Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Bukan Akhir dari Segalanya


__ADS_3

"Tuan, Nyonya, bukan bermaksud tidak sopan, tapi penghulu dan tamu sudah siap di aula lantai satu. Bisa kita turun sekarang? Ayah mertua anda, maksud saya ..., Pak Darmawan juga sudah menunggu anda di lantai dua."


Mas Adrian mendengus dingin. "Iya, sebentar lagi!"


Setelah kata itu terucap, tak kusangka pria itu justru maju tanpa ragu untuk menciumku. Kedua tangannya serentak bekerja sama menahan agar aku tak bisa berkutik dari belenggunya. Lama ia menahanku, sampai ketika ia melonggarkan sedikit tenaganya, aku spontan mengatakan pikiranku saat itu juga.


"Jangan begini, Mas. Kalau kamu seperti ini terus, aku akan semakin berat membagimu dengan Khadija."


Sontak ia mundur cepat, menjauh dari tempatku berdiri. Senyumnya hilang, dan tatapan itu pun berubah dingin. "Maaf, aku nggak akan lakukan itu lagi kalau kamu nggak suka." Ia berlalu keluar kamar. Meninggalkan aku sendirian.


Nggak apa-apa, kan? Kalau begini aku jadi lebih mudah melupakan kenangan manis kami selama setahun ini.


"Ukh-"


Mual ini lagi?


Aku segera berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan rasa tak nyaman dalam perutku. Sungguh kontrol tubuhku hilang seketika saat rasa mual itu tiba. Kalau sudah begini, apakah Mas Adrian harus segera kuberitahu? Ah, tidak, masih terlalu awal untuk memberitahunya sekarang.


Click! Tepat saat aku keluar dari kamar dan menutup pintu, aku mendapati Pak Erwin, rupanya ia masih berdiri di dekat pintu kamar.


"Pak ..., Erwin?"


"Tuan meminta saya untuk menunggu sampai anda keluar kamar dan mengantar anda ke aula."


"O, oh. Iya."


Satu langkah kaki menginjak lantai marmer putih ketika keluar dari lift, mengubah segalanya. Aula serba putih yang kuperkirakan berisi tak lebih dari seratus lima puluh orang itu senyap ketika Mas Adrian duduk satu meja dengan Ayah. Di depannya, bapak penghulu dan paman Khadija duduk dengan raut sumringah.


“Sini, yuk!” Sebuah tangan menarikku untuk duduk di salah satu kursi deretan belakang.


Aku memandangnya kaget beberapa saat. “Jo? Kok nggak sama Garrin?”


“Ya elah, jangan dipikirin deh orang itu. Palingan dia masih di rumah sambil ngaduk-aduk lemari buat cari baju.”


Aku tersenyum sekilas mendengar kata-kata Johana. Saat itu aku merasa sangat gugup dan perasaan ini campur aduk sampai tak menyadari bahwa Harun duduk di sebelah kananku sedari tadi. Baru kusadari kehadirannya ketika tangan mungil itu menggenggam jemariku yang bergetar.

__ADS_1


“It will pass,” ucap Harun berbisik lirih dengan tatapan mata lurus ke arah meja terdepan.


Kugenggam tangan hangat itu seraya tersenyum, “Bunda mana?” tanyaku mencari ke sekeliling.


“Bunda sama Kak Zahra nggak ikut. Si kembar rewel terus dari kemarin,” jawabnya ketus.


“Oh …”


Cukup kuanggukkan kepala mendengar jawabanHarun. Tapi ini terlalu palsu untu dikatakan sebagai sebuah kebetulan, sampai Bunda tak datang memenuhi permintaan Mas Adrian. Getar notifikasi dari ponsel mengalihkan pikiranku. Dari layar ponsel itu aku melihat kontak bernama “Ummi” memanggil, membuatku bergegas berdiri meninggalkan kursi.


“Hann? Ke mana?” Aku menunjukkan layar ponselku kepada Jo sebagai jawaban dari pertanyaannya, lantas berlanjut jalan menepi dari aula.


[Voice Call]


Ummi : Halo, assalamu’alaikum


Hanna Aleesa : Wa’alaikumsalam, Ummi. Iya, gimana kabar Ummi di sana?


Ummi : Alhamdulillah baik-baik aja. Kamu sendiri gimana? Sehat-sehat aja, kan?


Hanna Aleesa : Alhamdulillah semuanya sehat-sehat aja, Ummi.


Hanna Aleesa : Ini … di rumah, Ummi.


Ummi : Bisa tolong kasih handphone-nya ke Adrian nggak? Daritadi Ummi udah coba telepon tapi nggak diangkat.


Saat itu juga, air mata tak bisa terkendali, menitik begitu saja dengan rasa pedih yang kuat. Hanna jangan nangis! Apa lagi yang kamu tangisi!  Meski hatiku meneriakkan kalimat itu, tapi air mataku tak bisa berhenti hanya dengan hiburan kata-kata semata. Setengah berlari aku menuju ke kamar mandi terdekat dengan telepon Ummi yang masih tersambung.


Ummi : Hanna? Halo? Kamu bisa dengar suara Ummi, kan?


Aku ingin segera menjawab panggilan-panggilan itu, tapi isakan ini menahanku. Pedihnya membayangkan Khadija diperlakukan sama seperti Mas Adrian memperlakukanku. Sakitkah jika nanti melihat mereka berduaan di rumah ini?  Aku takut terasingkan!


Ummi : Hanna? Hanna? Kamu masih di sana? Ada apa, Hann?


Hanna Aleesa : Maaf Ummi. Sekarang …, sepertinya Ummi belum bisa bicara dengan Mas Adrian

__ADS_1


Ummi : Loh kenapa? Adrian nggak di rumah? Suara kamu juga sembab. Kenapa Hann? Hanna ..., jawab Ummi. Ada apa?


Hanna Aleesa : Ummi …, Mas Adrian akan menikah dengan Karinda. Wanita yang inshaallah shalihah yang pernah ia temui tujuh tahun silam. Akadnya dilaksanakan malam ini di rumah kami.


Aku menekan simbol ‘mute’ setelah mengatakan kalimat itu. Kuletakkan ponselku ke atas wastafel kamar mandi ketika kaki ini tak tahan lagi menopang tubuh yang rapuh dari dalam. Aku terduduk di lantai dingin kamar mandi, mengeluarkan isak tangis yang menyesakkan.


Ummi : Hanna …, Hanna wallahi Ummi tidak tahu tentang hal ini, Nak. Kalau Ummi tahu, pasti Ummi akan meminta Adrian mempertimbangkannya lagi


Hanna Aleesa : Bukan salah Mas Adrian, Ummi


Ummi : Hanna …, Ya Allah …, kalau bisa Ummi memeluk kamu, saat ini juga Ummi ingin memeluk kamu, Nak. Maafkan Ummi, Nak. Maafkan Ummi Hanna …,  Allah sedang berbicara denganmu. Ia merindukan rintih dan doamu, Nak. Robbana afrig alaina shabran …,


Mendengar Ummi berbicara dengan isakannya, semakin tak mampu kaki ini berdiri. Kucengkeram erat gamis putih ini dan berucap Robbana afrig ‘alaina shabran, Robbana afrig ‘alaina shabran, Robbana afrig alaina shabran sebanyak mungkin selagi bibirku masih bisa kugerakkan.


Ummi : Hanna …, hari ini, besok, lusa, dan seterusnya, kamu tetap anak Ummi. Jangan berpikir yang bukan-bukan, karena Ummi akan selalu ada untuk kamu. Wallahi, Ummi akan selalu ada untuk kamu.


Berkat ucapan Ummi yang membesarkan hatiku, aku mulai meyakinkan raga ini untuk kembali berdiri. Di depan cermin kamar mandi, setelah kuusap muka dan kupastikan mata ini tak memerah seperti tadi, segera kaki ini melangkah mengantarku kembai ke aula. Johana menyambut kedatanganku sekali lagi dan memberikan tempat duduk yang sama pula.


Beberapa menit berlalu, meja tertutupkan kain putih yang jadi sorotan utama itu menjadi tempat berkumpulnya para tokoh penting hari itu. Beberapa pertanyaan mengundang tawa yang dilontarkan Bapak penghulu kepada Mas Adrian sebelum keduanya berjabat tangan ikut menarik tawa para tamu yang hadir, kecuali aku, Jo, dan Harun. Meski aku bilang 'tak apa' sekalipun, tak dapat dipungkiri mereka mencemaskanku, utamanya Harun yang memandang dendam pada Mas Adrian sejak ia tahu Adrian akan menikahi Khadija.


"Bismillahirrahmaanirrahiim, Pak Herman selaku wali dari Karinda Amarini Nasyuf, menitipkan kepada saya tugas untuk menikahkan putrinya kepada pria di hadapan saya, dengan niat sepenuhnya karena Allah, Tuhan semesta alam. Nak Adrian, bisa menjabat tangan sekaligus ikuti kata-kata saya."


Tangan Mas Adrian terangkat ke atas meja, menjabat pria berkumis itu seraya bibirnya mengucap Bismillahirrahmaanirrahiim.


"Bismillahirrahmaanirrahiim, Adrian Al-Faruq, putra almarhum Mehmed Iskandar Adskhan Al-Faruq, saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan seorang wanita bernama Karinda Amarini Nasyuf binti Geri Sumarwan dengan mas kawin cincin berlian dan uang sebesar delapan ratus tujuh puluh delapan juta enam ratus tujuh puluh lima ribu tujuh ratus empat puluh tiga rupiah, tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Karinda Amarini Nasyuf binti Geri Sumarwan dengan mas kawin tersebut, tunai."


Ini bukan akhir dunia, masih ada hari esok dan masa depan yang panjang.


Kukaitkan kedua tanganku di depan dada seraya hati ini mengucap tahmid berkali-kali. Sampai akhirnya Khadija muncul dari sekat ruangan yang menghubungkan aula dan ruang tengah. Khadija didampingi bibi dan sepupu perempuannya berjalan melewati deretan kursi tamu dalam balutan gaun putih yang menambah keanggunannya.


Tak ada yang tak terkesima melihatnya tersenyum sebagai pengantin wanita cantik malam itu. Berjalan lurus sampai ke tempat di mana Mas Adrian berdiri. Seperti yang ia lakukan padaku, Mas Adrian meletakkan tangannya ke atas kepala Khadija sembari mengucap berdoa. Kemudian keduanya saling menyematkan cincin bergantian satu sama lain. Lalu bibir itu menyentuh kening Khadija begitu dalam. Semuanya kusaksikan langsung di depan mataku.


*Pedih, tapi ini hanya permulaan. Bukankah akan ada lebih banyak hal yang terjadi lagi kedepannya? Hanna harus kuat*!

__ADS_1


"Ingat, kamu nggak pernah sendirian, Hann. Ada aku." Jo merengkuh bahuku ketika titik demi titik air mataku jatuh bergantian.


"Makasih, Jo."


__ADS_2