Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Pergi Lagi


__ADS_3

Mas Adrian datang bersama Pak Erwin ketika matahari baru sepenggalah naik. Kala itu aku baru selesai menunaikan salat dhuha di musholla rumah. Sementara Agatha dan putrinya Dena berjemur menikmati sinar matahari pagi di pinggir kolam renang. Begitu selesai dua belas rakaat salat dhuha, aku ikut bergabung dengan Dena yang sepertinya sangat senang, seakan membawa aura cerah tersendiri pagi itu.


"Assalamualaikum..." Suara itu terdengar dari ruang tengah. Kemudian ia yang melihatku berada di dekat kolam renang, segera berjalan menyusul.


Adrian, pria yang kurindukan sejak semalam itu kini telah berdiri di hadapanku. "Wa'alaikumsalam warahmatullah." Spontan tangan ini melingkar padanya. Ada gejolak rindu yang lebih besar dari yang kurasakan sebelumnya, hingga aku tak peduli pada Agatha dan Pak Erwin.


"Hai! Papa, pulang!" Pak Erwin pun segera menyerbu ke arah anak perempuannya.


Setelah memeluk Adrian dan menguras rasa rindu nan mengganjal, aku baru melepas pelukan itu. Untuk sesaat, tanpa sadar aku tersenyum melihat pemandangan di sebelah. Ketika Pak Erwin yang baru sehari tak bertemu dengan putri kecilnya. Pemandangan yang sangat indah.


"Beberapa bulan lagi kita juga akan seperti itu," bisik Adrian sembari mengusap perutku lembut.


"Inshaa Allah."


"Kamu nggak ada masalah apa-apa, kan? Nggak demam atau apa?"


"Enggak kok, aku baik-baik aja."


"Oh, ya. Sebenarnya kami tidak bisa berlama-lama di sini. Sebelum makan siang, pesawat kami akan berangkat ke Batam," jelas Pak Erwin.


Adrian menghela napas kasar. "Kalau aja dulu aku nggak ragu bikin helipad di belakang rumah. Pasti nggak perlu buru-buru pergi, dan bisa pulang kapan aja," keluh Adrian kekanakan.


"Mengingat waktu yang sangat singkat, bukankah sebaiknya segera berangkat, Pak Adrian? Hari ini pun Ibu sudah setuju akan pergi ke dokter kandungan bersama saya," cetus Agatha seketika mengalihkan perhatian Adrian.


"Hey, hey." Erwin pun membulatkan matanya melihat Agatha yang tersenyum menahan tawa.


"Erwin, kita ub-"


"Tidak bisa, Pak. Ini akan jadi kali ketiga kita melanggar aturan penerbangan dari maskapai yang sama."


"Jam berapa ke dokter kandungannya? Kalau bisa selesai sebelum makan siang, nggak akan telat sampai bandara, kan?"


Kini Pak Erwin yang menghela napasnya. "Akan saya usahakan selesai sebelum makan siang," ucapnya singkat, lantas pergi dari teras samping.


Sepeninggal Pak Erwin dari sana, Agatha pun turut menyusul dan memintaku segera bersiap ke rumah sakit. Bersama Adrian aku kembali ke kamar, membawa serta koper berisi pakaian dan perlengkapannya selama Adrian berada jauh dari rumah. Pak Erwin dan Agatha akan menghubungi kami beberapa saat setelahnya. Mereka meminta kami untuk datang ke rumah sakit sebelum pukul sepuluh, karena kemungkinan saat itu giliran namaku dipanggil.


Adrian yang terburu pulang dari hotel pagi itu, sampai meninggalkan rutinitas mandi paginya karena terburu-buru pulang. Karena itu, aku pun terpaksa harus menunggunya sampai selesai mandi baru kemudian menyusul Pak Erwin dan Agatha ke rumah sakit. Di tengah waktuku menunggu itu kumanfaatkan untuk mempersiapkan barang keperluan yang akan dibawa Adrian dan mencari kesibukan lain di dapur.


Selesai membawa barang-barang kami itu turun dengan bantuan Hugo, aku menyiapkan keperluanku yang sekiranya penting untuk kubawa, berupa produk susu hamil, produk perawatan kulit, dan vitamin yang ingin ku konsultasikan langsung kepada dokter. Selain itu juga, aku mengganti pakaian yang lebih praktis sebagai jaga-jaga jika hari ini tiba-tiba harus USG untuk pertama kalinya.


“Belum kelihatan, kok. Bumil kayaknya nggak sabaran banget, ya.” Adrian masuk ke dalam walk-in closet ketika aku berdiri di depan cermin dan memperhatikan perut dari crop top yang sedikit kusingkap ke atas itu.

__ADS_1


Segera aku mengenakan bajuku dengan benar. “Kalau masuk bilang-bilang dong.”


“Emangnya kenapa? Nggak salah, kan, kalau suami ikut melihat lekuk tubuh istrinya?” tanyanya telah berdiri di belakangku.


“Kulit kamu kayaknya makin cerah dan halus, ya? Atau cuma perasaanku aja yang udah lama nggak menyentuh kulit ini?” tanyanya melihatku dari cermin.


“Mungkin saja. Kalau kubaca dari buku seputar kehamilan, memang biasanya bumil yang berusia dua belas minggu, kulitnya lebih cerah dan cantik gitu.”


Ia tersenyum simpul menatapku dari cermin. “Kamu tahu nggak sih, kamu itu cantik. Sampai-sampai, rasanya seperti ngaak nyata aku bisa mendapatkan kamu jadi istriku.”


“Baby dalam perut ini sudah memasuki akhir trisemester pertama. Kalau kamu terus berpikir hubungan kita ini tidak nyata, mana mungkin kita bisa merubah panggilan normal  jadi Papa-Mama?” balasku balik bertanya.


“Iya, Mama Aleesa…, Papa cuma sekelebat terpikir hal itu di kepala. Bukan berarti Papa benar-benar tak percaya dengan semua ini.”


Triiiing! Notifikasi ponsel Adrian menginterupsi suasana romantis yang baru terbangun. Nama Erwin tampak dari tengah layar itu.


Benar bahwa Pak Erwin mengingatkan kami untuk segera berangkat ke rumah sakit dengan membawa mobil sendiri. Sepulang dari rumah sakit, kami bisa bertukar penumpang untuk satu mengantar Adrian dan Pak Erwin pergi ke bandara, dan satu mobil lagi mengantarku dan Agatha pulang ke rumah.


Kami segera masuk ke mobil setelah mendapat panggilan itu. Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan yang cukup padat. Aku berusaha menikmati perjalanan untuk menebus waktu-waktuku yang tak bisa dilewati berdua bersama Adrian untuk beberapa hari ke depan.


“Sayang, kamu tadi udah sarapan?” tanyanya fokus pada kemudi.


“Udah dong. Kamu?”


Aku menggeleng pelan seraya menghela napas. Kuraih tasku di bangku belakang mobil bmw itu. Setelah kudapatkan apa yang kucari, aku membawanya ke depanku. “Aku udah ada feeling sih kamu pasti belum sarapan, jadi aku siapin salad sebelum kita berangkat tadi,” ungkapku membuka kotak makanan itu.


“Wah, emang kalau soal perhatian, istriku nggak ada lawannya,” ujarnya tersenyum puas dengan sesekali menoleh padaku.


Jadilah perjalanan itu sekaligus sebagai kesempatan sarapan bagi Adrian. Aku menyuapkan sesendok dua sendok salad buatanku ke mulutnya selagi ia mengemudi. Memang tidak patut ditiru, tapi itu semua adalah demi efisiensi waktu. Kami sampai di rumah sakit beberapa menit kemudian. Namun karena tempat parkir rumah sakit penuh kala itu, terpaksa kami memarkirkan mobil di luar rumah sakit.


“Barang yang kamu bawa?”


“Cuma ini doang,” ujarku menanting tas berukuran sedang yang kuambil dari bangku belakang mobil.


Spontan ia meraih tas itu dariku seperti sudah seharusnya. “Nggak apa, kan, kita jalan kaki ke rumah sakitnya?” tanyanya mencemaskanku yang sebenarnya tak masalah untuk sedikit berjalan kaki.


“Nggak apa-apa …, toh juga, kan, dekat. Tinggal sebrang jalan,” jawabku ringan.


Tangan kirinya lantas menggenggam tangan kananku, pelan membawaku berjalan menyeberangi jalan raya yang ramai. Hal sederhana itu, perhatian yang seperti itu yang pada akhirnya membuatku luluh sekali lagi oleh manusia bernama Adrian Al-Faruq ini. Kembali pada tujuan sebenarnya, Pak Erwin dan Agatha sudah menunggu kami di depan ruang dokter kandungan. Tak lama pun, namaku yang telah didaftarakan, dipanggil oleh salah seorang perawat untuk masuk ruang pemeriksaan.


“Kita USG, ya?” begitu kalimat pertama yang Dokter Jennie padaku dan Adrian.

__ADS_1


Awalnya kami pikir sudah saatnya kami tahu jenis kelamin baby di dalam sana. Tapi ternyata, kelamin baby baru bisa terlihat ketika usianya sudah memasuki minggu ke enam belas hingga minggu dua puluh. Dan lagi, USG ini dilakukan untuk memastikan bahwa benar adanya embrio di dalam sana. Karena pada trisemester pertama, tak jarang juga terjadi kehamilan kosong. Yaitu, ketika embrio tidak berkembang sama sekali.


“Janin sudah berusia 12 Minggu, artinya anda telah melewati trimester pertama kehamilan.”


“Si kecil sudah sebesar buah jeruk. Kalau anda bisa lihat di sini, kepala, kaki, dan tangannya sudah mulai tampak jelas. Di usia ini, organ-organ penting seperti otak dan ginjal mulai berkembang sangat pesat dan bahkan mulai menjalankan fungsinya,” papar Dokter Jennie menunjuk pada layar monitor.


Aku tersenyum antusias mendengar penjelasan itu. Spontan aku mengeratkan genggaman tanganku. Tapi sepertinya aku salah, sejak tadi Mas Adrian sudah lebih dulu memperhatikan monitor dan serius menyimak semua penjelasan dokter. Ia bahkan menitikkan air matanya dalam raut bahagia itu.


“Meski sudah ada gerakan-gerakan kecil, tapi Bunda mungkin belum bisa merasakannya. Ke depannya, tak lama lagi Bunda pasti bisa merasakan gerakan-gerakan seperti tendangan. Untuk saat ini, memang janin belum memerlukan banyak nutrisi, tapi setelah melewati tiga bulan pertama, janin akan memerlukan banyak asupan air, energi, dan nutrisi dari Bunda.”


“Apa ada makanan khusus untuk menjamin kebutuhan nutrisinya, dok?” tanya Adrian mendahuluiku.


“Tidak ada makanan khusus. Hanya saja, memang makanan yang seimbang zat gizinya sangat diperlukan. Juga, Bunda biasanya akan mengalami kenaikan berat badan nanti. Yang paling penting adalah memperhatikan asupan Bunda sehari-hari. Jangan sampai telat makan.”


“Saya bawa jadwal menu makan juga, dok, kalau diperlukan.”


“Baik, boleh saya lihat, jadwal menu makanannya?” Adrian dengan sigap mengambil daftar menu harian rumah yang kusiapkan atas bantuan dari Mba Rina.


Selain makanan, kami juga berkonsultasi tentang produk perawatan yang kupakai, jenis olahraga yang bisa kulakukan, dan banyak lainnya. Hingga tanpa terasa waktu semakin mendekatkan kami pada perpisahan. Selesai dari rumah sakit, akhirnya kuputuskan untuk mengantar Adrian sampai bandara. Meski selanjutnya aku harus menangis melepasnya, tapi lebih baik daripada langsung pulang ke rumah tanpa mengucapkan "Hati-hati di jalan! dan cepatlah pulang!".


“Baby sehat-sehat di dalam sana, ya. Papa nggak akan lama kok perginya. Jangan rewel dan selalu temani Mama, ya, Nak. Jangan sampai Mama nangis, kalau Mama sedih, kamu harus menghibur Mama.” ungkapnya berbisik di depan perutku.


Terakhir, ia memelukku yang tak bisa menahan jatuhnya air mata. “Baik-baik, ya di rumah. Jangan nangis, ada Baby yang harus selalu kamu jaga. Selama aku nggak ada, jangan sampai lupa one day one juz, surah Yusuf dan Maryam sebelum tidur dan sehabis salat, dan perbanyak sholawat. Perdengarkan anak kita pada suara-suara yang baik.”


Rasanya berat kumelepas pelukan itu. Padahal hanya untuk beberapa hari, tapi aku sampai heboh sendiri melepas keberangkatan Adrian dengan tangis. Mungkin ini juga termasuk salah satu hormon ibu hamil.


...----------------...


Dear Al-Faruq Junior,


Syukur Mama pada Tuhan yang mengirimmu pada kami


Menitik air mata Papa mendengar kau tumbuh begitu cepat


Papa meminta Mama memperdengarkan lantunan indah


Dengan harap kau tumbuh dalam kelembutan Islam


Mungkin tangismu yang nantinya memenuhi rumah kita


Kami harap kau segera hadir menyempurnakan keluarga ini

__ADS_1


Nak, bila besar nanti, tumbuhlah seperti Papa yang mandiri


Dan tumbuhlah seperti Mama yang tak pernah mengeluh


__ADS_2