Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Sahabat di Akhir Usia 20


__ADS_3

“Selamat ya! Ketegangan kamu udah terlampaui. Sebentar lagi Ayah-Bunda akan dapat dua kabar gembira sekaligus.” Kak Zahra memelukku setelah Garrin mendahuluinya.


“Dua kabar gembira?” tanyaku seraya mengernyitkan dahi.


“Kakak kamu hamil.” Suara Kak Ali yang baru saja tiba bergabung bersama kami.


Lagi-lagi aku menutup bibirku dengan telapak tangan karena nyaris tak percaya. Aku segera menatap Kak Zahra, aku tersenyum mengetahui bahwa sebentar lagi aku akan dipanggil tante. Aku akan memiliki keponakan kecil yang lucu. Kembali aku memeluk Kak Zahra atas suka cita dan kabar gembira yang menerpa keluargaku.


“Yeay! Congratulations Aunty Hanna!” Khadija bergantian memelukku.


“Makasih Khadija!” Aku membalas pelukan itu sama eratnya.


“Selamat ya,” ujar Kak Ali turut memberikan ucapan selamat padaku.


“Iya, Kak. Selamat juga atas kehamilannya,” balasku.


“Hei! Kamu baik-baik di dalam sana, ya. Semoga jadi anak sholeh atau sholeha kayak Mama-Papa kamu, ya,” bisikku sembari mengelus perut Kak Zahra yang belum tampak perubahan signifikan.


“Aamiin, semoga pintar juga kayak tantenya,” sambung Kak Zahra.


Kami berlima pun keluar dari gedung kampus dengan air muka cerah bahagia. Sebelum benar-benar pulang, aku meminta Garrin yang mengemudi untuk membawa kami ke salah satu restoran favoritku. Sebagai wujud syukurku, aku ingin menraktir mereka walau hanya sekali. Lagipula mereka telah mendukungku seharian ini. Melalui masa-masa paling menegangkan dalam hidupku sampai akhir.


Di restoran asia itu aku merayakan syukuran sederhana pertamaku. Di sana pula aku sempat memberitahu Nyonya Al-Faruq bahwa sidangku hari ini berjalan sangat lancar. Ia turut memberiku ucapan selamat dan mendoakanku. Ketika kuberitahu pula kabar kehamilan Kak Zahra, ia juga mendoakan kebaikan untuk bayi dalam kandungan Kak Zahra.


Setelah saling bercerita ini dan itu, di tengah keseruan kami, Khadija tiba-tiba mendapat telepon dari salah satu anggota keluarganya. Ia diberitahu bahwa ibunya tengah kritis di rumah sakit tak jauh dari restoran tempat kami makan. Terpaksa acara syukuran itu berakhir sampai di sana. Aku dan Garrin mengantar Khadija ke rumah sakit, sementara Kak Zahra dan Kak Ali pulang ke rumahku.


“Enggak apa-apa, Khadija, semuanya pasti baik-baik aja,” ucapku mencoba menghiburnya.

__ADS_1


Garrin semakin mempercepat mobilnya hingga sampai ke rumah sakit dalam beberapa menit saja. “Jangan nangis, okay? Ini rumah sakit, jadi please jangan bikin keributan kalau kamu emang beneran mau turun,” pesan Garrin pada Khadija yang masih terisak.


Sesaat kemudian kami bertiga berjalan cepat menuju resepsionis yang menunjukkan ruangan tempat ibu Khadija dirawat. Setelah sampai di depan ruangan itu, Khadija segera masuk meninggalkanku dan Garrin di kursi tunggu.


“Khadija kenapa enggak pernah cerita sama kita kalau ibunya sakit?” tanyaku melihat pada dinding putih di depanku.


“Khadija selalu cerita sama gue soal mamanya, tapi dia bilang di enggak mau ngerepotin Hanna, karena itu dia enggak cerita sama lo, Hann,” tuturnya.


“Kenapa dia cuma cerita sama lo? Gue sahabatnya juga, kan?” protesku tak terima mendengar penuturan Garrin.


“Karena dia sayang sama lo, Hanna. Dia enggak mau lo juga ikut menanggung bebannya, dia cuma mau lo dengar cerita-cerita bahagianya aja,” tampik Garrin.


“Ceritain semuanya, Rin, ceritain Khadija saat cuma ada kalian berdua,” pintaku dengan air mata yang mengalir deras tak tertahan.


Garrin menepuk bahuku ringan, ia berusaha keras menenangkanku yang terlanjur menangis sejadi-jadinya. Ia pun akhirnya membuka suara tentang Khadija yang tak pernah diceritakan kepadaku. Hari ini pun, sejak pagi Khadija memaksakan dirinya untuk menemaniku hingga selesai sidang sementara keadaan ibunya sedang tidak baik-baik saja.


Beberapa bulan yang lalu pun sama, Khadija pernah memaksakan diri untuk menemaniku dan menuruti permintaanku, padahal Ibunya juga sedang dalam keadaan yang kurang sehat. Bukan hanya itu, Khadija juga sering membagi cerita bahagia denganku seolah ia hidup tanpa beban apa pun. Ia yang selalu menghiburku setiap aku memiliki masalah Sejak tiga tahun lalu.


“Kamu enggak salah, Hanna,” ucapnya sekali lagi menghiburku.


“Gue belum bisa jadi sahabat yang baik, mungkin bagi Khadija gue terlalu dini untuk mengerti masalahnya,” sesalku tak lagi mengeluarkan air mata. Air mataku habis untuk menangisi Khadija yang tak mau terbuka padaku.


“Khadija sayang sama kamu, Hann. Dan … aku juga,” tuturnya tersenyum masam.


Kamu? Aku? Sejak kapan Garrin menggunakan dua kata itu ketika bicara denganku?


“Lebih baik aku antar kamu pulang, kamu juga pasti cape banget abis sidang hari ini,” ajak Garrin mengisyaratkanku mengikutinya.

__ADS_1


“Aku enggak akan pulang sebelum aku minta maaf sama Khadija,” bantahku menolak ajakannya.


Garrin terdiam di tempat duduknya. Aku benar-benar tak bisa memaafkan diriku sendiri jika Khadija tak memaafkanku. Waktu terus berputar, kantukku menyerang sebelum Khadija keluar dari ruang tempat Ibunya dirawat.


Pikiranku kacau, air mataku telah habis untuk meluapkan penyesalanku. Jika dalam beberapa menit ke depan Khadija tak juga keluar dari ruangan itu, mungkin aku benar-benar akan pingsan karena kelelahan. Tapi kemudian sebuah tangan menggoyangkan lenganku.


“Hanna.” Panggilnya lirih.


Mataku yang terbuka perlahan, mencoba mengenali gadis yang berdiri di depanku itu, “Khadija! Maafin aku!” aku segera bangkit dan memeluknya.


“Bukan salah kamu, Hann,” pungkas Khadija dengan mata berkaca-kaca.


“Aku belum bisa jadi sahabat yang baik buat kamu, aku minta maaf,”


“Enggak apa-apa, kamu udah baik banget sama aku, tanpa aku ceritain kisah sedihku. Aku selalu tertolong dengan semua bantuan kamu, pemberian kamu, dan kata-kata motivasi kamu, bahkan aku merasa kamu lebih dewasa dari pada aku. Ini bukan salah kamu kok, lagi pula ibuku udah melewati masa kritisnya, beliau akan sembuh sebentar lagi.”


“Setelah ini tolong jangan sembunyikan apa pun, Khadija…, aku ingin kita bersahabat sampai kapan pun, tak peduli apa pun,” tegasku.


“Iya, terima kasih Hanna…, makasih juga Garrin, maaf kalau aku sering ngerepotin kalian,” ujarnya lirih dengan semburat senyum ikhlasnya.


Malam tiba dengan sejuta keharuan yang tak bisa terungkapkan. Air mataku habis untuk hal yang tak sia-sia, dan di akhir usia ke-20 ku saat itulah aku merasakan persahabatan yang sesungguhnya. Sahabat tanpa peduli usia, agama, dan latar belakang.


Setelah momen mengharukanku dan Khadija itu, Garrin mengantarku pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan ia menceritakan tentang Khadija yang selalu ingin mengucapkan terima kasih padaku, namun ia tak tahu cara mengungkapkannya selain melalui doa. Garrin juga menceritakan betapa seringnya gadis itu menceritakan kebaikanku padanya.


Semua itu diceritakan begitu detil hingga mobil sampai di depan rumahku. Aku mengucapkan terima kasih pada Garrin atas semua bantuan dan dukungannya selama ini. Utamanya karena selalu ada di antara aku dan Khadija. Ia pun menunjukkan senyuman tulusku beberapa saat sebelum ia pergi.


“Kapan pun, berapa pun kamu butuh bantuanku, aku pasti bantu sebisaku,” ucapnya tulus meyakinkanku.

__ADS_1


“Thank’s for everything,”


“Oh ya, aku… serius waktu bilang aku sayang sama kamu, Hann. Enggak peduli latar belakang kamu, agama kamu, atau apa pun, aku sayang sama kamu, Hanna. Ini bukan seperti aku bertanya ‘Maukah kamu jadi pacarku?’ aku cuma mau kamu mengerti perasaanku aja. Aku pamit pulang, assalamu’alaikum."


__ADS_2