
Malam semakin larut, tapi lampu kamar bawah masih menyala, pertanda Mas Adrian belum juga selesai mengerjakan desainnya. Satu per satu anak tangga kulewati dengan langkah pelan. Kulihat dari celah pintu yang setengah terbuka, Mas Adrian memegangi kepalanya dengan mata memejam dan mulutnya seperti merapal mantra.
Kalau aku menanyakan kapan istirahat atau menawarkan secangkir kopi, mungkin konsentrasinya akan terganggu. Lalu, kalau aku langsung membuatkannya kopi, bisa jadi Mas Adrian nggak akan meminumnya karena aku nggak tahu apa dia akan istirahat sebentar lagi ataukah begadang sampai desainnya itu selesai.
“Aleesa?” Suara bariton itu memanggil namaku.
“Eh, Mas. Udah selesai? Mau istirahat atau lanjut?”
“Kayaknya lanjut aja deh, nanggung soalnya. Ini mau bikin kopi.”
“Aku bikinin, ya? Kamu lanjut lagi aja.”
“O-okay. Makasih loh, padahal aku bisa bikin sendiri.”
"Nggak apa-apa, kamu balik lagi aja."
Setengah berlari aku menuju ke dapur untuk memanaskan air, sementara itu Mas Adrian kembali ke ruang kerjanya. Beberapa menit menunggu air mendidih, rasanya mataku begitu berat untuk dibuka. Baru ketika aroma bubuk kopi yang diseduh dengan air panas itu tercium, efek kafeinnya berasa hingga sanggup membuat mataku kembali terbuka.
Jarang sekali aku terjaga pukul tiga pagi setelah salat tahajjud jam satu tadi. Bagaimana dengan Mas Adrian yang bahkan nggak tidur semalaman. Apalagi setelah kami marahan kemarin. Mas Adrian pasti cape banget, tapi aku dengan egoisnya malah bikin dia repot berkai-kali.
Maaf ya, Mas …
“Ini Mas, kopinya.” Aku meletakkan secangkir kopi ke atas meja kerja, cukup jauh dari kertas-kertas berisi garis dan gambaran pensil itu.
Tangannya menahan pergelangan tanganku tiba-tiba. “Kamu kenapa nggak tidur lagi?”
“Enggak bisa tidur lagi. Tapi nggak apa-apa, kok. Aku temani kamu di sini, ya.” Aku melihat pada springbed di sudut ruangan itu.
“Tunggu ….” Tangannya masih menahanku pergi.
“Jawab pertanyaanku dengan benar Aleesa. Kamu harus tidur, kalau nggak kamu nggak bisa bangun pagi. Itu mata kamu aja udah kayak mata panda.”
“Aku udah coba tidur tapi tetep aja nggak bisa!” Aku melepas paksa cengkeraman tangan itu.
“Aku nggak bisa tidur karena nggak ada kamu,” lontarku segera memalingkan pandangan.
Tapi yang terdengar justru tawa dari mulut Adrian. “Kenapa tiba-tiba jadi manja begini."
__ADS_1
Mas Adrian menarikku pelan, mendudukkanku di pangukuannya. “Setelah lihat ekspresi manja kamu, gimana aku bisa fokus kerja coba."
Tangan itu mengusap kepalaku lembut, menyelipkan rambut yang menutup sebagian wajahku. "Kalau desainku ini diterima, besar kemungkinan aku akan begadang terus-terusan, bahkan bisa jadi aku nggak pulang selama beberapa hari loh.”
“Kalau gitu aku mau beli teddy bear yang besar aja, biar bisa kupeluk tiap malam sampai pagi.”
“Jadi, keberadaanku bisa digantikan sama teddy bear?”
“Enggak sih, tapi nggak enak tahu, kalau tidur nggak ada yang meluk."
"Sejak kapan kamu jadi kecanduan dipeluk, huh?"
"Nggak tahu ah, aku balik ke kamar aja." Kataku mengangkat tubuh dari pangkuan Adrian.
“Aku belum selesai loh."
Aku melipat kedua tangan di depan dada. “Mau ngomong apa? Bilang aja.”
“Tadi, waktu beres-beres ruagan ini aku nggak sengaja lihat ada beberapa kotak yang aku pindah. Dan, aku sempat lihat ada aju-baju di kotak itu.” Mas Adrian menghentikan kalimatnya, bersamaan pula ketakutanku memuncak.
“I, itu …. Kamu lihat? Aku, aku nggak pakai lagi kok. Itu, mungkin terakhir kali aku pakai waktu di Australia. Itu pun udah lama, aku nggak ada niat mau–”
Deg! Deg! Deg!
“Pa, pakai? Sekarang?”
Jantungku berdebar lebih kencang hingga tak sanggup menahan suaraku yang gemetar. Apalagi melihat Adrian yang mengangguk dengan tatapan menunduk dan telinga memerah.
Lace camisole dress warna hitam, pilihan Adrian tak salah lagi hanya membuatku semakin bernapas panas. Lebih-lebih caranya melihatku dalam balutan dress yang panjangnya hanya sampai pertengahan paha itu seolah-olah aku duluan yang mengundangnya.
Tangan kananku naik ke bahu kiri, memeganginya ketika Adrian makin intens menatap ke arahku. “So, now what?”
^^^Jadi sekarang apa?~^^^
“Can you turn around …, please?”
^^^Bisakah kamu berbalik?~^^^
__ADS_1
Aku mengikuti kata-katanya, berbalik badan perlahan. Aku lupa kapan terakhir kali aku memakai pakaian ini. Dan yang pasti, ini pertama kalinya aku tampil begini di depan Adrian. Sesaat pikiranku benar-benar dipenuhi rasa takut dan debaran hebat yang tak terdefinisikan.
Tanpa kusadari, dapat kurasakan embusan napas Adrian mengenai kulit terluarku. Dengan tangannya, perlahan ia menyibak rambutku ke kanan, ia juga melepaskan tangan kanan dari bahu kiriku. Sentuhan lembut kedua tangannya terasa bergerak dari bahu kanan dan kiri, turun menuju lengan, hingga ujung jari.
“Ahh!” Aku tersentak sembari memejamkan mataku saat kurasakan bibirnya mulai menjamah punggungku yang terekspos, beralih ke bahu kemudian leherku.
“Mungkin kita bisa mengulang yang kemarin?” bisiknya lirih.
“Se, sebentar lagi adzan subuh, Mas. Kamu harus kerja pagi ini, kan?”
Adrian serta merta menarik tangan dan semua sentuhannya dari tubuhku. Ia kembali ke kursinya, terdiam tak bicara sepatah kata pun sampai aku keluar dari ruangan itu. Cukup sulit untuk apa yang sebenarnya Adrian inginkan. Sulit pula mengerti bagaimana cara membuatnya memahamiku.
Mau bagaimana pun, ini adalah jalan yang sudah kupilih. Aku tak akan menyesalinya, dan aku akan menjalaninya, meski perlu waktu yang panjang untuk kami mengerti satu sama lain. Aku juga masih belum menanyakan tentang mantan kekasih Adrian yang sempat disebut Tante Jihan ketika kami bicara di rumah Ummi hari itu.
Tenanglah …, masih ada banyak waktu, dan ini baru permulaan dari hidup yang sesungguhnya.
Aku tak kembali ke kamar karena masih tak bisa memejamkan mata dan istirahat dengan benar. Karena terlanjur tak bisa tidur seperti ini, kuputuskan untuk membongkar barang yang kami bawa sewaktu pindahan, tapi belum sempat ditata ulang. Semua barang-barang itu masih ada di ruang belakang. Ya, karena kebetulan kami belum memerlukan ruang keuarga untuk saat ini, ruangan itu kini jadi tempat penyimpanan barang.
Lalu, album foto pernikahan itu membuatku tersenyum tanpa alasan. Saat aku membukanya, senyumku lebih merekah lagi. Kenapa, ya, aku bisa menerima pria dewasa yang lebih pantas kupanggil “om” karena hampir seusia dengan ayahku itu? Kisah hidup memang lucu, terkadang tanpa kita sadari, kita mulai menyukai apa yang semula tak kita suka.
Lain lagi ketika aku mendapati kotak berisi gaun putih dengan hiasan renda yang anggun. Benda itu mengingatkanku pada rasa takut dan debaran luar biasa yang kurasakan kala itu. Ingat pula pada Ayah yang menangis melihatku duduk di sebelah suami. Ya, itu baru beberapa bulan yang lalu, mana mungkin aku lupa.
Adzan berkumandang tepat ketika aku hendak membawa beberapa benda dari ruang belakang, ke kamar. Langkahku tak sengaja berpapasan di belokan anak tangga dengan Mas Adrian yang siap pergi ke masjid.
“Aku ke masjid dulu, ya,” pamitnya singkat.
“Iya, hati-hati,” balasku tanpa ekspresi.
Setelah beberapa langkah lagi menaiki tangga, rasa tak enak itu mengganjal dalam dada. Aku pun berbalik badan, kemudian berlari mengikuti Mas Adrian hingga berhenti ketika jarak kami hanya beberapa langkah.
“Hari ini mau sarapan apa?” tanyaku, berusaha keras menepis rasa malu.
Mas Adrian berbalik seraya menyunggingkan senyum, “Nasi goreng kayak biasanya aja.”
“Siap, Boss.”
“Aku karyawan biasa, bukan Boss lagi. Assalamu’alaikum.”
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.” Jadilah aku mengantarnya sampai ke pintu depan sembari tertawa.