
Boleh percaya atau tidak, tapi manusia sepertiku ini akhirnya merasakan momen-momen yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku duduk dalam sebuah majelis taaruf dengan detak jantung yang tak teratur. Ternyata maksud dari pernyataan “Saya akan datang ke rumah akhir pekan ini” bisa berakhir jadi sejauh ini.
Bulan Maret lalu usiaku baru genap 21 tahun, dan sekarang aku menghadapi pertanyaan “Siapkah menikah?” dalam kepala dan hatiku sendiri. Namun aku mencoba untuk berusaha menjalaninya, entah ke mana alur ini akan membawaku. Entah selama apa aku akan merasakan suasana seperti ini, aku hanya membiarkan semuanya bergulir dengan keridhaan Allah ta'ala.
Taaruf atau perkenalan yang hanya pernah kubaca dari artikel, novel, dan film, kini kurasakan sendiri. Aku pun sudah mempersiapkan hati, mempersiapkan otak, serta diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. Aku bukan tipe manusia yang spontan, karena itu aku sudah mencari bocoran pertanyaan yang mungkin diajukan selama proses taaruf dari kakak, kemudian kupersiapkan jawabannya.
"Nak Hanna, mungkin ada yang ingin ditanyakan sebelum kita akhiri sesi taaruf kali ini?"
"Iya, saya ... mau bertanya."
"Silakan."
"Kalau saya boleh tahu, apa alasan Pak Adrian memilih saya? Padahal saya hanya gadis biasa, saya juga bukan dari keluarga terpandang. Lagi pula kita belum pernah saling mengenal satu sama lain sebelumnya," ucapku tanpa berani menatap pria itu sedikit pun.
Lirih kudengar Pak Adrian tertawa meski hanya sekilas, "Akhlak dan agama? Mungkin rasanya saya kurnag pantas karena belum begitu mengenal Aleesa, namun sudah menyimpulkan penilaian saya sendiri. Tapi memang benar, saya mengagumi akhlak Aleesa sejak pertama kali bertemu di stasiun, dan kesungguhan Aleesa ingin berislam seperti yang saya dengar dari cerita Ummi saya sendiri. Saya juga mendengar tentang kemampuan intelektual Aleesa yang baik. Selain itu juga, saya ... ah sudah itu saja."
"Sudah? Cukup?" Kami hanya mengangguk setuju.
"Baiklah, kalau begitu dari Nak Adrian, mungkin ada yang ingin disampaikan lagi?"
“Ada, Paman.”
“Kalau begitu silakan segera disampaikan.”
Pria itu mengembuskan napasnya panjang. "Ketika kita hidup di dunia ini dengan raga yang kita miliki saat ini, semua hanyalah fana. Umur hanya sebatas angka. Sedangkan di akhirat kelak kita akan mendapat fisik baru. Saya rasa selisih 14 tahun bukan masalah besar sehingga bisa menghalangi saya untuk melamar wanita yang saya yakini bisa menjadi pendamping saya dunia dan akhirat, kelak. Sudah, itu saja."
"Nak Hanna?" tanya pengantar Pak Adrian melemparkan kesempatan untukku menyampaikan beberapa patah kata.
Masih dengan pandangan tertunduk, aku memejamkan mata beberapa saat, menghirup napas panjang kemudian mengeluarkannya perlahan. Aku menggenggam erat kedua tanganku yang gemetaran sejak tadi.
"Sa, saya masih memerlukan banyak bimbingan untuk istiqomah di jalan islam. Ji, jika ... jika dengan menerima Pak Adrian bisa menghindarkan saya dari maksiat dan dosa, serta Pak Adrian mau menerima saya tanpa memandang latar belakang materi dan usia, saya ... bersedia mewujudkan keinginan Pak Adrian menjadi pendamping dunia-akhirat, dan rumah kami akan senantiasa terbuka untuk menerima kedatangan Pak Adrian."
“Jika demikian, dalam waktu dekat saya akan kembali ke rumah Pak Darmawan bersama keluarga saya untuk mengkhitbah Hanna.”
__ADS_1
“Ahamdulillah."
"Kalau begitu, apakah ada yang ingin disampaikan lagi?"
"Cukup ustadz." Aku menggelengkan kepalaku pelan membalas tawaran paman Pak Adrian itu.
"Dengan begini, mari kita tutup majelis taaruf hari ini dengan bacaan hamdalah bersama dan surotul fatihah."
"Sekian dulu untuk hari ini, terima kasih. wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Setelah melalui malam mendebarkan itu, aku mencoba mengikuti kata hatiku. Aku mencari jawaban dengan istikharah. Karena melihat latar belakang Pak Adrian dari keluarga yang beragama, memang sepertinya inilah jalan yang Allah tetapkan agar aku lebih mudah mempelajari Islam. Ayah-Bunda, kedua orang tuaku memberikanku kesempatan sepenuhnya untuk menentukan pilihanku sendiri. Lebih-lebih saat ini aku telah berusia dua puluh satu tahun. Segala keputusan 'iya' dan 'tidak', semuanya dikembalikan padaku sepenuhnya
Di samping jawaban yang telah kusampaikan malam itu, aku kembali menjalani hidup normalku, dan berusaha seprofesional mungkin untuk menuntaskan interview di perusahaan penerbit milik Pak Adrian. Sebelum berangkat untuk interview terakhir, ketakutan dan gugupku semakin menjadi, mengetahui siapa yang akan kutemui nanti.
Jika dilihat pun, Pak Adrian tampak sangat profesional. Mungkin saja aku akan dibantai habis-habisan di ruang interview nanti. Melihat pelamar nomor urut sembilan yang keluar dari ruangan interview sambil menangis, membuat mentalku kembali menciut. Bahkan tiba-tiba tanganku bergerak dengan sendirinya.
Flashback mode off ….
“Pelamar terakhir, Hanna Aleesa?”
“Silakan masuk ….” Staff itu membukakan pintu ruang interview, mempersilakanku masuk.
“Setelah masuk, anda bisa langsung duduk di depan meja itu. Semoga beruntung, Hanna!” bisiknya pelan membuatku semakin berdebar.
Setelah duduk, aku mengepalkan kedua tanganku yang dingin. Menurut rumor yang beredar, direktur baru AA Publisher adalah orang yang sangat selektif. Bahkan beliau rela turun tangan langsung untuk mewawancarai calon karyawannya. Banyak juga berita yang mengatakan ahwa pergantian direktur ini menjadi titik menuju kembalinya era kejayaan AA Pulisher setelah melalui masa kritis dua tahun lalu.
Jangan lengah Hanna! Direktur AA Publisher juga manusia, sama sepertimu! Aku mencoba menguatkan diriku sendiri di sela tangan yang bergetar.
Direktur utama AA Publisher duduk membelakangiku, tampak ia masih memegang kertas bertuliskan CV dan lampiran yang kubuat. Cukup lama aku menunggu dengan jantung yang melompat-lompat tak karuan. Bahkan asisten yang berdiri di sebelah kursinya itu juga diam membisu, kecuali matanya yang sesekali menatapku dengan pandangan kurang mengenakkan.
“Double degree di Australia?”
“Iya!” jawabku tergugup.
__ADS_1
Pria itu terdengar menghela napasnya. Membuatku terpikir akan kata-kata wanita yang kutemui di toilet waktu itu. "Bagus, CV-nya, dan lampiran yang kamu buat semuanya cukup bagus. Cukup mengesankan."
"Anda terlalu memuji saya, Pak."
"Ah, tidak. Saya rasa kamu punya cukup kompetensi untuk berada di sini."
"Terima kasih, Pak. Saya juga berharap bisa memberikan kontribusi saya sebaik mungkin untuk perusahaan ini jika saya diterima sebagai karyawan di sini."
"Maksud saya bukan itu."
"M- maaf\, Pak?" Aku mengerutkan dahi mendengar ucapannya barusan. Aku salah dengar*?*
Pria itu memutar kursinya menghadapku. "Maksud saya bukan berada di perusahaan ini. Tapi berada di sisi saya, sebagai istri."
"Huh?"
“Nikah yuk!” Pria itu memukul mejanya menghadapku.
“Apa!!” spontan aku membentak dengan nada tinggi diiringi bulu kudukku berdiri mendengar kata “Menikah”.
Asisten Pak Adrian yang juga berdiri di sebelah bosnya itu menahan tawa melihat responsku. Namun ia segera bungkam, dan kembali menjaga keprofesionalitasannya.
“Eh maaf, baru saja saya spontan terlalu terkejut, maksud saya ….”
“Saya yang mohon maaf, sepertinya saya terlalu terburu-buru dan tidak profesional, silakan, anda bisa keluar.” Pria itu memotong kalimatku sementara tangannya menunjuk pintu keluar dari ruangan itu.
Aku berdiri dari kursiku, berjalan pelan meninggalkannya menuju ke pintu keluar. Air mataku tak keluar, tapi perasaan sedih dan mendung menyelimutiku. Sebelum aku benar-benar keluar dari ruangan itu, aku memutar badan dan mendekat beberapa langkah, tanpa mengangkat pandanganku.
“Seperti yang saya katakan sebelumnya, orang tua saya pasti akan menyambut baik kedatangan anda bersama keluarga ke rumah kami. Saya pun sudah memutuskan untuk bersedia menerima Bapak."
“Jadi … maksud kamu?”
“Iya, saya bersedia menikah dengan Bapak,” pungkasku yang juga didengar oleh asisten Pak Adrian.
__ADS_1
Aaaaah.., sungguh memalukan. Sejak kapan aku jadi tak punya malu dan bisa mengatakan hal itu secara terang-terangan.