Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Lagi dan Lagi


__ADS_3

"Pasien atas nama Ny. Mutia Zehra Nuryani ada di kamar 2001 di lantai dua."


"Terimakasih." Setelah mendengar itu, aku segera berjalan ke arah lift menuju lantai dua, sampai akhirnya menemukan pintu kamar 2001.


Masih ketika aku berdiri di luar pintu nomor 2001, tampak ruangan itu sepi. Segera setelahnya aku masuk ke dalam. Memang benar tak ada sesiapa di dalam sana kecuali Bunda terbaring di atas ranjang. Aku mendekati tempat di mana beliau berbaring dengan langkah pelan, berharap kedatanganku tak membangunkan tidurnya.


Tampak Bunda yang pucat telelap dengan kedua mata tertutup penat. Rasanya masih mengganjal ketika melihat fakta bahwa aku meninggalkan beliau yang didera sakit dan harus berbaring di ranjang rumah sakit, sementara aku bisa tidur nyenyak di ranjang empuk dan nyaman. Selama lebih kurang sepuluh menit, tak banyak yang kulakukan selain duduk di sebelah ranjangnya. Hingga pintu kamar itu terbuka.


"Assalamualaikum. Loh, Hanna? Sejak kapan di sini?" Ayah menghampiriku dan langsung kusambut mencium tangannya.


"Wa'alaikumsalam, belum lama, Yah."


"Pasti Harun yang kasih tahu kamu, ya?"


"Semalam Harun panik banget sampai telepon Hanna. Lagian Hanna nggak sibuk kok, Yah. Kalau Ayah mau pulang atau ke mana, Ayah pergi aja. Biar Hanna yang temani Bunda di sini."


"Ayah juga nggak ada keperluan lain, kok. Kalau cuma jagain Bunda, ya, memang itu sudah tanggung jawab Ayah." Laki-laki itu menatap dalam ke arah Bunda yang masih terlelap sementara membenarkan selimut yang dipakai Bunda.


"Kita ngobrol di luar aja, yuk!"


Memenuhi ajakan Ayah, kami keluar dari kamar 2001, menyusuri lorong, sampai bertemu dengan kantin rumah sakit. Ayah mencari tempat duduk yang nyaman, lalu memulai bicaranya.


"Maaf Ayah sengaja menutup-nutupi soal kondisi Bunda. Bunda sendiri awalnya nggak mau memberitahu siapapun selain Ayah. Tapi sejak kedatangan Adrian hari itu, kondisi Bunda nggak membaik," jelas Ayah.


"Mungkin kamu nggak percaya, Han. Tapi Bunda selalu menganggap kamu lebih istimewa dari Kak Zahra, bahkan dari Harun sekalipun. Ucapan Adrian hari itu bukan hanya mengejutkan kami, tapi jadi beban pikiran tersendiri untuk Bunda," sambungnya.


"Memangnya apa kata dokter soal kondisi Bunda, Yah?" tanyaku.


Ayah menghela napasnya sesaat. "Bunda memang punya riwayat jantung koroner. Tapi itu sudah lama, dan hampir tidak pernah ada tanda-tanda sakit atau semacamnya karena Bundamu itu selalu menjaga pola hidup sehat. Lalu, akhir-akhir ini, Bunda mengeluh sakit ke Ayah, sampai malam tadi kami bawa Bundamu ke rumah sakit. Jalan terbaiknya, harus dengan pemasangan ring jantung atau operasi. Dan Bundamu yang keras kepala itu sudah pasti menolak."


"Ayah udah coba bujuk, Bunda?"


"Bukan cuma hari ini, bertahun-tahun lalu Ayah sudah membujuk Bunda, tapi sepertinya belum ada yang bisa meruntuhkan egoisnya Bundamu."


"Kalau gitu biar nanti Hanna yang coba bilang ke Bunda. Kalau ini adalah jalan terbaiknya, Bunda harus mau."


"Ayah juga berpikir demikian. Mungkin cuma kamu yang bisa ngasih tahu Bunda."


Ponselku bergetar dari dalam tas. "Yah, nanti malam Hanna balik ke sini lagi, ya. Hanna akan coba bicara sama Bunda sebisa mungkin. Tapi sekarang Hanna harus pergi ke kantor, menggantikan Mas Adrian selama seminggu ke depan. Hanna janji akan ke sini setia-"


"Sudah sudah .... Ayah ngerti kok. Kamu juga nggak perlu sampai setiap hari datang kemari. Ayah tahu kamu sibuk."

__ADS_1


"Meskipun Ayah bicara seperti itu, tapi Hanna akan tetap berusaha memberikan waktu untuk Bunda. Kalau gitu, Hanna pamit, ya, Yah."


"Iya, hati-hati, ya, Nak." Aku mencium tangan Ayah baru kemudian pergi keluar dari bangunan rumah sakit.


Setelah kembali ke mobil yang sama yang menungguku di tempat parkir, selanjutnya kami pergi ke kantor pusat AA Corps. Seharian itu aku benar-benar disibukkan oleh posisi direktur utama AA Corps yang berlaih ke tanganku. Akibat panggilan dadakan itu, aku sendiri tak sempat melihat keadaan cafe dan schedule yang telah disusun Pak Erwin pun berantakan.


Tapi syukurnya, semua bisa selesai dan aku pun bisa kembali ke rumah sakit malam harinya, sesuai dengan janjiku pada Ayah. Kira-kira saat itu pukul sepuluh malam, aku sempat mengirimkan pesan kepada Mas Adrian yang mengatakan bahwa aku mungkin tidak akan pulang malam ini untuk menjaga Bunda di rumah sakit. Niat awalku memang hanya ingin memberitahunya. Tapi di sisi lain, aku juga menunggu balasan darinya.


Kembali ke rumh sakit, Pak Erwin dan Sonya, sopir wanita yang dibawakan Hugo itu menurunkanku. Di sanalah kami berpisah. Tugas Pak Erwin dan Sonya kuanggap berakhir untuk hari ini. Tak lupa aku mengucap terimakasih sebe;um masuk ke dalam gedung rumah sakit, menuju ke kamar Bunda. Pak Erwin pun sempat menitipkan salam untuk Ayah dan Bunda.


"Assalamualaikum." Sengaja aku memelankan suaraku ketika membuka pintu kaca itu. Tapi rupanya, Bunda telah terjaga dari tidurnya, sehingga ia menyambutku dengan senyuman.


"Wa'alaikumsalam. Hanna ...?" katanya menyambut kedatanganku.


"Bunda kok belum tidur? Harusnya Bunda banyak istirahat dong," ucapku seraya mencium tangannya.


"Ini aja Bunda barusan bangun."


"Yahh, kalau gitu Hanna ganggu istirahat Bunda dong."


"Enggak lah. Mana mungkin."


Aku tersenyum mendengar suara Bunda terdengar cukup bertenaga. "Ini nih, Hanna ada bawa buah-buahan beri buat Bunda. Tadi sempat mampir beli buah waktu pulang dari kantornya Mas Adrian."


"Iya. Bunda gimana? Nggak ada keluhan apa-apa? Tadi pagi Hanna ke sini Bunda tiduran sih, jadi belum sempat tanya-tanya."


"Bunda nggak apa kok, besok juga Bunda udah boleh pulang. Ya, kan, Yah?" ujar Bunda melihat ke arah Ayah yang hanay menggelengkan kepala, tersenyum pasrah.


Getar ponselku, kembali mengundang fokus pada benda pengantar pesan itu. Tapi sepertinya akan lebih baik jika aku tak membukanya saat itu. Karena setelah membaca pesan yang masuk ke ponsel itu, yang ada hanya senyumku memudar. Beberapa menit lalu ketika aku mengirim pesan kepada Mas Adrian, sekarang baru ia menjawab pesanku.


[LINE Massege]


Hanna Aleesa : Assalamualaikum warahmatullah, Mas ..., aku udah selesai dari urusan kantor. Tapi kayaknya malam ini aku nggak pulang ke rumah dulu deh. Soalnya pagi tadi aku belum sempat ngorol sama Bunda.


Hanna Aleesa : Nggak apa, kan, kalau malam ini aku temani Bunda di sini?


Hanna Aleesa : Oh, ya. Besok, Mba Rina akan datang ke sekolah anaknya untuk rapat wali murid, aku yang kasih izin. Jadi, khusus besok minta Mba Puput aja yang siapin sarapan, ya?


Hanna Aleesa : Walau sibuk, tapi hari ini seru banget sih. Pak Erwin juga ternyata orangnya cekatan. Lain kali aku akan dengan senang hati menggantikan posisi direktur utama, hahaha,, XD


Adrian Al-Faruq : iya

__ADS_1


(-)


Apa-apaan jawaban itu? Bahkan salamku tak dibalas.


"Hanna? Bisa ke sini sebentar?" Ayah memanggilku lirih.


Aku segera berjalan mengikutinya keluar dari ruangan serba putih itu. "Ada apa, Yah?"


"Baruan Ayah dapat kabar dari Om Ivan, Kakek kamu meninggal."


Waktu yang biasa berputar konstan, seketika berhenti ketika kalimat itu sampai ke telingaku. Kuharap aku salah dengar waktu itu, tapi Ayah mengulangi kalimat yang sama sampai tiga kali hingga aku tak bisa menolak kebenaran yang nyata.


"Innalilahi wa innailaihi raji'uun."


"Barusan Om Ivan telepon Ayah sebelum kamu sampai ke sini. Kamu bisa, kan jagain Bunda dulu di sini? Ayah harus datang walau sebentar untuk ikut menyalatkan Ayah mertua. Dan ..., jangan kasih tahu Bunda dulu untuk sementara waktu."


"I, iya, Yah. Hanna yang akan jaga Bunda di sini. Ayah pergi aja sama Harun." Suaraku terbata dalam beberapa kata.


Satu-satunya kakek yang tersisa dari ke empat orangtua Ayah dan Bunda, kini pergi. Dan lebih parahnya, bagaimana bila aku berada di posisi Bunda yang harus menerima kebohongan bahwa Ayah kandungnya telah meninggal dunia. Memang sangat tak memungkinkan untuk memberitahu Bunda tetang kepergian Kakek saat ini. Tapi, Kakek juga adalah satu-satunya orangtua Bunda uang tersisa. Kenyataan berat ini memaksakan realita berlaku kejam.


Ayah dan Harun pun meninggalkan rumah sakit untuk alasan pulang ke rumah, guna mengambil beberapa barang untuk di bawa ke rumah sakit. Sedangkan aku, terus mengobrol dengan Bunda dan sesekali membicarakan tentang pemasangan ring jantung. Juga sedikit demi sedikit membujuknya. Meski dalam hati pun aku menangis, tapi aku dituntut untuk bermain peran di hadapan Bunda malam itu.


...----------------...


"Assalamualaikum." Aku memasuki rumah yang dari depan terlihat sunyi. Tak ada yang menjawab salamku, maka aku pun segera masuk tanpa banyak berpikir.


"Memang secara personal kamu ditugaskan untuk melayani Aleesa, tapi tugas memasak dan menyiapkan sarapan, itu bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan begitu saja!" Suara Mas Adrian terdengar bersumber dari dapur di lantai satu.


Aku bergegas mendatangi tempat itu. "Kenapa? Ada apa ini?"


"Tangan Karinda kena minyak panas karena Mba Rina nggak mau siapin sarapan," balas Mas Adrian ketus.


Spontan mataku menyipit melihatnya. "Jadi itu salah Mba Rina? Apa hak kamu menyalahkan Mba Rina, sementara tugas utama Mba Rina adalah jadi asistenku."


"Aleesa! Sahabatmu terluka, dan kamu masih bisa membela asisten rumah tangga?"


Aku tak mengerti atmosfer aneh apa dan setan apa yang masuk ke otak Mas Adrian sampai bisa berbuat sejauh itu. Sejak kapan Mas Adrian memperlakukan asisten rumah tangga sebagai seseorang yang tak berarti untuknya? Dulu ia tak pernah seperti itu. Kenapa hanya aku yang bingung dengan sikapnya?


"Mas! Nggak usah bikin drama, pagi-pagi gini. Kamu harus lihat juga dong alasan kenapa Mba Rina nggak bikin sarapan. Lagian, selama Mba Rina nggak ada, bukannya tugas memasak bisa digantikan Puput atau kamu juga bisa panggil chef seperti waktu itu, kan?"


Aku membantu Mba Rina berdiri dari posisinya berlutut sembari menundukkan kepala. "Kamu nggak berhak menyalahkan asisten yang bekerja untukku. Mba Rina nggak harus mengemban tugas rumah dan menyiapkan makanan semua orang. Jangan menyalahkan siapapun dengan alasan abstrak seperti ini lagi."

__ADS_1


Kubawa Mba Rina sampai ke kamarnya. Ia berulang kali mengucap terimakasih dan maaf padaku sekaan aku menolong dan melindunginya. Sementara yang kulakukan saat itu hanyalah perlakuan yang sudah sepantasnya dilakukan sebagai seorang manusia.


__ADS_2