They Call Me, Macbeth

They Call Me, Macbeth
Gudang kosong


__ADS_3

Mobil maybach melaju dengan cepat, melewati jalananan lengang yang menuju ke pelabuhan pesisir timur Kota Orchid, yang terletak tak jauh dari Distrik Lotus.


Melihat jalanan yang dilewati tidak sesuai, pria paruh baya itu pun seketika menegakkan badannya, menoleh ke kiri dan kanan.


“Dimana ini? Ini bukan jalan pulang kita,” tanyanya.


Sang supir nampak diam. Pria paruh baya itu pun melihat melalui pantulan spion depan, dan baru sadar bahwa itu bukan supirnya.


Dia pun mundur hingga kembali bersandar pada kursi.


“Siapa kau?” tanya pria paruh baya itu lagi.


“Halo, Tuan Howard Mandala Wangsa. Apa kabarmu?” sapa sang supir.



...Howard...


Dia pun lalu melepas maskernya, dan menatap pria di belakang dari kaca spion. Sebuah seringai menakutkan muncul di wajah pria yang memiliki bekas luka memanjang, dari pelipis hingga bibir atasnya.


Pria bernama Howard itu pun terlihat ketakutan, saat melihat sosok yang di kursi kemudi depannya.


“Kau... Kau...,” ucap Howard terbata.


“Apa kau terkejut? Bukankah pemandu tadi sudah mengatakan, bahwa aku selalu membunuh lebih dulu orang yang berhasil membeli nyawaku?” ucap si supir.


Dia ternyata adalah buronan, yang nyawanya berhasil dibeli oleh Howard pada pelalangan Lucifer beberapa saat yang lalu.


“Jo... Joker... Hentikan mobilnya! Aku perintahkan kau untuk berhenti,” seru Howard dalam kepanikan.



...Joker...


“Oh, ayolah. Aku akan mengantarkan kau dengan baik-baik... ke neraka. Hahahahaha,” sahut pria yang dipanggil Joker itu.


“Tidak. Kau tak bisa melakukan ini padaku. Turunkan aku!” seru Howard.


Pria paruh baya itu mencoba membuka pintu mobil, akan tetapi sia-sia karena semuanya terkunci. Tak ada jalan keluar lagi baginya.


Tak berapa lama, mobil berbelok ke sebuah gudang tua, yang berada di area dekat pelabuhan pesisir timur Kota Orchid.


Joker keluar dan berjalan ke arah belakang, membuka pintu dan menarik Howard keluar. Pria itu melemparkan sandranya dengan kasar hingga tersungkur ke tanah.


“Apa mau mu? Uang? Akan ku berikan. Tapi tolong lepaskan aku,” pinta Howard.

__ADS_1


Pria itu terlihat merangkak mundur dengan kedua tangan yang menopang ke belakang. Semenatar Joker terus berjalan mendekat, dengan penuh hawa membunuh.


“Aku tidak pernah melepaskan orang yang sudah membeli nyawaku. Karena pada akhirnya hanya ada dua pilihan, dibunuh atau membunuh,” sahut Joker.


“Tidak. Aku bisa memberimu apapun dan berapa pun. Aku mohon lepaskan aku,” ucap Howard.


Pria itu telah berhasil bangun, namun dia masih berjalan mundur, karena Joker terus berjalan ke arahnya. Dia menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melawan pria besar di depannya itu.


Di tengah kebingungan, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu yang hampir membuatnya terjungkal lagi ke belakang.


Ekor matanya melihat sebuah balok kayu, tepat berada di bawah kaki. Dia ingin mengambilnya, namun Joker terus melihat ke arahnya.


Tiba-tiba, sebuah cahaya dari arah jalanan muncul.


“Tolong!” teriak Howard.


Sontak Joker menoleh karena mendengar suara kendaraan mendekat. Namun, ternyata kendaraan tersebut hanya lewat, berjalan lurus dan tak berbelok ke tempat terbengkalai tersebut.


Kesempatan ini digunakan Howard untuk mengambil balok kayu tersebut dan memukul tengkuk Joker, yang seketika membuat pria itu kesakitan.


Namun, tubuh besar Joker tak bisa semudah itu dilumpuhkan hanya dengan sekali pukul seperti tadi. Dia berbalik menatap Howard dengan nyalang. Aura membunuhnya semakin pekat terasa.


Howard pun gemetar. Dia berbalik dan berlari semampunya, masuk ke dalam gedung bekas yang ada di belakangnya.


Joker mengejarnya masuk. Namun saat dia sampai di dalam, Howard telah bersembunyi di salah satu sudut gudang.


“Howard, sebaiknya kau keluar dan selesaikan semuanya dengan cepat. Kau tidak ada pilihan lain selain mati di tanganku malam ini,” ucap Joker.


Dia terus berjalan berkeliling, memperhatikan setiap sudut dan setiap tempat gelap yang bisa digunakan untuk bersembunyi.


Ekor matanya menangkap sesuatu yang aneh di antara palet kayu yang berantakan di ujung gudang. Palet itu tertutup kain terpal usang yang beberapa bagiannya tampak berlubang.


Sesuatu nampak memantulkan cahaya dari balik terpal tersebut, dan membuat Joker pun berjalan mendekat.


Saat dia sudah semakin dekat, seringai kembali muncul di wajahnya, karena melihat benda bulat yang mirip sebuah jam tangan berada di balik sana.


BAK! BAK! BAK!


Joker memukul palet tersebut dengan kayu yang dipegangnya, dan membuat Howard gemetar ketakutan karena tempat persembunyiannya hampir di temukan.


“Howard, keluarlah! Aku tahu kau di dalam sana,” ucap Joker.


Sementara Howard yang memang sembunyi di antara palet itu pun benar-benar ketakutan. Dia tak tahu jika jam tangan yang dipakainyalah yang membuat dia ketahuan.


BRAK!

__ADS_1


Joker mendorong tumpukan palet tersebut hingga semuanya roboh. Saat itulah dia melihat Howard yang berjongkok di bawah sana, sembari memegangi kepalanya agar terhinda dari benturan palet yang runtuh.


“Hahaha... Sudah cukup main petak umpetnya. Kemarilah, selesaikan ini segera, agar tidak semakin mengerikan untuk mu,” ucap Joker.


Howard bangun dan kembali mundur. Dia mencoba bernegosiasi dengan pria yang memburunya itu, meminta agar dia bisa dilepaskan.


Namun sepertinya, Joker memang tidak berniat untuk melepaskan mangsanya hidup-hidup. Bagaimana pun caranya, dia harus membunuh Howard, sebelum pria itu yang membunuhnya lebih dulu.


Merasa sudah terlalu lama bermain-main, Joker pun maju dengan cepat dan memukul Howard dengan kayu yang dipegangnya sejak tadi.


Howard terjatuh dengan kepala yang berdarah-darah. Joker kembali mengangkat kayunya lagi dan hendak memukul targetnya itu, akan tetapi tiba-tiba sebuah suara tembakan terdengar dari arah luar.


AAARRRGGHHH!


Joker berteriak kesakitan, karena rupanya ia terkenal peluru temkakan tadi. Kemudian sejurus kemudian, orang-orang berjas hitam masuk menyerbu gudang tersebut.


Melihat orang-orang itu datang, Howard pun tertawa sambil bangun dari posisinya. Dia yang sejak tadi bersikap seperti pengecut, tiba-tiba berubah menjadi sombong.


“Hahahaha... Kau lihat, aku tidak semudah itu dibunuh. Aku tidak b*doh seperti targetmu yang lainnya. Sekarang kau sudah masuk ke dalam perangkap ku. Apa kau kira aku tidak memperkirakannya?"


"Aku sengaja memancing mu datang, dan menyuruh mereka berpura-pura kehilanganku di jalan. Tapi apa kau tahu, bahwa ada alat pelacak di dalam saku jas ku, hah? Kau sudah tamat, Joker. Hari ini kau tidak akan bisa melihat matahari esok lagi,” ucap Howard.


Dia merasa sudah berada di atas angin, karena bala bantuan sudah datang menolongnya. Pria paruh baya itu pun berjalan ke arah pengawalnya.


Seseorang memberinya sebuah sapu tangan untuk mengelap darah yang keluar dari pelipisnya.


“Bereskan dia. Jangan sampai ada kesalahan,” ucap Howard.


“Baik, Tuan,” sahut seorang pengawal.


Howard pun keluar dari gudang dan masuk ke dalam mobil, untuk selanjutnya pergi dari sana, meninggalkan Joker bersama anak buahnya.


Pria besar yang telah tertembak tepat di bagian paha atas serta pundaknya itu, kini terlihat tergeletak dan berusaha untuk bangun. Darah segar keluar dari lukanya.


Belum sempat dia bangun, seorang pengawal maju dan memukul kepalanya dengan sebuah kayu, hingga dia pun harus terjatuh kembali.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2