Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Sebuah Celah


__ADS_3

"Assalamualaikum." Adrian menutup kembali pintu depan yang baru dibukanya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatu." Aku yang sudah tak sabar menyambut kedatangannya itu segera menuju tangan kanan lantas menciumnya.


"Mau mandi dulu?" tanyaku membawakan tas yang biasa dibawakan oleh Pak Erwin sehari-hari.


Adrian hanya diam dan menatapku. "Kenapa?" Aku lagi-lagi mengajukan pertanyaan kepadanya.


"Pertanyaan itu terdengar seperti sedang menggodaku."


"Menggoda? Menggoda apa?"


Adrian melepaskan tasnya dari tanganku, mendorong tubuh ini sampai merapat ke dinding terdekat. Otot-ototku tercekat kaget bersamaan dengan napas yang mulai berembus tak menentu. Bibir itu menyapaku lebih dulu seakan mengatakan, "Aku pulang~!"


Bibirku tak bisa hanya diam menerimanya, aku membalas perlakuan Adrian. Untuk sesaat aku lupa kami sedang di mana, dan saat ini pukul berapa. Seperti kata orang, sangat manusiawi bahwa gairah mengalahkan waktu. Aku tak sadar sampai mataku melihat Khadija berdiri beberapa meter dari kami.


"Mba Khadija, sudah waktunya untuk anda istirahat." Kedatangan Mba Puput serta-merta menghentikan Adrian.


Aku menundukkan pandanganku, seketika Adrian juga mengendurkan kungkungan tubuhku ke dinding. Kami saling diam untuk beberapa waktu, mencerna yang terjadi, bahwa hal yang kami lakukan sudah dilihat oleh mata orang lain. Aku hampir menangis karena malu bercampur takut akan dosa yang menimpa kami akibat bermesraan di depan mata mereka.


Adrian menumpangkan dahinya di atas kepalaku. "Mereka udah pergi?" bisiknya lirih.


"Nggak tahu. Aku malu banget." Kedua tanganku mencengkram erat kemejanya tak mampu mengangkat kepala.


Setelah melalui perdebatan batin, kami berjalan melipir sampai ke kamar dengan perasaan serba tak nyaman. "Udahlah, nggak apa-apa.., jangan terlalu dipikirin, mereka juga pasti ngerti. Ini, kan hal yang wajar dilakukan suami istri. Lagipula jam malam mereka cuma sampai jam sepuluh, aku kira mereka udah pada istirahat."


"Tapi aku malu banget sampai dilihat orang lain. Gara-gara aku sih, nggak tahu tempat banget."


"Udah.., salahku juga kok. Nggak bisa nunggu sedikit lebih lama sampai ke kamar, malah main nyosor aja."


"Oh ya, gimana badan kamu? Udah enakan, atau masih ada pusing?" Ia mengalihkan topik pembicaraan kami.


"Udah nggak apa-apa. Tadi aku cek juga suhuku normal-normal aja."


Adrian memegang kedua pipiku. Aku menarik turun tangan itu lantas beranjak. "Aku siapin air buat kamu mandi, ya."


Ah! Sekali lagi punggungku terasa sakit saat aku menunduk untuk mengambilkan handuk. Tak berapa lama kemudian aku keluar dari kamar mandi dan memilih pakaian untuk Adrian. Benar bahwa aku tak diizinkan mengantarkan Pak Erwin dan Agatha ke bandara malam ini. Jadi, aku hanya bisa menitipkan pesan selamat jalan melalui Adrian.


Saat suara gemericik air terdengar dari kamar mandi dan wangi itu menyebar ke seluruh ruangan seperti biasa, aku tak sengaja melihat ke layar ponsel Adrian yang menyala. Ada pesan dari Garrin di waktu selarut ini. Dasar manusia itu, selalu aja kalau nyariin orang nggak ingat waktu. Gerutuku dalam hati lalu meletakkan kembali ponsel itu ke tempatnya.


"Ada chat dari Garrin tuh."


"Udah kamu baca?"


"Enggaklah, chatnya di HP kamu."


"Makasih, ya." Adrian berlalu mengambil ponsel itu setelah mengacak rambutku.


Ia duduk di tepi tempat tidur serius menatap ponsel. "Ada masalah?" tanyaku.


"Enggak kok. Cuma urusan bisnis," balasnya sambil menunjukkan senyum agar aku tak khawatir atau bertanya lebih jauh lagi.


"Kayaknya kamu juga harus cek ponsel deh. Tadi asistenku bilang ada yang cariin kamu di kantor."


Iya juga, ya. Aku belum cek ponselku lagi selama beberapa hari ini.


"Bu direktur jangan sampai lupa tugas dan kewajibannya. Rumah tangga memang prioritas utama, tapi jadi direktur juga harus peduli sama karyawannya. Gitu, kan?"

__ADS_1


"Iya.., maaf."


"Nggak perlu minta maaf. Kalau kamu keberatan atau merasa nggak nyaman dengan kerjaan yang sekarang, aku bisa switch ke posisi yang lain yang kamu mau."


"Aku baik-baik aja. Oh ya, nanti di jalan pulang aku nitip es krim stroberi ya?"


Adrian sontak membatu beberapa saat mendengar permintaanku. "Kalau nggak ada tempat jual es krim yang buka jam segini, besok siang aja temani aku beli es krimnya." Kataku kemudian.


Ia lantas berlutut di depanku dan mengusap perutku. "Papa akan cari sebisa mungkin, sampai dapat."


"Udah sana buruan berangkat sebelum kelewat." Kedua tanganku merapikan kerah kemeja hitamnya.


"Nggak usah keluar kamar kalau kamu malu. Assalamualaikum."


Cup! Sebuah kecupan manis ditinggalkan di puncak keningku. "Wa'alaikumsalam warahmatullah, hati-hati."


Seperti katanya, aku masih terlalu malu untuk memperlihatkan diri jika aku keluar kamar sekarang. Cukup aku mengantarnya sampai masuk ke lift, kemudian aku melihat mobil yang membawa Adrian pergi dari balkon kamar. Setelah mobil itu hilang dari pandangan, aku segera mencari ponselku yang rupanya terselip di antara selimut.


[LINE Chat]


Pak Zola Editor : Selamat pagi, Bu Hanna, hari ini anda tidak datang?


Pak Zola Editor : Selamat siang, Bu Hanna


Pak Zola Editor : Selamat sore, Bu Hanna, apa anda akan datang ke kantor besok?


Pak Zola Editor : Malam, Hanna. Maaf kalau aku terkesan mengganggu, apa kita bisa bicara?


Pak Zola Editor : Mungkin kamu sibuk, hubungi aku kalau udah nggak sibuk, ya? Ada yang mau aku bicarakan.


Aku meletakkan kembali ponsel itu ke atas meja, aku memilih untuk segera bersih-bersih diri. Selain rasa sakit di punggung, aku juga masih memikirkan kertas yang ditulis Pak Rama itu hingga kini. Tak ada petunjuk-petunjuk atau apa pun yang menjelaskan maksud dari surat itu sampai sekarang. Dan rasa penasaranku terhadapnya tak bisa dibendung begitu saja.


Beberapa menit aku berada di kamar mandi dan memikirkan hal-hal yang terus mengitari kepalaku itu. Sampai keluar dari sana aku masih juga tak berhenti memikirkannya. Apakah ini juga akibat dari hormon ibu hamil, aku jadi terlalu sensitif?


Di depan cermin di walk-in closet, aku tersenyum menatap perutku. Sekarang ini aku nggak hidup sendirian, ada kehidupan baru di dalam perutku. Kalau aku stress memikirkan hal-hal yang tidak perlu, mungkin saja itu akan membahayakan baby di dalam sana. Aku harus terus relax. Jangan terlalu dipikirkan Hanna! Aku memotivasi diriku sendiri seraya tersenyum mantap bayangan yang terpantul dari cermin.


Selepas mengenakan baju tidur dan baru akan merebahkan tubuhku ke tempat tidur, tiba-tiba saja muncul keinginan untuk minum coklat panas sebelum tidur. Karena keinginan kuat yang tiba-tiba muncul itu tak bisa kuabaikan, aku pun keluar kamar menuju ke dapur di ruang sebelah. Dapur baru yang disiapkan Adrian agar aku bisa lebih leluasa bereksperimen dengan masakan ku kapan pun aku mau.


Sedang asyik memilih campuran bahan, terdengar suara dering telepon rumah dari lantai bawah. Mba Puput belum tidur, kan? Pikirku seraya melanjutkan pekerjaanku. Beberapa saat kemudian, telepon kembali berdering nyaring. Aku memeriksanya dari pinggiran tangga yang mengarah ke tempat telepon itu berdering.


"Mba Puput..!" panggilku tak ayal meninggalkan air yang hampir mendidih.


"Mba Puput.., tolong angkat telepon dong," pintaku sambil melongok ke bawah.


Tak ada jawaban sampai tiga kali aku memanggil nama yang sama. Aku pun mematikan kompor listrik itu, setengah berlari menuruni tangga untuk mengangkat telepon. Hampir aku menginjakkan kaki di lantai satu, mataku tak waspada melihat air yang tumpah dari anak tangga. Alhasil dari kecerobohan itu, aku terpeleset sampai ke lantai bawah.


Ini bukan sinetron yang biasanya jatuh dramatis. Aku hanya terjatuh dan tubuhku sedikit tersentak akibat benturan itu. Kembali ke tujuanku, aku mengangkat telepon selagi masih sempat.


[Voice Call]


Hanna Aleesa : Selamat malam


Penelepon : Selamat malam, dengan kediaman Al-Faruq?


Hanna Aleesa : Benar. Dengan siapa, ya?


Penelepon : Saya calon partner bisnis keluarga Al-Faruq.

__ADS_1


Hanna Aleesa : Maaf sebelumnya, ada keperluan apa, ya, menghubungi selarut ini?


Penelepon : Saya mencari pemilik rumah, bisa saya bicara dengan nyonya pemilik rumah?


Hanna Aleesa : Nyonya Presdir sudah beristirahat. Jika ada yang ingin anda sampaikan, anda bisa memberitahukan kepada saya, agar saya bisa menyampaikannya kepada Nyonya Presdir, besok.


Penelepon : Kalau begitu saya akan menghubungi esok hari. Bisnis ini merupakan bisnis pribadi saya dengan Nyonya Al-Faruq


Hanna Aleesa : Kalau begitu saya adalah Nyonya Al-Faruq yang anda cari. Bisnis apa yang anda maksud?


Penelepon : Memang benar dugaan saya sejak tadi. Suara ini adalah suara Nona Hanna Aleesa.


Hanna Aleesa : Bisa cepat katakan apa yang anda inginkan, sebelum saya memanggil staf keamanan untuk melakukan hal yang mungkin akan anda sesali nantinya.


Penelepon : Suami anda. Apakah anda sudah tahu betul dengan masa lalu suami anda? Apakah hidup kalian sudah sempurna sekarang? Apakah tidak ada orang lain di luar sana yang sebenarnya masih memiliki ikatan dengan suami anda, Nyonya Al-Faruq?


Hanna Aleesa : Maaf, saya tidak mengerti. Jika anda hanya ingin mengacau, maka anda salah menargetkan keluarga kami.


"Darah?" Aku serentak berbalik badan mendengar suara itu.


Khadija berdiri beberapa meter dari tempatku berdiri menjawab telepon itu. Tanganku masih memegang gagang telepon sampai kulihat darah bercecer di lantai marmer putih itu dari tangga hingga ke tempatku berdiri.


"Aaah!!"


*****


Pernahkah kalian mengalami masa sulit dan menyalahkan keadaan sulit itu kepada Tuhan yang begitu menyayangi kalian? Ya, dulu aku pernah. Aku seringkali menyalahkan segala hal sulit itu sebagai rencana buruk Tuhan untukku. Tapi itu dulu, itu adalah pikiranku beberapa tahun yang lalu, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamaran seorang pria yang tak kukenal.


Hari di mana aku menerima lamaran pria itu adalah hari terbesar untukku. Hari yang kemudian mengubah pandanganku terhadap segala sesuatu yang menimpaku. Kukira keputusanku kala itu terlalu gegabah dan akan menyesatkan ku pada masa-masa yang lebih sulit. Tapi ternyata, bersama seorang pria bernama Adrian Al-Faruq itu, aku menemukan sisi terang dari kehidupan manusia sesungguhnya. Hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhannya.


Lalu, kini, aku hampir tak percaya jika pada waktu ini, Tuhan kembali mengirim ku sebuah ujian, tanda sayang-Nya kepadaku. Jika aku yang dulu, mungkin aku akan menangis seharian karena hal ini. Tapi kini semua berbeda, maka aku harus menjadi Hanna yang sekarang dan membuktikan bahwa pandanganku terhadap segala hal telah berubah seiring aku berdiri di titik dewasa ini.


"Keadaannya baik-baik saja. Tapi memang kita harus mengeluarkan sisa janin di dalam kandungan Nyonya Hanna supaya tidak timbul penyakit atau kemungkinan buruk lainnya."


"Apakah mungkin akan timbul efek secara psikis, Dok?"


"Untuk kuretase sendiri biasanya hanya akan menimbulkan dampak secara fisik. Tapi untuk kondisi keguguran, apalagi di kehamilan pertama, biasanya seorang ibu akan mengalami gangguan mental PTSD atau depresi ringan selama beberapa waktu."


"Apa nggak ada yang bisa dilakukan untuk menghindari atau setidaknya meminimalisir efek psikologisnya?"


"Untuk itu, hanya Nyonya Hanna yang mengerti bagaimana perasaan Nyonya Hanna sebagai ibu. Yang terpenting adalah dukungan emosional dari anda, dan keluarga terdekat untuk membantu Nyonya Hanna bangkit dari rasa bersalahnya. Jika Nyonya Hanna adalah wanita yang kuat, maka kecil kemungkinan beliau akan mengalami depresi, apalagi gangguan mental."


"Jadi, semuanya kembali ke Hanna sendiri?"


"Iya, Pak. Memang seorang suami bisa menemani istrinya kapan pun, tapi perasaan seorang ibu, hanya ibu itu sendiri yang mengerti bagaimana rasanya. Saya yakin Nyonya Hanna bukan ibu yang lemah, beliau akan melalui semua ini dengan mudah."


"Lalu, untuk prosedur kuretase, kapan bisa dilakukan, Dok?"


"Kami bisa melakukan secepatnya setelah Nyonya Hanna puasa kurang lebih 6-8 jam. Kita juga harus menunggu beliau siuman terlebih dahulu."


"Baik, terimakasih, Dok."


"Sama-sama. Anda bisa memanggil perawat dengan menekan bel di sebelah kiri tempat tidur jika memerlukan sesuatu. Kami permisi."


Aku tidak tertidur, aku tidak sedang pingsan atau hilang kesadaran. Telingaku merekam semua suara di ruangan itu sejak tadi. Suara Adrian dan suara dokter yang merawatku di sini. Dia juga bukan Dokter Jennie jika didengar dari suaranya.


"Sayang.., kamu udah bangun?"

__ADS_1


__ADS_2