
“Semuanya udah?"
"Iya. Ini yang terakhir.”
Adrian tengah sibuk mengatur barang-barang yang akan dibawa dengan mobil bak terbuka ke rumah yang akan kami tinggali. Itu adalah mobil keempat yang membawakan barang-barang kami. Aku melihat dari balik jendela rumah meski terbesit rasa sedih melihat kondisi kami sekarang ini. Tapi karena tak mau membuat Adrian ikut sedih, aku menyembunyikan sebesit perasaan itu dan memilih diam di balik senyum.
Ketika Mas Adrian masuk kembali ke dalam rumah yang telah kosong itu, aku segera menghadangnya dengan wajah ceriaku. Menghiburnya semampuku, dan menenangkan kegusarannya sekuatku. Jika ia mau tinggal di rumah sederhana demi aku dan demi kita, maka aku pun harus kuat dan memberinya semangat serupa.
“Okay, sekarang kita tidur, besok pagi kita siap untuk pindahan,” akhir Mas Adrian serya mengajakku kembali ke kamar yang akan kami tempati mungkin untuk terakhir kalinya.
Esokan pagi, kami benar-benar akan meninggalkan rumah ini sesuai dengan kesepakatan sepihak yang ditentukan Pak Erwin dalam surat itu. Setelah itu, rencananya kami akan mulai membersihkan rumah baru kami dan kembali beradaptasi dengan tetangga sekitar. Baru kemudian aku akan menemani Mas Adrian ke kampus B.
Malam begitu cepat berlalu dengan lantunan senyap gelap yang menutup kesadaran hingga suara alarm dan adzan membangunkan kami pagi harinya. Aku menyadari raut muka Mas Adrian yang lebih ikhlas meninggalkan rumah ini dibanding dengan kemarin. Hal melegakan itu membuatku semakin yakin bahwa ini adalah awal yang baik untuk kami.
Dan rumah itu, rumah yang akan kami tinggali itu adalah rezeki dari Allah. Padahal dulu ketika aku masih tinggal di sana dengan status sebagai mahasiswi, kupikir rumah itu adalah rumah yang disewa Ayah untuk tempat tinggalku. Rupanya rumah itu memang sudah sah menjadi milikku, dan kini akan kembali kutinggali dengan status sebagai seorang istri.
*****
Pagi hari sebelum kami benar-benar meninggalkan rumah Adrian, sebuah sengatan menyambut jantungku. Aku menemukan sebuah tas bingkisan pemberian Kakak ipar dan istrinya, yang lupa belum aku buka.
Sepasang mataku melotot, mulutku spontan saja menganga tak percaya melihat isi tas bingkisan itu. Aku tak habis pikir dengan Kak Erina yang memberikan lingerie hitam seksi untuk pengantin baru. Apakah ini satu-satunya hadiah yang bisa dipilih? Tak bisa kubayangkan mengenakannya di depan Mas Adrian. Tapi ... mungkin pantas untuk dicoba. Hahhaha
“Sayang? Udah?” Mas Adrian masuk tiba-tiba, mengejutkanku yang segera memasukkan kembali lingerie itu, berharap Mas Adrian tak sempat melihatnya.
“Udah kok, tinggal barang-barang kecil aja, bisa aku bawa sendiri. Kamu siapin mobil aja dulu,” ucapku seraya tersenyum menutupi kegugupan.
“Okay, aku tunggu di depan, ya ... masih ada beberapa barang yang muat masuk bagasi kayaknya.”
“Iyah.”
Sepeninggal Mas Adrian dari hadapanku, barulah aku bisa bernapas lega dan kembali mengatur detak jantung yang tak beraturan ini. Begitu memastikan Mas Adrian pergi menjauh, aku beralih pada kotak bingkisan yang diberikan Kakak ipar untuk Mas Adrian waktu itu. Karena keduanya sama-sama diletakkan di walk-in closet, kemungkinan Mas Adrian juga belum sempat membukanya.
Aku kembali menelan salivaku sendiri ketika membaca kemasan produk yang diberikan. Kurasa Kak Erina dan Kakak ipar memang jodoh yang kompak. Istrinya menghadiahkanku lingerie seksi, sedangkan suaminya menghadiahkan obat pria untuk adiknya.
Mungkin aku masih bisa menerima alasan Kak Erina memberiku lingerie seksi itu. Tapi, kurasa hadiah dari kakak ipar untuk Mas Adrian ini tak boleh diterima begitu saja. Apa kakak ipar berencana membunuhku dengan itu? Bahkan tanpa obat pun Mas Adrian sangat .... Aaaah! Aku pikiranku ini mikirin apa sih!
Aku bergegas menyimpan kembali dua hadiah itu kembali ke tempatnya, lantas membawanya turun bersama dengan barang-barang pribadiku. Setelah menata barang-barang terakhir ke bagasi mobil sebelum kami meninggalkan rumah itu, Mas Adrian sempat terlibat percakapan penuh emosi dengan Pak Erwin. Baru ketika perbincangan itu selesai, Adrian segera mengikutiku masuk ke mobil.
Mas Adrian meraih satu tanganku, memandangiku, melukiskan senyumnya, dan menghembuskan napas panjang. “Bismillaahirrahmaanirrahiim”
"Aku nggak sabar mau lihat rumah kamu."
"Apa sih, baru juga mulai jalan."
__ADS_1
“Oh iya, rumah kita nanti ada di daerah kompleks perumahan, kan, Sayang?”
“Iya, kenapa?”
“Nggak apa-apa, tapi kalau kompleks perumahan harusnya ada jalanan sepi dong, buat jogging pagi-pagi gitu.”
“Ada kok, taman komplek punya jogging track, atau jalanan depan rumah juga sepi, luas lagi. Bisalah buat kamu jogging sampai puas.”
“Bagus deh, karena nggak ada alat gym, aku takutnya perutku jadi buncit,” pungkasnya menarik perhatianku.
Aku tertawa lepas memandangi manusia itu. “Kamu takut perut kamu buncit?”
“Iyalah, tubuh ini, kan aset berharga yang harus dijaga. Lagian aku nggak mau kalau kamu sampai cari laki-laki lain yang lebih atletis dari aku kalau aku buncit,” timpalnya posesif.
“Emang ada yang lebih atletis dari suamiku?” tanyaku seraya mengusap tangannya manja.
"Nggak ada. Cuma aku yang paling atletis dan yang bisa kamu lihatin sepuasnya tiap hari."
Enam puluh menit perjalanan yang kami tempuh cukup berasa. Pinggul mulai terasa pegal dan kantuk sesekali menerpa bersamaan dengan sejuknya AC dan pengharum mobil yang menenangkan. Cerita-cerita yang keluar dari mulut kami saling bersahutan, sesekali pula kami saling diam ketika habis topik untuk dibicarakan.
Tapi ‘Habis Topik’ adalah hal mustahil ketika bersama Mas Adrian. Entah belajar dari mana, tapi ia tak pernah kehabisan topik untuk ditanyakan atau kisah untuk diceritakan. Hingga perjalanan kami tersisa sepuluh menit lagi, aku meminta Adrian mengarahkan mobil ke toko perabot rumah tangga. Ada beberapa barang wajib yang harus kubeli karena kami akan pindah ke rumah yang telah kutinggalkan selama hampir tujuh bulan lamanya.
“Aku ikut temenin, ya? Biar bisa bantu bawa barang-barangnya,” tawar Adrian.
Mengemudi selama hampir 2 jam tanpa istirahat pasti sangat melelahkan. Meski ia tak menunjukkan lelahnya secara langsung di depanku, tapi aku tahu ia capai setelah perjalanan ini. Aku bergegas memasuki toko perabot itu, memilih beberapa barang yang kuperlukan, dan segera pula membayarnya. Karena tak ingin membuat Adrian menunggu lama, aku segera kembali dengan membawa barang belanjaanku itu ke backseat.
“Cepat, kan? Aku bilang juga apa,” ujarku sembari memasang kembali safety belt.
"Oh iya, ini tadi aku sempat beli kopi biar nggak ngantuk." tambahku meletakkan botol kopi instan di dekat tangan Adrian.
Sesaat aku memandangi Adrian yang masih diam. “Sayang? Kita nggak jalan?”
“Sebelum jalan ..., boleh aku tanya sesuatu?” Lirih Adrian yang tiba-tiba memerah membuatku mengerutkan dahi.
"Ada apa? Tanya aja."
"Menurut kamu ... aku kurang kuat?"
"Kuat? Kuat kok. Ap- tung- tunggu-tunggu ... kuat apa sih? Jelas lah kamu kuat." Aku menatapnya bingung.
"Mungkin selama ini kamu ngerasa ... belum puas sama aku? Atau staminaku ... kurang, buat kamu. Mungkin kita bisa ... ngobrol soal itu "
Aku makin bigung mendengar pertanyaannya yang berbelit. "Kamu ngomongin apa sih?"
__ADS_1
“Itu ... aku nggak sengaja lihat isi tas bingkisan, di bawah. Itu ... kamu yang beli?”
“Ap- Oh my god! You see that? Oh god, please tell me you didn’t see anything.”
"I see everything."
"Itu ... itu nggak seperti yang ada di otak kamu sekarang kok." Aku mentutupi wajahku dengan kedua tangan, menahan malu di depan Mas Adrian yang juga memerah.
“Nggak perlu sepanik itu kok, aku sih nggak apa-apa kalau emang kamu bilang jujur, selama ini performaku masih kurang,” katanya lugas.
“Okay ... Look, that’s embarassing but, that wasn’t mine. I mean, that’s mine, but I didn’t buy that technicaly. That was Kak Erina and Kak Danar's gift,” jelasku.
“Okay."
"Iya. Kamu kuat. Itu ... nggak perlu diminum, aku udah cukup."
Adrian tergagap, ia meminum kopi instan dalam botol itu, meneguknya sampai habis. "I think we should go, now.” katanya kikuk kemudian melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda beberapa menit.
Selama di sepuluh menit terakhir perjalanan kami, tak ada yang berani kukatakan pada Adrian. Ia sesekali bertanya padaku, dan aku menjawab seperlunya hingga kami berhenti di depan rumah yang akan kami tinggali. Barang-barang kami yang memang sengaja dikirim lebih dulu telah sampai dengan selamat di teras rumah itu. Tersisa kami turun dari mobil dan memasuki rumah yang memang telah dibersihkan sehari sebelumnya.
Ketika memasuki ruang tamu rumah itu, aku merentangkan kedua tanganku. “Wellcome to our home!” Aku menirukan gayanya ketika ia menyambutku dulu di rumah mewah itu.
Mas Adrian tersenyum melihatku menirukannya, “Sekarang house tour?” tanyanya.
“Nggak, nggak usah. Berhubung rumah ini nggak besar, kita nggak perlu house tour. Sebagai gantinya, kita akan mulai bersih-bersih dan menata barang-barang kita dari bagian paling belakang sampai ke bagian terdepan dimulai dari lantai dua. Gimana?”
“Kita perlu bersih-bersih lagi?”
“Iya dong ... meskipun udah dibersihin sama jasa cleaning service, tapi kita tetap harus bersih-bersih ulang sebelum menata barang.”
“As you wish, my dear.” Mas Adrian segera meraih sapu dan kemoceng dengan kedua tangannya.
“Okay, sebelum itu ....” Aku mengambilkan barang yang sempat kubeli di jalan sebelum sampai ke rumah ini.
Aku mendekat pada Adrian, berjinjit memakaikannya celemek. Setelahnya, aku mengikatkan kain yang berfungsi untuk menutup rambutnya dari debu. Tak ketinggalan pula memakaikannya masker. Dan yang terakhir, baru aku memberikannya dua sarung tangan.
“Wow, harus banget pakai ini semua? Apa ... ini nggak berlebihan?”
“Kita, kan nggak tahu kalau debu di sini bisa bikin kamu alergi atau nggak. Peralatan ini untuk mengantisipasi kamu, Sayang ... jangan sampai kamu kenapa-napa.”
“Aaah ... senangnya punya istri muda dan perhatian,” ungkapnya gemas memelukku.
“Aku juga senang punya suami, emm ... dewasa,” balasku disusul dengan tawa, karena hampir saja aku mengatakan “Tua”. Beruntung otakku ini masih bisa menemukan kata ganti yang pas daripada memanggilnya tua.
__ADS_1
“I know what that means.”