Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
D-Day


__ADS_3

Sore yang cerah berangsur menuju remangnya senja, dan saat itu pula, aku tak bisa segera bangkit dari dudukku di atas sejadah musholla rumah. Orang-orang yang datang ke rumah ini pun kian bertambah satu per satunya. Mulai dari orang yang kukenal, hingga orang yang bahkan tak tahu siapa aku di rumah ini.


Adzan maghrib dari masjid dekat rumah berkumandang tak lama berselang. Aku segera bangkit dari duduk, melepas mukena, mengambil wudhu, lalu sekali lagi sujud pada Sang pemilik hidup dan mati. Tak ada air mata, tak ada isakan dari tiga rakaatku itu. Pun aku menyadari sudah tak ada gunanya aku menangis meratapi kehidupan yang singkat. Semua akan cepat berlalu.


"Emang bener ya, katanya, Rinda nikah sama pemilik rumah ini bukan jadi istri pertama. Tapi jadi istri keduanya loh." Bisik itu mulai terdengar, mengganggu konsentrasiku yang baru mengangkat tangan untuk mengucap doa.


"Loh, loh. Ada apa sama istri pertamanya? Udah tua atau sakit-sakitan gitu?" tambah yang lain.


"Tapi katanya sih, si istri pertama itu dulu nikahnya bukan karena suka sama suka, tapi ta'aruf langsung nikah. Kayak dijodohin gitu. Mungkin sekarang baru kerasa dia, kalau nikah sama orang yang baru lihat-lihatan muka doang aja nggak cukup untuk bangun kepercayaan berumah tangga."


Stigma itu lagi, hadeuh ..., konsep ta'aruf nggak begitu, Ibu-ibu sekalian. Hampir aku berdiri ingin menjelaskan kepada perkumpulan ibu-ibu itu, tapi masih sanggup emosi ini untuk kutahan


"Kira-kira istri pertamanya datang ke nikahan suaminya nggak, ya?"


"Nahh itu. Dengar-dengar dari Bu Rike yang suka ke mana-mana barengan sama tantenya Rinda, istri pertamanya datang loh, bahkan dia udah bikin kesepakatan untuk tinggal serumah sama istri kedua nantinya."


"Diancam gitu sama suaminya?"


"Bisa jadi. Kalau sampai izinin suaminya nikah lagi, pasti dia nangis-nangis sekarang. Eh, nanti kalau ketemu sama wanita yang matanya sembab kasih tahu, ya. Kali aja itu si istri pertamanya. Jujur, saya penasaran pengen lihat istri pertamanya yang mana."


"Aduh, ada-ada aja Bu Melly ini."


"Tapi, sebenarnya saya masih penasaran loh, kalau Karinda cuma jadi istri kedua, kenapa keluarga Pak Herman setuju aja, malahan girang banget, ya?"


"Tahu sendirilah, Bu ... Kalau nggak mapan urusan finansial, mana mungkin keluarganya mau. Secara, dari dulu kita juga tahu kalau Pak Herman itu gali lubang tutup lubang. Malahan aku kasihan sama Rinda yang dimanfaatkan terus demi kepentingan Pamannya."


Cukup! Jangan menjelek-jelekkan Khadija dan keluarganya di sini! Aku berdiri pelan, berjalan kesal ke arah kerumunan manusia yang bergosip itu. Tak bisa lagi didiamkan begitu saja.


"Tapi Karinda itu posisinya bukan sebagai orang ketiga, kan? Jangan-jangan dia yang-"


"Cukup, ya! Nyonya Khadija atau yang kalian sebut Karinda itu sebentar lagi akan jadi nyonya di rumah ini! Kalau kalian nggak suka, silakan, kalian bebas untuk keluar dari rumah ini. Bahkan mulut busuk kalian nggak berhak menyebut nama Nyonya Khadija." Mba Puput datang langsung pada kerumunan ibu-ibu itu. Entah ia sudah mendengar sejak kapan, tapi ia benar-benar marah karenanya.


Setelah mengeluarkan belaannya kepada Khadija, Mba Puput segera pergi meninggalkan musholla. Keempat ibu-ibu yang tadi pun tak banyak bicara lagi. Atau lebih tepatnya mereka lebih hati-hati dan melanjutkan perbincangan mereka dengan saling berbisik lirih satu sama lain sampai keluar dari musholla.


"Nyonya! Ternyata anda di sini." Suara Mba Rina mendatangiku.


Aku masih berdiri di tempat yang sama, melihatnya melangkah mendekat. "Daritadi aku di sini."


"Tuan mencari anda, Nyonya. Sejak adzan ashar, beliau belum bertemu dengan anda. Sepertinya Tuan sangat khawatir," ungkapnya.


"Terimakasih. Aku akan mencari Adrian," balasku beranjak pergi.


"Maaf Nyonya .... Sebelumnya saya mohon maaf sekali kalau kata-kata saya ini terkesan sok tahu." Aku menghentikan langkahku, kembali memandang Mba Rina.


"Acaranya dimulai setelah salat isya'. Kalau sekiranya Nyonya tidak berkenan hadir di aula, atau ... mungkin ingin suasana baru, saya sudah mencarikan penginapan untuk anda, dan saya siap menemani anda sampai anda berkenan kembali ke rumah ini," lanjutnya lirih.


Aku menghela napas. "Nggak apa, Mba Rin. Aku juga nggak mungkin melewatkan pernikahan sahabatku."


"Kalau begitu tolong bawa ponsel anda kemanapun anda pergi. Jika ada sesuatu yang anda butuhkan, saya akan segera datang."


"Iya. Makasih, ya."


Aku kembali melangkah ke luar dari musholla rumah, melewati bagian samping rumah sampai ke kamarku di lantai tiga. Ayo Hanna, jangan sampai kamu merusak hari bahagia sahabatmu!


Click!

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucapku seperti biasa ketika memasuki ruangan.


Kamar itu senyap-senyap saja, tak ada suara atau tanda-tanda seseorang masuk ke ruangan itu. Setelah kupanggil-panggil nama Adrian pun tidak seorang pun menjawab. Di ranjang dingin itu, aku terduduk menghadap balkon kamar yang mengarah ke pekarangan rumah dan kolam renang luar. Hari yang semakin gelap, seperti pertanda bahwa waktu yang terkikis akan semakin mendekat.


Sepasang mata ini mengarah pada salah satu dinding kamar, di mana foto pernikahan kami satu tahun lalu, terpampang di sana. Dalam balutan gaun putih yang kupakai dan setelan putih yang dipakai Mas Adrian, senyumku terlihat sangat kaku. Itu adalah waktu-waktu paling canggung dan penuh akan kebingungan. Tak terasa setelah satu tahun berlalu, kecanggungan itu bisa runtuh juga.


Oh, bagaimana bisa, pada akhirnya aku mengakui bahwa aku jatuh hati pada pria itu.


Dalam keheranan itu, aku kemudian segera tersadar oleh waktu yang kian berjalan. Masih ada banyak hal yang harus kulakukan. Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap sebelum turun ke aula.


Gemericik air yang jatuh bertolak dengan lantai marmer kamar mandi, menambah sejuknya irama yang melegakan pikiran. Sekitar lima belas menit waktu yang kuperlukan sampai dengan selesai dan memakai kimono di antara tumpukan handuk. Seketika tubuh dan otak ini segar sesaat setelah keluar dari kamar mandi.


"Ehh?!" Spontanitas mulutku mengeluarkan bentuk keterkejutannya.


"Mas Adrian, kok masih di sini? Belum ... siap-siap?" tanyaku memandangi pria itu dari atas ke bawah.


"Kamu juga belum siap-siap," balasnya mendekat.


Aku tertawa kecil. "Kan malam ini kamu main character nya. Udah jam berapa ini ..., harusnya kamu siap-siap dong. Bajunya udah dibawa ke sini, kan sama Pak Erwin?"


"Aku cari-cari kamu dari tadi. Kemana aja sih?"


"Aku di sini, dari tadi."


"Aku takut kamu menghindariku." Tangan kekar itu menarik tubuhku merapat padanya.


Aku tak kuasa menahan debaran jantung, ketika ia memelukku tanpa memperdulikan pertanyaan yang kulontarkan. Ia mengeratkan pelukannya semakin dalam seakan ini pertama kali kita bertemu setelah terpisah selama bertahun-tahun.


"Aku nggak bisa tenang. Tolong tenangkan aku sebentar saja," bisiknya lemah, kemudian menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku.


Aku tak tahu pasti berapa lama pelukan itu bertahan. Jam di dinding kamar telah mengganti menit-menitnya. Mas Adrian baru melepasku setelah terdengar suara adzan isya' dari pintu balkon kamar kami yang sedikit terbuka.


"Kita salat isya' berdua aja, ya," pintanya lirih.


"Tapi kamu-"


"Ya?" Aku lantas mengangguk setuju dan segera mengambil wudhu.


Di sana. Di dalam kamar yang menjadi saksi tawa dan tangisku, momen yang jarang terjadi itu kini terulang lagi. Hampir tidak pernah kami salat jamaah lagi kecuali ada halangan yang memaksa Mas Adrian untuk salat di rumah. Itu pun salat bersama dengan Asisten Rumah Tangga yang lain. Jadi, bisa dibilang ini merupakan momen langka bisa salat jamaah berdua saja seperti ini.


Suaranya melantunkan sura Yusuf dirakaat pertama, lantas berlanjut dengan sura Maryam dirakaat kedua. Sampai selesainya kami salat, dilanjutkan doa dan Mas Adrian segera berdiri lagi untuk melanjutkan salat sunnah dua rakaat. Sementara itu aku berjalan ke arah walk-in closet untuk mengganti pakaian.


Di antara pakaian-pakaian yang tergantung itu, aku melihat setelan bernuansa modern. "Ini yang mau dipakai Mas Adrian?" gumamku lirih.


Tak jauh beda dari yang ia pakai di pernikahan kami dulu. Padahal pakai setelan apapun selalu cocok dengan tubuh atletis itu. Ah sial, mukaku memerah.


"Sayang? Ganti bajunya udah?" Mas Adrian mengetuk pintu dari luar.


Aku mempercepat usahaku memakai gamis putih itu. "Belum, bentar, bentar."


"Oops! Lucky."


Pria itu berdiri di depanku, ia sudah melangkah masuk sebelum aku mengizinkannya. Tatapan mata nakalnya benar-benar hampir membuatku habis kesabaran dan ingin menyakar wajah dengan ekspresi tak berdosanya itu.


"Lain kali jangan lupa kunci pintu, kalau nggak mau aku nyelonong masuk aja."

__ADS_1


"Dasar."


"Sini aku bantu," ucapnya berdiri di belakangku menghadap ke cermin.


"Nggak usah, aku bisa sendiri kok."


"Nggak apa-apa, aku mau bantu."


Aku sedikit tercekat ketika kulit jari tangannya yang dingin bersentuhan dengan punggungku. "Sengaja, ya?" tanyaku menoleh 90⁰.


"Sengaja apanya? Aku cuma bantu narik resleting."


"Udah, kan?"


"Iya, cantik," ucapnya tanpa malu. Kini dengan bangganya ia menempelkan bibir itu di bahu kiriku yang terbuka. Aku melawan sekuat tenaga, tapi tentu saja itu adalah hal yang sama sekali tak berguna. Ia baru melepasku setelah tanda merah tertinggal di sana.


"Sekarang bantu aku pakai baju, okay?"


"Apa sih, jangan manja. Lihat, sekarang udah jam berapa Mas?"


"Ya udah, aku nggak akan turun kecuali kamu yang bantu pa-"


"Ya usah sini buruan. Bawel!" gerutuku kesal.


Satu per satu kancing kemeja koko yang baru dipakai salat itu kulepas. Setelah menanggalkan pakaiannya, berikut aku mengambil kemeja yang telah disiapkan. Dari memakaikan kemeja, mengancingkan, hingga memakaikan dasi semuanya kulakukan sesuai permintaan Mas Adrian. Mungkin karena aku merasa ini akan jadi kali terakhir aku bisa melakukannya untuk Mas Adrian.


Cup!


"Makasih, cantik." Aku tersentak mendengar pernyataan terima kasih yang sangat cheesy sampai membuat merinding.


Aku mendorongnya. "Dasar Om-om genit," kataku kemudian meninggalkan Mas Adrian di walk-in closet.


Tak lupa kuambil hijab senada dengan gamis yang kupakai sebelum keluar dari ruangan itu. Di depan cermin kamar, aku memakai kain itu untuk menutupi rambut ku hingga menjulurkannya menutupi dada. Setelah itu memakai make up tipis, dan yah, I'm ready for it.


"Jangan cantik-cantik, nanti ada yang ngelirik." Mas Adrian memelukku erat dari belakang.


Karena terlalu tiba-tiba, aku sampai tak sempat mengatur napasku. "Mas ..., jangan gitu ah."


"Mas? Tadi siapa yang manggil suaminya pake sebutan 'Om-om genit'?"


"Hey, hey, jangaaan, nanti make up nya rusak."


"Aah, rasanya jadi nggak pengen turun."


"Hush! Yang benar aja kalau ngomong-"


Tok! Tok! Tok!


"Tuan, Nyonya, anda di dalam?" Suara Pak Erwin berdiri di luar pintu membuat Mas Adrian melonggarkan pelukannya.


"Apa sih si Erwin, ganggu aja," gerutunya seperti anak kecil.


"Tuan, Nyonya, bukan bermaksud tidak sopan, tapi penghulu dan tamu sudah siap di aula utama. Bisa kita turun sekarang? Ayah mertua anda, Pak Darmawan juga sudah menunggu anda di lantai dua."


Mas Adrian mendengus dingin. "Iya, sebentar lagi!"

__ADS_1


Setelah kata itu terucap, tak kusangka Mas Adrian menciumku, hampir menghapus seluruh lipstik yang baru kupakai. Kedua tangannya serentak bekerja sama menahan agar aku tak bisa berkutik dari belenggunya.


Jangan begini, Mas! Kalau kamu seperti ini terus, aku akan semakin berat membagimu dengan Khadija.


__ADS_2