Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Kembali ke Rumah


__ADS_3

“Ahh! Mas!” Tanganku mencengkeram kuat pergelangan tangan Adrian.


Mas Adrian menoleh seketika. “Kenapa?!” tanyanya tersentak segera menarik tangannya dari punggungku.


“Laper …,” ucapku manja melihat ekspresi terkejutnya yang tampak manis di mataku.


“Aleesa …, kamu tuh bener-bener, ya. Jangan bikin kaget dong. Aku kira kamu kenapa.”


“Kamu temenin makan, yah?” Aku menatapnya berbinar hendak bangkit dari tempat tidur.


“Eh, mau ke mana?”


“Turun. Kan aku mau makan.”


“Udah kamu tunggu di sini aja, biar aku yang turun,” pungkasnya segera mendahuluiku.


“Makasih, Sayang,” kataku tersipu membiarkannya pergi.


Lima menit menunggu Mas Adrian, aku mengambil ponsel hitam yang hampir tak pernah kupegang. Rasanya hidup dengan media sosial sudah bukan lagi masaku. Meski aku tahu terkadang media sosial memberi kita informasi-informasi penting dan aktual, tapi rasanya perbandingan antara hal penting dan tak penting bisa sekitar 1:9. Karena itu, setelah menikah aku justru jarang membuka ponsel, apalagi untuk sekedar mengintip sosmed.


Notifikasi panggilan masuk tepat saat aku hendak meletakkan kembali ponsel itu ke tempatnya. Nama Khadija terpampang di sana, membuatku segera mengangkatnya karena begitu tak sabar mendengar suara itu.


[Voice Call]


Khadija : “Assalamu’alaikum, Hann”


Hanna : “Wa’alaikumsalam warahmatullah,”


Khadija : “Tumben banget kamu online, bisa langsung angkat teleponku gitu.”


Hanna : “Iya, kebetulan ini tadi baru cek HP. Apa kabar?”


Khadija : “Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?”


Hanna : “Alhamdulillah, baik juga kok. Ada apa nih tiba-tiba telepon?”

__ADS_1


Khadija : “Yah …, sebenarnya aku cuma mau cerita sih, itu pun kalau kamu nggak sibuk.”


Hanna : “Nggak kok, ini sekarang aku nggak sibuk. Cerita aja.”


Khadija : “Jadi gini …, kemarin itu, aku iseng-iseng aja ikut tes buat jadi Asisten dosen, dan hari ini tiba-tiba dapat pengumuman, aku lolos kualifikasi dong.”


Hanna : “Mashaa Allah, alhamdulillah …, terus? Terus?”


Khadija : “Dari situ, sebenernya aku bersyukur banget sih, soalnya, kan lumayan. Tapi …, aku, kan udah masuk semester lima. Aku takutnya belajarku jadi terganggu, gimana dong?”


Hanna : “Semester lima, ya? Ehm…, emang nggak bisa kalau jadi asdosnya setahun aja? jadi nanti begitu masuk semester tujuh kamu bisa fokus ke pendidikan kamu gitu. Soalnya sayang sih, mahasiswi pintar dan berbakat kayak kamu sampai nyia-nyia in kesempatan ini.”


Khadija : “Aku nggak sepintar itu juga kok. Tapi iya, aku juga mikirnya gitu. Makanya aku mau curhat sama kamu.”


Hanna : “Kalau menurut aku sih, ya …, aku percaya kamu pasti bisa membagi waktu antara belajar, kegiatan kampus, dan jadi asdos. Tapi keputusan balik ke kamu lagi.”


Khadija : “Iya, Hann. Tapi, kamu belum tahu, ya kalau dua minggu lag–”


Hanna : “Halo? Khadija?”


[LINE Chat]


Hanna Aleesa : Teleponnya putus?


Khadija : Koneksi buruk :((


Khadija : Nanti kalau udah baikan sambung lagi, ya..


Hanna Aleesa : Okay :")


Tadi ngomong apa, ya? Dua minggu lagi? Dua minggu lagi ada apa ya?


Kembali aku membuka menu di ponsel dan mencari kalender. Dua minggu dari hari ini …, sepasang mataku membulat membaca kalender tertanda, “Ulang tahun Garrin WIjaya ke-25,” gumamku lirih walau tak bisa kututupi, aku sedikit terkejut karenanya.


“Makan siang datang ...!” Adrian menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


“Ada apa? Kok mukanya nggak enak gitu?” tanyanya meletakkan nampan ke atas meja.


“Masa sih? Biasa aja kok.”


“Ya udah, ya udah. Nih, kita makan sup salmon buatan kamu tadi. Katanya daging ikan salmon itu mengandung vitamin B6 yang bisa meringankan nyeri datang bulan. Makanya, kamu juga harus merasakan kenikmatan sesungguhnya dari makanan favorit suami kamu.”


“Iya, deh iya. Kamu juga makan nih. Aaaa ….”


Suaranya, tatapannya, senyumnya, tawanya, semua hal yang kasat indera itu sudah cukup menjadi alasan logis sampai aku bisa jatuh hati pada laki-laki ini. Di usia ke dua puluh satu yang umumnya masih sibuk dengan kuliah dan kisah percintaan yang mulai serius, aku justru kehilangan masa itu. Tapi sebagai gantinya, aku mendapat yang lebih baik. Aku mendapat ketenangan, kenyamanan, dan sukacita bersama dengannya.


Tak bisa dipaksa bagaimana anggapan keluarga besar tentangku dan Adrian, aku sudah tak ingin peduli dengan hal itu lagi. Karena sederhananya kebahagiaan yang kami rasa tak perlu dipertontonkan untuk membuat mereka semua paham akan indahnya perasaan dalam sisi kehidupan yang diberikan Tuhan untuk setiap makhluk-Nya.


Dari hujaman rasa sakitku hari ini, pada akhirnya pun Tuhan menciptakan senyuman di tengah-tengahnya. Rasa takutku dulu, pada akhirnya pun Tuhan memberikan seseorang yang menenangkan jiwaku di waktu yang tepat. Jadi, untuk apa aku menyimpan kekesalan?


Tiga hari dua malam aku dan Adrian berada di rumah Ummi. Selama itu, yang kulakukan hanyalah membantu Ummi mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti biasa yang kulakukan dulu. Rasanya menyenangkan, terlebih Ummi merasa sangat terbantu dengan kehadiranku selama waktu itu. Hingga ketika hendak pulang ke rumah, rasanya jadi sedikit menyisakan berat, dan tertahan. Namun pada akhirnya, memang kami harus kembali ke rumah kami.


Sejak tiga hari tinggal di rumah Ummi, Mas Adrian berhasil mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan jasa konstruksi. Adrian yang kutahu lulusan dari Technische Universtität Berlin ternyata memiliki gelar B.Sc dari pendidikan Architecture. Dengan ijazahnya itu, ia diterima di salah satu perusahaan jasa design konstruksi yang bertempat tak jauh dari tempat tinggal kami.


“Doa-in, ya, semoga pimpinan perusahaannya suka sama designku, dan aku bisa segera kerja jadi bagian dari perusahaan jasa itu.” Ujar Adrian fokus dengan kemudinya.


“Aamiin. Inshaa Allah, ya.” Balasku diiringi senyum.


“Semoga, dari pekerjaan ini juga, aku bisa mengembalikan lagi apa yang pantas kamu dapatkan.”


“Apa sih …, kamu selalu pembicaraan dibawanya ke sana-sana lagi. Kan aku udah bilang aku nggak masalah soal itu.”


“Iya, iya, maaf. Kamu kalau lagi datang bulan sensi banget, yah? Gemes deh,” cetusnya mengalihkan pembicaraan.


“Bulananku udah selesai, kok,” gumamku lirih seraya mengalihkan pandangan ke luar kaca mobil.


Setelah melewati perjalanan panjang nan melelahkan, akhirnya rasa rinduku dengan rumah sederhana di lahan 12 × 15 meter itu terobati. Mas Adrian segera memarkirkan mobil setelah aku turun untuk membukakan pagar dan pintu garasi. Hampir saja aku mengeluh karena hidup sedemikian sulit setelah tiga bulan merasakan hidup mewah.


Tapi portofino hitam yang masih terparkir di sana membuatku kembali mengucap syukur. Andainya Mas Adrian mau menjual mobil itu, kita masih bisa bertahan hidup beberapa tahun ke depan tanpa perlu mencari-cari pekerjaan. Sayangnya Mas Adrian yang keras kepala itu bersikeras tak ingin menjualnya karena itu adalah hadiahku. Padahal sekarang mentalku menciut hanya untuk membawanya keluar dari garasi rumah ini. Salah-salah, aku bisa kena begal karena membawa mobil itu untuk belanja ke mini market.


"Mikirin apa lagi, sih? Nggak baik memendam sesuatu sendirian."

__ADS_1


__ADS_2