
"Udah semuanya, kan?"
"Udah. Ini yang terakhir."
"Ya udah. Buruan gih, itu Pak Erwin udah nunggu, kan, di depan?"
Adrian menatapku dalam, sekali lagi meminta pelukan hangatku sebelum kami berpisah untuk satu bulan lamanya. Melepasnya pergi sebulan ke negeri orang membuatku tak siap membayangkan betapa beratnya rasa rindu. Jarak yang memisahkan dua jiwa, tapi aku harus percaya bahwa hati ini akan kuat menahannya sampai ia kembali.
Beberapa hari sebelumnya ...
"Bu, Pak Adrian sedang dalam perjalanan ke mari," ujar Mba Rina mengingatkanku.
Aku kesal karena Adrian yang awalnya telah sepakat untuk menemaniku di pertemuan terakhir parenting class, akhirnya membatalkannya. Setelah itu ia berjanji akan menjemputku langsung ke tempat parenting class, dan sekarang kenyataannya ia terlambat datang. Memangnya harus berapa lama aku menunggunya di sini?
"Kok lama sih, masa dari tadi masih di perjalanan," keluhku kesal.
"Anu Bu..., maksud saya Pak Adrian sedang berjalan menuju ke mari. Untuk menjemput anda. Saya akan keluar lebih dulu."
"Ehh?!" Aku berdiri dari tempat duduk yang biasa jadi tempatku menunggu. Benar saja, pria itu dengan t-shirt santai tapi terlihat elegan, menghampiriku.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Untuk sesaat aku terpesona dengan penampilannya itu sampai lupa mengatakan apa yang ada di otakku.
"Kamu ngapain ke sini?" bisikku beberapa saat kemudian.
"Jemput kamu lah. Emang ada keperluan lain selain itu?"
"Iih, malu-maluin. Nggak usah pake masuk ke sini segala dong. Jemputnya, kan di dalam mobil aja bisa, atau tunggu di depan."
"Bumil ini kerjanya ngomel-ngomel terus, ya? Udah ah, ayo cepetan pulang. Sini biar ku bantu."
"Oh, yang datang tadi suaminya Hanna? Tampangnya bule gitu."
"Iya, pake apaan sih dia bisa dapetin laki sekeren itu."
"Tapi biasanya kalau keren gitu duda ih."
"Huss ..., kalo ngomong jangan kebablasan deh. Ini kan udah hari terakhir parenting class, masa iya sampai akhir pun kita masih ngobrolin kejelekan Hanna."
"Ya udahlah ya, yang penting sekarang udah nggak pada penasaran sama suaminya Hanna lagi."
Iya, pastinya. Bisik-bisik itu masih ada sampai hari terakhir. Tapi setidaknya pembicaraan mereka tak seburuk dengan yang dilakukan di pertemuan sebelumnya. Aku pun hanya perlu mengabaikan omongan mereka saja kali ini.
Setelah selesai parenting class, Adrian mengajakku berbelanja pakaian untuk baby. Karena beberapa waktu lalu sudah cukup dengan berbelanja keperluan seperti perkakas, dan juga renovasi kamar untuk baby di sebelah kamar kami, kini giliran belanja pakaian-pakaian. Karena sengaja tak menanyakan jenis kelaminnya, kami pun banyak memilih barang-barang berwarna kuning untuk baby. Pikirku, warna kuning akan sesuai untuk laki-laki ataupun perempuan.
"Sayang, kita ambil ini, ya?"
"Loh? Tunggu, tunggu. Kamu ..."
"Kenapa?" tanya Adrian melihatku.
"Kita, kan, belum tahu baby-nya cewek atau cowok. Kok kamu bisa-bisanya kepikiran buat beli baju ini? Atau jangan-jangan ..., kamu curang ya, udah tanya ke Dokter Jennie soal jenis kelaminnya?"
"Enggak kok. Ini cuma feelingku aja, baby girl ada di dalam sana. Lagian bajunya cute banget kan? Ambil ya?" katanya meminta persetujuanku.
"Terus kalau ternyata baby boy, gimana, Pak Suami?" aku balik bertanya heran padanya.
"Ya udah, buat adiknya lagi aja tahun depan," celetuknya ringan. Mengundang tawa Mba Rina dan Hugo yang turut mengantarkan kami berbelanja.
"Heh?! Kalo ngomong, ya, suka sekenanya sendiri."
__ADS_1
"Loh? Nggak mau?"
"Astaghfirullah ..., Nak, jangan contoh Papa yang begini, ya. Kamu harus jadi anak yang selalu memikirkan perasaan orang lain, dan nggak becanda soal hal-hal penting seperti ini."
"Tapi, Nak ..., Papa mau beliin baju ini buat kamu loh. Masa sama Mama nggak boleh." Timpal Adrian tak mau kalah.
Aku menghela napas panjang. "Ya udah ...."
Akhirnya, satu baju baby girl berwarna merah muda itu pun masuk ke keranjang belanja kami. Ia tampak begitu semangat membeli berbagai barang berwarna merah muda, seakan tahu kalau baby benar-benar seorang perempuan. Tapi, mau bagaimana lagi, dasar kemauan Pak Suami yang keras kepala ini tak mungkin bisa ku bantah sedikit saja.
Kami berkeliling memilih berbagai barang dan keperluan lain, sampai akhirnya memutuskan untuk pulang setelah belanja hari ini cukup. Ketika sampai di rumah, kami mendapati Ummi dan Bunda telah duduk-duduk di ruang tamu dan mengobrol santai menunggu kedua anaknya yang hampir seharian pergi belanja keperluan calon baby.
Dan rumah kami yang sekali lagi harus direnovasi untuk pemasangan connecting door yang menghubungkan kamar kami dengan kamar tidur baby. Semakin menambah ramai suasana rumah. Adrian lantas meminta Hugo, Mba Rina dan lain untuk membereskan belanjaan kami, sementara kami berdua duduk menemani Ummi dan Bunda mengobrol di ruang tamu.
"Jadi, sampai sekarang belum ada yang tahu jenis kelaminnya nih?"
"Belum, Bunda. Kami maunya tebak-tebakan aja."
"Iya, biar makin seru, kan kalau pada penasaran."
"Dasar kalian ini. Kakek dan Neneknya kan juga pengen tahu lebih dulu, biar bisa kira-kira mau belikan hadiah apa."
"Iya, loh. Kalau begini, kita jadi nggak tahu harus siapkan hadiah apa."
"Hadiah terbaiknya aja, doa untuk Aleesa, Bun, Mi." Adrian merengkuh tubuhku.
"Kalau doa mah nggak akan lewat. Udah wajib kalau itu."
"Pak, ada kakak anda menunggu di luar." Pak Erwin setengah berbisik memberitahu Adrian.
Adrian lantas berdiri dari sofa, berjalan cepat mengikuti Pak Erwin ke depan. Lima menit berlalu, ia tak kunjung kembali. Dan rasa penasaranku pun semakin memupuk. Karena penasaran semakin tak terkendali, aku pun menyusul Adrian ke depan. Belum sampai di tempat Adrian dan Kak Danar berbincang, aku sudah bisa mendengar suara mereka berdua.
"Dua puluh milyar nggak kecil untuk diberikan secara cuma-cuma. Aku tahu keuangan pribadimu juga nggsk bisa begitu diandalkan." Suara Kak Danar agak meninggi.
"Ingat, sebentar lagi kamu akan jadi Ayah, Adrian. Akan ada banyak kebutuhan dan kepentingan lain yang harus lebih kamu prioritaskan."
"Iya aku tahu. Tapi kita juga harus beri kesempatan sepupu untuk memperbaiki diri. Aku yakin ini semua bukan sepenuhnya salah sepupu."
"Memang bukan sepupu. Tapi siapa otak di balik korupsi uang perusahaan? Kepada siapa uang itu mengalir? Kita nggak bisa percaya meskipun statusnya adalah keluarga. Aku udah terlanjur hilang kepercayaan untuk membiarkan sepupu menduduki posisi penting di perusahaan itu lagi."
"Aku nggak akan memecat siapapun, semua berhak diberikan kesempatan kedua. Udahlah, Kakak tenang aja, aku bisa tangani sampai di sini." Adrian berlalu dengan nada amarahnya.
Setelah cukup lama menyimak, aku pun keluar dari tempat persembunyian mendatangi Kak Danar. "Maaf, Kak, aku nggak sengaja mendengar percakapan Kakak dan Adrian."
"Hanna? Ah ..., iya, nggak apa-apa sih. Jadi ..., kamu udah dengar semuanya, ya?"
"Ehh! Enggak kok. Cuma sebagian kecil."
"Huuuft. Adrian memang selalu seperti itu sejak dulu, percaya diri dan memberi kesempatan kedua untuk orang yang jelas bersalah. Yang membuatku tidak suka, ia hanya akan diam meski tahu sedang dimanfaatkan. Bagaimana mengatakannya, dia sama sekali tidak peduli dengan berapa uang yang ia keluarkan demi orang lain. Dia selalu punya cara untuk mengubah mereka menjadi lebih baik dan mempekerjakannya lagi, bukan sekedar mengakhiri hubungan dengan mereka yang terlibat dalam penggelapan ini."
"Sepupu kami, yang mengurus perusahaan di Vancouver. Adrian sudah tahu kalau dia tidak bisa diharapkan, tapi ia tetap berikan kesempatan kedua. Setelah kuberikan saran untuk menerima bantuan kerjasama dengan salah satu partner lama kami, Adrian tetap bersikeras menolaknya."
"Ah, begitu. Baiklah. Aku sudah tahu garis besar masalahnya. Terimakasih Kak, sudah menceritakannya padaku."
"Yah. Kupikir tak ada salahnya kalau kamu juga tahu tentang ini. Mungkin kamu punya solusi untuk masalah ini dari perspektifmu sendiri."
Benar, aku harus menggunakan otak dan pengetahuanku selama sekolah untuk saat-saat seperti ini, bukan?
"Tolong bantu Adrian, ya. Disaat seperti ini, hanya ucapan dari orang-orang yang dia percaya yang mau didengarkan. Aku sendiri bukan kakak yang dekat dengan adiknya, jadi dia tidak mudah percaya denganku. Aku ..., pamit dulu, Erika sudah menungguku di rumah."
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan."
__ADS_1
Malam hari, ketika suasana rumah sudah jauh lebih sepi, dan hanya tersisa aku dan Adrian, aku membuka obrolan mengenai perusahaan. Ia membenarkan bahwa keluarga Lubis menawarkan bantuan mereka untuk mengatasi masalah saat ini, dan Adrian terang-terangan menolak. Sontak hal ini membuatku merasa marah dan kepalaku penuh dengan tanda tanya, "KENAPA?"
"Ayolah Mas. Kalau kamu menolak tawaran keluarga Lubis, aku ingin tahu alasannya." Cecarku terus mengikuti ke mana ia berjalan.
"Karena itu keputusanku, Aleesa."
"Iya, aku tahu. Tapi keputusan itu pasti ada dasarnya, kan? Tolong kasih aku alasan yang jelas, supaya aku nggak berpikir macam-macam tentang keputusan kamu ini."
Adrian bernapas dalam-dalam. Ia lantas memegang kedua bahuku, mendudukkan ku di sofa kamar. "Aku akan jelasin alasannya, tapi janji kamu nggak akan marah, okay?"
"Iya, nggak akan marah. Jadi, kenapa?"
"Keluarga Lubis memang menawarkan bantuan. Tapi itu semua nggak gratis, ada imbal balik yang aku nggak sanggup menyetujuinya."
"Imbal balik?"
"Iya. Kamu tahu Aria? Wanita yang datang ke sini bersama anak laki-lakinya di malam acara santunan?"
"Wanita yang kamu ceritakan seorang volunteer itu?"
"Exactly. Ayahnya memintaku menikahi Aria. Dan bukan hanya itu, bahkan mereka menawarkan lima puluh persen hak atas saham perusahaannya ke aku, kalau aku mau menikahi Aria." Adrian tersenyum hambar diakhir kalimatnya.
"See? I don't wanna upset you, or worry. This isn't a fair offer for me and for our family."
^^^~ Nah, kan. Aku nggak mau bikin kamu marah, apalagi bimbang. Kesepakatan ini sama sekali nggak adil untukku, dan untuk keluarga kita.^^^
"Terus gimana dong?" tanyaku sewot.
"Ya udah ..., makanya kamu tenang aja. Aku akan ke Vancouver dan semua masalah ini akan terselesaikan."
"Tapi emang kamu masih suka sama Aria? Dulu kamu bilang dia satu-satunya wanita yang istimewa, kan?"
"Kenapa pertanyaannya jadi ke sini sih?"
"Loh emang kenapa? Aku nggak boleh tanya soal Aria dari kamu? Atau kamu ragu ngejawab karena pernyataanku barusan benar? Kamu masih suka sama dia?"
"Eh buset. Kok jadi gini, sih. Enggaklah Sayang ..., mana mungkin sih aku suka sama wanita lain sementara di dekatku udah ada manusia nyaris sempurna."
"Ya udah. Kalo gitu ..., aku punya permintaan."
"Permintaan apa?"
Flashback mode off....
Adrian merunduk di depanku, mengusap penuh kasih sayang, perut buncit itu seraya berbisik pelan. "Nak, Papa berangkat, ya. Kamu jangan nakal. Jangan dulu keluar kalau Papa belum pulang. Okay?"
"Prediksi Dokter Jennie tanggal 19 September aku lahir, Pa ... Papa harus pulang sebelum hari itu, yah," balasku.
"Inshaallah."
"Pak?" Pak Erwin memanggil Adrian setelah ia cukup lama mengucapkan selamat tinggal kepada baby.
"Kamu hati-hati di rumah, ya? Jangan sampai kerja yang berat-berat. Nggak usah dulu lah bikin pastry. Ingat, tinggal enam Minggu lagi."
"Iya, Papa ...."
Senyum Adrian seketika terkembang mendengarku memanggilnya Papa. Aku mencium punggung tangannya, lalu ia berjalan menjauh dariku. Melambaikan tangannya, sampai bayangannya hilang di ujung jalan.
Enam Minggu. Kurasa waktu itu akan sangat singkat untuk kulalui. Ummi, Bunda, Kak Erika, dan Kak Zahra secara bergantian dan rutin datang ke rumah. Nasehat demi nasehat banyak kuserap dari para wanita yang sudah berpengalaman menjadi seseorang ibu. Benar bahwa di trimester ketiga kehamilan, menjadi hal terberat.
Aku sempat mengalami stress karena berat badanku yang naik sampai tujuh belas kilogram. Lengan tanganku yang menggembung, pipi chubby, kaki bengkak, dan perut yang semakin berat namun sadar bahwa tidak ada yang bisa membantu mengurangi beban itu. Leher, punggung, pinggang, yang bisa nyeri di saat bersamaan menambah rasa menyiksa ini semakin lengkap.
__ADS_1
Tak jarang juga, aku harus menangis di malam hari. Pikiranku sering kacau memikirkan bagaimana jika tiba saat melahirkan nanti, dan nyawaku tak tertolong? Bagaimana Adrian akan membesarkan baby dalam kandungan ini sendirian? Bagaimana juga kalau baby bertanya-tanya siapa ibu kandungnya. Ah, lagi-lagi air mataku mengalir deras ke bantal dan selimut.
...---------...