Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Boleh?


__ADS_3

Adrian menanggalkan bajunya, memperlihatkan otot-otot yang terbentuk di tubuh itu. Padahal kemarin ia juga telanjang dada, tapi kini kegugupanku semakin menjadi karena kata-kataku siang tadi. Ia berjalan mendekat dan duduk di sebelahku seperti ketika kami membahas keuangan kemarin malam.


“Lagi apa, Sayang?”


"Baca buk-" lagi-lagi bibir itu sudah memotong kalimatku.


Dengan cepat Adrian mengangkat tubuhku, mendudukkanku di pangkuannya tanpa melepas pagutan di bibirku. Tangannya berusaha melepaskan buku yang kupegang erat di tangan kiriku. Ia kemudian memindahkan tanganku pada lehernya dan meneruskan ciuman yang membuatku berdesir dan menimbulkan gejolak aneh seperti kupu-kupu yang beterbangan dalam perut ini.


Laki-laki itu melepas ciuman panas yang baru pertama kali kurasakan, lantas berpindah ke leherku. Bibir itu mencecap kulit di sekitar leher hingga dada. Membuat napasku tertahan. Aku menggigit bibir bawah untuk menahan suaraku, napasku semakin sesak merasakan tiap sentuhan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


“Why are you so beautiful like I wanna eat you no matter what.”


Sementara Adrian mengeluarkan semua kata-kata rayuannya yang menyihirku, tanpa kusadari kini posisi kami telah berubah. Adrian merebahkan badanku, sementara satu tangannya menahan pergelangan tanganku di atas kepala. Tubuh Adrian menindih di atasku, dan satu tangannya telah menyelinap ke dalam baju yang kupakai. Sentuhan tangannya di perutku membuatku merasakan getaran itu lagi.


"I want you, now," bisiknya ketika satu tangannya itu berhenti di depan kancing baju piyama teratasku.


Dengan napas yang terengah, aku hanya bisa mengangguk pelan dan menggigit bibirku sendiri. Membiarkan Adrian meneruskan aktivitasnya setelah mematikan lampu utama kamar dan menyisakan lampu tidur di kanan dan kiri ranjang.


Ia tersenyum dengan mata yang tak lepas menatapku sampai akhirnya kami benar-benar merasakan nikmatnya ibadah. Untuk pria yang melajang selama tiga puluh lima tahun dan akhirnya menikah, kurasa aku memang harus lebih siap untuk menjadi ladang pahala baginya.


"You’re so sweet, honey," ucapnya sembari mengecup puncak kepalaku.


Tindakannya yang dewasa dan pengertian benar-benar membuatku terpesona setiap waktu. Bukan hanya karena usianya empat belas tahun lebih tua dariku, tapi sikapnya yang tegas dan juga memikirkan perasaanku menjadi daya tarik seorang Adrian. Di sisi lain, pria ini juga vampir yang hobi mencecap bahkan membuat tanda di hampir seluruh bagian tubuhku.


Setelah membersihkan badan masing-masing, kami kembali ke tempat semula. Adrian membuat posisi kami saling berhadapan dan membawa tanganku berhenti di dada bidangnya. Kami tertidur dengan posisi seperti itu hingga pagi datang menyambut dua manusia yang telah melakukan ibadah pertama mereka itu.


Setelah semua yang baru saja terjadi antara aku dan Adrian, aku tak bisa melihatnya atau menatapnya. Secara alam bawah sadar, otakku mengatakan untuk menghindarinya. Canggung, tapi seperti ada rasa lain yang tak pernah kurasakan, sebuah rasa tenang. Hati yang berdebar dan canggung, tapi juga diiringi rasa nyaman dan tenang benar-benar membigungkan.


Pasalnya aku bahkan tak pernah merasakan seriusnya berpacaran, dan seakan ini pertama kalinya untukku bersama dengan seorang pria yang empat belas tahun lebih tua dariku. It feel so weird, but I love it, not gonna lie.


"Hari ini sarapan apa?" tanya Adrian tanpa rasa canggung.


"Na, nasi goreng jawa, Pak," ucapku seraya menyajikannya.


Adrian menatapku cukup lama, "Masih dipanggil 'Pak' ternyata," ujarnya terkekeh.


Suasana pagi itu sangat canggung setelah Pak Erwin datang mengisi kulkas kami. Di meja makan pun, saat sarapan jadi terasa kaku meski Adrian mencoba untuk mencairkan suasana. Aku sendiri gagal meski telah berkali-kali mencoba untuk tampak baik-baik saja dan membangun suasana yang santai antara kami berdua.


"Kakakku mau datang hari ini, enggak apa-apa, kan?" Adrian bersuara disela-sela kami mencuci peralatan makan yang baru saja kami gunakan.


"Kakak ipar?” Aku bertanya pelan.

__ADS_1


“Iya, sama istri dan anaknya juga.”


“I, iya ... enggak apa-apa dong, Pak, ini kan rumah kamu," balasku cepat.


"Rumah kita," sela Adrian seraya menarik pinggangku merapat tanpa jarak kepadanya.


"Iya, itu maksudku."


"Kamu sakit? Kok kamu jadi aneh pagi ini? Padahal semala-" Aku segera membungkam mulut Adrian dengan tanganku.


"Ja ... jangan dibahas dulu, Pak," ujarku lirih seraya menunduk dalam.


Pria itu melepaskan bungkaman tanganku di mulutnya, ia mengangkat tubuhku duduk ke atas meja kabinet dapur, membuat jantungku kembali melompat-lompat tak menentu. "Masih sakit, ya?" Ia memeluk pinggang rampingku, seraya meletakkan kepalanya di atas pangkuanku. Jelas sekali ia melihat ke arah bagianku yang dikoyaknya malam tadi.


"E, enggak kok," Jawabku cepat.


“Beneran, enggak sakit?” tanyanya membuatku inisiatif mengangguk dan memaksakan senyum untuk meyakinkannya.


"Kalau gitu ... nanti malam lagi, ya?"


“Hah?!!”


Spontan aku melihat Adrian dengan mata melotot karena kaget tak menyangka pria itu akan mengatakannya dengan begitu mudah. Tapi sesaat kemudian gelak tawa keluar dari mulutnya itu sembari memukul perutnya sendiri. Ia menertawakan keterkejutanku, sekaligus tak percaya aku akan begitu cepat menganggap serius kalimat yang asal diucapkannya untuk menggodaku itu.


"Bapak suka banget lihat saya kaget," decakku kesal.


"Aku lebih suka melihatmu berekspresi seperti semalam," sahutnya kembali membuatku menunduk malu.


"Besok ... kita jalan, ya? Kita beli kebutuhan pribadi."


"Kebutuhan pribadi?" aku mengernyitkan dahi.


"Iya, pakaian, make up, parfum, tas, sepatu, jam tangan, dan ... apa pun yang kamu butuhkan."


Aku diam beberapa saat sebelum menanggapi ajakan Adrian. "Tapi saya kurang suka sesuatu yang terlalu berlebihan, Pak."


"Apanya yang berlebihan? Semua wanita suka dibelikan barang-barang mahal."


"Sepertinya Bapak sudah terlalu banyak bertemu wanita. Bapak sampai hapal apa yang benar-benar wanita inginkan."


Adrian tercekat beberapa saat. "Jangan salah paham. Aku belajar dari Erwin, bukan dari pengalaman. Kamu satu-satunya wanita yang pernah dekat denganku."

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku tidak perlu semua itu, Pak."


"Huuft. Aku cuma mau beliin apa yang kamu butuhkan, Aleesa. Kamu nggak boleh menolak suamimu."


Aku mengangkat tangan kananku, menggerakkan jari-jariku. "Wanita lain akan melihat ini sebagai berlian yang mahal, atau perhiasan yang berharga. Tapi bagiku, ini hanyalah benda biasa. Benda biasa yang memiliki arti dalam. Tak hanya tentang objek yang berkilau, tapi ini adalah bukti bahwa ada manusia yang berhak atas diriku dan kehidupanku. Karena aku bukan wanita lain, dan aku berbeda dari mereka."


Pak Adrian memperhatikan tiap kata yang keluar dari bibirku dengan seksama. Lantas ia mengangguk dan tersenyum ketika aku berhenti berbicara. Tapi tanpa peduli dengan apa yang kukatakan, kejadian semalam terulang kembali. Bibirnya dengan cepat menangkap bibirku dan ********** hingga kami saling berebut oksigen di ruang makan yang hening.


Ia pun melepas pagutannya, mengatur napas besar-besar, kemudian berbalik badan tanpa mempedulikan reaksiku. "Besok kita akan tetap pergi. Ini permintaan dari suamimu." Adrian tersenyum meninggalkanku terduduk di atas meja kabinet dapur.


Pukul tiga sore, rumah mewah yang biasa sepi itu kedatangan tamu. Sepasang suami istri yang membawa serta putri mereka, gadis cantik berusia empat tahun. Rupanya mereka datang bukan dengan tangan kosong. Pria tiga puluh tujuh tahun yang tak lain adalah kakak iparku membawakan sebuah bingkisan untuk adiknya, sementara sang istri juga memberiku bingkisan dari tas berbeda.


Karena mereka meminta kami untuk membukanya nanti, kami pun hanya duduk berempat di ruang tamu sembari bercerita. Elena, putri kecil mereka itu tampak sangat akrab dengan Adrian. Adrian juga tampaknya tak merasa terganggu dengan Elena yang terus mengusiknya. Aku yang melihat dua makhluk menggemaskan itu saling bercengkrama hanya bisa tersenyum dan sesekali tertawa.


Setidaknya kehadiran kakak ipar ke rumah ini sedikit meruntuhkan kembali dinding canggung antara aku dengan Adrian setelah kejadian semalam. Menuju waktu makan malam, aku dan Adrian menyiapkan makan malam untuk kami, juga kakak ipar. Awalnya aku meremehkan kemampuan Adrian ketika memegang alat-alat masak. Tapi rupanya kemampuannya tak bisa dipandang sebelah mata.


Setelah makanan tersaji, kami berlima pun menyantap makan malam bersama. Baru sekira pukul delapan malam, Elena telah tertidur pulas dan kakak ipar pun pamit pulang. Kami mengantarnya hingga ke depan pintu, melihat hingga bayangan mobil hitam itu menghilang.


"Aku enggak tahu kalau Bapak jago masak juga," pujiku lirih.


"Aku sempat tinggal di Jerman dan Amerika, kalau aku enggak bisa masak, mana mungkin aku pergi ke restoran Asia setiap hari."


"Wah, masa kuliah Bapak itu … udah lama dong, ya? Sejak kapan Bapak bisa masak sendiri?”


"Aku mulai masak sendriri ... sekitar 17 tahun yang lalu," jawab Adrian mengingat.


Tiba-tiba tawaku pecah setelah tak kuat lagi mulut ini menahannnya. Adrian melirikku aneh kemudian mengajakku kembali masuk ke dalam rumah. Sampai masuk kembali ke kamar pun tawaku belum juga usai, membuat Adrian berinisiatif menanyakannya.


"Ada apa sih, ketawa?" tanyanya dingin.


"Bukan apa-apa," uraiku.


"Curang, kasih tahu dong ...." pintanya merajuk.


"Tapi janji dulu Bapak jangan marah, okay?"


"Iya janji," timpalnya dengan cepat mengiyakanku.


"Jadi ... tadi itu aku lagi bayangin, kalau tujuh belas tahun lalu Bapak udah bisa masak sendiri, sementara aku … tujuh belas tahun lalu masih seusia Elena," ungkapku kembali menahan tawa.


"Oh, jadi kamu mau bilang kalau jarak usia kita ini jauh? Gitu?"

__ADS_1


"Enggak gitu juga, Pak ... Tapi, memang faktanya begitu sih," tambahku sambil meneruskan tawa.


"Jadi kamu nyesel nikah sama orang TUA kayak aku gini?" tanyanya berubah serius.


__ADS_2