriak Sonia.


Namun Ardiaz tampan tak peduli dan langsung keluar dari mobil. Dia menaiki pagar belakang dengan mudah, dan menghilang di antara semak rumpun bambu yang rimbun.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2