
..... Author POV .....
"Tolong berkas-berkas yang masih ada di mobil kamu bawa ke perpustakaan bawah. Nanti malam saya cek lagi. Oh ya, sama presentasi yang mau dibahas besok tolong kirim ke email saya, biar saya cek sekalian."
"Baik, Bu." Agatha pergi setelah membereskan tugasnya.
"Pak Erwin?"
"Iya, Bu?"
"Ada informasi dari rumah sakit?" Tanya Hanna pada Erwin.
Pria itu lantas berjalan ke arah Hanna. "Ada pergantian dokter yang akan menangani Adrian. Kalau anda setuju, keputusan ini segera dilakukan besok."
"Tolong cari tahu lebih dulu tentang dokter yang akan menggantikan. Kalau rekam jejaknya lebih baik, dan lebih senior dari dokter sebelumnya, segera katakan iya."
"Baik."
"Oh ya. Tolong carikan draft akuntansi keuangan bulan Maret. Saya perlu untuk acuan."
"Maaf sebelumnya. Anda akan mengerjakan semuanya malam ini?"
"Iya. Lebih cepat kalau besok sudah jadi, kan, datanya. Jadi yang project kolaborasi dengan Grey company bisa segera wrap."
"Anda tidak lupa, kan, malam ini akan ada acara doa bersama untuk Adrian? Bagaimana anda akan mengerjakan semuanya dalam semalam?"
"Saya bisa membagi waktu."
"Anda tidak akan melewatkan doa bersama untuk Adrian, kan?"
"Saya tetap datang, tapi nanti saya akan izin ke Ummi untuk pulang lebih dulu."
"Oh, sekarang beginilah Hanna yang asli."
"Huh?"
"Iya, sekarang kamu lebih memprioritaskan pekerjaan dan jabatanmu dari Adrian yang sudah sepuluh hari terbaring di ruang ICU. Kamu nggak tahu, selama ini Adrian menilai mu berbeda dari wanita lain, tapi kenyataannya sama saja sekarang."
Hanna tersenyum mendengar kalimat Pak Erwin. "Tidak ada yang memahami saya lebih dari Adrian. Anda tidak akan mengerti."
"Saya berbicara sebagai rekan Adrian. Dan wanita seperti anda ini bukan pertama kalinya ada di hidup Adrian. Saya tidak ingin orang yang ber-"
"ANDA TIDAK MENGERTI! HANYA PEKERJAAN INI YANG BISA MENGHIBUR SAYA DARI TANGISAN SETIAP MALAM DAN RASA PUTUS ASA SETIAP KALI MENDENGAR KONDISI ADRIAN YANG MENURUN!"
Wanita itu akhirnya menunduk. Tangis Hanna meleleh, senyum pahitnya terkembang suram di dalam niqab yang menutupnya. Wanita itu hanya bisa terduduk di lantai marmer yang dingin, mencoba menghentikan lelehan air mata yang tak terkendali dan sesenggukan yang makin menjadi.
Click! Agatha masuk ke dalam ruangan itu dan segera membantu Hanna duduk di sofa.
"Hanna! Kenapa?"
"Aku nggak mau mengingat Adrian yang lemah. Aku nggak bisa melihatnya ada di kondisi itu. Bukan karena aku tergila-gila dengan uang dan jabatan, tapi aku sedang berusaha mengalihkan kesedihanku. Tidak bisakah kalian mengerti itu."
Setelah keadaan cukup tenang, Hanna memilih pulang dengan Hugo. Ia terlalu kesal pada Erwin yang menuduhnya semudah itu dan mengambil kesimpulan tanpa berpikir lebih dalam. Sesampainya di rumah, Asyqar menyambut kedatangannya yang seketika menghilangkan beban dan dendamnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullah, Asyqar udah mandi, ya? Emm, wangi banget."
"Amma!"
"Iya, sini gendong Mama. Tadi Asyqar main sama Mba Rina? Iya?"
"Na! Na!"
"Main apa sama Mba Rina? Oh ..., baca buku ini, ya? Asyqar suka baca buku?"
"Gu."
"Bukunya ada warna apa ini? Biru?"
"Yuuu"
"Iya, biru, yah, warnanya. Terus yang ini warna apa? Warna me- merah."
"Maaf, Nyonya. Ada telepon dari rumah sakit." Lugas Mba Rina menyampaikan pesan itu.
Hanna segera berlari ke arah telepon rumah terdekat dan menerima telepon itu, masih dengan Asyqar di gendongannya.
[Voice Call]
Hanna Aleesa : Halo? Ini saya, Hanna Aleesa.
Rumah Sakit : Selamat malam. Mohon anda duduk tenang lebih dulu, Bu. Kami dari Rumah Sakit Harapan Buana ingin menyampaikan bahwa pasien atas nama Tuan Adrian. Kondisi saat ini, detak jantung pasien semakin melemah. Dokter-dokter terbaik kami tengah berusaha, namun kami ingin meminta anda untuk segera datang demi memilih keputusan terbaiknya.
[Call Ended]
Masih membawa Asyqar dalam gendongannya, Hanna terduduk di lantai. Semuanya luluh lantah, perasaan itu hancur menjadi puing-puing, dan melebur bersama debu. Seperti ini beratnya Allah mengujiku. Entah harus berapa lama lagi aku menangis memohon Allah kembalikan Adrian pada kami.
Mengetahui hal itu, Mba Rina segera menghubungi Hugo untuk mengantarkan Hanna bersama Asyqar ke rumah sakit. Karena sejak Adrian masuk ke rumah sakit, belum sekalipun ia bertemu dengan Asyqar. Tapi kali ini situasinya berbeda. Mungkin hanya Asyqar yang bisa membantu Adrian kuat mengembalikan kesadarannya.
Di dalam mobil, Hanna meminta Hugo menghubungi Ayahnya. Ketika harapan hampir pupus, saat itulah pengecualian tidak berlaku. Setelah cukup sulit tersambung, akhirnya ponsel itu terhubung dengan ponsel milik Pak Darmawan.
[Voice Call]
Hanna Aleesa : Assalamualaikum? Ayah ....
Bunda Hanna : Waalaikumsalam warahmatullah. Hann? Hanna .., Ayah, Hann
Hanna Aleesa : Ayah? Ayah kenapa Bun?
Bunda Hanna : Bunda terpisah dari Ayah, Ayah juga masuk rumah sakit setelah mengeluh dan belum sadarkan diri
Hanna Aleesa : Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'uun. Di, di sini ..., Mas Adrian juga perlu doa Bunda
Bunda Hanna : Ada apa, Nak?
Hanna Aleesa : Hann- Hanna mau minta doa dari Bunda, karena Mas Adrian sudah sepuluh hari ini terbaring di ICU. Hanna takut, Bun ...
Bunda Hanna : Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'un. Allâhumma ajirnî fî mushîbatî wa akhlif lî khairan minhâ. Hanna jangan nangis, ya, Nak. Bunda juga nggak nangis di sini. Bunda akan doakan kesembuhan Adrian. Adrian kuat, kamu juga harus kuat, Nak.
__ADS_1
Satu waktu itu adalah titik terlemah Hanna. Ketika dua orang yang dicintai harus berjuang keras mempertahankan kesadarannya. Tangis Hanna semakin menjadi ketika sampai di ICU dan melihat Adrian yang di kelilingi oleh beberapa dokter.
"Nyonya ..., anda harus sabar. Di sini ada Asyqar, dan Tuan perlu bantuan anda. Anda tidak boleh seperti ini," bisik Mba Rina menguatkan Hanna.
Sesaat berlalu, situasi ruang ICU berubah hening. Hanya sesenggukan yang masih tersisa sesekali bersuara, dengan iringan suara monitor yang terus naik-turun dengan jarak yang amat panjang.
Salah seorang perawat mengambilkan kursi untuk Hanna duduk di samping ranjang. Sementara Asyqar duduk di pangkuannya. Ketiga dokter dan perawat pun keluar, menyisakan dokter Reni yang mengawasi dari jauh jika terjadi sesuatu.
"Appa! Dah! Dah!"
"Iya, Asyqar ..., Papa sedang istirahat. Coba kamu panggil, Papa, Nak. Biar Papa bangun lagi. Biar bisa main sama Asyqar. Mau, ya? Kamu panggil Papa."
"Pah! Appa! Mamamah!" Bayi kecil dalam pangkuan Hanna itu seakan tahu bagaimana perasaan Mamanya. Dengan tangan mungilnya yang baru bergerak kasar, ia mengusap air mata di pipi Hanna. Di sudut lain, Dokter Reni tak bisa menahan air matanya melihat pemandangan sedih di depannya itu.
"Panggil Papa lagi, Sayang." Hanna menggenggam tangan Asyqar dan Adrian sekaligus.
"Asyqar sayang sama Papa ..., Asyqar perlu Papa untuk temani main, belajar, dan tumbuh sampai Asyqar dewasa. Asyqar mau Papa bangun, kan? Panggil Papa, Nak."
"Mamam! Dah dah! Paaa!"
Asyqar terus mengoceh bahasa bayi sampai akhirnya menangis dan sama sekali menolak menyentuh tangan Adrian. Barangkali itu jadi keajaiban Tuhan, jemari tangan kiri Adrian membuat gerakan-gerakan. Dokter Reni pun mendekat dan memeriksa detak jantung Adrian yang kembali menguat.
Sepertinya saraf motoriknya juga perlahan berfungsi meski masih lemah. Tapi itu adalah satu keajaiban Tuhan bagi Adrian. Karena tangisan Asyqar tak berhenti juga, Dokter Reni pun membawa Asyqar keluar, meninggalkan Hanna sendiri untuk terus mengajak Adrian berbicara.
Hanna menggenggam tangan kiri Adrian. "Nggak kerasa, ya? Aku bisa menjalani sepuluh hari tanpa kamu. Tapi masih lebih enak kalau ada kamu. Kamu tahu? Asyqar sekarang udah bisa diajak ngobrol, kamu pasti nggak sabar, kan, mau cerita banyak hal sama Asyqar? Aku yakin Asyqar juga nggak sabar dengar semuuua cerita kamu. Cepat bangun, ya Sayang?" Air mata meleleh mengenai tangan pucat yang digenggamnya.
"Oh ya. Selama kamu tiduran di sini, aku yang gantiin posisi kamu di kantor loh. Aku berangkat dan pulang naik mobil kamu supaya aku bisa punya aura pemimpin seperti yang kamu punya. Aku juga jadi berasa ditemenin sama kamu."
"Mas ..., kamu tahu? Selama kamu tidur di sini, Pak Erwin ceritain kisah tentang seorang laki-laki bernama Adrian yang menikahi gadis kereta tanpa dasar rasa suka. Aku terharu banget dengar cerita itu. Aku juga jadi tahu, kalau ternyata selama ini, kamu adalah pria yang canggung, kadang nggak bisa mengekspresikan perasaan. Tapi .., sebenarnya kamu juga adalah pria yang lembut, dan penuh kasih sayang."
Hanna kembali menggenggam tangan kiri Adrian. "Emm, kamu mau dengar kisah seorang Gadis biasa yang tiba-tiba dilamar oleh Pria mapan dan tampan? Gadis itu awalnya ragu, bahkan hampir menolak lamaran pria itu. Tapi setelah berdoa dan meminta petunjuk Allah, ternyata pria yang melamar itu adalah orang yang tepat."
"Kamu tahu apa yang pertama kali gadis itu pikirkan ketika bertemu Pria itu? Dia takut dan ingin mencoba menjauh. Lalu beberapa tahun berlalu, dan Allah telah membalikkan hatinya. Kamu tahu apa yang gadis itu pikirkan ketika bertemu dengan Pria itu saat ini? Dia takut kehilangan dan ingin pria itu segera kembali padanya."
"Ingat pertama kali kamu gendong Asyqar setelah pulang dari Vancouver? Hari itu aku bahagia setengah mati. Wallahi, kebahagiaan itu masih terasa hingga sekarang. Kamu ingat saat kamu membelaku di depan Ummi karena rumor yang mengatakan kalau aku mandul? Waktu itu aku merasa sangat aman. Rasanya seperti aku ingin kembali ke saat-saat itu. Dilindungi kamu, dan merasa nyaman di dekat kamu."
Hanna terus bercerita tentang masa lalu indahnya. Cerita-cerita bahagia, dan kenangan lama penuh emosional yang akan membantu Adrian segera terbangun. Setelah beberapa jam, akhirnya dokter kembali masuk dan memastikan bahwa Adrian telah jauh lebih baik dari sebelumnya. Pergerakan matanya juga mulai terlihat. Yang artinya, hanya sedikit lagi sampai Adrian bisa kembali bangun.
"Kondisi Tuan Adrian sudah jauh lebih baik. Detak jantungnya kembali normal, dan kalau memungkinkan besok Tuan Adrian sudah bisa melepas ventilator."
"Alhamdulillaahirabbil'aalamiin."
"Besok, lebih baik kalau anda datang kembali, dan mengajak Tuan Adrian berbicara, membacakan buku favorit, atau memperdengarkan musik favoritnya. Saya yakin suara anda dan putera anda bisa jadi pemicu kembalinya kesadaran Tuan Adrian lebih cepat."
"Baik. Terimakasih Dok."
"Sama-sama."
Dokter itu berlalu pergi meninggalkan Hanna. Ia berjalan menuju ke perawat yang tengah mencuci tangan di wastafel setelah keluar dari ruang ICU.
"Kejadian malam ini adalah keajaiban Tuhan. Saya hampir angkat tangan ketika memeriksa detak jantung pasien itu yang sempat hilang beberapa saat."
"Iya Dok. Saya kira pasien itu akan meninggal setelah sepuluh hari berbaring di ICU."
__ADS_1