
..... Adrian's POV .....
Hari itu Baba masih bisa tertawa dan bercanda denganku meski tahu keadaannya tidak baik-baik saja. Beliau menepuk pundakku seraya berkata, "Kamu itu udah dua puluh sembilan. Baba aja dulu nikah usia dua puluh enam, masa kamu yang lebih ganteng dari Baba bisa kalah? Kenapa? Masa nggak laku?"
"Adrian belum ketemu yang pas, Baba ..."
"Yang pas itu yang gimana?"
"Adrian juga nggak tahu, Ba. Kalau ditanya begitu, malah makin bingung."
"Kamu mau cari perempuan yang nyaris sempurna seperti putri keluarga Lubis?" Pertanyaan Baba itu mengejutkanku.
"Bukan begitu, Baba. Adrian cuma mau berusaha untuk dapatkan menantu terbaik untuk Baba dan Ummi."
"Adrian ..., Baba nggak minta kamu carikan menantu yang terlampau cantik, nanti kamu yang repot menjaganya. Baba juga nggak minta kamu cari perempuan yang kaya raya, kalau ujung-ujungnya yang dia pikirkan hanya kecintaan kepada dunia. Dan lagi, Baba juga nggak menuntut kamu untuk dapat perempuan soleha layaknya bidadari surga."
"Jadi? Adrian harus cari yang seperti apa menurut Baba?"
Baba tersenyum mendengar pernyataanku itu. Beliau menatap ke arah jendela kamar. "Carilah wanita yang mengerti dasar agama. Pengetahuan paling mendasar pun tidak apa-apa, asal karakternya bisa konsisten, mau diajak berubah lebih baik, dan bisa nyambung komunikasinya sama kamu."
"Sekarang, kalau Baba lihat di sekitar rumah kita saja banyak perempuan-perempuan yang berhijab tapi suka plin-plan. Banyak juga yang mengerti dasar agama, tapi belum terketuk hatinya untuk menutup aurat. Kalau Baba di hadapkan pada dua perempuan seperti itu, Baba akan memilih perempuan yang belum tertutup aurat, tapi punya dasar agama."
"Kenapa begitu, Ba?"
"Karena itu akan menjadi tugasmu untuk membantunya perlahan, dan memberinya pemahaman. Kecuali perempuan yang memang sudah pasang lepas hijab, pada akhirnya itu akan jadi istri yang susah diatur karena mereka merasa punya alasan kuat tersendiri."
Aku hanya mengangguk di kursiku. Beberapa menit lamanya, aku mulai merenungkan apa yang Baba sampaikan. Jika saja menemukan wanita yang tepat bisa semudah kisah buku catatan yang tertukar, atau tidak sengaja bertemu dengan orang asing yang rela membantuku tanpa pandang bulu.
"Sudah! Jangan melamun di sini. Baba hanya sekedar memberi nasehat untukmu. Segera nikah saja kalau sudah ketemu yang cocok, selagi Baba masih ada. Nanti kalau kamu sudah usia tiga puluh dua tahun, sudah nggak laku lagi. Ahhahahaha." Baba menertawakanku. Suara tawa lepasnya sanggup membuatku malu sendiri.
"Sudah sana! Waktu Maghrib hampir selesai. Segera cari masjid dan minta petunjuk Allah. Itu sepertinya Danar sudah kembali."
"Iya, Baba. Adrian pergi dulu, assalamualaikum." Aku berdiri dari kursiku, menyalami tangan Baba, dan pergi ke luar.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Ditanya kapan nikah?" Kak Danar yang berpapasan denganku di pintu kamar berbisik lirih sembari tertawa kecil.
Aku turun ke lantai satu melalui lift yang sepi. Di sepanjang jalan aku melangkah, perkataan Baba kurasa banyak benarnya. Kupikir, memang benar kalau aku yang terlalu pemilih, dan berekspektasi tinggi terhadap wanita.
Selepas salat Maghrib, aku tak segera berpindah dari tempatku. Sengaja kuambil Al-Qur'an sekaligus menunggu datang waktu salat isya. Beberapa saat kemudian, timbul perasaanku ingin memeriksa ponsel yang sengaja kumatikan di sakuku. Ternyata benar, ada pemberitahuan nomor Kak Danar menghubungiku. Aku meneleponnya balik, rupanya ia memintaku untuk kembali ke kamar Baba. Tapi ketika aku berada tepat di depan pintu itu, Ummi sudah memelukku dengan tangisan.
"Adrian ..., Baba!"
"Ummi ..., sudah. Sudah ya ..., Allah lebih sayang Baba. Allah sudah angkat rasa sakit yang mendera Baba selama ini." Anehnya aku tak menangis sedikit pun dengan keadaan saat itu.
Setelah Ummi mulai sadar dari histeris. Kak Danar menarikku untuk menepi. "Sejak kamu keluar dari ruang inap, Baba nggak bicara apa-apa lagi sampai beliau mengucap syahadat dan mengembuskan napas terakhir."
"Kamu sempat bicara apa sama Baba? Mungkin beliau memberi wasiat terakhirnya?" lanjut Kak Danar.
"Kita ngobrolin soal ... nikah. Baba cuma tanya kapan nikah sama kasih wejangan untuk memilih wanita. Kurang lebih begitu."
"Baba nggak menitipkan pesan lain?"
"Enggak ada."
"Ah, ya sudah. Sebaiknya segera tuntaskan keinginan Baba itu. Ingat, kita udah kehilangan Baba, jangan sampai nunggu kita kehilangan Ummi juga." Kak Danar menepuk punggungku, lantas berlalu.
__ADS_1
Tidak ada kesedihan selama hampir satu Minggu sejak meninggalnya Baba. Yang ada justru perasaan lega, tapi juga hampa. Sebulan kemudian, aku dan Kak Danar kembali ke Indonesia untuk mengurus pekerjaan kami masing-masing. Lalu Ummi ikut pulang ke Indonesia setahun kemudian, menjalankan wasiat-wasiat yang ditinggalkan Baba.
Begitulah kehidupan kami perlahan mulai berubah. Kehampaanku sepeninggal Baba perlahan mulai kuisi dengan minum minuman suling. Aku sering mimpi buruk tentang berbagai hal menyeramkan yang menyangkut kematian orang-orang di sekitar. Karena siksaan mimpi yang terus datang setiap malam itu, aku berusaha melupakannya dengan tiga atau empat gelas minuman sebelum tidur.
Baik aku atau Kak Danar, kami punya kesibukan kami masing-masing. Sehingga tidak ada keluarga yang tahu tentang betapa rapihnya koleksi botol anggur impor itu di kamarku. Kecuali hari Rabu, kami diharuskan untuk berkumpul di rumah Ummi. Hingga tak terasa lima tahun sudah berlalu. Tapi beberapa kali aku absen dari acara keluarga itu dengan membawa alasan setumpuk pekerjaanku. Kebiasaan Family time di hari Rabu pun perlahan mulai rutin kulewatkan. Sampai saat itu, aku kembali melewatkan Family time kami. Dan kalian tahu seperti apa reaksi Ummi?
"Adrian. Pokonya kalau Rabu ini kamu nggak datang juga, Ummi yang akan datang ke rumah kamu, ya!" Begitu ancam Ummi padaku.
Tapi dasar aku yang memang sudah terlalu badung, dua hari Rabu kembali kulewatkan. Peringatan Ummi pun tak kuindahkan, karena rasanya tak mungkin Ummi sampai datang ke rumahku. Tapi akhir pekan itu, aku baru membaca pesan dari Ummi yang memberitahuku untuk menjemput beliau di stasiun.
"Erwin!" panggilku pada the one and only, asisten yang paling bisa kuandalkan.
"Ya?"
"Tolong rumah diberesin, ya. Kayanya hari ini Ummi beneran mau datang."
Erwin terkejut mendengarku. "Sekarang? Tapi ..., meeting-nya baru mau dimulai."
"Nggak sekarang juga. Ummi naik kereta ke stasiun sini. Kira-kira berangkat jam dua tadi. Tolong sekalian cek kedatangan kereta dari daerah XXX."
"Apa nggak sebaiknya kujemput sekalian aja?"
"Jangan. Itu Ummiku."
"Iya, iyaa. Dasar anak bungsu. Bocah."
Selama meeting berjalan, aku tak bisa fokus dan terus-terusan melihat ponsel. Sampai akhirnya kudapatkan missed call dari nomor tak dikenal dan pesan yang menyebut kata 'Ummi'. Aku segera berdiri, meninggalkan ruang pertemuan, dan meminta Erwin menggantikan ku.
"Handle semuanya, ya. Ummi udah sampai stasiun."
"Yahh, sudah kuduga akan jadi begini."
"Aman. Agatha sudah menyembunyikan semua."
"Baiklah. Aku pergi." Kataku menepuk bahunya seraya berlalu.
Aku lupa berapa kecepatan mobil yang kubawa untuk bisa segera menemui Ummi. Bagaimana pun, aku merasa berdosa karena tidak menaati perkataan Ummi selama ini. Sampai di stasiun pun aku tak bisa menahan hasrat untuk berlari dan segera mencium tangannya.
"Ummi! Maaf ya Adrian lama, tadi sebenarnya Adrian masih sama klien." Ucapku spontan berlutut, mencium tangan lantas memeluk Ummi.
"Nggak apa-apa … tadi ponsel Ummi hilang, jadi Ummi dibantu sama gadis ini, bahkan dia nemenin Ummi daritadi." Jelas Ummi mengenalkan gadis di sebelahnya.
Dari penampilannya, kelihatannya seperti anak kuliahan. Atau ..., masih SMA? Kasih duit aja kali ya, sebagai tanda terima kasih.
"Ah. Terima kasih ya, sudah menjaga Ibu saya. Hmm … ini ada sedikit uang sebagai rasa terima kasih." Aku mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetku. Sejujurnya itu adalah semua uang cash yang aku punya.
Dengan senyum ramah dan tatapan anehnya, gadis itu menolak pemberianku. "Tidak usah Pak, saya yang tadi menawari bantuan sukarela untuk Ibu anda. Saya tidak perlu imbalan untuk menolong."
*Gua dipanggil 'Pak'? Hah? Gila ya? Emang gua setua itu*?
Dengan senyum terpaksa, kutawarkan sekali lagi uang itu. “Tidak apa-apa, terima saja."
“Maaf, Pak … tapi, menurut saya ini terlalu berlebihan, saya benar-benar tidak perlu imbalan,”
*Sialan! Padahal tinggal terima aja, pake sok-sokan nolak nih anak. Nggak lihat ini tangan gue pegel*?
Ummi mengejutkanku dengan pukulan tangannya di punggungku hingga aku sendiri meringis. "Kamu itu gimana sih! Dia menolong Ummi dengan ikhlas, kenapa harus diganti dengan uang, sih!"
__ADS_1
"Sebagai ucapan terima kasih, gimana kalau kami antar kamu sampai ke rumah Nenek kamu?" Tawar Ummi kemudian.
"Aduh Maaf, maaf sekali lagi. Tapi saya sudah memesan taksi online barusan. Lebih baik anda segera pulang, karena perjalanan panjang hari ini."
"Kalau begitu, nama kamu siapa?" Tanya Ummi.
"Ha, Hanna. Nama saya Hanna, Nyonya."
"Panggil Ummi aja."
"Ah, iya. Nama saya Hanna, Ummi."
"Nah ..., Nak Hanna, saya mengundang kamu untuk datang makan malam ke rumah kami hari Selasa nanti. Untuk alamatnya, biar anak saya yang beritahu lewat pesan." Ucap Ummi dengan nada lembut.
Gadis itu tersenyum lagi. Ia menatap Ummi dengan tatapan yang berbeda. "Sebenarnya tidak perlu sungkan seperti itu, saya membantu anda tulus. Tapi karena tidak mungkin saya menolak kebaikan anda, maka saya akan terima dengan senang hati. Inshaa Allah saya akan datang."
"Harus datang pokonya."
"Kalau begitu saya pamit pergi dulu." Gadis itu menunduk lugu.
Justru Ummi memeluknya sebelum ia benar-benar pergi. "Iya, hati-hati di jalan ya..."
"I, iya, mari." Akhirnya gadis itu pun pergi dari pandangan kami.
Sampai di dalam mobil, Ummi mengomel. Beliau memprotes ku karena memberikan uang sebagai imbalan atas kebaikan yang dilakukan gadis tadi. Beliau juga menceritakan panjang lebar tentang gadis itu selama di perjalanan menuju ke rumahku. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana. Suara dan ekspresi Ummi yang menceritakan tentang gadis bernama Hanna itu jauh lebih semangat daripada beliau yang menanyakan kabarku yang sudah sengaja menghilang selama dua minggu ini.
Meski aku tak percaya, tapi pada akhirnya gadis kereta itu diundang ke rumahku. Bahkan sebagai tamu spesial Ummi. Awalnya aku tak mengira gadis itu akan datang, karena kupikir, gadis itu tidak terlalu bodoh untuk mengiyakan ajakan orang asing yang baru ditolongnya di stasiun.
...----------------...
"Pak Presdir ngapain di sini?" Erwin mengacaukan lamunanku di balkon kamar yang mengarah ke halaman tempat acara diselenggarakan.
Aku menatapnya tajam. "Berisik! Gimana minumannya? Udah bersih semua, kan?"
"Adrian ... Adrian. Gue sampai detik ini pun masih heran sama lu. Rajin ibadah, ngaji bagus, sedekah nggak main-main, kalo amal bisa cuma-cuma. Tapi kenapa lu minum? Padahal lu tahu di agama lu melarang minum begituan."
Aku mengacuhkan Erwin, menghindar darinya dan memilih berjalan ke mini bar. "Gue lebih heran lagi sama lu. Kenapa lu yang katanya 'anak Tuhan' bisa-bisanya ceramahin gue."
"Ya udahlah, terserah lu aja. Mungkin emang belum waktunya lu tobat," pungkas Erwin terdengar putus asa.
Tanganku yang sudah hapal letak masing-masing jenis botol minuman dan peralatan lainnya, dengan ringan mengambil gelas koktail lalu kuletakkan ke atas meja. Aku duduk menanti Erwin yang berjalan mendekat.
"Koktail. Yang ringan aja. Nggak mungkin aku mabuk di depan Ummi," kataku datar.
Tanpa komplain lebih lanjut, Erwin meramu campuran bahan-bahan ke dalam gelas layaknya bartender berpengalaman. Dan dalam dua menit saja, koktail yang kuminta telah siap di depanku.
"Padahal udah sebulan ini lu nggak minum-minum lagi. Gue kira lu nggak akan minum untuk seterusnya." Erwin menggeser gelas tangkai itu ke depanku.
"Emangnya gue ada bilang mau berhenti? Lagian siapa yang bisa bikin gue berhenti?"
"Hanna?" Suara Erwin dengan nada tanya menghentikanku yang baru seperempat jalan mengangkat gelas.
Aku tertawa sampai memukul-mukul meja di depanku. "Hah?! Bocah yang di stasiun itu?"
"Malam ini dia datang loh. Tapi penampilannya nggak seperti yang lu bicarain."
"Maksudnya?"
__ADS_1
Erwin tersenyum mengejek. "Buang dulu minumannya, turun, dan lihat sendiri sana," ucap Erwin berlalu dengan gaya sok keren.