
Aku lantas memberikan ponselku kepada Bunda. “Bun, Nyonya Al-Faruq mau bicara sama Bunda,” kataku.
Setelah menerima ponsel itu, Bunda dan Ummi terlibat dalam perbincagan panjang dengan sesekali diiringi tawa. Karena lama menunggu, akhirnya aku meninggalkan ponsel itu di tangan Bunda. Padahal mereka belum pernah bertemu sekalipun, tapi melalui panggilan suara itu, keduanya sudah terdengar sangat akrab.
Mendekati waktu maghrib, Bunda baru menyerahkan kembali ponselku. Saat kutanya Bunda dan Ummi asyik membahas apa, Bunda hanya tertawa kecil kemudian mencubit kedua pipiku seraya mengucap “Bukan apa-apa kok,” dengan suara lembutnya.
*****
Akhir pekan pun tiba, sedari pagi aku sudah berkecimpung di dapur, membuat berbagai macam kue dengan bantuan Harun. Pukul lima sore, Ummi memintaku mengirimkan alamat rumah kami, hingga beberapa jam ke depan aku semakin tak sabar menyambut kedatangan Ummi ke rumah ini.
Lebih kurang pukul delapan malam setelah melaksanakan jamaah salat isya’ Bunda kembali memeriksa makanan. Sementara itu aku kembali ke kamar, menyelesaikan tulisan fiksiku sembari menunggu kedatangan ummi. Asyik menunggu dan menyibukkan diri dengan keyboard dan komputer, suara mobil memasuki pekarangan rumah membuatku mengakhiri otak yang berimajinasi.
Aku segera bersiap, membenarkan hijab dan gamisku, kemudian bergegas turun untuk menyambut tamu spesial. Baru beberapa langkah menuruni anak tangga, terdengar suara beberapa orang yang kemudian membawaku mundur kembali ke kamar. Aku memakai manset di kedua tanganku baru kemudian turun.
Ternyata benar, Ummi tak datang seorang diri. Beliau datang bersama anak dan menantunya, juga mengajak adik beliau bersama istrinya. Tampak adik beliau selayaknya seorang ustadz dengan wajah tenang berseri. Melihatku berdiri menyambutnya, Ummi serentak memelukku hangat.
“Mashaa Allah … makin cantik aja, Hanna,” pujinya membuatku tersipu.
“Kamu Hanna, ya?” tanya menantu Ummi yang menggendong serta anak perempuannya turut menyalamiku.
Ayah pun menyilakan para tamu untuk duduk di ruang tamu. Belum lama berbincang, aku segera pergi ke dapur untuk mengambilkan minum yang telah dibuatkan oleh Mba. Beberapa saat menunggu sampai teh melati itu jadi, kemudian aku membawa gelas-gelas di atas nampan untuk disajikan.
“Silakan diminum tehnya, ini juga camilan yang dibuat Hanna sendiri,” tutur Bunda menyilakan tamunya, sementara aku menurunkan satu per satu gelas dari atas nampan.
“Assalamu’alaikum warahmatullah.”
“Wa’alaikumsalam ….” Serempak semua orang menjawab salam itu.
Sesaat semua pandangan mata mengarah pada pintu yang sejak tadi terbuka separuh. Termasuk juga aku yang refleks melihat ke arah suara, melihat pada sosok laki-laki berkemeja putih yang berdiri di dekat pintu masuk. Aku segera menurunkan pandanganku ketika tatapan kami sempat bertemu beberapa detik. Mba pun dengan cepat membukakan pintu dan menyilakannya masuk.
“Nah, Ini keponakan saya … Adrian," ucap laki-laki setengah abad itu memperkenalkan pria yang baru datang itu.
“Silakan duduk, Nak Adrian.” Ayah menyilakannya duduk.
Aku segera menyelesaikan aktivitasku, kemudian kembali ke dapur untuk mengembalikan nampan.
"Jadi sebenarnya Nak Adrian inilah yang punya niat baik dan meminta kami mengantarkannya ke mari. Betul begitu?”
“Ah, iya, benar. Maaf saya datang terlambat, kebetulan hari ini ada sedikit kerjaan tambahan, saya Adrian, putra bungsu Ummi,” lugasnya masih terdengar ketika aku berjalan ke bagian belakang rumah.
Setelah mengembalikan nampan ke tempatnya barulah aku kembali duduk di antara Bunda dan Ummi, mengikuti pembicaraan mereka yang mengalir begitu saja. Ummi bersemangat ketika menceritakan insiden kereta hari itu kepada Bunda, bahkan sesekali beliau melontarkan kalimat mengundang tawa di antara Aku dan Bunda. Kekhawatiranku akan pertemuan Ummi dan Bunda pun terkikis habis sampai tak terasa waktu semakin berjalan.
“Jadi begini Pak Darmawan beserta Ibu, dan keluarga, tujuan kami ke mari yang pertama adalah untuk silaturrahmi. Yang kedua, saya mewakili almarhum kakak ipar saya bermaksud untuk mengantarkan keponakan saya ini dalam rangka ingin bertaaruf dengan putri Bapak, Hanna Aleesa.”
Waktu seakan berhenti seketika, kedua tangan dan kakiku berubah dingin. Wajah yang semula tertunduk ini terangkat seketika mendengar kalimat itu diucapkan. Aku memandang pada Bunda dan Ummi bergantian, keduanya menampakkan ekspresi yang sama. Aku kembali menunduk dengan perasaan yang tak dapat dideskripsikan saat itu.
__ADS_1
Ayah yang mendengarnya pun tampak terdiam selama beberapa saat sebelum memulai bicara dan membalas pernyataan itu. Tak bisa ditutupi, ekspresi Ayah menunjukkan betapa terkejutnya beliau ketika mendengar maksud dan tujuan kedatangan rombongan ini. Meski dulunya aku tak begitu dekat dengan Ayah, tapi beliau tetaplah seorang Ayah, dan aku adalah anak perempuannya.
Setelah memperbaiki posisi duduknya, Ayah mulai berbicara. “Secara bahasa, taaruf adalah perkenalan atau saling mengenal. Bagi saya pribadi … dengan senang hati saya menyambut hangat tujuan kedatangan anda beserta keluarga. Lagi pula putri saya memang sudah memasuki usia dewasa. Sebagai seorang Ayah, tentunya saya ingin yang terbaik untuk putri saya." tutur Ayah membalas tenang.
Ayah menatapku beberapa saat. Entah bagaimana, rasanya tatapan Ayah itu memiliki makna dalam hingga hampir memantik air mataku.
"Bilamana tentang niat baik itu sendiri, saya memperkenankan dan meridhai sebagaimana proses taaruf ini akan berjalan. Selebihnya, saya akan serahkan keputusan itu kepada putri saya, biarlah Hanna sendiri yang memutuskan, karena kita sudah saling dewasa untuk menentukan pilihannya masing-masing,” lanjut Ayah.
"Alhamdulillah ... ibaratkan lampu hijau sudah dinyalakan, tinggal kita menunggu bagaimana keputusan dari Nak Hanna untuk selanjutnya."
Setelah malam itu, aku seakan mendapati guncangan batin. Aku terkejut, tak menyangka dan tak percaya akan beberapa hal yang kuhadapi saat itu. Keseharianku kini hanya menulis diary, dan cerita fiksi kacau di macbookku, seraya duduk menghadap ke barat. Selama beberapa waktu, otakku telah penuh dengan Pak Adrian.
Hari-hari terakhir ini, proses taarufku dengan Pak Adrian berlanjut. Semuanya berjalan lancar, bahkan terlalu lancar sampai membuatku takut. Dalam renungan itu, ponselku bergetar, menampilkan nama Garrin di sana.
Kenapa Garrin? Kenapa harus sekarang?
Padahal ia tak menghubungiku sejak kejadian hari itu. Aku agak ragu untuk menjawab panggilan itu, tapi setelah berjalan mondar-mandir mengitari seisi kamar, akhirnya kucoba untuk memberanikan diri mendengarnya.
[Voice Call]
Garrin: Assalamu’alaikum
Hanna: Wa, wa’alaikum
Garrin: Apa kabar Han?
Garrin: Maaf tiba-tiba telepon kamu kayak gini. Aku … mau ngucapin banyak-banyak terima kasih atas kata-kata kamu waktu itu. KAmu benar, Hann. Dan setelah kupikir lagi, bukan kamu alasanku untuk menjadi islam. Keinginan itu sudah ada sejak aku masih SMA. Dan … alhamdulillah minggu lalu aku dan adikku sudah mengucap dua kalimat syahadat.
Kenapa aku diam saja? Harusnya aku turut bahagia menyambutnya. Kenapa aku jadi seperti ini?
Garrin: Aku cuma mau kasih tahu itu sih. Oh ya, soal keluargaku, Alhamdulillah keluargaku toleran, mereka masih menerima kami, bahkan nggak mempermasalahkan status keagamaanku dan adikku. Memang di keluarga besar kami masih ada sedikit kontra, tapi orangtua dan keluarga intiku menerima keputusan kami, asal aku serius dengan agama yang kupegang
Hanna: Alhamdulillah … semoga bisa istiqomah, ya, Rin
Garrin: Makasih, Han … tapi, ada hal lain yang sebenarnya mau aku obrolin. Ini soal kita
Soal kita?
Garrin: Aku mungkin belum mengerti jauh tentang islam, karena itu aku ingin belajar, dan saat aku siap nanti ..., tunggu aku datang ke rumah kamu, ya?
Garrin: Hanna? Kamu mau, kan? Menunggu sedikit lebih saja, sampai aku siap?
Garrin: Hanna?
Hanna: Sorry, ke– kalau yang lo maksud tentang hal ‘itu’ mungkin lebih baik lo ngomong langsung sama Ayah
__ADS_1
Garrin: Iya, aku tahu, aku akan ngomong langsung sama Ayah kamu, aku cuma mau memastikan kamu mau menungguku
Garrin: Halo? Hanna? Kamu masih di sana?
Garrin: Hanna … aku tahu kamu masih di sana, aku tahu kamu masih dengerin suaraku. Aku akan datang ke rumahmu nanti, tunggu aku, ya?
Garrin: Kali ini aku serius, Hanna, bukan main-main. Aku akan datang ke rumahmu. Tapi ... sampai waktu itu tiba, kamu akan menunggu, kan? Bukannya GR, tapi aku tahu kamu akan senang menerima kedatanganku nanti
Garrin: Nggak apa-apa kalau kamu ngak menjawab pertanyaanku, tapi aku akan tetap datang nanti. Tunggu aja, Assalamu’alaikum
[Call Ended]
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balasku lirih ketika panggilan itu telah berakhir.
Aku terduduk di lantai kamar, bersandar pada rak buku seraya memejamkan kedua mataku. Perasaanku campur aduk mendengar suara laki-laki itu. Jantungku tak bisa menutupi debaran tak stabil dan gejolak-gejolak aneh ini. Belum selesai dengan Pak Adrian, sekarang muncul Garrin.
*****
Aku tak pernah sebimbang ini sebelumnya, bimbang bagaimana melangkah dengan benar dan melalui semuanya. Melalui diary ini, aku ingin jujur pada diriku atas lemahnya aku, dan bagaimana aku bisa dibuat bimbang oleh kehidupan dunia.
“Hanna …,” panggil Kak Zahra lirih.
Aku segera menutup buku di tanganku, dan beralih melihat Kak Zahra. Tentu saja sikapku akhir-akhir ini lebih cepat menarik perhatian penghuni rumah ini. Tanpa kusadari aku lebih sering melamun sendirian tiap kali keluar dari kamar.
“Ada yang lain, ya?” tanyanya lirih sembari duduk di dekatku.
“Yang lain? Apanya?”
“Ada yang dekat sama kamu, selain Adrian?” Kak Zahra memperjelas pertanyaannya.
Aku membenahi posisi dudukku kemudian menghela napas panjang, “Aku bingung, Kak. seseorang menjanjikanku akan bertemu dengan Ayah setelah belajar islam lebih dalam. Aku mengenalnya sebagai laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, aku nggak tahu harus gimana.” curhatku.
“Kamu mengagumi laki-laki itu?”
“Dia …, dia sahabat yang baik.”
"Hann, kamu nggak perlu memikirkan sesuatu yang tak pasti hanya karena kamu takut kehilangan sesuatu itu. Pada akhirnya seseorang pasti akan kehilangan apa yang pernah dimilikinya, dan posisi itu bisa tergantikan oleh seseorang yang baru."
Aku menoleh pada Kak Zahra ketika merasa apa yang dikatakan barusan ada benarnya juga.
“Ingat, Hann, seorang laki-laki yang serius dan bertanggung jawab akan menemui Ayah langsung tanpa menjanjikan hal-hal tak pasti kepada wanitanya. Soal perasaan, kita memang nggak bisa bohong, tapi lebih baik lagi Allah yang akan memberikan jawaban dari ikhtiar kamu."
Aku hanya bisa terdiam mendengar kalimat itu. Aku, pada akhirnya harus membuat keputusan terbaik walau akan ada pihak yang tersakiti. Dan melalui istikharahku selama bermalam-malam lamanya, kuharap aku bisa segera mendapat jawaban terbaik.
*****
__ADS_1
Malam yang sunyi, angin berembus menambah sejuk suasana dalam rumah sederhana itu. Aku menunduk dalam, hatiku bergetar merasakan gugup dan takut yang menjadi satu. Bunda yang duduk di sebelah memegang punggung tanganku yang dingin.
"Saya menyelesaikan S1 di Jerman, dan S2 di Amerika. Sebagai anak bungsu, saya diberikan tanggung jawab untuk memimpin perusahaan penerbit warisan almarhum ayah saya. Sesuai amanah ayah saya," jelas pria itu. Tapi suaranya berkali-kali tenggelam oleh pikiranku yang terus bersuara memenuhi kepala.