Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Adrian di Masa Lalu -2-


__ADS_3

"Hanna?" Suara Erwin dengan nada tanya menghentikanku yang baru seperempat jalan mengangkat gelas.


Aku tertawa sampai memukul-mukul meja di depanku. "Hah?! Bocah yang di stasiun itu?"


"Padahal gue udah bilang kan sebelumnya, kalau dia itu cuma bocah lugu yang sok-sokan nolak waktu gue kasih duit," tambahku.


"Malam ini dia datang loh. Tapi penampilannya sama sekali nggak kaya yang lu bicarain."


"Maksudnya?"


Erwin tersenyum mengejek. "Buang dulu minumannya, turun, dan lihat sendiri sana," ucap Erwin berlalu dengan gaya sok keren.


Seperginya Erwin dari kamarku, aku mendengus kesal sendirian. Memang Erwin sialan. Berkat kata-katanya, aku sampai harus repot-repot turun demi melihat gadis lugu yang sama sekali berbeda dengan yang kutemui di stasiun hari itu. Aku berhenti di sebelah Erwin berdiri.


"Gimana? Itu yang lu bilang masih bocah?" Erwin memberikan gelas berisi jus apel padaku.


"Sialan! Gue nggak bener-bener merhatiin  waktu di stasiun."


"Jadi nggak nih?"


"Jadi apaan? Ngobrol juga belum. Kalo dari muka bolehlah, badannya juga bagus sih."


"Nahh, kan. Baru juga ngeliat sebentar udah terpesona."


"Apa sih! Lagian kalo cantiknya cuma muka sama badan doang, otaknya pas-pasan juga gue nggak mau."


"Nih." Erwin memberikan iPad itu padaku. Dari tampilan layarnya, pria itu sudah menyimpan data-data penting tentang si bocah kereta. Pekerjaan Erwin yang terlihat simple itu tak kusangka bisa menghasilkan data layaknya seorang stalker.


"Dua puluh tahun? Beasiswa dan student exchange di Australia." Gumamku lirih.


Mulai dari malam itu, aku terus mendapat informasi-informasi tentang si bocah kereta. Ummi pun masih sering menceritakan tentangnya setiap kali aku pulang kerja. Bedanya, kini aku lebih serius menyimak cerita Ummi. Kuakui, kami baru dua kali bertemu secara langsung. Tapi entah dapat wangsit dari mana, aku tertarik pada gadis itu.


"Adrian ... Ummi pulang, ya, Nak? Sudah terlalu lama Ummi di sini. Kamu juga kayaknya sudah terbiasa hidup sendiri."


"Iya, Ummi. Maaf Adrian nggak bisa menjamu Ummi dengan baik."


"Nggak apa, lagian kamu sudah tahu bagaimana memperlakukan tamu. Tapi akan lebih baik kalau rumah sebesar ini nggak ditinggali seorang bujangan."


"Emm. Iya, Ummi." Aku menunduk, menghela napas.


"Ummi serius loh. Kalau udah ketemu sama yang sesuai, langsung bilang ke Ummi aja. Biar Ummi yang dekati anaknya, dan kasih penilaian."


"Hanna?"


"Huh? Kenapa?"


"Kalau menurut Ummi, Hanna gimana?"


"Hanna? Hanna siapa? Hanna ..., yang bantuin Ummi di kereta itu?"


"Memangnya ada Hanna yang lain lagi?" Aku memalingkan wajahku menahan malu.

__ADS_1


Padahal sudah jelas Hanna yang itu, tapi pertanyaan Ummi membuatku salah tingkah. Setelah nama Hanna disebut. Ummi mengurungkan niatnya untuk pulang. Tas yang sudah ia bawa di bahu kirinya diletakkan kembali ke kursi. Kami duduk di ruang keluarga untuk membicarakan hal itu lebih jauh.


"Jujur, Ummi dengan senang hati kalau Hanna jadi bagian keluarga kita. Tapi pertanyaannya, apa keluarganya Hanna mau nerima kamu?"


"Maksudnya karena jarak usiaku dan Hanna?"


"Bukan- bukan itu. Ummi, kan baru tahu tentang Hanna saja. Ummi belum terlalu mengenal keluarganya seperti apa. Kalau dilihat dari cerita Hanna ke Ummi, sebenarnya keluarganya sangat agamis. Ummi cuma kebayang aja, mungkin nih, Ayah Hanna sudah cari calon menantu yang hafidz Qur'an atau semacamnya."


Pernyataan Ummi seketika membuatku tertunduk. Iya. Kepercayaan diriku runtuh saat itu juga, ketika persoalan yang dihadapkan adalah perihal agama. Aku mengaku kalah. Seorang peminum sepertiku ini setara sampah berbau busuk jika dibandingkan dengan hafidz Qur'an.


"Pertama kali kita lihat Hanna nggak pakai hijab, kan? Tapi sekarang dia mulai belajar lagi dari awal. Katanya, dulu dia belum punya alasan jelas kenapa keluarganya meminta ia memakai hijab. Tapi, beberapa waktu lalu Hanna mulai menemukan alasan itu." Aku mengangguk-angguk setengah mendengarkan cerita Ummi.


"Ummi juga dengar dari cerita Hanna, katanya si adik bungsu yang baru mau masuk SD sudah hapal lebih dari dua puluh juz. Ummi salut sekali mendengarnya." Cerita Ummi antusias.


"Karena itu ...," Ummi menggenggam tangan kananku erat. "Ummi akan coba bicara, tapi jangan terlalu berharap banyak ke Hanna, ya. Mungkin saja setelah lulus ini, dia sudah dijodohkan oleh orangtuanya."


"I, iya, Ummi." Aku memaksakan tawaku yang menyedihkan. "Lagian Adrian juga tadi cuma asal ngomong aja kok. Kalau pun orangtuanya setuju, Hanna juga belum tentu mau sama Adrian, kan?"


Ummi mengangkat daguku. "Jangan sedih gitu. Ummi akan coba kulik-kulik lagi tentang Hanna. Sementara itu, kamu salat istikharah aja, dan mohon petunjuk sama Allah. Kalau memang benar jodoh, Allah pasti beri kemudahan." Aku hanya membalas ujaran Ummi dengan senyum hambar.


Selesai mengobrol soal Hanna, Ummi mengulangi pamitnya. Kali ini beliau benar-benar pulang dengan diantar Hugo. Sepulangnya Ummi ke rumah dengan diantar salah satu sopirku, aku merenung dalam kamar.


Dengan pikiran sekacau ini, biasanya aku akan melampiaskannya dengan minum minuman haram itu. Tapi kini, melihat jajaran botol kaca yang tersusun rapih di lemari, membuatku merasa hina. Iya, mana mungkin kakak dari seorang hafidz Qur'an mau menerima pria yang hanya melampiaskan kemarahan dan segala masalah dengan minuman.


[Voice Call]


Adrian : Erwin?


Adrian : Berisik!


Erwin : Ya, ya, ya. Ada apa menelepon?


Adrian : Besok pagi-pagi tolong datang ke rumah. Bawa semua minuman dari kamar dan gudangku


Erwin : Tunggu, tunggu- minuman? Dibawa ke mana?


Adrian : Simpan saja buatmu. Atau musnahkan semuanya


Erwin : Becanda, ya? Bahkan wine yang kita pesan dari Prancis baru akan datang besok


Adrian : Ya terserah saja mau diapakan. Yang jelas, mulai besok dan seterusnya, aku tidak akan melihat minuman suling di sekitarku


Erwin : Aaah iya iya, baiklah, aku tahu


[Call Ended]


Setelah meminta hasil penyelidikan dari Erwin, aku mengetahui dimana ia berkuliah. Dan dengan sengaja aku datang ke sana. Tapi alasan yang mendasariku sudah cukup logis, yaitu memberikan sponsor pada acara besar di kampusnya. Sampai ketiga kalinya aku datang ke universitas itu, tidak sekalipun aku bertemu dengan gadis bernama Hanna.


Hingga aku hampir menyerah, lalu sebuah pertemuan yang tidak kusengaja, datang. Aku tengah membantu sopir taksi online yang meminjam dongkrak untuk memperbaiki ban mobilnya. Lalu aku masuk ke cafe di dekat tempat itu. Yang tak kusangka, gadis itu duduk sendiri di salah satu meja di sana. Aku menyapanya, dan tanpa sadar mengatakan semua hal yang ada di kepalaku.


"Kami akan datang akhir pekan ini."

__ADS_1


Setelah sadar dengan apa yang kukatakan, aku panik sendiri. Kuhubungi Ummi, Erwin, Kak Danar, dan banyak orang lainnya, untuk mengakui kecerobohanku. Alhasil, kami harus tetap pergi ke rumah keluarga Hanna bagaimana pun adanya. Di sisi lain, akhir pekan itu aku sudah punya jadwal meeting dengan beberapa perusahaan multinasional, yang akhirnya memaksaku datang tidak tepat waktu di acara silaturrahmi keluarga.


"Assalamualaikum warahmatullah. Maaf, saya terlambat, barusan ada sedikit pekerjaan tambahan." Nyaliku menciut ketika beradu tatap dengan Ayah Hanna.


Mendeskripsikan sosok Ayah Hanna, beliau tampak seperti seseorang yang begitu paham agama, dan lagi-lagi rasa tak pantas itu hadir dalam diri. Lalu tiba saat Pamanku mengutarakan tujuan kedatangan kami, dan Ayah Hanna dengan ramah menerimanya, membuatku semakin tak enak hati. Aku sampai tidak bisa tidur selama berhari-hari setelah malam itu.


Disetiap pertemuan ta'aruf, semua berjalan begitu cepat dan lancar. Kuharap itu adalah petunjuk dari Tuhan atas salat istikharah dan doa-doa ku selama ini. Karena pada kenyataannya, aku selalu bisa melangkah tanpa keraguan, dan kecemasan itu mulai berangsur hilang. Aku juga merasakan perubahan dalam diriku. Seperti yang dikatakan Erwin padaku.


"Yang mau nikah, kayanya makin rajin aja ibadahnya."


"Emang kelihatan begitu?"


"Yang jelas auranya beda banget dari sebelumnya. Sebelum ini aku bingung lihat ibadahmu yang khusyuk tapi masih sempat-sempatnya minum. Dan sekarang, aku nggak bisa komplain lagi."


"Sejak aku minta membuang semua minuman itu, aku mulai menghapal Al-Qur'an lagi. Dan ajaibnya, aku bisa hapal enam juz Al Qur'an dalam waktu sesingkat ini."


"Kita berdua sudah sering bilang, kan? Satu-satunya masalah di hidupmu hanya alkohol." Agatha datang menambahkan.


Wanita itu bersandar di pada Erwin. "Mari kita lupakan Adrian yang sempat gila, dan kita sambut Adrian yang baru."


"Gila? Emangnya aku gila?"


"Pikirmu, wajar kalau seorang yang paham agama melampiaskan emosinya dengan minum? Dasar bodoh."


"Baru kali ini ada dua karyawan yang memanggil bodoh ke atasannya."


"Karena emang bodoh. Hahaha."


Lalu tiba di malam terakhir. Kalimat yang Hanna ucapkan dan tidak bisa terlepas dari pikiranku.


"Sa, saya masih memerlukan banyak bimbingan untuk istiqomah di jalan islam. Ji, jika ... jika dengan menerima Pak Adrian bisa menghindarkan saya dari maksiat dan dosa, serta Pak Adrian mau menerima saya tanpa memandang latar belakang materi dan usia, saya ... saya bersedia mewujudkan keinginan Pak Adrian menjadi pendamping dunia-akhirat, dan rumah kami akan terbuka untuk menerima kedatangan Pak Adrian."


Aku memang tertarik pada gadis itu, tapi bukan tertarik karena suka. Justru tertarik dalam artian yang lain. Sebenarnya aku sendiri tidak pernah merasa suka dengan Hanna secara dalam, karena kami belum pernah benar-benar saling berpandangan. Semua debaran yang kurasa, bukan pertanda suka atau cinta. Debaran jantungku hanya sebatas debaran karena gugup. Tapi hati ini yang berbicara untuk yakin memilih Hanna Aleesa.


Kami kembali bertemu beberapa kali dalam ketidak sengajaan. Dan puncaknya adalah ketika aku duduk menjabat tangan Ayah Hanna, sembari mengucapkan akad. Di sana otakku mulai bertanya-tanya. Apa yang aku lakukan di sini? Bagaimana mungkin aku menikahi wanita yang baru kutahu sepotong kecil dari seluruh cerita hidupnya. Bagaimana mungkin aku menikahi wanita yang wajahnya hanya kulihat selama beberapa detik. Kenapa aku menikahi wanita yang bahkan jantung ini tidak berdebar saat melihatnya. Bagaimana kalau pernikahan ini tidak bertahan lama?


"Mempelai wanita disilakan memasuki ruangan."


Ketika protokoler mengucapkannya, aku bingung dan merasa bahwa ini suatu kesalahan. Aku terbayang ingin lari, pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Sampai tak sadar Hanna telah berdiri dalam balutan gaun putih dengan matanya yang melihat karpet hitam di bawah kakinya.


Mengikuti urutan acara yang dibacakan protokoler, kami saling menyematkan cincin di jari manis. Itu adalah pertama kalinya aku menyentuh kulit tangan Hanna yang ternyata sangat lembut. Selain itu, tangannya juga dingin dan bergetar. *Dia ketakutan*?


"Aku tuh paling nggak suka sama formalitas begini. Rasanya jadi malas dan mengundang kantuk. Apalagi semalam aku nggak bisa tidur," kataku lirih.


Gadis itu tertawa kecil. "Kukira aku sendiri yang semalaman nggak bisa tidur," balasnya lirih.


"Benar, kan? Aku juga udah ngantuk dan cape banget ini. Mungkin kalau nggak harus jaga image, aku udah lari ke kamar. Punggungku cape banget, pengen rebahan."


Sampai saat itu aku belum melihat wajahnya dengan benar. Usai dengan acara akad nikah di lantai satu hotel XXX, pukul sebelas malam kami sudah kembali ke kamar. Setelah mandi dan bersih-bersih, awalnya aku berniat untuk sedikit mengobrol dengan gadis itu, agar setidaknya kecanggungan di antara kami bisa sedikit pudar. Tapi ketika aku keluar dari kamar mandi, Hanna sudah pulas tertidur.


Pemandangan muka tidurnya itulah yang menjadi momen pertamaku menatap wajahnya untuk waktu yang lama dan jarak sedekat ini. Baru kusadari beberapa saat kemudian, jantungku berdegup kencang. Hatiku pun dengan sendirinya berkata jujur. Gadis ini lebih cantik dari bayanganku. Padahal aku belum melihat rambutnya. Pasti dia merawat wajah dan tubuhnya dengan baik selama ini. Itu artinya, aku tidak salah memilihnya.

__ADS_1


Sepanjang malam, kami tidur di ranjang yang sama, menghadap ke arah ternyaman masing-masing. Sementara jantungku, tak henti-hentinya berdebar, membayangkan betapa beruntungnya aku karena melangkah sesuai petunjuk yang Allah berikan.


__ADS_2