Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Pembawa Kebahagiaan


__ADS_3

Air turun dari langit mendung yang semakin menggelap. Kegelisahan atmosfer dapat terbaca oleh manusia-manusia yang disibukkan dengan aktivitasnya. Meeting telah diakhiri, dan seluruh anggota yang hadir pun dibubarkan. Kini tersisa aku dan Mas Adrian di ruangan direktur dengan suasana hening.


"Mas, bisa bantu input data ini?" pintaku lirih.


Ia lantas mendekat, berdiri di belakangku. "Data yang mana?"


Singkatnya, aku menunjuk layar komputer di depanku. Lalu tanpa penolakan, ia segera fokus melihat ke arah layar. Tangannya meraih mouse yang kupegang, dan satu per satu memasukkan data seperti yang kukatakan sampai selesai. Ia terlalu fokus, sampai tak sadar tangannya turut menggenggam ku selama itu.


"Makasih, ya," kataku, tersenyum canggung.


"Anytime," balasnya sambil menciumi pelipis kiriku.


Lalu notifikasi panggilan datang dari dua ponsel yang terbiar di atas meja sejak tadi. Kami saling berpandangan sebentar seakan bertanya satu sama lain, "ponsel siapa yang bunyi?". Mau tak mau, kami berdua sama-sama beranjak untuk mengambil ponsel masing-masing. Oh, ternyata ponsel kami berdua memiliki tipe dan warna yang sama. Baru sadar. Pikirku saat mengambil ponsel yang berjajar.


[Voice Call]


Hanna Aleesa : Halo, assalamualamualaikum?


Ayah : Wa'alaikumsalam warahmatullah. Han ..., kemarin katanya teman-temanmu datang menjenguk Bunda, ya?


Hanna Aleesa : Kemarin? Oh, Pak Bima dan Pak Rama. Iya, Garrin juga datang. Ada apa, Yah?


Ayah : Ucapkan terimakasih banyak untuk mereka. Sepertinya berkat kedatangan mereka, Bunda mau ikut prosedur pemasangan ring.


Hanna Aleesa : MashaAllah. Benar begitu, Yah?


Ayah : Iya, alhamdulillah. Operasinya besok malam.


Hanna Aleesa : Alhamdulillah. Serius, kan ..., Bunda melakukan ini tanpa paksaan?


Ayah : Iya, benaran.


Hanna Aleesa : Terus untuk operasinya perlu apa aja, Yah? Mungkin ada yang bisa Hanna bantu siapkan.


Ayah : Operasinya non-bedah, katanya, Hann. Waktunya juga enggak lama. Palingan nanti tinggal perawatan pasca operasi aja.


Hanna Aleesa : Terus soal biaya administrasi gimana?


Ayah : Sudah Ayah selesaikan, Hann. Ayah juga nggak minta kamu untuk jagain Bunda, kok. Ayah ngerti kamu masih sibuk ngurus banyak hal. Ayah hanya titip pesan terimakasih untuk teman-temanmu yang datang menjenguk Bunda kemarin.


Hanna Aleesa : I, iya, Yah. InshaAllah nanti Hanna akan sampaikan.


Ayah : Kalau gitu Ayah tutup teleponnya, ya?


Hanna Aleesa : Iya, Ayah.


Ayah : Assalamu’alaikum


Hanna Aleesa : Wa’alaikumsalam warahmatullah


[Call Ended]


Setengah berlari, aku menghampiri Mas Adrian yang terpaku dengan ponsel di tangannya. “Mas! Alhamdulillah, akhirnya Bunda mau pasang ring jantung. Operasinya besok malam.”


“Beneran?”


“Iyaaa.”

__ADS_1


“Alhamdulillah …, ini juga baru dapat kabar dari Erwin, Agatha udah lahiran. Anaknya perempuan.”


“Wah …, mereka berdua juga pasti senang banget sih itu.”


“Emang gimana ceritanya, sampai Bunda setuju untuk pasang ring? Pasti nggak gampang tuh ngebujuknya.”


“Ke- Kalau itu sih.”


“Boleh kutebak? Pasti karena laki-laki yang datang ke rumah sakit kemarin, ya?” tanyanya tanpa basa-basi.


“I, iya.”


Aku menundukkan pandanganku, takut melihat respons Mas Adrian selanjutnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ia tertawa kecil, lalu mengusap puncak kepalaku lembut seraya berujar pelan, “Aku enggak marah kok. Justru bersyukur karena ternyata istriku ini selalu dikelilingi oleh orang-orang baik.”


“Bener, kamu nggak marah?”


“Kenapa harus marah? Aku cukup percaya diri, kamu nggak akan pindah ke lain hati semudah itu. Lagian, bukankah lebih baik kalau kita ajak mereka berdua makan siang bersama sebagai ucapan terimakasih?” tawarnya lantas melihat keluar jendela yang tampak hanya sisa-sisa gerimis.


“Sekarang?”


“Kapan lagi?”


Awalnya, kukira apa yang Mas Adrian katakan, sepenuhnya adalah becandaan semata. Tapi rupanya, ia serius ingin berterima kasih pada Pak Rama dan Pak Bima yang sudah berhasil meyakinkan Bunda. Sesuai permintaannya, aku menghubungi dua pria itu untuk datang di salah satu restoran yang menyediakan private room untuk kami makan.


Meski gerimis kecil-kecil masih sesekali menitik dan membasahi jalanan aspal, namun dengan mobil hitam itu kami tetap pergi ke tempat yang dijanjikan. Sepanjang perjalanan yang cukup jauh untuk ditempuh, Mas Adrian tak begitu banyak komentar. Sampai ketika ia jenuh dengan keheningan itu, ia pun membuka percakapan yang cukup berat.


“Kamu nggak mau cerita soal Pak Rama? Aku belum mengenal dia sama sekali.”


“A- aku harus cerita darimana?”


“Cerita aja, gimana kamu ketemu Pak Rama, apa yang bikin kalian jadi nyambung, gimana pertemuan pertama kalian dan apapun.”


“Sampai tukar alamat tempat tinggal di Indonesia juga?”


“Ah, enggak kok. Kalau soal gimana beliau tahu rumah Ayah-Bunda, dan kampusku di Indo, aku sendiri nggak tahu. Tapi memang kadang beliau orangnya suka seenaknya sendiri. Pak Rama punya koneksi yang lebih luas dari bayanganku."


“Dan itu awal mula tersebar rumor tentang kamu dan sugar daddy?”


“Kok kamu tahu?”


“Garrin yang cerita.”


“Mas Adrian curang ih. Kalau kamu udah cari tahu dari Garrin kenapa aku harus cerita semua dari awal?”


“Mungkin saja ada versi berbeda antara cerita kamu dan cerita Garrin. Tapi yang pasti, aku lebih percaya dengan istriku,” ucapnya seraya mencubit pipi kananku.


Mobil melambat perlahan, tak lama kemudian Mas Adrian menepikan mobil itu ke salah satu minimarket. Lalu, ia turun dan masuk ke sana setelah memintaku untuk tetap berada di dalam mobil. Dalam beberapa menit, ia kembali dengan membawa paper bag berisi minuman.


“Selanjutnya, gimana Pak Bima, si dosen muda itu?” pertanyaannya berlanjut sejalan dengan mobil yang kembali melaju di jalanan.


“Aku sendiri nggak tahu. Kami berdua bukannya sedekat itu. Pak Bima pernah menawarkan bantuannya untuk masalah tugas dan skripsiku. Lalu, aku mendengar dari Khadija, kalau ada berita tersebar di seluruh kampus tentang kedekatan kami.”


“Tapi aku masih nggak percaya loh, ternyata sebelum jadi istriku, Hanna Aleesa adalah cewek yang super nggak peka, yah?"


“Hah? Maksudnya?”


“Itu semacam kode, udah jelas-jelas mereka itu tertarik sama kamu. Dan karena kamu selalu merespon baik, kamu seperti memberi harapan ke mereka. Itu adalah pelajaran paling mendasar dari sebuah hubungan, Aleesa.”

__ADS_1


Kupikir semua yang kulakukan itu hanya itikad baik yang sudah sewajarnya?


“Kamu pasti berpikir apa yang kamu lakukan adalah bentuk itikad baik? Ah udahlah, jangan dipikirin lagi. Saat ini, kamu vuma perlu peka kalau suamimu ini yang memberi kode.” Mas Adrian lagi-lagi mengusap kepalaku, lalu turun dari mobil.


"Maaf udah bikin kamu cerita banyak hal dari masa lalu. Biar impas, aku sendiri akan jujur kalau kamu bukan wanita pertama yang aku pilih."


Aku tersenyum mendengar pernyataan itu. "Wanita pertama yang kamu pilih, pasti Ummi dong."


"Itu juga benar, tapi lebih spesifik lagi, kamu bukan satu-satunya wanita yang aku pilih untuk menjadi istriku. Ada cerita lama yang mungkin sudah saatnya kamu harus tahu."


Aku menelan ludah sendiri, mendengar kalimatnya yang semakin menjurus. "So?"


“Pertama kali aku melihat seorang gadis dengan pandangan berbeda, saat aku bertemu dengan seorang gadis periang yang sangat dermawan. Dia anak dari keluarga pengusaha yang juga partner bisnis Baba. Selisih usia kami hanya terpaut empat tahun, dan kami sering membincangkan tentang kegiatan volunteer, amal, juga beberapa kali mengunjungi panti asuhan dan korban bencana.”


“Ketika aku berada diakhir usia dua puluh lima tahun, aku menguatkan niatku, dan Baba pun melamarkan gadis itu untukku. Keluarga kami berdua sangat senang, pun dengan kami berdua. Hingga satu bulan sebelum akad nikah, gadis itu meninggalkan surat untukku dan keluarganya, berisi permintaan maaf.”


“Kenapa?”


“Dalam suratnya ia meminta maaf karena merasa belum pantas menjadi seorang istri. Ia memilih untuk pergi ke Suriah. Dari surat yang ia tinggalkan untukku, ia berkata tak hanya Suriah yang menjadi tujuannya, tapi juga Afghanistan, Palestina, dan negara-negara dengan konflik lainnya. Ia juga memberitahuku fakta bahwa aku hanya mengaguminya, perhatian yang aku berikan, belum cukup untuk bisa disebut kasih sayang atau rasa mencintai. Sejak kepergiannya itu, ia tidak berkabar sampai sekarang. Terakhir kali aku mendengar kabar simpang siur bahwa ia telah menikah dengan seorang warga negara Inggris dan meneruskan kegiatan volunteer bersama suaminya.”


“Setelah saat itu, aku tidak tertarik dengan cinta. Aku fokus pada pendidikan dan hal-hal yang hanya membuatku senang menjalani hidup. Lalu dua tahun kemudian, seorang wanita berhasil membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya. Namanya Azzahra Nur Arifin, tiga tahun lebih muda dariku. Anak seorang kiyai pengasuh pondok pesantren, dan penghafal Al-Qur'an. Hampir tak ada celah kekurangan yang tampak dari sosoknya. Dan dengan cepat, aku memutuskan bahwa ia adalah jodohku."


Kulihat, Mas Adrian menarik napas dalam-dalam. "Tapi ternyata tidak berjalan dengan lancar. Sampai di proses lamaran, hanya beberapa hari sebelumnya, Baba jatuh sakit, sehingga proses lamaran harus ditunda. Dua hari berselang, keluarga kami mendapat kabar duka bahwa Azzahra Nur Arifin meninggal dalam sakit tumor otak yang tidak dideteksi sejak dini. Kejadian itu menjadi patah hati keduaku. Lalu Paman Aydan menasihatiku, bahwa ada beberapa hal seperti mengontrol perasaan, harus dilakukan sebelum adanya ikatan pernikahan. Setelahnya aku berpikir bahwa aku terlalu serakah untuk mendapatkan wanita sesempurna Azzahra Nur Arifin. Sampai saat itu, aku sadar, bahwa caraku masih salah, dan Baba yang tiba-tiba jatuh sakit mungkin adalah sebuah pertanda lain."


Sesaat aku menundukkan kepalaku. Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa seperti tak memiliki energi untuk kembali percaya diri. Bahkan sejak awal, aku sudah tak pantas berada di posisi ini. Benar, bahwa aku hanyalah wanita dengan keberuntungan besar yang bisa mendapatkan Mas Adrian. Dibanding dengan dua wanita yang ia ceritakan, aku sama sekali bukan apa-apa.


Tangan kanan itu meraih tanganku dari atas paha. “Benar bahwa aku tidak perlu mencari seorang wanita yang sempurna. Kini aku tahu, yang aku perlukan selama ini, adalah kamu.”


“Aku hanya mencari waktu yang paling tepat sampai siap menceritakan semuanya ke kamu. Dan ini adalah saatnya.”


Cup! Tanganku semakin erat digenggamnya.


“Aku tahu mungkin kamu berpikir kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Tapi untukku, kamu adalah jawaban sebenarnya. انت حامل السعادة في حياتي”


^^^~Kamu adalah pembawa kebahagiaan dalam hidupku^^^


Kami sampai di tempat yang telah ditentukan setelah melalui perjalanan yang cukup panjang. Sebelum kami turun dari mobil, kembali Mas Adrian memakaikan niqab untuk menutup wajahku. Rasanya makin berdebar jantung ini setiap kali aku mendengar langsung pujian itu terucap dari bibirnya. Sesenang ini meski hanya sebuah kalimat sederhana. Dan perlakuan lembut itu, adalah satu hal yang membuatku semakin menyayanginya.


“Tuan Adrian Al-Faruq?


"Iya, benar."


"Private room anda di sebelah sini.” Pria itu menantarkan kami sampai ke sebuah ruangan yang dipesan Mas Adrian untuk makan siang hari ini.


“Terimakasih.”


“Anda bisa memanggil kami melalui bel di meja jika memerlukan sesuatu.” Pelayan itu kemudian undur diri setelah menunjuk salah satu pintu.


Adrian menggenggam tangan kananku, melangkah masuk ke sana. “Semoga kita nggak terlambat, ya, Sayang.”


“أنت أيضًا حامل السعادة في حياتي يا زوجي”


~Kamu juga adalah pembawa kebahagiaan dalam hidupku, suamiku


“Huh?” Ia menoleh padaku seketika.


“A- Apa?”

__ADS_1


“Kayaknya kamu ngomong sesuatu?”


“Hah, enggak kok. Kamu aja yang salah dengar. Udah ah, kita masuk aja, yuk!”


__ADS_2