
"Mas, aku mau minta izin," ucapku lirih, duduk menyandarkan kepalaku di bahu kirinya setelah selesai salat.
"Minta izin apa?"
"Aku ..., aku mau mulai memakai niqab."
"Kenapa? Bukannya kamu udah pakai niqab tiap ke kantor?"
"Sekarang, aku ingin meminta izin untuk memakainya setiap hari. Karena ada rasa tenang setiap kali aku memakainya. Tapi aku nggak mungkin memakainya tanpa seizin kamu."
Adrian mulai serius menatapku. Kami lurus berhadapan, duduk di atas karpet lantai kamar. "Kamu baru dua puluh tiga tahun, Aleesa. Wanita lain seusia kamu mungkin sedang sibuk menikmati masa mudanya, jalan-jalan bersama teman dan mempostingnya di media sosial. Kamu juga tahu pandangan orang-orang tentang niqab sangat beragam. Apa kamu baik-baik saja dengan niqab yang mungkin menghambat keseharianmu?"
Aku untuk beberapa saat menundukkan tatapanku ke arah sejadah yang masih tergelar. Mendengar jawaban Adrian, dari nada suaranya terdengar bahwa ia kurang setuju terhadap pilihanku. Tidak, aku tidak boleh menyerah, aku harus mengangkat kepala dan meyakinkannya sekali lagi.
"Aku nggak merasa niqab menghambatku meraih apa yang kuinginkan. Lagi pula aku juga bukannya ingin jalan-jalan setiap hari. Aku lebih nyaman tinggal di rumah kok. Kalaupun jalan keluar, aku juga jadi tenang karena ada kamu. Dan lebih tenang lagi kalau ada kain yang bisa menutupku. Fa inshaallah, aku lakukan ini atas pilihanku sendiri, dan aku hanya ingin tampil cantik di hadapan kamu."
Adrian tertawa lirih. "Mashaa Allah, aku nggak pernah menyangka kamu akan bicara sampai seperti ini. Padahal pertanyaanku tadi cuma asal aja, karena aku mau tahu jawaban dari istriku."
"Jadi? Diizinin?"
"Wallahi aku sangat senang memiliki wanita sepertimu dihidupku. Dan aku senang kalau kamu mau mengurangi sedikit kerisauan hatiku dengan memakai niqab."
"Setiap kali, aku selalu tidak tenang melihat mata pria yang melirik padamu. Tatapan pria yang mengenalmu, cara mereka memandang wajahmu, sebagai pria aku tahu apa yang kurang lebih sedang mereka pikirkan tentangmu. Jadi, aku mengizinkannya jika itu sama sekali tidak memberatkanmu."
Peristiwa demi peristiwa terjadi selama roda kehidupan terus berputar. Berkali-kali mungkin kita harus terjatuh, tapi berkali-kali juga, kita akan dipaksa bangkit oleh keadaan. Semua hal akan berubah, dan kembali berjalan. Karena memang seperti itulah fakta kejam sebuah kehidupan. Dari sedih menjadi senang, dari jatuh hingga terbang. Semuanya seimbang.
*****
"Saya dan Aleesa siap menjadi wali asuh untuk Harun."
"Mas ... kamu beneran?" Pertanyaan lirihku segera dijawabnya dengan tangan kiri Mas Adrian yang menggenggamku kuat, ia meyakinkanku sekali lagi.
"Kalau kamu siap, aku juga pasti setuju."
Ada saatnya kecerobohan yang pernah terjadi, dipertanggungjawabkan. Ada kalanya, sebuah kesalahan harus dimaafkan. Dan aku yakin, pada apa yang kuyakini, aku percaya pada siapa yang kupercaya.
Seisi ruang tamu semua terdiam, menimbulkan suasana sunyi dalam ruangan itu. Tak ada komentar dari Kakak, Kakak ipar, Paman, Bibi, dan semua yang hadir di sana malam itu. Ada sebagian dari mereka yang menatap kami tak suka. Juga ada sebagian lainnya yang mengangguk-angguk lekas memikirkan perkataan Adrian.
__ADS_1
"Bukannya itu berlebihan untuk Hanna. Mengasuh adik kandungnya sendiri sebagai anak," komentar salah seorang kerabat.
"Benar. Awalnya saya memang sempat berpikir demikian, tapi Mas Adrian meyakinkan saya bahwa Harun, diusia yang sekarang ini masih membutuhkan perlindungan, kasih sayang, dan hak-hak seorang anak lainnya."
"Lalu bagaimana dengan kasih sayang orang tua kepada anak? Apa Harun akan merasa nyaman tinggal dengan kalian berdua? Kalian juga sudah punya anak, Hanna juga sedang mengandung anak keduanya."
"Perihal membagi kasih sayang, saya rasa mustahil Hanna akan berlaku tak adil pada Harun yang adalah adik kandungnya sendiri." Bela Mas Adrian memandangku.
Aku membalas tatapannya. "Begitu pun Mas Adrian. Selama kami menikah, bahkan ketika Karinda menjadi bagian keluarga kami, dan sampai sekarang, saya tidak pernah merasa Mas Adrian berlaku tidak adil. Kami juga tidak pernah memanjakan Asyqar sedari kecil."
Kembali hening. Rupanya masih ada beberapa dari mereka yang tak setuju akan hal ini. Entah karena alasan apa, tapi rasanya wajah-wajah itu sangat berat untuk melepaskan Harun.
"Paman ..., Bibi ..., semua pertanyaan anda semua sudah dijawab oleh Adrian dan Hanna. Bukankah selanjutnya tinggal bagaimana keputusan Harun sendiri?" ujar Kak Ali menengahi.
"Memang kami tidak bisa menghalang-halangi jika keputusan Harun menerima kalian jadi orang tua asuh adalah pilihannya sendiri tanpa paksaan. Kami hanya coba memberi saran."
"Iya. Jangan sampai keputusan ini membebani kalian sendiri."
"Harun? Gimana?"
Aku perlahan mengambil surat itu, dan lekas membukanya.
...----------------...
**Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Untuk Hanna Aleesa, Putriku.
Bagaimana kabar di sana? Semoga baik-baik saja, ya, Nak.
Maaf, Bunda sampai harus menulis surat seperti ini. Bunda tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan secara langsung. Sejak Bunda sampai di tanah suci, perasaan tak enak sempat menghantui Bunda. Setelah beristighfar dan bertahmid siang-malam, akhirnya Bunda merasakan ketenangan, tapi rasanya masih ada perasaan mengganjal. Oleh sebab itu, Bunda menulis surat ini barangkali kita memang tak bisa lagi bertemu di belahan dunia mana pun.
Pertama, Bunda sangat senang sampai tidak tahu harus berkata seperti apa ketika kamu mau istiqomah memakai jilbabmu. Sebenarnya, sejak kamu kuliah di Australia sampai kembali ke Indonesia pun, kami sekeluarga tahu kamu belum mengenakan jilbabmu. Tapi do'a kami tak terputus untuk kebaikan Hanna milik kami satu-satunya. Dan ternyata Allah ta'ala telah mengabulkan do'a kami. Allah menyadarkan putri Bunda untuk menutup jalan yang bisa menyeret ke siksaan pedih akhirat. Alhamdulillaahirabbil'aalamiin
Maaf, Bunda menangis saat menulis surat ini. Teringat akan Hanna kecil yang tanpa sadar sudah bertumbuh sampai akhirnya harus kami lepas kepada seorang pria yang baik. Bunda ingin mengatakannya sekarang, di malam sebelum kalian menikah, Ayah dan Bunda pergi ke rumah Adrian tanpa sepengetahuan kamu. dan sekali lagi, kami meyakinkan niatan Adrian atas lamarannya. Semua itu terjadi sepenuhnya atas kepedulian kami, tanpa sepengetahuanmu. Tentu saja karena Ayahmu itu sangat khawatir bila saja kamu belum dipertemukan dengan orang yang tepat, dan takut kami salah menyerahkan mu pada pria asing itu.
Tapi kami dibuat salut oleh jawaban Adrian. Jawabannya tegas dan dengan jujur ia menjawab bahwa alasannya ingin menikahi putri kami karena : 1. Dasar ilmu agama, 2. Didikan orang tua, dan 3. Pengetahuan. Adrian bahkan mengatakan dengan tegas pada kami untuk tidak akan poligami, padahal kami tak bertanya sampai sejauh itu. Dan seiring waktu yang berjalan, ternyata kamu justru meminta Adrian menikah dengan sahabat baikmu. Sebagai seorang wanita yang juga merasakan posisi seorang istri, Bunda merasakan bagaimana sakitnya bila kasih sayang dibagi. Ayahmu pun sampai menitikkan air mata setelah Adrian menceritakannya pada kami.
__ADS_1
Hari itu, Adrian datang kepada kami, ke rumah kita yang sederhana. Dia berlutut di lantai ruang tamu, menghadap kami sembari menangis, merengek-rengek pada Ayahmu, memohon-mohon sampai suaranya serak. Itu adalah pertama kali bagi kami melihat sisi lemah suamimu. Ia merayu kami agar mau membujukmu untuk tidak memaksanya menikahi Karinda. Ia juga berkata kamu pergi dari rumah, maka ia memohon izin tinggal bersama kami selama kamu belum pulang. Dia tidur di kamarmu, dan tersenyum seperti orang depresi hingga kami tak tega melihatnya. Setiap hari ia meminta Ayah untuk membujukmu, tapi kami tahu sifat kaku dan keras kepalamu itu, sehingga Ayah pun tak bisa banyak berbuat apa-apa.
Sampai akhirnya, Ayah sendiri yang mengantar Adrian menemui wali Karinda dan membicarakan tentang keinginanmu itu. Setelah Karinda dan Adrian menikah, ada hal yang membuat kami kembali salut dengan suamimu. Di setiap akhir pekan, ia datang ke rumah kita sendirian, dengan antusias ia menceritakan bagaimana kondisi Hanna di rumah, dan menanyakan hal-hal yang bisa membuat kamu terhibur, hal-hal yang paling disukai anak kami, Hanna. Iya, suamimu itu selalu datang dengan pertanyaan yang sama setiap akhir pekan. Bahkan ia tetap datang walau malam itu hujan turun sangat lebat. Mungkin kamu baru mengetahuinya hari ini, tapi kami tahu lebih dulu, bahwa dia sangat mencintaimu, Nak.
Sampai pernah satu kali Bunda bertanya, apa yang membuatnya sampai harus datang ke rumah kami setiap akhir pekan. Dan ia menjawab, "Setiap sampai di rumah, akan ada dua wanita yang menyambut kepulangan Adrian. Rasanya seperti memainkan peran, karena Adrian harus menurunkan ego dan berlaku adil pada keduanya. Tapi di luar rumah itu, kepada Ayah dan Bunda lah Adrian ingin menunjukkan sebesar apa rasa sayang Adrian pada Hanna."
Keinginan Bunda, yang mungkin juga keinginan Ayahmu, berbaik-baiklah dengan Adrian, dan kuatkan kesabaranmu. Ketahuilah kamu memiliki seseorang yang akan selalu menguatkanmu lebih dari yang Ayah-Bunda lakukan padamu dulu. Kamu akan hidup bahagia bersama orang sebaik Adrian. Dia juga mungkin akan menjagamu lebih baik dari kami. Untuk cucu kami, Asyqar Yusuf Muhammad Al-Faruq, didiklah dia ajaran Islam sejak dini. Jangan jauhkan suara lantunan Al-Qur'an dari telinganya. Sebagai orang tua, ajarkan ia Al-fatihah sebelum orang lain mengajarinya Al-fatihah. Karena Al-fatihah adalah bacaan yang akan selalu diucapkan dalam salatnya. Inshaallah, akan jadi amal jariyah yang tidak berhenti untuk orangtua yang mengajarkannya pertama kali.
Akhir, tapi bukan terakhir, tolong jaga si kecil Harun untuk kami. Mungkin dia tidak seberuntung seperti kamu karena memiliki orang tua yang sudah tidak muda dan tidak bisa mengajaknya pergi jauh. Tapi dia pantas menerima kebahagiaan walau hanya sepersepuluh dari kebahagiaan yang kamu dapatkan.
Terimakasih sudah membacanya sampai akhir. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bunda.
Aku mengembalikan lipatan kertas itu ke bentuknya semula, dan menyimpannya.
"Awalnya Harun iri karena hanya Kak Hanna yang mendapat surat dari Ayah-Bunda. Tapi sekarang Harun nggak merasa iri sama sekali. Maafin Harun, ya, Kak." Harun tertunduk.
Aku segera beranjak dan menarik tubuh laki-laki kecil itu seraya memeluknya. Tangis pun tak lagi bisa dibendung ketika Harun kembali teringat pada Ayah dan Bunda. Aku pun sama. Aku juga merasa sangat kehilangan. Jika aku saja merasa begitu berat dan kehilangan, lalu bagaimana dengan Harun? Di usianya sekarang? Bukankah ini beban yang sangat berat untuk ditanggung seorang diri?
Seisi ruangan itu perlahan mengundurkan diri satu per satu. Menyisakan Kak Zahra, Kak Ali, Adrian, Aku dan juga Harun yang masih mengatur isakannya. Beberapa saat setelah tak terdengar lagi isakan dari adik bungsu kami itu, Kak Ali mulai berbicara.
"Kita berdua, sebenarnya tidak keberatan kalau Harun tinggal dengan kami. Secara, Zahra adalah anak sulung keluarga. Tapi kami juga tidak akan menghalang-halangi jika Harun ingin tinggal bersama kalian. Hanya saja ... Paman dan Bibi sepertinya belum bisa memberi izin."
"Kak Zahra dan Kak Ali nggak keberatan, kan, kalau Harun tinggal sama kita?" Aku menatap keduanya bergantian.
"Kita sama sekali nggak keberatan. Lagi pula secara finansial kalian sudah jauh lebih baik dibanding kami. Kalau kalian benar ikhlas merawat Harun, kita berdua juga akan senang. Harun adalah seorang hafidz Qur'an, ia pantas mendapat kehidupan yang lebih layak bersama dengan kalian."
Adrian turun dari kursinya. Ia duduk menyejajarkan tingginya dengan Harun. "Harun ... kamu mau tinggal sama Kakak Hanna, sama Om Adrian?"
Harun mengangguk setuju meski tak berani menatap satu di antara kami berempat. Lalu ia kembali menangis meski tak bersuara. Kita akan jadi wali yang baik untuk Harun. Kita akan berikan yang terbaik untuknya. Begitu janji Mas Adrian ketika kami pulang dari rumah Ayah-Bunda. Tak hanya itu, Adrian juga janji padaku akan sering mengajak kami mengunjungi tanah suci. Selain untuk beribadah, juga karena ada Ayah dan Bunda kami di sana.
Kita memang tidak pernah tahu ke mana hidup ini akan membawa kita. Tapi setiap peristiwa dalam hidup akan memberikan kenangan dan rasa tersendiri. Jangan pernah menyerah dalam hidup, teruslah melangkah, dan persiapkan diri sebaik mungkin, kapan pun Sang Pemilik Hidup bisa memanggilmu.
...****************...
Terima kasih banyak kepada para pembaca yang sudah setia mengikuti cerita ini. Tanpa kalian semua, Author tidak akan bisa menceritakan kisah Adrian dan Hanna sampai di titik ini. Atas nama Author Suddenly Married, kami juga ingin mengucapkan permohonan maaf, apabila ada satu atau dua hal yang membuat kalian tidak nyaman selama novel ini berjalan. Mohon doanya, semoga ke depan, Author bisa menciptakan karya yang lebih baik, dan bisa kalian nikmati.
-masih ada spin off yang akan update beberapa hari ke depan. mohon dinantikan, terimakasih ;)
__ADS_1