Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Punyaku atau Punyamu


__ADS_3

"Hanna?" Seseorang memanggilku dengan nada heran.


"Ah, ya?" Aku berbalik melihatnya. Khadija berdiri di hadapanku kini.


"Ada apa sampai datang ke sini?" lanjutnya bertanya.


Dengan kikuk aku menjawab pertanyaan itu berdasar pada apa yang terlintas di kepala. "Ada sedikit urusan dengan Pak Bima."


Kenapa Pak Bima? Rasanya aku ingin memukul mulut ini yang ceroboh menjawab pertanyaan dadakan itu. Bagaimana jadinya kalau sampai aku tiba-tiba dipertemukan dengan Pak Bima yang tak tahu apa-apa. Padahal tujuan utamaku datang ke universitas kota B adalah mencari "paket" itu.


"Eh, panas banget nih. Mau minum nggak? Mba Rina juga," ajak Khadija padaku dan Mba Rina.


Kami bertiga pergi ke salah satu kantin di dalam kampus dan menikmati minuman di sana dengan selingan cerita-cerita ringan. Khadija turut menceritakan kegiatan kampusnya hari itu padaku dan Mba Rina. Cukup lama kami berbincang, Adrian tiba-tiba datang bergabung dengan penuh keterkejutan.


"Kok bisa ke sini? Nyusulin, Papa, ya, Nak?" tanyanya menyerbu ke arah perutku yang jujur saja terasa semakin berat.


"Kata Hanna sih ada urusan sama Pak Bima. Makanya sampai harus datang ke kampus. Tapi nostalgia banget nggak sih, sama kantin ini," jawab Khadija mendahuluiku.


Adrian beralih menatapku. "Ada urusan apa?" tanyanya datar.


"Itu ..., urusan, ya ..., biasalah."


"Eh, itu, Pak Bima!" Khadija menyeru. Menciutkan nyaliku seketika.


"Pak Bima?" panggil Khadija seraya mengulurkan tangannya.


Aku yang tak berani menoleh ke kanan dan kiri hanya sedikit melihat tangan kanan Pak Bima yang menyambut uluran tangan Khadija. *Cepatlah pergi*! Teriakku dalam hati. Cemasku semakin menjadi hingga keringat dingin bercucuran, ketika otak tak tahu lagi bagaimana cara untuk beralasan.


"Pak Bima katanya hari ini ada urusan penting dengan Hanna, ya? Sampai memanggil Hanna kemari." Akhirnya. Pertanyaan menuju jalur kematian itu benar-benar ditanyakan Khadija.


"Huh? Urusan penting?"


*Damn*! Tentunya itu jawaban Pak Bima yang tak tahu apa-apa dan terpaksa kuseret dalam drama beralasan.


Pak Bima melirikku sesaat. "Oh iya! Saya lupa, benar memang saya ada urusan dengan Hanna. Sebenarnya saya juga tidak nyaman untuk mengundang Hanna ke mari sementara kandungannya sudah sebesar ini. Tapi rupanya Hanna benaran datang."


Tunggu? Apa?! Pak Bima ikut improvisasi drama dari mana ini? Aku bahkan tak bicara apa-apa padanya.


Singkatnya, Pak Bima benar-benar menyelamatkanku dari tekanan mental dan batin. Aku pun pergi bersama Pak Bima ditemani Mba Rina. Rupanya Adrian ada kelas setelah itu. Kami bertiga pindah ke tempat lain. Meski dalam hati bertanya-tanya, mau dikemanakan alur drama ini. Kalau pun setelah berpisah dengan Adrian, Pak Bima bisa saja mengizinkanku pergi.


Tapi kami justru pergi ke tempat yang lebih nyaman dari sebelumnya. Ia juga tampak tak keberatan dengan adanya Mba Rina di antara kami berdua.


"Mungkin anda sudah tahu nama saya. Tapi izinkan saya memperkenalkan diri sekali lagi. Saya Bima, dosen di kampus ini. Dulu juga salah satu dosen yang mengajar di kelas Hanna."


"Saya Rina, asisten pribadi Bu Hanna. Saya harap anda tidak keberatan saya ada di sini."


"Oh, tidak. Tidak masalah."


"Ehm..., maaf Pak Bima, sebenarnya ada perlu apa, ya, dengan saya? Jujur, itu tadi hanya alasan saya supaya tidak ada yang curiga dengan kedatangan saya ke mari."


"Oh, soal itu ...." Pak Bima mencari-cari sesuatu dari saku dan tasnya.


Ia lantas menyodorkan amplop coklat padaku. "Ini, anda bisa membacanya sendiri."


Aku sempat ragu menerimanya, tapi kemudian aku mengambil amplop itu. Kubuka isinya, dan kubaca tulisan dalam kertas itu. Untuk beberapa saat, aku sempat terkejut membacanya, tapi kemudian muncul sedikit rasa bangga.


"Iya, jadi beberapa mahasiswi sempat membaca buku dan artikel karangan kamu. Mereka kemudian mengusulkan pada saya untuk mengundang kamu mengisi seminar. Saya dengar, kamu juga berencana membangun cafe cabang di dekat kampus ini? Mungkin itu bisa jadi ajang promosi juga."


"Saya hampir tidak bisa berkata apa-apa. Saya rasa berlebihan untuk mengundang saya sebagai motivator, apalagi sampai mengisi seminar."


"Saya tahu kamu akan menjawab seperti itu. Tapi beberapa bulan terakhir, nama Hanna Aleesa begitu terkenal di lingkungan kampus. Bukan hanya mahasiswa, tapi dosen-dosen banyak yang membicarakan soal kamu."


"Ah ..., sepertinya terlalu berlebihan."


*Adrian nggak pernah cerita kalau aku sering jadi bahan cerita dosen-dosen*?


"Tapi, setelah saya pikir lagi, sepertinya kamu bisa mengisi seminar setelah melahirkan saja."


"Ah iya. Akan saya usahakan."


"Oh ya, sudah tahu baby-nya laki-laki atau perempuan?"


"Belum. Kami sengaja tidak menanyakannya, biarkan jadi tebak-tebakan saja."


Selama beberapa menit kami mengobrol bertiga. Pak Bima tampaknya enggan meninggalkan tempat itu begitu saja. Tapi kemudian ia melihat jam dan kembali ke kampus karena harus mengisi kelas lagi. Tinggal aku dan Mba Rina di sana.

__ADS_1


Sebentar kami berbincang mengenai paket itu, dan tanpa menunggu waktu lama kami pergi kembali ke pos security. Kebetulan beberapa petugas keamanan di sana cukup mengenalku dengan baik. Dan benar saja, aku sudah disapa oleh Pak Bukhari. Beliau memanggilku, padahal jarak kami masih beberapa meter jauhnya.


"Hanna!"


"Assalamualaikum. Apa kabar, Pak?"


"Wa'alaikumsalam. Baik. Baik banget. Wah, udah isi, ya. Berapa bulan?"


"Tujuh bulan, Pak. Doakan lancar sampai lahiran, ya?"


"Pastilah."


"Itu Hanna yang sering bagi-bagi makanan?" Salah seorang lainnya menceletuk.


"Iya, Pak. Hanna yang suka bagi-bagi makanan. Masa lupa."


"Ya maaf. Berubah banget, ya jadi pangling."


"Iya Pak, saya jadi gendutan kan, ya," celetukku menambahi.


"Padahal mau bilang kalau jadi makin cantik loh, Neng Hanna."


"Ada apa? Tumben ke sini loh."


"Itu ..., saya lagi cari paket suami saya. Barangkali diantar ke sini."


"Paket?"


"Cari paket siapa?"


"Oh, iya. Ada paket untuk Pak Adrian. Baru mau saya antar ke ruangannya tadi. Tapi kalau kamu mau ambil, bisa."


"Tapi paketnya nggak ada alamat pengirimnya. Cuma ada alamat pengirim Jakarta Barat."


Eh? Wait ..., kok paketnya dua? Loh loh?


Mba Rina membawakan dua paket itu. Bentuknya balok dan ukurannya hampir mirip. Dua-duanya sama-sama dikirim dari Jakarta Barat tanpa nama pengirim. *Ah, bisa gila aku! Yang mana yang paketku*?


Setelah mengucap terimakasih dan mengobrol sedikit lebih lama, kami pamit pulang. Di sepanjang jalan, di mana ada aku, Mba Rina, dan Hugo, kami membicarakan tentang paket itu. Beberapa kali aku mengangkatnya, menggoyang-goyangkan paket itu, tapi tetap saja tidak tahu mana yang harusnya kupegang, dan mana yang bukan milikku. Karena begitu fokus pada paket itu, kami sampai terkejut mendengar suara notifikasi dari ponselku.


[Voice Call]


Khadija : Wa'alaikumsalam, Hann, kamu di mana?


Hanna Aleesa : Ini perjalanan pulang sih, soalnya mau mampir sebentar ke cafe


Khadija : Kamu ada bawa paket atas nama Adrian yang dikirim dari Jakarta Barat?


Hanna Aleesa : Ah, iya. Tadi security  kasih ke aku. Paketnya ada sama aku


Khadija : Okay. Tolong nanti taruh di depan kamarku aja, ya .... Dan, please, jangan dibuka. Aku malu kalau sampai kamu tahu isi di dalamnya.


Hanna Aleesa : I- iya. Nggak kubuka kok. Tenang aja.


Khadija : Okay, makasih. Ini bentar lagi aku sampai rumah kok


Hanna Aleesa : Oh. Hati-hati di jalan


Khadija : Kamu juga. Assalamualaikum


Hanna Aleesa : Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh


[Call Ended]


"Hwaaa, gimana dong? Apa perlu kita buka salah satu. Kalau kita salah buka paketnya, tinggal dibungkus ulang aja."


"Sepertinya, di depan kita mobil Pak Adrian dan Karinda, Bu." ucap Hugo datar.


"Mobilnya masuk lebih dulu."


"Nggak ada waktu lagi. Bismillahirrahmanirrahim, cap cip cup kembang kuncup, pilih mana yang mau dicup." Aku mengambil salah satu paket dari kedua paket yang ada.


Bismillah, semoga nggak salah.


Mobil masuk kembali ke garasi. Turun dari mobil, Khadija menghampiriku lebih dulu dengan ekspresi panik. Mba Rina kemudian memberikan paket itu pada Khadija. Ekspresi Mba Rina ketika memberikannya pun penuh harap, semoga itu bukan paket yang salah. Oh Tuhan, tolong hambamu ini.

__ADS_1


Setengah berlari, Khadija pergi ke kamarnya. Aku pun begitu, tapi Adrian menahanku bahkan sebelum aku sampai di ruang tamu. Air mukanya serius tanpa senyum, membuat hawa mencekam di antara kami. Aku meminta Mba Rina membawa paketnya lebih dulu, sementara aku mengikuti Adrian.


"Ada apa, Mas?"


"Kamu ngobrolin apa tadi sama si Bima?"


"Oh itu ..., aku diminta ngisi acara seminar. Katanya aku sering jadi topik pembicaraan antar mahasiswa. Bahkan antar dosen juga katanya."


"Terus kamu bilang apa?"


"Yang pasti aku belum bisa ambil sampai lahiran. Setelahnya sih aku terserah kamu aja. Kalau kamu izinin, ya, nggak apa-apa, nambah pengalamanku juga."


"Kalau aku nggak kasih izin?" sela Adrian serius.


Aku mengukir senyum di bibir. "Kalau kamu nggak kasih izin, aku akan tetap berusaha jadi istri dan ibu yang baik, oh ya, jadi koki pastry juga."


"Aku nggak serius kok. Nggak mungkin aku larang kamu untuk kegiatan yang bermanfaat."


"Oh ya, Mas. Emm ...."


"Kenapa? Apa?"


Bilang nggak, ya? Kalau ngomong sekarang, kayaknya nggak sopan deh.


"Nggak jadi deh. Bukan apa-apa kok."


"Yang bener? Nanti nyesel loh, kalau nggak ngomong dari sekarang?"


"Enggak apa-apa, bener kok."


"Ya udah. Kalau kamu mau bicara, aku ada di ruang kerja basement," ujarnya seraya mengurai senyum, berlalu ke tangga menuju basement.


Kembali pada kekhawatiranku, aku pergi ke kamar untuk membuka paket yang kudapatkan. Debaran jantung ini ketika kedua tanganku baru merobek sebagian kecil dari seluruh kertas yang melapisi pajet berbentuk balok itu. Kalau sampai ini paket milik Khadia, bagaimana? Pikiran itu terus-menerus memutar dalam kepala.


Detik-detik berjalan, dan titik-titik keringatku turun dari pelipis. Bibirku menganga, tanganku bergetar tak percaya melihat kain hitam itu ada di dalam paket yang kupercaya adalah milikku. Bukan, ini bukan paketku. Dan memang tak seharusnya aku membukanya. Itu adalah privasi Khadija. Segera kututup kembali kotak itu.


*Tok! Tok! Tok**!*


Khadija?


Aku berjalan ke arah pintu, membuka pintu kamar sembari membawa paket itu.


*Click*!


"Ah, paketnya ...."


Khadija menjatuhkan kotak yang dibawanya itu ke lantai begitu saja. "Kamu menyelediki masalaluku? Untuk apa? Memberitahukannya ke Adrian?" cecarnya dengan suara bergetar. Lalu air matanya mengalir deras dan jemari tangannya pun turut bergetar.


Ini salahku.


"Aku belum tau mau bilang apa ke Mas Adrian. Aku janji. Aku bahkan belum sempat buka paket itu dan melihat isinya."


"Hann! Perlu kamu tahu. Aku belum pernah ada di posisi paling bahagia dalam hidupku. Baru beberapa bulan aku merasakan hidup nyaman selayaknya manusia, aku harap kamu nggak kasih tahu Adrian apapun tentang masalaluku. Kecuali kalau kamu memang mau menghancurkan kebahagiaanku."


Ia merebut kembali paket miliknya yang kubawa. "Cukup, biarkan Adrian lupa dengan hal-hal buruk di masa lalu. Aku nggak akan maafkan kamu, kalau sampai kamu mengungkit masa laluku di depan Adrian dan mencari tahu masalaluku lebih jauh dari ini."


Khadija pergi. Meninggalkan paket itu dengan linangan air mata yang tak bisa ku hentikan. Maaf. Aku ingin berucap maaf, tapi ia lebih tak suka mendengar aku mengucap maaf seperti itu. Pelan, kuambil paket yang dijatuhkan Khadija ke lantai kamar. Aku mengunci pintu lebih dulu, baru kemudian membuka kotak itu di atas tempat tidur.


[Voice Call]


Henri : Selamat sore, Nyonya Al-Faruq. Bagaimana? Anda sudah dapat paket dari saya?


Hanna Aleesa : Karinda yang lebih dulu membukanya. Anda sudah melanggar persetujuan awal.


Henri : Tidak apa-apa, kan? Toh Karinda baru membuka sebagian kecilnya. Informasi yang sebenarnya ada di dalam usb drive yang saya selipkan di sudut kotaknya. Di sana adalah informasi yang sebenarnya, Nyonya. Kertas-kertas yang saya print out itu hanya pengecoh.


Hanna Aleesa : Apa?!


Henri : Saya ini informan yang cukup profesional. Saya tidak mungkin menjual informasi seceroboh itu.


Aku segera memeriksa sudut kotak yang dimaksudkan. Setelah dengan sedikit usaha keras memotong paksa kotak itu dengan cutter, aku menemukan usb drive di sana. Tapi tadi Khadija benar-benar menangis dan ketakutan.


Henri : Bagaimana, Nyonya? Apakah sekarang anda percaya dengan kemampuan saya? Tertarik untuk berbisnis dengan saya lagi? Hahahha


Cukup mendengar ocehan Henri. Aku membaca tumpukan kertas-kertas dalam kotak itu. Informasi yang tertulis di sana, semuanya hanyalah informasi kacangan. Kecuali satu hal yang cukup mengejutkanku.

__ADS_1


*Ayam kampus*?


__ADS_2